Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
146. Menguntitnya


__ADS_3

Tanpa mereka sadari, Thomas dan Arion mereka menuju ke tempat yang sama namun dengan mengendarai mobilnya masing-masing. Emang hati seorang ibu nggam akan bisa dibohongi, sejauh apapun Rion dari pandangannya. Tapi hati mereka terhubung satu sama lain. Ketika anaknya berusaha berbelok, mami Reva pun bisa merasakan hatinya begitu gelisah sepanjang waktu.


"Gue harus bawa apa, ya? cokelat? bunga? atau makanan?" Rion nyetirobil sambil mikir.


"Nggak mungkin kan gue dateng tanpa bawa apa-apa?!!' Rion melihat satu toko bunga yang udah buka. Dia melipir buat beli satu buket bunga mawar merah yang mewakili perasaannya yang menggebu-gebu.


Bunga udah di dapat, dia masuk lagi ke dalam mobilnya dan melanjutkan perjalanan.


"Kalau ketemu nih, terus gue harus gimana?" Rion mulai gamang.


"Yang pasti gue harus ngucapin salam dulu kan, ya?"


Rion berdehem mencoba check vocal suara, "Ehm, ehm, Halo...?"


Dia ngusek kepalanya lagi, "Astagaaa, Rion Rion please cewek mana pun bisa tergila-gila sama elu, jangankan manusia setan aja pengennya nemplok mulu!"


"Kaaann, rambut udah bemer malah berantakan lagi?!" sesekali Rion menyisir rambutnya dengan jari tangan.


"Intinya gue harus tetep cool dan jangan kaku, huufhhhh" beberapa kali dia menarik dan menghembuskan nafas.


Setelah dipikir-pikir menurut Rion agak aneh juga, setelah kemarin pira-pura nggak kenal, terus sekarang mau jengukin dia di rumah sakit.


"Kira-kira dia mau nggak ketemu sama gue? setelah apa yang gue lakuin? ngeghostingin dia gitu aja sekian tahun!" Rion galau lagi.


Tapi sekian lama berpikir, Rion tetep melajukan mobilnya enuju rumah sakit.


Mobilnya melambat dan berbelok menuju temat yang ditujunya. Tapi baru aja Rion mau keluar dari mobilnya dengan wajah yang memar, dia ngeluat Rissa masuk ke dalam sebuah taksi bersama Meisya.


"Mau kemana dia? bukannya dia lahi sakit?" Rion mengikuti taksi di depannya yang membawa Rissa.


Sedangkan Thomas yang mampir ke apartemennya buat ngambil hape milik Rissa pun nyampe ke rumah sakit beberapa menit setelah mobil yang dikendarai Arion udah melesat pergi. Udah ketinggalan jauh dia. Thomas masuk ke dalam gedung itu tanpa tau Rissa udah pergi dari sana.


Sementara Rion yang handal selip pun mengikuti taksi yang ada di depannya dengan sangat hati-hati.


"Mau kemana sih lu, Sa? bukannya rebahan malah klayaban?!" tatapan mata Rion tertuju pada mobil yang ada di depannya.


Rion menyadari kalau taksi itu membawa Rissa menuju rumah yang ditempatinya selama di kota ini.

__ADS_1


Rion menjaga jarak aman, biar nggak keliatan banget kalau dia daritadi ngikutin Rissa. Rion memperhatikan tumah itu dari jauh, tapi yang turun cuma Meisya dan taksi itu pergi lagi menjauh dari rumah yang mereka tempati.


"Astagaaa, mau kemana lagi kamu, Rissaaaa?" Rion gegetan.


"Gue kira elu nggak betah di rumah sakit terus milih pulang, tapi nyatanya? elu malah klayaban nggak jelas di negara yang asing buat elu. Bikin gue gregetan aja lu Rissa..." Rion lagi-lagi merepet.


Sementara Thomas yang ngeliat kamar rawat Rissa kosong melompong pun keder. Udah diketok di kamar mandi, nggak ada sahutan sama sekali.


Sampai ada perawat yang dateng ke kamar itu buat ngeberesin spre nya. Thomas otomatis nanya dan kaget saat perawat itu bilang kalau paaien yang ada di kamar itu udah pergi.


"Astagaaaa, kenapa kamu pergi, Rissa?" dengan langkah tergesa-gesa Thomas yang bawa jinjingan makanam pun balik lagi ke mobilnya.


Hape Rissa ada sama dia, jadi salah satu cara mengetahui keberadaan wanita itu, dengan menelepon Meisya.


"Halo, Syaaaa? kenapa kalian pergi dari rumah sakit? sekarang kalian ada dimana?" Thomas mencecar Meisya dengan pertanyaan yang beruntun. Spai Meisya sendiri aja nggak tau harus jawab apa.


"Maaf, Pak. Kalau saya ada di rumah, tapi kalau bu Rissa. Dia pergi lagi,"


"Kemana?"


"Bu Rissa tidak memberitahu saya, dia pergi kemana. Dia hanya bilang ada sesuatu yang penting yang harus dia lakukan," jawab Meisya.


"Baik, Pak..." Meisya si gadis lugu hanya bisa iya iya aja. Nggak berani juga dia menentang ucapan Thomas.


Dan yang lagi dicari pun lagi santay-sabtay aja di sebuah taksi.


"Papa pasti udah nungguin dari kemarin," gumamnya sambil menggosok kedua tangannya, mengusir hawa dingin.


Mobil yang ditumpangi Rissa akhirnya berhenti juga di sebuah rumah sakit dimana papanya akan menjalani operasi jantung.


Disisi lain, Rion bingung saat taksi yang lagi dikuntitnya itu masuk ke rumah sakit lain.


"Ini gimana sih? Dia mau pindah rumah sakit? apa gimana? tapi kalau mau pindah, kenapa dia nganterin Meisya ke rumah. Harusnya kan langsung kesini aja kalau emang Rissa mau pindah," Rion nggak bisa mikir.


Yang bisa dia lakukan hanya cepat bergerak mengikuti kemana perginya Rissa, sebelum dia kehilangan jejak wanita itu.


Takut Ribet, Rion meninggalkan bunga mawar merah tanda cintanya untuk sang pujaan hati di dalam mobil. Dan dia diam-diam mengikuti Rissa dati belakang. Sedangkan Thomas, dia udah ketinggalan jauh.

__ADS_1


'Sebenernya dia itu mau ngapain coba?' Rion madih aja ngomel dalam hati.


Rissa tiba-tiba aja berbelok.


"Astagaaaa, cepet banget ngilangnya?!!" Rion panik saat wanita itu hilang dari pandangannya.


Rion ikut berbelok sampai akhirnya ada suara wanita yang membuatnya berhenti seketika, "Kenapa kamu mengikutiku?"


Lantas Rion memutar tubuhnya. Dia melihat Rissa berdiri di hadapannya. Tatapan mereka bertemu dan selangkah demi selangkah Rion mendekat tanpa mengalihkan pandangannya.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantungnya kian berpacu saat dia berada sedekat ini dengan Rissa.


"Gimana keadaan elu?" sebuah kalimat yang meluncur di bibir Rion dan dijawab sebuah senyuman tipis dari Rissa.


Dan disinilah mereka di sebuah ruang tunggu.


"Coffee?" Rissa memberikan satu papper cup kopi panas untuk Rion.


"Thanks..."


Rissa kemudian duduk di kursi di samping Arion, "Terima kasih kamu sudah menolongku saat di danau beku,"


"Beruntung aku bertemu denganmu disini jadi aku bisa mengucapkannya secara langsung, meskipun itu cukup mengagetkan untukku melihatmu berada disini," lanjutnya.


"Apa kamu mengikutiku? karena kebetulan alu cukup hagal nomor plat mobil mu, tuan..."


"Jangan panggil gue dengan sebutan itu. Karena gue nggak suka," Rion mencoba menggunakan bahasa yang biasa digunakannya.


Lagi-lagi Rissa menatapnya dengan air wajah yang tenang, dia bahkan sempet nyeruput kopi yang ada di gelasnya, "Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa? kita partner kerja yang kebetulan tidak akrab,"


"Jangam ngomong kayak gitu! jangan ngomong seolah kita berdua orang asing..." Rion menatap Rissa dengan mata yang berkaca-_kaca.

__ADS_1


"Maksudnya?" Rissa memgerutkan keningnya, dia bingung dengan sikap Arion padanya kali ini.


__ADS_2