
Selepas ketemu sama Thomas Rissa menemui dokter buat nanya gimana kondisi papa nya dan ternyata semuanya bagus dan berjalan sesuai yang diharapkan. Rissa bersyukur untuk itu, lantas dia nelfon Rion buat ngasih tau kabar baik ini tepat disaat Rion udah kasih surat resign-nya.
"Baguslah kalau gitu. Oh ya nanti aku mau ke situ mau nitip apaan?" tanya Rion ditelepon
"Nggak ada," Rissa menggeleng padahal Rion juga nggak bisa ngeliat.
"Masa nggak ada sih?"
"Iya beneran nggak ada," kata Rissa.
"Ya udah kalau gitu, see you!" Rion mengakhiri percakapan mereka berdua, padahal Rissa yang nelpon duluan.
Rissa lanjut menemui papanya di dalam ruangan. Sedangkan Rion udah mulai beresin barang-barangnya yang ada disana. Selain udah nggak ada hal yang membuat dia harus stay disini, Rion juga mau menata kehidupan berkeluarga yang sebenarnya di kampung halaman.
Menurutnya ini keputusan yang bijaksana, mengingat sekarang dia udah punya istri, tapi belum mengantongi restu. Jadi satu langkah yang harus dilakukannya sekarang, pulang ke Indonesia.
Rion membawa satu kardus barang-barangnya kemudian berpamitan dengan rekan-rekannya yang ada disana. Banyak yang menyayangkan keputusan pria itu, tapi nggak ada satu pun orang yang bisa menghalangi seorang Rion Putra Menawan.
Dia meninggalkan perusahaan kemudian pergi menuju apartemennya buat naruh itu kardus.
"Huufhhhh," Rion merebahkan dirinya di ranjang empuk yang ditempatinya bersama Rissa, all day all night.
Trakkk!
Trakkk!
Trakkk!
Ada suara dari dalam lemari.
Rion yang hampir merem, akhirnya nggak jadi. Dia lantas bangun dan mendekati sumber suara.
Perlahan tangan Rion menyentuh lemari dan membukanya.
Trakk!
Takkk!
Takkk!
Rion membuka laci dan dia menutup matanya dengan punggung tangannya, "Aargh!"
Cahaya itu lantas meredup dan begitu pun liontionnya yang kemudian berhenti bergerak.
__ADS_1
Rion menyentuh liontin berbentuk pedang dan, "Aarrrrrrghhhhhhh!" dia memekik saat dia merasakan sesuatu yang dingin, seperti es yang membuatnya sangat sakit.
"Sudah saatnya! semuanya sudah berakhir," ucap seseorang yang tiba-tiba hadir dalam pikiran Rion. Seorang ksatria yang muncul dari cahaya biru yang berasal dari pedang Hyena.
Rion segera melepaskan tangannya, takut kalau nanti dia akanenembus alam lain lagi.
"Aarrrghhh hhh hhh," nafas Rion nggak beraturan.
"Siapa dia? ada apa dengan liontin pedang ini?"Rion meletakkan lagi liontinnya.
Sebuah benda yang beberapa waktu ini membuatnya terlihat seperti manusia super mendadak, seperti nggak mengenalinya.
Rion yang tadinya mau tidur, pun sekarang matanya terbuka lebar. Dia mengambil kunci mobil dan pergi ke rumah sakit
Lagi di perjalanan, tiba-tiba mami Reva nelfon. Disana udah malem pastinya.
"Halo, Mam?!" sapa Rion sambil fokus pada jalanan.
"Anak mamiiiii, utututu! kenapa kamu nggak bilang mami kalau kamu jadi bintang iklan sekarang? hem? kamu sekarang banting stir? jadi arsitek disana nggak menjanjikan?" mami Reva merepet.
"Duhhh, kamu tau nggak? spre kamu booming banget ini, mami aja beli satu lusin buat di rumah!" mami Reva ngomong dengan nada yang ceria.
"Ngapain mami beli sampai satu lusin? mami mau jualan?" Rion nggak habis pikir dengan kelakuan maminya.
"Hebat pokoknya mah bujang mami...?!!" mami Reva muji anaknya.
"Maaam, tidur ... udah malem," suara papi Ridho kedengeran Rion.
"Udah maelm, Mam?! telfonnya disambung nanti lagi aja, mami udah tua harus jaga kondisi. Makan dan tidur yang cukup..."
'Karena kalau pulang nanti, Rion pasti bikin mami nggak akan bisa tidur. Rissa udah jadi istri Rion, Mam...' lanjut Rion dalam hatinya.
"Sembarangan ya kamu, Rion. Ngatain mami tua! bahkan mami lebih muda 10 tahun dari usia mami, tau nggak?" mami Reva nggak terima dibilang tua.
"Iya iya percaya. Ya udah, Rion ada urusan lain. Rion tutup telfonnya, Assalamualaikum!" Rion yang memutuskan sambungan teleponnya.
Mobil Rion melambat kemudian berbelok saat masuk ke area rumah sakit. Dalam perjalanannya tadi, dia sempat membeli makanan untuk istrinya. PIzza dengan topping daging dan extra mozarella yang Rion yakin Rissa akan menyukainya.
Pria yang kini sudah memiliki seorang istri itu berjalan menuju ruang rawat papa mertuanya, dia membuka pintu dengan sangat hati-hati.
Terlihat Rissa yang lagi duduk menyuapi papa nya makan buah apel.
"Assalamualaiku, pah. Gimana keadaannya?" Rion meraih tangan papa Dera.
__ADS_1
"Baik, Rion! tumben jam segini kamu sudah kesini? bukannya hari ini kamu sudah aktif ke kantor?" papa Dera penasaran karena jam 2 siang, Rion udah nongol ajah.
"Hemm, ya! saya keinget Rissa belum makan, jadi saya sengaja kemari..."
"Padahal aku bisa pesen sendiri, nggak perlu repot-repot kesini..." Rissa men
letakkan apel di piring dan meraih sebuah tas belanjaan dari tangan suaminya.
"Kamu makan dulu, Rissa. Rion sudah capek-capek datang kesini, jangan bikin dia kecewa. .." papa Dera menunjuk sofa.
Rissa hanyamengangguk, " Rissa makan dulu ya, Pah..."
"Makanlah, aku akan menemani papa disini," kata Rion.
"bagaimana? apa ada sesuatu yang papa rasakan? apa sudah lebih baik?" tanya Rion.
"Sudah. Kata Rissa papa sudah boleh pulang. Nanti disuruh untuk kontrol seminggu sekali,"
Rion manggut-manggut, dia menyunggingkan senyumnya, dan menengok istrinya yang sedang mengambil satu potong pizza dengan keju yang lumer.
.
.
.
Setelah makan, Rion mengajak Rissa buat ngobrol di luar karena ada hal yang ingin dia tanyakan.
"Kenapa harus di luar?" tanya Rissa.
"Nggak apa-apa. aku hanya ingin ngomong berdua dengan istriku," kata Rion, bikin hati Rissa berdesir dengan sebutan kata istri.
"Berapa kali papa harus kontrol pasca operasi?" lanjut Rion.
"Besok sudah bisa pulang dan seminggu lagi kontrol buat jahitan dan lain sebgainya, kalau kondisinya sangat baik, bis langsung terbang ke Indonesia. Nnati dibuatkan jadwal untuk kontrol lagi," kata Rissa.
Rion ngangguk pelan, "Mengingat kondisi papa yang memerlukan perhatian khusus. Aku berpikir kalau aku resign dari tempat kerjaku, dan aku akan menemani kalian pulang ke Indonesia..."
"Apa?" Rissa mengernyit keheranan.
"Aku nggak akan bis amembiarkan kamu pulang hanya berdua dengan papa. Karena itu pasti akan sulit," ucapan Rion membuat Rissa benar-benar nggak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tapi---"
__ADS_1
"Ini sudah menjadi keputusanku, Rissa" kata Rion tegas.