Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
135. Kekuatan Pedang


__ADS_3

Listrik tiba- tiba mati total. Rion yang tadinya lagi makan, mau nggak mau harus berhenti.


Sreeeeeetttt!!!


Ada cahaya biru yang melewati dirinya, menuju ruangan yang lain.


"Itu cahaya milik gue?" Rion mengikuti kemana cahaya biru pergi.


Sreeeeeetttt!!!


Rion mengusap liontinnya dan mengubahnya menjadi sebuah pedang cahaya biru. Rion ngerasa kali ini kekuatan dari pedang itu nggak seperti biasanya.


Apa pedang itu ada masa kadaluarsanya, Rion pun nggak paham juga. Atau pedang itu bisa lowbat macam batre yang harus di charge, Rion lagi-lagi juga nggak paham.


Intinya feelingnya mengatakan kalau pedang ini semakin lama semakin menurun kekuatannya.


Tapi mengesampingkan perasaan itu, Rion bergerak dengan hati-hati menuju ruang tengah.


Saat ada bunyi...


Duaarrrrrrr!!!


Suara seperti petasan banting itu pun membuat Rion terkejut.


Lalu...


Dep!


Dep!


Dep!


Byaaarrrr!!!


Seketika lampu menyala lagi. Dia bingung saat melihat kepulan asap berwarna biru tiba-tiba membuatnya terbatuk.


Rion mengibaskan tangannya, dan seketika kepulan asap itu perlahan memudar.


"Ada apa sebenarnya?!" Rion berkeliling di unitnya.


Rion melihat pedang yang ada si tangannya, "Apa pedang ini nggak kuat berada di negara ini? atau gimana?"


"Apa benar yang dibilang kakek kalau pedang jni harus dikembalikan? apa suara ledakan tadi sebuah tanda kalau aku udah melakukan hal yang salah?" Rion mengusap tulisan hyena yang ada di pedang cahaya birunya.

__ADS_1


Seketika pedang itu berubah menjadi liontin, dan terpasang otomatis di leher Rion. Pemuda yang udah menjelma menjadi seorang pria itu, nggak tau kalau bayangan hitam yang melintas dan masuk ke dalam unitnya itu merupakan sebuah entitas jahat yang kemudian dilawan oleh energi dari pedang cahaya biru miliknya.


Rion yang sebenernya belum merasa kenyang itu akhirnya duduk di sofa dan mencopot kalung yang dia gunakan. Dia memperhatikan liontin yang berbentuk sebuah pedang.


"Kalau gue harus balikin elu, gue harus balikin kemana?" Rion seakan berbicara pada liontinnya.


Rion jadi ingat, pertama kali dia mendapatkan liontin ini. Dan otonatis dia pun inget siapa yang mengajarinya memahami senjata yang dia gunakan untyk menumpas segala macam iblis itu.


"Shiiiiiit?! kenapa gue jadi inget sama dia...?!" Rion menggenggam kalungnya dengan kuat.


Genggaman tangan itu dia tempelkan di keningnya, berusaha mengusir bayang-bayang Rissa.


5 tahun terlewati, dan selama itu pula Rion nggak menjalin hubungan asmaea dengan siapapun. Apalagi setelah bekerja, Rion nggak ada keinginan buat mengenal lawan jenisnya. Lha wong temen aja cuma satu doang itu si Thomas. Yang lainnya cuma sekedar kenal tapi nggak deket. Se- introvert itu ya, Yon!


Saking kuatnya, uray-urat menonjol dari tangannya. Kulitnya yang sensitif sama dingin pun memerah seiring dengan emosi yang ditahannya kini.


"Susah banget buat gue ngelupain elu?! apa yang udah elu lakuin, Rissaaaa....?!" Rion setengah berteriak dia mendongak dan kemudian berteriak seperti orang kesurupan.


Sedangkan Rissa sendiri, mengalami getirnya kehidupan melebihi siapapun. Bagaimanapun mama nya memintanya untuk meninggalkan paoa nya yang sakit-sakitan, sekuat itu juga Rissa mempertahankan keinginannya untuk merawat papa nya.


Meskipun, Rissa harus menjual waktu masa mudanya untuk bekerja keras dari satu toko ke toko yang lain, sambil meneruskan kuliahnya yang sempat tersendat selama 1 tahun karena dia harus ambil cuti. Bukan karena bodoh atau pun jadi anak nakal, Rissa mundur satu tahun karena harua fokus merawat papanya yang saat itu nggak bisa ditinggal. Kondisinya begitu memprihatinkan.


Satu tahun itu Rissa manfaatkan buat bekerja, dan menghemat pengeluaran yang nggak penting-penting amat. Dan hal itu yang bikin Rissa tumbuh menjadi sosok gadis yang kuat dan mandiri.


"Ya..." lirih Om Dera.


"Rissa pamit mau kerja dulu, papa hati-hati di rumah..." gadis itu meraih tangan papa nya dan menempelkannya ke keningnya.


"Hati-hati..."


"Nanti Rissa usahain pulang cepet," Rissa mendongak dan mengelus punggung tangan papa nya.


Pria tua itu mengangguk. Pria yang duku sombongnya minta ampun, sekarang hanya bisa menghabiskan sisa waktunya duduk di kursi roda. Bukan karena dia nggaknkuat berdiri, tapi Rissa yang meminta papanya supaya membatasi aktivitasnya. Takutnya kalau kebanyak jalan, jantungnya nggak kuat dan bisa anfal secara tiba-tiba.


Rissa mendorong kursi roda papanya keluar kamar


"Papa jangan di kamar terus, nanti cepet bosen..."


"Bik, minta tolong supaya papa bisa ke taman belakang. Biar bisa ngeliat yang seger-seger," kata Rissa yang melihat asisten rumah tangganya.


"Pah, mawar biru kita udah mekar cantik banget. Dan Erio udah tambah pinter ngoceh!" Rissa yang kini berjalan ke depan kursi papa nya. Erio, seekor burung beo sengaja dibeli Rissa agar papa nya nggak jenuh di rumah. Minimal ada yang dilihat dan diperhatikan.


"Berangkatlah, nanti kamu terlambat..." Om Dera meletakkan telapak tangannya di atas kepala anaknya.

__ADS_1


Rissa mengangguk dan tersenyum. Dia pun bangkit.


"Bik, tolong antar papa ke taman..."


"Baik, Neng..." Bik Minah menyahuti majikannya.


Sebenernya Rissa mempekerjakan dua orang, Bik Minah dan pak Darman. Mereka kebetulan suami istri yang ditinggal anak satu-satunya merantau. Makanya Rissa minta mereka bersua buat tinggal di rumahnya yang nggak seberapa besar ini, tapi sangat nyaman untuk ditinggali.


Risaa masuk ke dalam mobilnya, dia menyalakan mesin dan bergegas menuju tempatnya mengais rezeki.


Untuk mendapatkan semua fasilitas ini, Rissa harus bekerja dengan keras dan cerdas sampai dia bisa mendapatkan sebuah jabatan yang bagus di tempatnya bekerja.


Disisi lain ada dua orang manusia yang pagi-pagi udah ribut sendiri. Ya, Slamet dan juga Eza.


"Met, cepetan dong!" kata Eza yang udah belingsatan.


"Sabar, Ja! emang ini jalannya mbah mu? sabar!"


"Kita bisa telat ini...?!!"


"Siapa suruh elu udah ditelpon berkali-kali masih ngeringkel aja di dalam selimut?!!" Slamet nggak mau disalahin.


"Ya gue kan capek banget kemrin syuting di luar kota, ditambah di video call berjamaah bareng Yono semalem,"


"Lu jangan salahin video call, salahin kuping elu yang nggak peka sama suara bunyi telpon?!" Slamet ngurat banget, cekcok sama Eza.


"Gue rasa elu mulai budek, coba gih periksa ke THT," tambah Slamet.


Jurus turunan dari Rion pun dilancarkan Eza, dia ngeruwes mulut Slamet yang nggak ada adab.


"Gue karetin mulut jahanam lu ini baru tau rasa?!"


"Pwiiihhh, pwiiihhhh?!! singkirin tangan laknat lu, Jajaaaaa?!!" Slamet nyingkirin tangan Eza.


"Udah deh, lu duduk yang bener! jangan kayak orang lagi bisulan, ini gue juga udah berusaha supaya kita nggak telat kok!" tambah Slamet yang sat set licin banget di jalan udah kayak belut.


"Gue nggak mau kehilangan pekerjaan ini, Mettt?!! cicilan gue masih banyak," kata Eza yang kini duduk dengan perasaan yang gelisah.


"Ya samaaaaa! gue juga nggak mau kehilangan pekerjaan ini, makanya lu jadi artis molornya jangan kebangetan! gue kan udah bilang mandinya ciprat-ciprat air aja. Kan elu udah tau produsernya galaknya kayak apa," Slamet nengok sekilas ke arah sahabatnya.


"Sekarang lu diem, dan biarin gue konsen nyetir!" lanjut laki-laki yang merangkap jadi asisten sekaligus manager dari Eza.


"Gaskeeeuuun lah!" sahut orang yang duduk di samping Slamet.

__ADS_1


__ADS_2