Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
153. Nggak Akan Ngalah


__ADS_3

Thomas baru maju satu langkah, sedangkan Rion udah lari ninggalin dia dengan membawa sang pujaan hati. Nggak tau juga nih, apakah sejarah lama terulang? berantem antara temen karena soal cinta.


Dan saat ini Rion nganterin Rissa ke rumah yang disewanya.


"Oh ya, ini bunga buat kamu..." Rion ngasih bunga yang sengaja dia beli tadi pagi.


"Makasih,"


"Suka?" tanya Rion.


Rissa ngangguk, dia mencium aroma mawar merah yang menyapa indera penciumannya.


"Kita turun?" Rion mengusap pipi Rissa. Yeuuuh, Rion jangan modus deh!


Mereka turun dari mobil. Tangan Rissa terulur menekan bell saat mereka berdua udah di depan rumah. Sesaat kemudian, Meisya muncul dengan wajah cemasnya, "Ya ampuuun, Buuuuuu! ibu bikin saya khawatir,"


Dan wajahnya terkejut saat menyadari kalau Rissa datang dengan Rion, "Tuan..." Meisya menunduk sopan.


"Masuklah," kata Rissa pada Rion. Sedangkan Meisya masuk ke dalam kamarnya, ngabarin Thomas kalau Risaa udah balik ke rumah ketika matahari udah mulai tenggelam.


"Aku langsung pulang aja, banyak yang perlu aku urus," Rion ngedipin satu matanya pada Rissa.


"Ya udah hati-hati kalau gitu," Rissa memandang Rion dari ambang pintu. Sedangkan pria itu langsung balik ke mobilnya. Dia tancap gas menuju sebuah toko perhiasan.


Sementara Thomas yang udah belingsatan dari pagi pun langsung let's go ke rumah yang disewa Rissa.


Emang yaaaaa, ucapan itu adalah doa. Karena Thomas pernah bilang sama Rion kalau Rissa itu adek ketemu gedenya. Ya udah akhirnya ya gitu tanpa Thomas ketahui, Rissa dan Rion masing-masing sudah mebyatakan perasaannya. Yang sabar ya, Thom?!


Meisya bukain pintu saat ada yang ngetok pintu.


"Pak Thomas?"


"Dimana Rissa?" Thomas langsung to the point.


"Ada di kamar, saya panggilkan dulu..." Meisya memberikan jalan buat Thomas masuk ke dalam.

__ADS_1


Meisya pun pergi ke kamarnya Rissa buat ngaish tau ada tamu yang menunggunya. Risaa yang baru aja mandi pun hanya menjawab dari luar, kalau dia akan segera nemuin Thomas, intinya mah dia suruh nunggu dulu.


Sedangkan Thomas, dia dateng dengan segambreng makanan yang dia beli lagi.


"Rissaaaaa?!" Thomas bangkit dari sofa dan langsung meluk Rissa saat wanita itu muncul di hadapannya.


"Astaga, kamu kemana aja?! kamu bikin aku cemas seharian, Rissa!"


"Maaf, Kak!" Rissa melepaskan pelukan Thomas, rasanya aneh dipeluk oleh pria selain, ehm Rion.


"Maaf, aku hanya terlalu khawatir," Thomas sekarang lega saat ngeliat wajah Rissa.


"Sekarang kita makan bareng ya? aku udah bawain banyak makanan," lanjut pria itu.


Rissa yang sebenernya masih kenyang, tapi nggak enak menolak makanan yang udah susah payah dibeli.


"Aku panggil Meisya dulu, pasti dia juga lapar..."


Dalam hati Tjomas kan pengenakan berdua aja, eh malah Rissa ngajak Meisya buat gabung sama mereka. Thomas sedikit kecewa.


"Panasin dulu ya," Rissa mengambil pizza yang dipindahin ke piring dan dia masukin ke microwave.


Sedangkan Meisya ngeluarin makanan lain kaya chessy ball yang nggak enak juga kalau dimakan dingin pun membuat antrian makanan yang harus diangetin.


Sementara iti, Rion sedang berburu cincin. Ya, ketika Thomas masih duduk dan memikirkan cara buat menggaet hati Rissa. Rion malah udah merencanakan pernikahan tahu bulatnya yang udah dapet satu restu dari wali nya Rissa. Thomas siap-siap kalah set!


Hari ini Rion disibukkan dengan beberapa urusan mengenai dokumen yang dibutuhkan untuk melegalkan pernikahannya. Lagi-lagi, rasa bersalah menghampiri hatinya.


Entah apa yang merasukinya, Rion kali ini mantap untuk mengakhiri segala penderitaannya dengan menikah dengan orang yang mampu menggetarkan hatinya sedemikian rupa.


Beberapa kali dia kontek-kontekan dengan Lukman, dia mendesak Lukman bisa datang secepatnya.


Balik lagi pada Rissa yang lagi makan dengan Thomas dan Meisya.


"Kenapa? makannya cuma sedikit?" Thomas melihat piring Rissa.

__ADS_1


"Nanti akan aku makan lagi," Risaaenjawab Thomas dengan lbut seperti biasanya


Sedangkan Meisya yang punya selera nakan yang baik, dia makan dengan lahap. Efek stress di telponin Thomas mulu kayaknya, jadi dia ngerasa kalau udah ngeluarin banyak energi.


Selesai makan malam, Thomas nggak langsung pulang. Dia dan Rissa ngobrol-ngobrol dikit di ruang tamu yang bersatu dengan ruang keluarga. Kalau Meisya, tau diri dia. Masuk dan angrem dalam kamar.


"Ini hape kamu, tadinya basah kemasukan air dan sekarang udah kering dan udah bisa nyala," Thomas ngasih benda pipih milik Rissa.


"Makasih ya," Rissa menerimanya dengan senyuman.


"Ternyata satu benda kecil kayak gini bisa bikin orang kelabakan loh," kata Thomas.


"Karena kita udah ketergantungan sama benda ini," sahut Rissa.


"Dan aku ketergantungan sama kamu," Thomas bergumam lirih. Bahkan suara angin aja lebih keras daripada suara Thomas tadi.


Thomaa ragu untuk bertanya sesuatu yang serius setelah melihat wajah Rissa yang lelah. Meskipun wanita itu nggak ngomong secara gamblang apa yang membuatnya harus pergi seharian ini. Dan Thomas kayaknya udah ngerasa tamplete banget kalau Rissa udah bilang, 'Ada hal penting yang harus aku urus!'


"Kamu istirahat aja. Sepertinya kamu kelelahan," Thomas meneguk minumannya untuk yang terakhir kali.


"Oh ya, TVC nya audah aku acc, besok kita bisa meeting untuk finalnya," kata Thomas.


"Ya," Rissa hanya mampu menjaqab dengan satu kata.


"Aku pulang," Thomas bangkit dari duduknya dan Rissa pun melakukan hal yang sama. Pria itu mengusap lengan Rissa sekilas, sebelum akhirnya dia ngomong kalau, "Kamu disini aja, nggak usah nganter. Aku bisa keluar sendiri,"


Udara diluar sekitar minus 15 derajat, dan itu bikin lumayan menggigil, Thomas masuk ke dalam mobilnya dan melesat menuju tempat yang beberapa tahun ini menjadi rumah yang hangat bagi dirinya.


Selama di perjalanan, hati Thomas nggak tenang. Padahal dia baru aja ketemu wanita pujaan, tapi kok ada hal yang bikin perasaannya nggak enak.


"Sebenernya seharian ini Rissa pergi kemana? sepenting apa urusan itu sampai dia harus keluar dari rumah sakit dan pergi meninggalkan Meisya di rumah sendirian?" Thomas bergumam sendiri.


Pria itu harus extra hati-hati, karena sebagian jalan tertutupi salju, "Gue udah nggak tahan sama perasaan ini. Gue takut kalau iya Rion dan Rissa pernah ada hubungan, lalu mereka ketemu lagi dan perasaan itu muncul lagi. Nggak, nggak! Gu harus lebih cepat dari Arion. Gue harus bergerak,"


'Sorry, Arion. Kita memang teman, tapi kalau udah menyangkut perasaan, gue nggak akan pernah ngalah, gue bakal nyatain perasaan ini sama Rissa!' batin Thomas.

__ADS_1


'Gue harus nyiapin semuanya,' lanjutnya dalam hati.


__ADS_2