
Ya, sosok perempuan yang dia lihat sewaktu di pesawat ternyata ngintilin sampai apartemen.
Rion bergerak dan menyalakan lampu utama kamarnya. Sedangkan ruangan yang lain masih gelap. Makanya, dateng-dateng jangan langsung molor! didatengin setan kan lu?!
"Gue bilang pergi!" Rion segera mengubah liontin yang dipakainya menjadi sebuah pedang cahaya biru.
Krekkk!
Kreeek!
Hantu itu berjalan dengan suara sendi-sendi yang bikin kuping geli.
"Heh?!! gue bilang jangan mendekat! pengen gue musnalin lu?" Rion mengancam.
Tapi hantu itu kayaknya tuman, nggak ada takut-takutnya dia sama ancaman Rion.
Krekkk!
Krekkk!
Tangan wanita itu kini terjulur dan mengucapkan sebuah kata, "S-sayang..."
"Jangan panggil gue Sayang! karena gue bukan sayangnya elu!" kata Rion.
"Munduuur!" Rion menggerakkan pedangnya nyuruh tuh Etan mundur, tapi lagi-lagi dia nggak mau dengerin. Maju terus oantang mundur ya, Tan?
"S-sayang...?!" tangannya terjulur ingin meraih Rion.
Krekkk!
Krekkk!
Setiap hantu itu bergerak, bunyi sendi-sendi membuat Rion merinding. Bykan karena melihat wajahnya tuh Etan yang serem, tapi karena bunyi-bunyian yang bikin bulu kuduknya ngejegrig.
Rion terpaksa mengangkat pedangnya dan mengayunkannya ke udara.
Sreeeeeeettttt!
Cahaya biru mengenai tubuh hantu itu yang memekik, "S-sayaaang!"
Sebelum akhirnya sosoknya hilang menjadi asap berwarna putih yang perlahan memudar.
"Astagaaaa, baru juga nyampe udah disamperin hantu nggak tau diri. Manggil sayang-sayang, seenak jidat dia. Gue tau gue lagi jomblo, tapi nggak sudi juga gue dipanggil mesra sama setan?!! karena yang boleh panggil gue sayang cuma Riss--aa," Rion mengucapkan sebuah nama yang membuat hatinya kembali berdenyut.
Pedang cahaya kini berubah bentuk menjadi liontin yang selalu terpasang di sebuah kalung yang melingkar di lehernya.
Rion bergerak menyalakan semua lampu yang ada di ruangan itu.
Lanjut dia membersihkan diri, di bawah guyuran air hangat bikin Rion jadi seger lagi. Jangan membayangkan berapa kitak yang ada di perutnya, karena sejarang Rion menyembunyikan itu di balik kaosnya yang kedombrangan.
__ADS_1
"Untung gue sempet beli makanan di bandara," Rion mengeluarkan burger dan soda yang sempet dia taruh di kulkas.
"Besok berarti gue harus belanja," Rion duduk sambil ngeliatin barang-barang yang ada di dapur nya.
Semua yang ngurus papi, dan dia lupa kalau anaknya itu juga butuh piring buat makan. Maklum ya bapack-bapack, nggak kepikiran sampe kesitu.
Suasana yang beda bikin Rion sesikit merasa asing, matanya awas melihat sekelilingnya. Yankali aja ada hantu lain yang nimbrung di apartemennya. Ya kalau ikut bayar sewanya, nah kalau cuma numpang tidur disitu kan yang ada nyusahin ya, ehek?!
Rion menikmati setiap gigitan burgernya, sambil nonton tivi, sesekali dia juga menyesap sodanya biar nggak seret.
.
.
.
Pagi harinya Rion bangun subuh seperti biasanya, dan dengan mimpi yang sama. Jadi si Dorothy cuma muncul sekali doang yang waktu dia naik pesawat, selebihnya mimpinya selalu sama sampai Rion ngerasa jenuh banget.
Rion ini kan termasuk penghuni baru, dia coba keliling. Sambil jogging pagi, biar sehat.
Dengan kalung yang melingkar di lehernya, Rion lari pagi dan sesekali mengelap pelipisnya yang basah dengan handuk kecil.
Udaranya cukup bikin pengen ngeringkel lagi di dalam selimut, tapi Rion dengan santuynya cuma pakai celana pendek dan kaos yang berhasil mencetak otot tangan hasil dari krekelannya selama ini.
"Hhh ... hh.., " Rion ngos-ngosan saat udah capek berkeliling. Dia naik lagi ke unitnya.
Rion duduk di sofa dan ngelempar handuknya sembarang. Kalau ada mami udah ditimpuk balik kamu, Yon!
Rion bergerak ke arah barang-barang yang dia beli sewaktu di bandara. Ada air minum dan juga roti. Rencananya dia mau belanja buat memenuhi kebutuhannya selama di apartemen.
"Nggak ada apa-apa," Rion melihat laci-laci yang ada di dapur.
Rion mandi dan beres-beres, dia bongkar koper dulu sebelum dia pergi untuk belanja.
Ada satu kaos yang dia pegang, kaos yang sama saat dia ngajarin Rissa manjat dinding.
Satu senyuman merekah saat pikirannya melanglang buana mengingat moment saat dia dengan sigap menangkap tubuh Rissa.
Satu barang membuatnya jadi travelling ke masa lalu, apalagi saat dia terjebak di dunia para iblis.
Rion mengambil kaos itu dan memakainya, meskipun lagi-lagi hatinya harus cekat cekit, tapi itulah yang harus dihadapinya.
Dia menutup kembali kopernya, sekaligus menutup masa lalunya bersama gadis yang entah sampai kapan akan bersemayam di hatinya.
Beberapa waktu berjalan sesuai dengan rencana. Setelah malam dimana dia diganggu oleh makhluk halus, sekarang hidupnya lebih tenang. Mungkin mereka nggak mau berakhir sama dengan hantu wanita yang tuman mandekatinya.
Setiap harinya Rion kegiatannya ya itu itu aja. Pergi ngampus, pulang, istirahat. Dia malas hanya untuk hang out bareng temen-temennya, bahkan Rion hanya punya satu temen deket yang berasal dari negara yang sama dengan dirinya. Rion ini tipe introvert yang males bergaul, mungkin dia takut masuk ke dalam sekte-sekte sesat yang lagi booming dimana-mana
Sedangkan Rissa sendiri, masih keukeuh tinggal sama papa nya. Walaupun nyatanya dia harus berjuang keras untuk menjaga papanya sekaligus nerusin kuliah dan kerja disaat yang bersamaan. Dia nggak tau kalau Rion udah beda benua sama dia.
__ADS_1
"Pah, Rissa berangkat dulu..." Rissa mencium tangan papanya.
"Hati-hati, uhuukk uhukk!" sahut Om Dera sambil terbatuk.
Dia nggak ngampus, dia mau berangkat kerja. di sebuah toko baju kerja pria.
Rissa pergi dengan naik ojek, dia meluncur ke sebuah mall.
"Ini pak ongkosnya, makasih!" Risaa buru-buru ngasihin uang sama kang ojegnya dan langsung naik ke lantai dua.
"Rissaaaaaaa! ya ampuuuun, lama banget kamu?!" ucap salah satu temennya yang udah gelisah daritadi.
"Maaf, maaf..."
"Gue udah telat niiih!" ucap salah seorang perempuan yang mau ngedate sama pacarnya. Dia minta tolong Rissa buat dateng 1 jam lebih cepat dari biasanya.
"Kalau bu bos nanya, bilang aja aku sakit perut atau apa kek,"
"Ya..." kata Rissa.
Dia mencepol rambutnya dan mencopot jaketnya, dia udah rapi dengan seragam kebanggaannya.
"Gue pergi!"
"Hati-hati," kata Rissa.
Dia mulai pekerjaannya dengan membereskan baju-baju yang ada di gantungan.
"Lu kok mau aih disuruh-suruh sama Nanci?" kata temen Rissa yang lain.
"Kalau gue sih nggak mau. Karena dia duluan yang kerja disini? gitu? asal lu tau, Rissa. Kita disini tuh sama, sama-sama karyawan. Lu jangan mau dong disuruh-suruh sama dia. Apalagi lu disuruh dateng sebelum jam kerja elu! jangan bikin dia semena-mena sama elu!" kata Siska ngasih Rissa pencerahan supaya jangan mau ditindas.
"Eh itu ada customer!!" kata Siska.
Dan ketika Rissa menoleh, dia sangat mengenal customer yang hari ini datang ke toko nya.
Wanita itu pun nggak kalah kaget dia jelas kenal siapa gadis yang di depannya kini. Dia anak dari musuh bebuyutannya.
"Maaf, anda mencari sesuatu, Nyonya?" ucap Rissa sopan.
"Ya ... tentu!" mami Reva melihat-lihat kemeja.
"Ambilkan aku kemeja yang itu," mami Reva menunjuk sebuah kemeja berwarna navy.
"Silakan..." Rissa memberikan apa yang wanita itu inginkan.
"Baik, aku ambil kemeja yang ini. Dan kalau kau tidak keberatan, aku ingin bicara denganmu..." ucap mami Reva.
Rissa melihat bosnya yang baru saja datang, dia ragu untuk menjawab.
__ADS_1
"Aku akan bicara pada bosmu terlebih dahulu," kata mami Reva yang meninggalkan Rissa dan mendekati seorang wanita dengan style yang sangat modis.