Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
84. Siapa Kau Sebenarnya?


__ADS_3

Rion yang melihat itu berlari dan mendorong Defne sampai gadis itu terjatuh.


Duaaaarrrrrrr!!!


Cahaya itu meledak begitu aja.


Brakkk


Brakkk


Satu persatu burung gagak itu jatuh karena terkena ledakan yang memancarkan warna merah.


Rion segera bergegas bangun dan menyuruh Defne bangun.


Papi Ridho yang konek kalau para gadis akan masuk ke dalam sebuah lemari pakaian pun, segera bergerak mengayunkan pedangnya menghalau binatang bersayap itu untuk menyerang Rissa ataupun puteri Odellia.


Tanpa banyak kata, Puteri Odellia mengajak kedua gadis lainnya untuk mengikuti dia masuk ke dalam sebuah lemari yang merupakan jalan pintas menuju sebuah jalan rahasia yang ada di Istana.


"Tapi, Rion?" Rissa yang baru ketemu Rion pun nggak rela kalau harus kepisah lagi.


'Kalau kayak gini kapan pulang kampungnya?' kata Rissa ceunah.


Tapi Odellia main narik tangan Rissa dan Defne. Dia segera menutup pintu lemari.


Selain emang di tutup, Rion dan Papi Ridho pun berjaga di depan lemari, menghalau supaya burung gagak hitam nggak bisa masuk ke dalam.


"Kalau kayak gini, tenaga kita bisa habis, Pih?!" ucap Rion yang cuma bisa mengusir burung-burung itu dengan tangannya yang udah pada berdarah.


"Iya, papih juga udah pegel banget nih! lebih capek dari latian judo sama mami!" kata papi Ridho yang sempet-sempetnya ngeluh, lawak banget si papih ah.


Rion yang pikirannya masih lempeng dan belum belak-belok pun sedikit mikir, "Emang mami latian judo sama papi? kapan? kok aku nggak pernah liat?"


"Bisa bahaya kalau kamu liat!" kata papi Ridho yang makin nggak jelas.


"Hyaaaaaaa!!" pangeran Clift juga udah mengayunkan pedangnya ke segala arah.


"Bantu aku menutup jendelanya!" kata pangeran Clift.


Namun dari arah luar, tiba-tiba ada sebuah cahaya biru yang mendekat.


"Itu milikkuuuu!" seru Rion dengan mata yang berbinar.


Rion segera melompat dan menangkap sebuah cahaya biru yang berbentuk sebuah pedang, bertuliskan Hyena. Pedang cahaya biru milik Arion. Entah datangnya itu pedang, tapi yang jelas Arion nggak peduli dan hanya bersyukur soal itu. Karena tubuhnya bisa selamat dari santapan para burung yang luar biasa banyak jumlahnya.


"Hyaaaaaaaaa!" Rion mengayunkan dan memutarkan pedangnya ke udara. Dan sebuah kekuatan berwarna biru berputar seperti sebuah tornado.


Papi Ridho dan pangeran Clift melihat Arion mengusai cahaya biru dengan gagahnya, angin kencang datang menerpa membuat suasana makin dramatis.


Rion megayunkan pedangnya, tornado cahaya membuat kawanan burung bersayap hitam yang lagi kesurupan berjamaah pun ikut tersapu oleh hisapan cahaya yang makin lama makin besar.


'Arion memang keren, seperti papinya!' lagi-lagi papi Ridho memuji diri sendiri.

__ADS_1


"Itu anak saya!" papi Ridho yang bersebelahan dengan pangeran Clift pun menepuk bahu lebar sang pangeran.


"Lihat? betapa kerennya dia!" papi Ridho menunjuk kekuatan yang digunakan anaknya, namun pangeran Clift nggak ngejawab.


"Arrrrrrrgggggghhhh!!" Rion berteriak ketika dia menghujamkan pedangnya ke bumi dan cahaya biru yang terang membuat papi Ridho dan pangeran Clift menutup matanya diiringi teriakan Arion yang memekakan telinga.


Dan....


Bummmmmp!!!


Semua orang termasuk sang raja melindungi mata mereka dari cahaya yangn silaunya bukan maen.


Cahaya biru menyelimuti ke seluruh bagian Istana, dan seketika burung-burung yang menyerang mereka hilang dan nggak berjejak.


"Hhhh hahh ... hh..." Rion ngos-ngosan, dia terduduk dengan satu tangan bertumpu pada pedangnya yang masih menghujam lantai yang sama seklai nggak rusak. Kalau rusak elu ganti rugi, Yono! Senen harga naik.


"Awwwhh!" Rion merasakan perih di wajahnya.


Cahaya biru perlahan memudar.


Sedangkan Anna yang emang menyusup lagi ke dalam kastil pun bingung dengan kekuatan besar yang dilihatnya tadi, "Astaga kekuatan apa tadi?" gumam Anna.


Sedangkan dia melihat begitu banyak pengawal yang tergeletak di lorong-lorong kastil ataupun di luar Istana.


"Aku harus mencari Rissa, aku harus menemukannya. Kalau tidak, Dorothy akan menyakiti adikku," gumam Anna yang bersikap seolah dia pun terluka. Padahal mah nggak sama sekali.


Louis yang kebetulan ada di gudang, dia ngumpet di kolong kereta kudanya, Masih untung, hantu yang sempet ngerjain dia malah bantuin Louis saat itu, "Astaga, ada apa dengan Istana ini?" Louis masih sembunyi, sampai dia bener-bener ngerasa kalau situasi udah aman


"Anda baik-baik saja Yang Mulia?" tanya orang kepercayaan sang raja.


"Ya, tentu..." jawab sang raja yang menyingkirkan tangan dari wajahnya, dia melihat sekeliling. Nggak ada satu bangkai burung pun yang tergeletak disana.


'Cepat atau lambat, hari ini pasti akan datang. Ya ... Dorothy pasti akan sellau mengusik kehidupanku! wanita itu harus segera ditemukan, bagaimanapun caranya,' batin sang raja.


Sementara Rion, berusaha bangkit dan melihat pedang cahaya biru di tangannya, "Akhirnya pedang gue..." gumamnya.


"Siapa kau sebenarnya? hah? kau pasti seorang penyihir," pangeran Clift maju beberapa langkah dan mengarahkann pedangnya, tapi papi Ridho nggak akan kalah set.


Dia yang mengalami banyak luka segera menangkis pedang pangeran Clift dengan pedang lain yang ada ditangannya. Hingga kedua benda tajam itu saling bersentuhan.


"Dia bukan penyihir, dia Arion anakku!" papi Ridho yang gedeg banget karena anaknya dituduh sembarangan.


"Udah, Pih..." Rion menggeleng, dia menyentuh tangan papinya yang kuat megangin pedangnya. Rion minta buat papi Ridho nurunin pedangnya.


"Keselamatan Rissa lebih penting daripada ngeladenin tuduhan yang nggak jelas!" kata Rion.


Papi Ridho pun nurunin pedang, dia bahkan membuang pedang itu ke sembarang tempat.


Sementara di tempat lain.


"Ah, siaaalll...!!!" umpat dorothy yang ngeliat kalau burung kirimannya yang dilenyapkan oleh seorang pemuda yang tampan rupawan yang sangat dia ingin miliki.

__ADS_1


"Darimana dia mendapatkan kekuatan sebesar itu?" raut kemurkaan tercetak jelas di wajahnya,


Tapi sesaat kemudian wajahnya berubah, dua sudut bibirnya naik ke atas, "Ah, ya! tentu mataku tidak akan bisa menipu, aku menyukai orang yang ternyata memiliki sihir yang luar biasa. Dan sudah sepantasnya dua penyihir hebat bersatu untuk menguasai negeri ini, hahahhaha..."


Kreekkkk!


Rahangnya bunyi lagi.


"Aaaaa, awwh ... aku harus lebih sering minum ramuan awet muda," ucap Dorothy yang memegang rahang bawahnya dengan satu tangan.


Sebenarnya Dorothy sudah berumur lebih dari 1 abad, bahkan dia jauh lebih tua dari raja Abraham. Namun karena sihir yang dia miliki. Dorothy pun selalu terlihat awet muda seperti usia 25 tahun. Selain dia menyerap aura para gadis yang dia tawan di ruang bawah tanah.


Dorothy melihat kembali cermin yang dia gunakan untuk melihat suasana kerajaan yang sekarang lagi kacau. Banyak pengawal yang digotong-gotong karena mengalami banyak luka akibat cabikan paruh burung gagak.


"Arion ... aku akan membuatmu menjadi penghuni istanaku ini bersama pria yang sangat mirip denganmu itu, tentu aku akan semakin awet muda jika setiap hari melihat wajah tampan kalian," ucap Dorothy ngehalu parah. Yeuh Dorothy, udah nenek-nenek aja masih banyak betingkah lu!


"Namun sebelumnya, aku akan mengurus para gadis yang menyusahkan itu. Aku tidak ingin ada benalu..." kini cermin menampilkan ketiga gadis yang mempunyai perasaan pada Arion.


Dorothy mengusap telinganya, "Rencana kita sudah berubah..." ucap Dorothy pada Anna.


Setelah itu dia menggerakkan tangannya, dia melihat ke arah cermin yang menampilkan sebuah lemari milik puteri Odellia, "Kau tidak akan bisa kemana-mana! hahahhaha," Dorothy tertawa jahat.


Sementara di dunia nyata.


"Karla...." panggil Om Dera.


"Apa lagi? sudah puas kamu? iya? sekarang Rissa hilang, bersama anak dari orang yang sama-sama kita benci!" kata Karla yang duduk di ruang tamu di rumahnya sendiri.


"Aku tau ini semua salahku, dan aku mengakui itu. Aku menyesal..." kata Om Dera.


"Ter-lam-bat!"


"Karla---"


Tante Karla menunjukkan telapak tangannya, "Stop memanggilku dengan nada seperti itu. Kamu nggak cocok ngomong sok dilembut-lembutin gitu, Mas..."


"Lagian, aku itu tahu. Kamu menikahiku dulu, karena kamu tau kalau aku bermusuhan dengan Reva. Kamu hanya memanfaatkanku untuk sedikit membujuk nenek supaya mengajarimu ilmu kebatinan," kata Karla.


"Dasar pria licik!" lanjut tante Karla merepet kemana-mana.


"Yang semua kamu bicarakan memang benar, aku memang hanya memanfaatkanmu. Mencari tahu semua seluk beluk tentang sepupu dari Karan Perkasa, dan aku menyesal soal itu. Mari kita lupakan rasa dendam kita terhadap Ridho maupun Reva..." kata Om Dera.


"Dan sekarang aku ingin rujuk denganmu, Karla. Aku sudah tidak bersama dengan Jovanka, kami sudah berpisah..." kata Om Dera.


"Panteslah ditinggalin, udah kere kan?" tante Karla naikin satu sudut bibirnya.


"Terus? setelah kamu udah nggak punya apa-apa lagi, kamu mau balik lagi sama aku? mau numpang hidup gitu? iya? hem?" tante Karla nyindir terus.


"Mana Dera Prayoga yang dulu? yang Arogan dan punya banyak uang dan barang mewah? yang habis cerai terus nikah lagi sama perempuan lain?" lanjut tante Karla.


Om Dera nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Dia emang salah kok dan Dera Prayoga nggak menyangkal sedikitpun dari fakta yang diucapkan oleh mantan istrinya. Kekayaannya sudah lenyap dalam waktu beberapa hari saja, meskipun memang perlahan tapi pasti bisnisnya sudah menurun. Dan sekarang dia nggak punya apa-apa lagi, selain rumah yang dia tempati bersama anaknya, Karissa.

__ADS_1


"Aku pengen kita balik dan memulai semua dari awal..." ucap Om Dera tulus sedangkan tante Karla memandangnya dengan tatapan nggak suka.


__ADS_2