Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
81. Seseorang Mirip Dengan Rion


__ADS_3

Menurut papi Ridho mungkin, dia baru beberapa jam menapaki dunia dongeng. Tapi sebenarnya dia udah merem selama 4 hari. Bibirnya yang biasa merah, karena papi Ridho kan emang nggak suka ngebul sekarang bisa kering dan pucet banget.


Pada dasarnya tubuh manusia bisa bertahan selama satu minggu tanpa makanan dan minuman, makanya melihat kondisi Ridho yang makin pucet, pak sarmin calling-calling tuh pakai mata batinnya ngeliat ngeker dimana papi Ridho berada.


Eh alhamdulillahnya papi Ridho yang ganteng paripurna itu udah nemuin Rissa, walaupun Rissanya masih merem saat itu. Tapi itu membuat pak sarmin cukup lega. Jadi dia segera memberitahu papi Ridho kalau dia udah nggak punya banyak waktu, maksudnya supaya dia gaskeun nyari si Rion terus biar gerbang penembus waktu dibuka sama pak sarmin, tentu dengan kuasa Tuhan yang maha segalanya.


"Reva, kamu sebaiknya tidur di kamarmu. Ridho biar aku dan pak sarmin yang akan menjaganya..." ucap Om Karan, yang emang tiap hari nengokin sepupunya. lagi-lagi kalau istrinya bukan tante Luri, bisa berantakan tuh rumah tangga. Om Karan emang paling jago milih istri.


Mami Reva menggeleng, "Ridho lagi berjuang buat nemuin Rion. Masa aku malah enak-enakan tidur nyaman di kamar? lagian, pikiranku juga nggak tenang kalau lagi sendirian,"


"Kamu harus jaga kesehatan,"


"Kamu pulang aja. Kasihan Luri dan Kanaya..." kata Reva, pak Sarmin mah fokus doa di luar bersama para tetangga sekitar dan anak panti yang mereka undang buat doa bersama. Semakin banyak yang kirimin doa, makin terang jalan Rion buat pulang.


"Luri udah tau kalau Ridho lagi berkelana nyari anaknya. Dia pasti paham kenapa akhir-akhir ini aku sering kesini..." kata Om Karan.


Mami reva masih duduk di lantai, sambil tangannya terus bertautan dengan suaminya.


"Kamu duduk dibawah seperti itu, nggak baik buat kesehatan. Tulang punggungmu bisa melengkung!" Om Karan nakut-nakutin.


"Pulanglah. Anak istrimu sudah menunggu di rumah!" kata mami Reva.


"Kamu yang naik ke atas dan istirahat, nanti kalau Ridho sadar aku pasti akan cepat memberitahumu!" Om Karan nggak kalah keukeuh.


"Istirahat, Revaaaa. Nanti kamu bisa kesini lagi. Ridho tidak akan kemana-mana, kalau perlu kamu ikat saja kakinya..." Om Karan yang hatinya dulu sedingin gunung es, bisa mencair karena kelakuan ajaib mami Reva.


"Tapi pengajiannya baru juga dimulai," kata mami Reva nyari alesan lagi.

__ADS_1


"Ada mbak Rina, sudah kamu istirahat saja. Siapapun yang ngeliat wajah kamu juga pasti tau kalau kamu udah kecapean banget. Kali ini kamu nurut, daripada kamu ambruk..." Om Karan sebisa mungkin nggak ngegas, karena Reva makin dikerasin bukannya makin lunak tapi makin keras aja, kayak Rion lah. Itu juga Om Karan belajar dari papi Ridho.


"Ya udah deh kalau gitu..." mami Reva bangun dan melihat wajah pucat papi Ridho.


"Aku ke atas dulu..." lanjutnya.


Mami keluar dari ruang kerja papi Ridho yang emang posisinya agak jauh dari ruang tamu, dan nggak ngelewatin kalau dia mau naik tangga buat ke atas.


Tapi mami Reva mendadak menghentikan langkahnya, saat mendengar suara ibunya dari arah depan, "Maaf ada apa ini?" tanya nenek Ivanna yang datang bersama anaknya, tante Ravel.


Thalita yang ngeliat emaknya dateng sama neneknya dan ngeliat kayak lagi bertanya-tanya pun langsung bangun dan nyamperin, "Nenek? mama??"


"Ayo, Nek ... ke dalem aja," kata Thalita supaya ngfak ganggu orang yang lagi pengajian.


Mami Reva yang kepo dengan suara ibunya itu ya akhirnya nyperin dan beneran aja, dia ngeliat nenek Ivanna dan ibunya Thalita ada disana, "Mama?" lirih mami Reva.


Yang tadinya mami Reva mau ke atas, mau iatirahat. Nggak jadi, sekarang mereka malah ngumpul di ruang kerja papi Ridho. Disana ada Om Karan, yang juga nggak kalah kaget dengan kedatangan ibu dari mami Reva.


"J-jadi? cucuku hilang? astagaaaaaa," nenek Ivanna memegang kepalanya.


Nah, kan ini nih yang mami Reva hindari. Mami Reva takut banget ibunya kena serangan kaget. Nenek Ivanna yang punya riwayat tekanan darah tinggi pun ngerasa pusing mendadak.


"Tante ... tante jangan terlalu banyak berpikir yang negatif," ucap Om Karan, dia memegang tangan nenek Ivanna yang udah dia anggap kayak ibunya sendiri.


Ya, semenjak tau kalau mami Reva itu saudra sepupunya, Om Karan jadi lumayan deket sama nenek Ivanna. Ketulusan wanita itu membuatnya merasakan kelembutan seorang ibu yang udah lama nggak Om Karan rasakan.


"Kita sedang mengusahakan untuk mencari Rion..." tambah Om Karan.

__ADS_1


"Lebih baik kita duduk di luar, sekalian mendoakan Rion supaya bisa cepet ketemu! atau mama masih pusing?" tanya mami Reva yang dijawab gelengan kepala ibunya


"Kamu istirahat aja Va di atas..." Om Karan ngeluat wajah sayu saudaranya itu


"Nggak apa-apa mumpung ada mama disini, kelar doa bareng aju bakalan naik ke atas kok!" mami Reva gandeng nenek Ivanna menuju ruang tamu.


Sedangkan di dunia yang lain, papi Ridho yang setengah yakin kalau gadis yang ditemuinya saat ini merupakan gadis yang membuat Rion menceburkan diri pada pusaran waku pun, mencoba membangunkannya. Dia menaruh pedangnya di lantai.


"Dekk adeekkk? banguuun! hey...!" papi nepok tangannya.


Perlahan mata gadis itu terbuka, dia sedikit menyipitkan matanya menyesuaikan dengan cahaya yang ada di kamarnya.


Dia kaget saat melihat seseorang dengan baju pengawal ada di hadapannya. Rissa segera bangun.


"Tenang, Rissaaa...!" ucap papi Ridho.


Dan setelah namanya disebut, Rissa ngeliat si pengawal lagi yang wajahnya plek ketiplek sama Rion tapi cerai yang udah mateng. Pisang kali mateng, ehek!


"Ri-on?" lirih Rissa, dia mau mastiin orang yang di depannya ini Rion atau bukan.


Nah papi Ridho yang dipanggil dengan nama Rion pun kaget, 'Apa iya aku semuda itu' batin papi Ridho. Yeuuuh bisa aee si papih mah!


'Astaga, ini bukan waktunya memuji diri sendiri!' kali ini papi Ridho sadar.


"Rion? apakah aku tertidur sangat lama? hingga sekarang kita sudah menua?" tanya Rissa bingung.


"Bukan aku bukan Rion!" ucap papi, yang bikin Rissa segera bangkit dari kubur, eh bukan. Dari kasur.

__ADS_1


"S-siapa kamu? ke-kenapa wajahmu mirip dengan seseorang?!" Rissa merasa terancam dengan seseorang yang mengenalinya.


"Tenang! aku bukan orang jahat! sebenarnya aku itu-----" ucapan papi Ridho belum terputus saat mendengar sebuah suara dari dalam lemari pakaian.


__ADS_2