Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
103. Pikiran Mereka Masih Berkelana


__ADS_3

'Untung pas di negeri itu kamu nggak grusa-grusu Reva! aku nggak kebayang kalau. kamu yang kedebag-kedebug langsung marahin Rion pas ketemu, dan bikin kacau suasana. Alhamdulillah kamu sedikit berubah ya?' batin papi Ridho saat mami Reva nyender di bahunya yang lebar dengan mata yang merem.


Sebenernya sampai sekarang, papi Ridho masih lumayan syulit memahami istri. Karena apa, tuh tadi dia bilang dia nggak mau tidur takut kalau semua ini hanya mimpi. Dan ternyata apa sodara-sodara? Dia sendiri yang nemplok, terus tidur. Sampai disitu kan papi cuma bisa garuk-garuk kepala yang sebenernya gatel juga nggak.


Papi Ridho masih bingung kenapa mereka terdampar di tempat yang berbeda. Mau nanya pak Sarmin, tapi nggak mungkin. Pak Sarmin aja lagi pingsan dan butuh perawatan. Jadi semua pertanyaan itu dipendam papi Ridho sendiri, karena yang terpenting Rion bisa ketemu.


Papi terus fokus nyetir sambil dalam hati selalu mengucap syukur dan syukur karena anak yang selalu dibilang 'kamvret' bakalan ketemu lagi sama ibunya.


Mau fokus nyetir malah nggak bisa, papi Ridho malah kebayang-bayang sama penyihir jahat saat dia bilang kalau Rion akan menyesal udah membuat si penyihir itu balik ke bentuknya semula.


'Semoga nggak terjadi sesuatu yang buruk sama Rion!' batin papi Ridho.


Sementara di mobil lain.


Tante Karla gedeg banget sama mantan suaminya yang main numpang di mobilnya, walaupun iya bener kalau nih mobil hadiah ulang tahun tapi mbok ya nggak usah diungkit.


'Udah numpang, aku juga yang harus nyetirin! dasar lakik nggak modal!' batin tante Karla. Dia merepet mulu selama di perjalanan.


Om Dera tau kalau mantan istrinya itu pasti lagi ngomongin dia dalam hati, soalnya mata judes itu ngelirik beberapa kali ke arahnya. Cuma ya, dia pura-pura aja nggak liat.


Dengan umur yang nggak muda lagi dan harta yang juga udah ludes, menyisakan rumah yang dia tinggali sama Rissa pun nggak mungkin buat Om Dera tebar pesona ke wanita lain.


Sebenernya ya niat nggak niat dia minta balikan sama mantan istrinya itu. Soalnya tau sendiri yang namanya Karla itu judesnya kayak apa, pastilah hidupnya nggak bakalan bisa tenang. Tapi yang namanya orang kan bisa berubah, buktinya dia aja bisa meninggalkan hal-hal.yang nggak baik dan sekarang mau mulai lagi menata hidupnya supaya lempeng dan bener.


Pandangan Om Dera tetep ke depan, dan mobil mereka saat ini masuk ke dalam jalur toll luar kota.


Sementara di rumah sakit. Rion dan Rissa lagi di rawat dalam satu kamar yang sama dan hanya dibatasi satu tirai yang kini terbuka sedikit. Mereka berdua belum sadar. Tubuh yang sangat lemah karena terlalu lama menyebrang ke dunia lain pun bikin mereka hibernasi untuk sesaat.


Dalam mimpi Rissa, dia diperlihatkan sebuah istana yang di dalamnya ada sesosok perempuan yang mirip dengan dirinya.

__ADS_1


'Puteri Odellia...' ucapnya.


Rissa melihat puteri Odellia yang lagi ngaca di depan cermin besar mengenakan sebuah gaun yang sangat cantik.


Kemudian datanglah ratu Isabel yang kini berdiri di belakang puteri Odellia, dia memegang kedua bahu putrinya, "Jika kamu tidak siap, maka ibu akan membuat pernikahan ini tidak akan pernah terjadi, Sayang..."


Sang Putri yang sebenernya petakilan itu pun tetep ngeliat ke arah cermin. Dia menggeleng, "Meskipun pangeran Clift bukan orang yang mengisi sebagian hatiku, tapi dia terlalu banyak berjasa untuk ditolak. Benar kan?"


"Lagi pula, bertengkar dengannya menjadi salah satu kebiasaan baru untukku, Ibu. Dan aku kira aku akan merasa aneh jika sehari saja tidak brtemu dengan orang yang selaku membuatku kesal," lanjut puteri Odellia, dia nengok ke arah ibunya sekilas sebelum melihat kembali dirinya dalam balutan gaun pernikahan yang terbuat dari sutera dengan kualitas terbaik.


Rissa tersenyum melihat puteri Odellia yang akan memulai kehidupannya yang baru.


Kemudian dia ditarik lagi ke tempat yang berbeda, 'Astaga dimana ini?' batin Rissa.


Dia merasakan lagi di sebuah kereta kuda dan pas nengok, eh ada pangeran ganteng yang pandangannya kurus ke depan dengan raut wajah yang datar.


"Andaikan kalian bertukar posisi selamanya, pasti aku akan dengan sangat bahagia menjalani pernikahan ini," guman pangeran Clift.


Mulutnya seakan tercekat, Rissa nggak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa bicara di dalam hati.


Rissa ngerasa kasihan ngeliat dua orang yang sebenernya belum saling cinta tapi harus menjalani sebuah ikatan pernikahan yang akan mereka jalani seumur hidup mereka.


Apalagi puteri Odellia itu puteri raja satu-satunya, tentu sang puteri akan memegang tampuk pemerintahan kerajaan setelah ayahnya turun dari singgasananya.


Tapi menurut Rissa, puteri Odellia beruntung mendapatkan seorang pangeran yang walaupun nggak mencintainya, tapi pangeran itu sangat bertanggung jawab untuk selalu melindungi sang puteri dari segala marabahaya.


Risaa melihat pangeran disampingnya, 'Cinta puteri Odellia pasti akan datang ke hatimu pangeran...' batinnya.


Sedangkan tiba-tiba pangeran Clift menengok ke arah samping kirinya. Rissa yang melihat gerakan pangeran hanya bisa membulatkankan matanya.

__ADS_1


'Apa dia melihatku?' Rissa bertanya-tanya dalam hatinya.


Mata pangeran beralih lagi, dia menatap ke depan sambil melihat sebuah cincin yang tersimpan di sebuah kotak yang dia keluarkan dari sakunya.


Dia menatap sebuah cincin yang bertahtahkan belian berwarna biru.


"Wajahnya sama denganmu. Hanya sifat yang membedakan kalian berdua. Semoga aku bisa bertahan dengan puteri itu, karena aku tidak mungkin mengecewakan ayahku dan raja Abraham..." ucapnya ngomong sendiri.


'Banyak orang yang ngakunya cinta tapi malah menyakiti pasangannya. Tapi yang kamu tidak mencintai puteri Odellia, malah sanggup melindunginya. Aku kira puteri sangat beruntung mendapatkanmu pangeran. Aku berdoa atas kebahagiaan kalian...' batin Rissa.


Sedangkan Rion sendiri, dia berada pada mimpi ketika ibunya sedang berada di sebuah hutan, dan melihat papanya yang masih muda yang 99.99999 persen mirip dengan dirinya, dicium oleh seseorang.


'Ya ampuuun si papiiiiiii!!!!' Rion gregetan saat melihat kelakuan papinya.


Dia merasa kasihan ngeliat ibunya yang mundur alon-alon dan 'krekk' nggak sengaja nginjek ranting. Rion mengejar mami Reva yang kini lari nggak tentu arah.


'Mamiii, tunggu Rion, Maaaaam?!' Rion berusaha teriak tapi nggak bisa. Dia merasa suaranya nggak keluar sama sekali. Dia cuma bisa ngejar maminya. Sampai wanita yang masih sangat muda itu berhenti dan nangis.


'Ya ampuuuuun, Mami! cepet banget larinya! Rion sampai engep tau, nggak?' Rion lagi-lqgi cuma bisa ngomong dalam hatinya aja.


Dia ingin mengusap punggung maminya, tapi seketika dia tersedot lagi pada kejadian lain.


Saat maminya melihat ke arah Om Karan sebelum banyak burung gagak yang datang.


Rion ngeliat maminya yang sama sekali nggak bisa berenang dan takut sama air itu masuk ke dalam air dan berenang menuju sebuah air terjun.


Disitu Rion bisa ngeliat papi nya yang nggak bisa apa-apa selain membiarkan maminya berenang bareng Om Karan yang di dalam ternyata nggak kalah serem. Karena maminya itu ketemu syithonirrojim dan ada sesosok perempuan yang ngebantu maminya buat naruh sebuah cincin di dalam sebuah wadah.


Rion yang juga berada di dalam air pun hanya melihat maminya dan Om Karan tanpa bisa berbuat sesuatu. Tanpa Rion bisa kendalikan dia berpindah tempat lagi, saat melihat maminya lagi di sebuah gedung tua.

__ADS_1


'Maaaaamiiiii!' teriak Rion, saat ngeliat maminya kena gebug buat melindungi tante Mona, adik dari papi Ridho.


__ADS_2