Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
129. Sekedar Mimpi


__ADS_3

"Heyyyy!!!" Rion mengetuk pegangan kursi yang ada di samping gadis itu. Rion bahkan harus bangkit dari kursinya dan datengin itu perempuan. Dia ketok berharap gadis itu kebangun.


Rion yang tadi udah tiduran dan pakai selimut keganggu sama perempuan yang disinyalir lagi ngelindur.


"T-tolonggg!" pekik gadis itu lagi.


"Heeehhhh! bangun!" Rion tepok pundak gadis itu.


"Hhhhh, hhhh! " aku akhirnya dia bangun dengan keringat segede jagung.


Sontak dia nengok ke arah Rion yang nengok ke arah tempat dia tidur, "Heh? kamu mau apa? jangan macem-macem ya?!!" tuduh gadis itu.


"Dasar cewek sarap!" gumam Rion yang masa bodo dengan tuh perempuan dan milih buat balik lagi ke kursinya, tarik selimut sambil pasang headset. Dengerin musik lebih baerfaedah daripada dengerin tuh perempuan yang nuduh dia sembarangan.


"Maaf, saya butuh air minum!" kata gadis itu yang manggil pramugari.


"Baik, sebentar Nona. Mohon ditunggu," jawab sang pramugari.


Rion udah tutup mata, menyamankan diri sendiri meskipun dia nggak bisa tidur sama sekali. Dia merasa kalau saat ini udara semakin menipis dan bikin napasnya agak sesak.


"Nggak ada turbulens, tapi kok nggak nyaman gini..." Rion mulai membuka matanya.


"Astaga, ada apa ini?"


Dia melihat ada asap hitam yang memenuhi ruangan, ini bukan asap akibat kebakaran ataupun yang lainnya. Ini seperti sebuah energi jahat yang memenuhi seluruh kabin pesawat. Dia bahkan melihat seorang pramugari yang pingsan.


"Gawat?!! gue harus balikin kondisi secepat mungkin, gue nggak mau pesawat ini kenapa-napa!"


Semua orang keliatannya tidur tapi Rion yakin, mereka semua sedang dalam pengaruh jahat. Bahkan gadis yang abis nuduh dia yang nggak-nggak pun terpejam dengan kepala miring ke samping kiri.


Rion mengusap liontinnya, langkahnya pelan namun pasti.


Matanya yang tajam melihat sekeliling,


"Hahhahhahah," suara wanita yang ketawa membuat bulun kuduk seketika merinding.


Tapi Rion tetap melanjutkan langkahnya, dia bahkan udah pernah ketemu sama raja iblis. Jadi buatnya menghadapi makhluk ecek-ecek kayak gini mah hal yang dibisa dibilang remeh.

__ADS_1


Rion yang tadi ada di kelas bisnis, berpindah ke kelas ekonomi.


dan eng ing eng....


Rion ngeliat Dorothy, dia lagi menyerap energi dari seorang perempuan muda.


"Apa yang kau lakukan, penyihir jahaaaattt?!!" teriak Rion.


"Hahhahaha," sosok Dorothy yang keriput pun memandang Rion dengan tawa yang memekakkan genbdang telinga.


"AAArrrrrgggh?!!"


"Sudah ku bilang kau akan menyesal melakukan ini padaku, Ariooooon?!!" teriak wanita tua itu.


Sampai akhirnya....


Rion terbangun karena tepokan di bahunya.


"Tuan, tuan?!! anda tidak apa-apa?" suara seorang wanita memebuat Rion terhenyak kaget.


"Anda baik-baik saja? anda terlihat sangat pucat," ucap wanita itu.


"Hah?" Rion mengusap peluh yang ada di keningnya.


Dia menggeleng, "Tidak, saya baik-baik saja. terima kasih,"


Rion melihat sekeliling, ternyata langit masuh gelap dan penumpang yang lain ada yang sudah bangun dan ada yang masih molor.


"Hampir aja kelewatan!" Rion bergegaa ke toilet buat membasuh mukanya biar segeran dikit.


Lalu dia balik lagi buat menunaikan dua rakaatnya yang hampir kelewat.


Waktu sarapan, Rion sempet keder kok tumben-tumbenan dia mimpi sesuatu yang lain. Tapi sekalinya mimpi yang lain, eh malah yang muncul Dorothy.


"Jangan-jangan dia ingin membalaskan dendamnya? bukannya tuh nenek sihir udah terjebak di cermin itu? nggak, nggak, Dorothy hanya ada di dunia dongeng. Dia nggak mungkin bisa balas dendam sama gue?!" Rion lalu meneguk jus jambunya.


Akhirnya perjalanan yang memakan waktu belasan jam, berakhir juga. Rion turun dari pesawat dan mengambil bagasinya. Emang sengaja dia nggak bawa banyak barang, karena dia akan membeli semua keperluannya disini, di negara asing yang akan dia tinggali selama beberapa tahun ke depan.

__ADS_1


Rion berpikir, hanya ada dua cara menyingkirkan ego dan perasaannya yang acakadul ini. Menghadapi atau lari sejauh mungkin.


Dan pilihan Rion jatuh pada pilihan yang kedua, karena kalau liat Rissa bawaannya pengen perjuangin. Dan dia tau resiko apa yang akan dihadapinya jika milih Rissa.


Jadi ya udah, lebih baik dia pergi dan mengubur cintanya dalam-dalam untuk seorang Karissa.


Setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, Rion kini sampai juga di apartemen yang udah disiapkan papinya buat dia tinggali.


Rion sempet ngecek juga di bawah, hadiah mobil yang papinya janjiin. Dan ternyata tuh mobil juga udah ngejogrog dengan indahnya di basement.


Semua udah tersedia lantas nggak membuat hati Rion bahagia. Kalau elu mah pasti udah jejingkrakan yak?


Rion punasuk ke dalam apartemennya yang dibilang mewah banget sih nggak, tapi semuanya serba nyaman dan serba ada. Karena gimanapun duit harus dikelola dengan baik ya, jangan mentang-mentang ada tetus hidup jadi hedonis begitu.


Dengan mengelola perusahaan yang sebenernya punya Rion, papi Ridho hanya mengambil gajinya aja. Selebihnya uang itu dia simpan buat keperluan Rion. Secara nggak sadar, papi Ridho ini ya cum bantu ngejalaninnya aja. Dan semua keuntungan dari perusahaan itu ya buat Rion semua.


Makanya wakti Rion bilang mau nerusin kuliah di luar negeri, ya udah ayok aja. Karena emang duitnya udah ada.


Papi Ridho prinsipnya nggak mau ambil duit yang bukan hak dia, meskipun itu jatohnya perusahaan anak sendiri ya yang dikasih sama Om Karan Perkasa. Jadi sah sah aja sih kalau papi Ridho mau ngambil keuntungan, tapi nggak. Dia bukan tipe orang yang serakah.


Perusahaan yang pernah diberikan pada mami Reva yang kemudian dibalikin pada sepupunya, Karan tapi yang bersangkutan ogah nerima balik pun sekarang progressnya lebih bagus setelah dikelola oleh papi Ridho. Jadi perusahaan itu sudah beralih kepemilikan dari Reva Velya menjadi Arion putra Menawan, saat Rion udah genap berusia 17 tahun.


Dan sekarang, Rion menikmati hasil kerja keras papi nya dengan semua kenyamanan yang diperolehnya saat ini.


Terlalu lelah buat sekedar buka koper, pemuda yang tampan dan menawan sesuai dengan namanya yang disematkan padanya itu melemparkan diri di ranjang yang super empuk. Yeuuuh, Rion mentang-mentang nggak ada mami, main tidur-tidur aja! cuci kaki luuuuuuuu!


Nggak bisa tidurnya dia di dalam pesawat yang super nyaman, terbayarkan dengan lelapnya Rion nemplok di bantal yang empuk.


Seketika dia molor sampai hari menjelang malam. Anak mami Reva yang ganteng itu kebangun saat perutnya keruyukan.


"Kok gue nggak bisa liat apa-apa, hoammmphhh?!" tanganya mencari hape, dia nyalain senter dan nyalain lampu tidurnya.


"Astaghfirulaaaaaaaaaahhh!" Rion tersentak kaget saat melihat satu sosok hadir di tempat yang sama dengan dirinya.


"Siapa kamu?!!!" teriak Rion.


"Pergi atau kubinasakan kau saat ini juga?!!!" Rion beranjak dari tempat tidurnya dan menunjuk pintu keluar.

__ADS_1


__ADS_2