
Disela pertolongan yang diberikan Rion, Thomas malah mendorongnya dan menampar Rion bolak-balik.
PLAK!
PLAK!
"Apa yang lu lakuin?!" Thomas mencengkram sweater yang dipakai Rion.
"MINGGIR...?!" Rion mendorong balik badan jangkung Thomas.
Rion akan melakukan bantuan pernafasan lagi tapi Thomas mendorong tubuh Rion untuk yanh kedua kalinya.
"Elu nggak sepantasnya----"
"ELU LIAT? DIA MEMINUM BANYAK AIR! BAHKAN DIA SAMA SEKALI NGGAK BERNAFAS, THOMAS!" Rion membentak Thomas.
Baru kali ini Thomas melihat Rion seemosional ini. Biasanya Rion anteng-anteng dan cenderung diem. Sedangkan yang lain, nggak ada yang berani misahin.
Melihat kondisi Rissa yang rambutnya aja sekarang ada kristal-kristal es nya bikin mereka nggak mau ngehalangin apa yang mau Rion lakukan, bahkan Meisya sangat shock dengan kejadian yaang menimpa atasannya itu
Tanpa perlu ijin dari Thomas Rion memompa jantung Rissa. Wanita itu masih diam.
Rion menutup hidung Rissa dan memberikan transferan nafas melalui mulutnya.
'Bernafaslah, Rissa! bernafaslaaaaah, gue mohon!' Rion udah panik karena, apa yang dia lakuin nyatanya nggak ada hasilnya sama sekali. Rissa masih saja diam tanpa ada pergerakan sama sekali.
'Please lu harus tetep hidup, lu nggak boleh ninggalin gue, Sa! lu nggak boleh,' Rion terus aja berucap dalam hatinya, sembari tangannya melakukan CPR berulang-ulang.
Langit mulai gelap, wanita yang sudah menempati ruang tersendiri di hati Thomas maupun Rion itu masih diam, tanpa ada tanda-tanda dia akan bernafas apalagi bergerak.
"Aaaaaarrrrghh!!!" Rion memekik.
Bahunya naik turun, sedangkan tangannya berhenti melakukan pertolongan pada Rissa.
'Gue ... gue nggak bisa ngeliat elu pergi dengan cara kayak gini, Rissaaaaaa!' Rion terduduk lemas.
"Kenapa? kenapa elu berhenti? hah" Thomas membalikkan badan Rion.
Rion memandang Thomas dengan lesu, matanya merah. Air mata keluar terus menerus.
"Kenapa?" tatapan mata Thomas menajam.
"Kenapa elu berhenti? hah?" lanjutnya.
Arion cuma menggeleng. Thomas yang ngeliat sahabatnya begitu terpukul, sampai dia mengucurkan air mata pun menaruh curiga dengan Rion, 'ada apa sebenarnya dengan mereka berdua'
__ADS_1
"Sebenernya banyak hal yang bikin hati gue kayaknya mau meledak, antara elu dan Rissa. Ngeliat cara elu nolong dia, gue rasa ada hal yang selama ini elu sembunyiin dari gue," Thomas straight to point.
"Tapi gue nggak peduli! gue nggak peduli ada apa dengan kalian. Sekarang gue tanya, kenapa elu berhenti? kenapa dia diem aja?"
"Jelasin sama gue ARIOOOOONNNN?!!"
Bughhhh!
Bughhhh!
Thomas menghajar Rion, dia memukul sampai wajah sang model mengeluarkan darah. Beberapa irang mencoba melerai keduanya.
"Gue udah berusaha, tapi---" Rion menyeka darah yang ada di sudut bibirnya.
"Uhuuuukkk?!!" suara wanuta terbatuk.
"Bu?!! bu Rissaaaaaa!" pekik Meisya yang terduduk dan memeluk tubuh atasannya itu.
Thomas dan Rion pun kompak menengok, Rissa yang sekarang mengeluarkan banyak air dari mulutnya.
Kali ini Thomas nggak mau kecolongan, dia segera meraih tubuh wanuta yang diincarnya selama ini, "Rissa? kamu bisa dengar aku, Rissa???
Thomas mengeluarkan kunci mobil milik Rion, dia memberikannya begitu saja pada sahabatnya.
Dan sekarang, pria jangkung berdarah campuran itu mengangkat tubuh Rissa dan membawanya menuju campervan. Meisya dan beberapa orang pun mengikutinya.
Sementara lapisan es yang tafinya amblas, sekarang perlahan-lahan menutup kembali. Seakan-akan nggak ada yang retak dan mulus seperti sediakala.
Rion merasakan dingin menjalar di tubuhnya, dia mengambil mantelnya yang teronggok di bawah, lalu berjalan menuju mobilnya.
Campervan yang ditumpangi Thomas dan mobil kru yang lainnya pun udah mggak ada. Sekarang Rion mengambil baju yang selalu dia siapkan di dalam mobil, seenggaknya dia pakai sweater yang kering. Bawahan mah sabodo teuing. Karena pikirannya sekarang masih tertuju sama Rissa.
'Semoga dia baik-baik ajah,' Rion ngomong dalam hatinya.
Sekarang mobilnya menjauh dari danau beku yang nyaris menenggelamkan Rissa.
Rion mengelus kalungnya dari luar bajunya, 'Bertahanlah, aku masih membutuhkanmu!'
Rion nggak mencari tau ke rumah sakit mana Thomas membawa Rissa. Yang jelas, melihat Risaa yang udah bisa bernafas aja, membuat Rion udah cukup lega.
Cukup lama pria itu menyetir, sampai akhirnya dia tiba di unit apartemennya.
Rion menggantung mantelnya, di kamar dan pergi menuju kamar mandi. Udah cukup malam buat mengguyur badannya yang penuh dengan otot-otot yang kencang, tapi rasanya dia perlu mengguyur kepalanya dengan air hangat setekah tadi sempat berenang di air yang sangat dingin.
Cuplikan bagaimana Rissa tenggelam dan hampir kehilangan nafasnya membuat Rion sangat frustasi.
__ADS_1
Rion menyambar handuk dan segera mengeringkan badannya, dia memilih baju yang paling hangat sehangat dekapan ayang.
Weerrrrrrrrrr!!!
Dengan telatennya dia mengeringkan rambutnya denganesin pengering rambut yang ada di kamar mandi, dekat dengan wastafel.
Dia menyisir rambutnya dan merebahkan diri di atas kasur empuknya.
"Seandainya gue tau, kalau dia yang akan datang. Pasti tawaran Thomas nggak bakalan gue ambil. Dan pasti dia nggak bakal ngalamin kejadian mengerikan kayak tadi," Rion terus bermonolog dengan dirinya.
Dia mengusek kepalanya dengan tangan, "Ada apa sebenernya. Kenapa sosok itu malah ngeganggu Rissa?"
Rion menyembunyikan sebagian badannya di balik selimut tebal, sedangkan tangannya memencet remot tivi. Dia sengaja mengganjal punggungnya dengan bantal biar nontonnya lebih nyaman.
Trakk!
Takkk!
Takkk!
Rion mendengar benda yang sengaja dibunyikan, seperti aktivitas memindah-mindah barang. Tapi Rion terlalu lelah buat ngeladenin mereka yang nggak tau kenapa tiba-tiba sowan ke unit apartemennya yang biasanya juga adem-adem bae.
Sedangkan di rumah sakit. Thomas setia menunggui Rissa.
"Kamu tidur saja, Meisya! ini sudah malam," kata Thomas.
Meisya sebenernya juga pengen ngeliyep, tapi mau gimana lagi. Nggak enak juga dia tidur tapi Thomas malah begadang ngejagain bosnya.
"Jangan beritahu siapapun tentang kejadian ini," Thomas bicara pada Meisya.
"Baik,"
Thomas sadar kalau saat ini yang dibutihkan Rissa hanya iatirahat. Lagipula mereka bukan sepasang kekasih atau bahkan sepasang suami istri, jadi kemungkinan Rissa akan lebihembituhkan bantuan Meisya yang sesama wanita.
"Aku akan kembali besok pagi, jika ada apa-apa dengan dia. Cepat beritahu aku, aku akan datang kemari secepatnya!"
"Aku yang mengajaknya bermain di danau belu, jadi aku akan beryanggung jawab atas tragedi yang terjadi hari ini," lanjutnya.
"Baik," Meisya cuma bisa manggut-manggut aja paham.
Thomas pun keluar dari ruang perawatan Rissa. Sementara pikirannya melayang saat Rion berlari di atas lepengan es yang licin, buat nyebur menolong Rissa.
"Apa yang elu sembunyiin dari gue, Arion? kenapa. Kenapa di depanku kalian berlagak nggak kenal, tapi dari sorot mata elu tadi. Elu sama Rissa kayak orang yang udah kenal deket..." Thomas teris berjalan dan masuk ke dalam mobilnya.
Lama juga dia termenung, menyandarkan keningnya di stir mobil, "Aaaerrrrghhh!" Thas membenturkan jidatnya.
__ADS_1
Dadanya naik turun, lantas dia melihat ke depan, "Harusnya gue yang nolongin Rissa bukan Rion!"