
Sementara, di ruang bawah tanah.
Rion udah kayak cacing kepanasan, "Kita harus nunggu sampai kapan?"
"Sampai Anna nyuruh kita buat naik lah!"
"Iya, kalau dia inget? lah kalau lupa gimana? nih lentera udah kedap-kedip hampir mati, Pih?!" Rion berdiri sambil ngibasin bajunya di depan dada ngilangin sumuk.
"Sabar, Rion! kita bisa masuk kesini aja udah alhamdulillah loh. Tanpa harus bingung-bingung cari cara buat nerobos sihir kastil ini,"
"Ini aku udah sabar banget, Pih!"
"Ya ditambahin sabarnya, sebentar lagi kita pasti bisa bawa Rissa pergi," kata papi Ridho.
"Eh, mana Cathlyn?" Rion baru menyadari kalau si peri kagak nongol.
"Tadi dia ada kok! tapi dimana ya..." papi mencari peri kecil ke dalam kantong baju koko nya, tapi tetep nggak nemu.
Sementara Anna keluar ke bagian belakang kastil ini. Anna menyalakan lentera yang lain dan mendekati kolam ikan dengan membawa sebuah tempat.
"Malam ini, malam terakhir bagimu," ucap Anna.
Anna mulai menaburi kolam itu dengan roti, dan ketika ikan itu memakan pancingan yang Anna berikan, dia segera menyerok ikan itu dengan sebuah serokan dari bambu dan memasukkan ikan tangkapannya ke dalam sebuah wadah yang di dalamnya diberi air.
"Diamlah! jangan membuat gaduh!" ucap Anna yang membawa wadah itu masuk ke dalam kastil.
"Sedang apa dia? untuk apa malam-malam begini menangkap ikan? bukannya ratu ingin makan hati rusa? bahkan dia saja belum mendapatkannya!" gumam peri Keket yang diam-diam menjelma menjadi seekor kupu-kupu. Saat Anna naik ke atas, peri Keket sengaja nemplok di rambut gadis itu. Dan saat dia ngeliat si Deodoran, eh Dorothy. Dia langsung sembunyi di salah satu vas bunga yang ada disana.
Berhubung Anna udah masuk, peri Keket cepetan nyusulin sebelum pintu tertutup rapat.
Greeeeppp!
Untung peri Keket sat set, dia masuk dan mengikuti kemana Anna pergi.
"Kau tidak percaya padaku? hem?" Anna seakan menyindir peri yang datang bersama dua pria yang masih ada si bawah jalan rahasia.
Tapi peri Cathylin nggak ngejawabin, dia pura-pura budek aja gitu kayak elu yang suka pura-pura nggak denger kalau disuruh beli micin di warung sebelah, ehek.
Tanpa babibu, Anna ini kurus-kurus tapi gerakannya cepet banget. Tau-tau ikan yang maaih kelojotan di tempat yang ditutup, tiba-tiba udah wassalam di tangan gadis itu.
Anna misahin daging ikan dari tulangnya, dan dia langsung buang itu bagian-bagian yang nggak kepake, buka pintu lagi dia. Buang sampah di pintu belakang. Peri Cathlyn cuma bengong aja, nggak ngerti rencananya nih perempuan.
Di lorong bawah tanah kan ada papi Ridho dan juga Rion, dia lagi nunggu aba-aba atau kode dari Anna, tapi kok gadis itu malah masak dengan gerakan bak, chef profesional.
Anna mengambil tepung dan segera mengolah bahan makanan yang dia punya. Sesaat Anna denger ada suara langkah kaki. Dia terdiam, matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Sontak peri Keket pun bersembunyi.
__ADS_1
Mantan pelayan puteri Odellia kembali melanjutkan pekerjaannya ketika udah tau yang turun itu ya si Dorothy.
"Anna jika kau sudah selesai beritahu aku!" kata Deodoran eh, Dorothy. Ya ampun maap yak, salah mulu kita manggilnya.
Anna celingukan, ngeliat kemana perginya si nenek sihir, "Kemana dia?" gumamnya.
"Apa yang kau lakukan? ini saatnya yang tepat untuk memasukkan papi dan juga Arion," kata peri Keket.
"Tunggu sebentar, aku akan memasakkan sesuatu untuk sang ratu!" kata Anna.
Peri Keket menggeleng, "Kau hanya membuang waktu!"
"Ikuti saja permainanku!"
Anna tetep menyelesaikan masakannya, dia menyunggingkan senyumnya setelah melihat hasil karya nya malam ini.
Anna bergegas mencari Dorothy.
"Aku harus mencuri kunci loteng menara! Alfrida harus bebas malam ini, tidak ada kesempatan lain!" lirih Anna yang menyusuri ruangan demi ruangan dalam kastil yang sepi.
"Kau cukup sampai disini, jangan ikuti aku!" lirih Anna pada peri Keket.
Peri itu pun menurut, dia menunggu Anna yang lagi mengendap-endap menuju kamar Dorothy.
Cukup lama Anna berjalan, sampai akhirnya dia sampai di depan sebuah pintu yang besar dan kokoh.
Tok!
Tok!
"Ratu..." panggil Anna, namun nggak ada jawaban.
Perlahan Anna pun membuka, dia mendengar ada suara gemericik di kamar mandi.
'Pasti dia ada di dalam sana,' batin Anna.
Dia nggak kepo buat apa si Dorothy mainan air lagi malem-malem, yang jelas dia kesana dengan satu tujuan.
"Ratu, aku sudah selesai memasak hati rusa untukmu!" kata Anna, matanya mencari kunci yang biasanya dipegang sama Dorothy.
"Keluarlah, aku akan segera kesana!" jawab Dorothy.
"Baiklah..."
Anna masih nyari barang yang akan digunakannya buat ngebuka pintu.
__ADS_1
'Dimana nenek sihir itu menyembunyikannya?' batin Anna.
Gadis itu nyari ke semua bagian kamar itu dan ketika dia mengangkat bantal. Dia melihat segerombolan kunci.
"Annaaaaa!!!" teriak Dorothy.
"Y-ya?" Anna sedikit gugup.
"Bawakan makananku kemari!"
"Baik, ratu ku!" sahut Anna yang dengan secepat kilat mengambil sesuatu yang dia temukan.
Dengan membawa kunci, Gadis itu keluar kamar Dorothy, peri Keket pun mengikuti kemana gadis itu pergi.
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Anna membuka pintu yang terhubung dengan lorong rahasia.
"Tuan!" panggil Anna dari atas.
Ridho yang dipanggil pun mendongak, beuh kalau lagi serius begini papi Ridho sungguh menawan hati, beuuuh damage-nya bikin ciwik-ciwik pada klepek-klepek, nggak kalah saing sama anaknya. Pantesan tuh Dorothy ngragras pengen milikin mereka berdua.
Ridho nepok Rion, "Ayok sekarang!" kata papi.
Rion bawa lentera, sedangkan papi Ridho jalan mendahului anak muda yang masih perlu bimbingan.
Setelah menaiki tangga yang melingkar seperti spiral itu, papi Ridho mengikuti kemana Anna membawanya.
Rion yang paling belakang nutup pintu dengan sangat hati-hati.
Mata papi Ridho mengawasi sebuah kastil yang setelah masuk di dalamnya ya bagus, nggak seserem penampakannya dari luar.
"Mereka ada di menara, ikut aku!" Anna berjalan dengan langkah cepat namun tak bersuara. Papi Ridho aja sampai geleng-geleng kepala. Pantes aja dia jadi kaki tangan Dorothy, karena Anna ternyata Anna cukup lihai dalam hal susup menyusup.
Ketika sampai di sebuah tangga, Anna memberikan segerombol kunci pada papi Ridho, "Tolong selamatkan adikku, Tuan!"
"Apapun yang terjadi, bawa adikku keluar dari sini. Katakan padanya aku menyayanginya!" lirih Anna, bulir bening mengalir dari kedua netranya.
Mendengar hal itu hati papi Ridho tersentuh, dia letakkan tangannya di kepala gadis itu, "Kita aemua akan pergi dari kastil ini, kamu bisa memulai hidupmu yang baru setelah ini,"
Anna menggeleng, "Mungkin itu akan sulit,"
Anna segera menghapus air matanya, "Cepatlah, Tuan! waktu anda tidak banyak. Anda harus membawa mereka semua ke lorong bawah tanah sebelum nenek sihir itu kembali menemui mereka..."
Papi Ridho mengangguk, "Baiklah, Nak!" papi Ridho mengelus kepala Anna sebentar.
"Ayo, Rion!" papi Ridho menggenggam kunxi itu erat-erat.
__ADS_1
Sedangkan Rion segera memberikan lentera yang hampir padam pada Anna, "Terima kasih," ucapnya sebelum pergi meninggalkan gadis itu.
"Rissa, kita akan segera pergi dari sini!" gumam Rion, dia merasa ada secercah harapan untuknya kembali ke dunia yang seharusnya.