
Rion menunjukkan kalung yang ada di pegangnya. Dorothy menggeleng saat melihat liontin itu menggantung di depan matanya.
"Tidak?! kembalikan kalung ku itu padaku pangeran tampan!" ucap Dorothy yang udah nggak keriput-keriput amat wajahnya, sementara Rissa dia menjerit sambil memegangi wajahnya.
"Kembalikan padaku, itu hanya kalung biasa..."
"Jika ini kalung biasa, kenapa kau menjerit tadi?" Rion menaikkan satu sudut bibirnya.
"Aku hanya, aku hanya terkejut kau mengambilnya dengan tiba-tiba. Bawa kemari kalung itu. Berikan padaku pangeran tampan," Dorothy mengubah intonasi bicaranya, dia sangat lembut meminta kalungnya kembali.
"Just in your dream!"
Rion menaruh liontin itu di lantai, benda itu bergerak-gerak.
Trak tak tak tak!
Pemuda tampan dan menawan serta rupawan disegala suasana itu menghunus benda yang mempunyai daya magis itu dengan pedang cahaya biru miliknya.
"Hyaaaa!" teriak Rion.
"Tidaaaaaaaaaaaaaaak...!" Tangan Dorothy menjulur ke depan seakan ingin meraih kembali liontinnya.
Tapi terlambat!
Liontin itu terlanjur pecah. Cahaya biru menunjukkan kekuatannya, membuat silau mata , "Aeeeerrrgghhh!" Rion merasakan getaran yang hebat pada pedang yang dipegangnya.
"Tidaaaak, tidaaakkk!" mata Dorothy membulat melihat benda yang memberikan kekuatan baginya berubah menjadi butiran serbuk hitam yang kini seakan tersedot ke atas. Rion mencabut pedangnya dan melindungi matanya dengan tangannya.
"Aaaaaaaaaaaaaaakkkkkk!" Dorothy memegang wajahnya. Asap yang keluar dari tubuh Rissa dan yang lainnya pun hilang dalam sekejap.
"Kkkkk ... aaaakkk!" Dorothy memekik.
Trang Trang Trang
Munculah beberapa potong cermin mengelilingi lingkaran api.
Dorothy melihat wajahnya yang kini tua dan keriput, perlahan tulang punggungnya pun membungkuk.
"Kau akan menyesal melakukan ini padaku! aaarggghhh," ucap penyihir jahat itu dengan suara paraunya.
Tubuh Anna yang terikat pun terlepas, dia terjatuh seketika, "Akkkhhh!"
Api menyambar-nyambar seperti kemarahan Dorothy yang gagal mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Haaaaarrgggghhhhh!" Dorothy berteriak lagi, dia kesakitan saat berevolusi kembali ke bentuk aslinya
"Kita harus segera pergi dari sini!" teriak papi Ridho yang mendekati Rion.
Rion yang melihat Rissa yang pingsan pun segera menggendongnya.
Dengan tangan yang terasa seperti terbakar papi Ridho bergerak ke arah puteri Odellia, "bangunlah, puteri!"
"Selamatkan puteriku, ku mohon!" ucap sang ratu.
Papi ridho mengangguk, dia terus menepuk pipi sang puteri, "Puteri, bangunlah! kita harus segera pergi dari tempat ini!" teriak papi Ridho di tengah api yang menggerogoti bangunan ini.
__ADS_1
Namun tanpa papi Ridho sadari di belakang Rion yang lagi menggendong Rissa nya ada Dorothy yang mencoba menyakiti putra semata wayangnya, "Distruggert---" teriak Dorothy dia mencoba mempergunakan sisa sihir yang dia punya, tapi dengan secepat kilat papi Ridho berlari dan menangkap tangan Dorothy. Papi mendorongnya menjauhi Arion sebelum Dorothy menyelesaikan ucapannya.
Pak sarmin yang selalu memantau dari kejauhan pun mencoba melindungi Ridho dari sihir yang dimiliki Dorothy.
"AEeerrgghhhhhh?!!!!" Ridho merasakan panas di dadanya.
"Papiiiiiih?!!" teriak Rion saat melihat papi Ridho mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Distruggerti (Musnahlah kau!)" teriak Dorothy
sebelum Dorothy menyelesaikan ucapannya, papi rRidho mengarahkan telapak tangan nenek tua itu ke arah sebuah cermin.
TAAAAaaaarrrrrr!!!!
Sihir yang dimiliki Dorothy berbalik menuju dirinya sendiri, "AAAAAAAAAAAAaaarrghhhhh!!!!" Dorothy tersedot ke dalam cermin, tapi tangannya mencengkram baju papi. Dia ingin membawa Papi ridho bersamanya
"Pappppiiiiiiiii?!!" teriak Rion kencang.
"R-rion?" lirih papi Ridho sebelum dia mengeluarkan lagi darah dari mulutnya, "P-pergi, Rion!"
Sedangkan di dunia nyata.
Tubuh papi Ridho bergetar, ada darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Tes!
Cairan itu menetes di tangan mami Reva yang selalu setia duduk di bawah sambil pegangin ujung jari telunjuk suaminya. Telapak tangan yang memerah, membuat mami Reva nggak tega buat menggenggam tangan papi Ridho.
Lengannya yang menempel bahu suaminya, membuatnya merasakan ada suatu yang basah.
"Maaaaasss? mas Ridhooo!!" teriak mami Reva, dia seketika bangkit dan membuka masker oksigen yang dupakai suaminya.
Ketika dia berbalik, dia melihat pak Sarmin yang sedang duduk, dengan setengah menahan sakit.
"Paaak? pak Sarmin?!!" mami Reva panik.
Suara gaduh yang ada di ruang kerja itu membuat Om Karan yang ada di luar pun segera masuk, "Revaa? ada apa? kenapa kamu---" Om Karan tersentak saat melihat keadaan Ridho yang mengeluarkan banyak darah.
"Astagaaa?!!" pekiknya.
Sedangkan mami Reva udah lemes, dia goyang-goyangin badan suaminya, "Mas? kamu kenapa, Mas? Mas? Mas Ridhoooo?!!" seketika dia meraung melihat keadaan papi Ridho yang jauh dari kata baik-baik saja.
Balik lagi ke alam yang berbeda, api menyambar-nyambar seperti ingin menunjukkan keganasannya.
"Aarrrghhhh?!!" pekik papi Ridho, lehernya dicengkaram oleh Dorothy yang setengah badannya terjulur ke luar, ingin membawa seseorang bersamanya. Dia nggak mau tersedot ke dalam kaca sendirian.
"Piihh...?!" Rion akan menaruh Rissa di lantai, tapi papi Ridho menggeleng.
Sreeettt!
Kaki pria tampan yang serupa dengan wajah Arion pun terseret, mendekati cermin.
Namun tiba-tiba....
"DASAR NENEK GATEL?!! KAMU MAU APAIN SUAMI SAYA, HAH?!!!!!" teriak seorang wanita yang menjadi belahan jiwa papi nya.
__ADS_1
"Mamiiii?" pekik Arion, matanya membulat sempurna melihat mamanya nggak ada angin nggak ada ujan, nongol aja kayak setan. Canda setan!
Jurus andalan mami Reva pun keluar.
Kruweeesssss!
Bibir Dorothy dikruwes sedemikian rupa.
"Aaaarhhhh!" teriak Dorothy.
Hap!
Mami Reva dengan cepat melepaskan tangan Dorothy yang sarat akan sihir itu dari leher suaminya. "Eeerghhhh!" mami Reva memekik saat merasakan panas yang luar biasa.
Dan dengan keberaniannya, mami Reva mendorong si penyihir untuk masuk ke dalam sebuah cermin, "Aaarrrrrrrrrrrkkkkkk!" teriak Dorothy.
"Toloooonggg! toloooong!" ucap Dorothy tanpa suara, mami Reva hanya bisa melihat dari gerakan bibir nenek tua. Dia ketok-ketok itu cermin dari dalam.
Braakkk!!
Brakkk!
"Berisik!" umpat mami Reva.
"Mas? kamu nggak apa-apa?" mami Reva memandang wajah suaminya.
Dengan tangan yang!terluka, dia meraih wajah istrinya dan mendekapnya.
"Kenapa kamu kesini? uhukk?!!" dia mengecup sekilas pucuk kepala istrinya.
Mami Reva memeluk papi Ridho, dia takut kehilangan laki-laki yang udah teruji kesabarannya itu.
"Kita harus pergi dari sini! aku takut gesung ini akan rubuh!" ujar papi Ridho.
Mami Reva melepaskan pelukannya dan beralih menatap para gadis yang pada pingsan di tengah api yang sedang membara.
"Rion?" mata mami Reva memicing saat melihat anaknya sedang menggendong seorang perempuan.
'Mampuuuuuusss!' batin Rion seketika.
Sedangkan di luar kastil tua.
Rombongan raja Abraham baru aja sampai.
"Odelliaaaaa...!" raja segera turun saat melihat kastil yang terbakar api.
'Rissaaa?!!' pangeran Clift memekik dalam batinnya.
"Jangan Yang Mulia, ini terlalu berbahaya!" ucap salah seorang pengawal yang melarang raja untuk mendekat.
"Puteriku ada disana, bagaimana bisa aku membiarkan puteriku dalam bahaya!" ucap sang raja.
"Aku yang akan masuk ke dalam sana!" ucap pangeran Clift.
"Ayah, tunggulah disini," lanjutnya.
__ADS_1