Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
32. Masuk Ke Portal Lain


__ADS_3

Mami Reva dan Papi Ridho sudah sampai di bandara sore ini. Dia langsung nelpon Om Karan buat minta ketemu. Udah acakadul banget perasaannya.


Om Karan yang udah mau capcus nyari Arion akhirnya menunda keberangkatannya.


Nggak lama, Reva dan Ridho pun datang ke rumahnya.


"Bagaimana? apa Rion udah ditemukan? mana anak itu?" mami Reva merepet.


"Sebaiknya kita duduk dulu, Mbak..." ucap tante Luri.


"Rion ada disini, kan? soalnya aku telfon ke rumah katanya dia belum pulang..." mami Reva masih aja ngomong, sedangkan yang lainnya juga ikut duduk, termasuk papi Ridho dan Om Karan.


"Mbak mau minum apa? biar aku ambilkan," kata Luri yang selalu memanggil Reva 'mbak' walaupun dia yang lebih tua secara umur. Tapi dia selalu menghormati Reva sebagai kakak sepupu dari suaminya.


"Aku kesini bukan untuk minum. Aku kesini mau ketemu sama Rion,"


'Bagaimana aku harus bicara ini padamu, Reva? apa mungkin masa lalu akan terulang kembali?' batin om Karan.


"Tolong panggilkan Arion, katakan kami sudah sampai dan ingin bertemu," ucap papi Ridho yang melihat kekhawatiran tercetak jelas di wajah istrinya.


"Kenapa? kenapa kalian diam?" tanya Reva nggak sabaran.


"Kamu yang tenang dulu, Reva. Arion sekarang..."


"Dimana dia?" mami Reva menatap Om Karan.


"Dia masih belum ditemukan. Dia membawa satu grup teman-temannya menuju puncak, tapi sampai saat ini mereka semua belum ada yang turun karena terjebak badai," jelas om Karan yang bikin mami Reva lemes seketika.


"Akses untuk masuk ditutup, jadi orang-orangku belum bisa naik ke atas buat mencari Rion, mereka diberhentikan di pos terakhir," lanjut om Karan.


"Kita harus kesana, Mas! kita harus nyusulin Rion sekarang juga!" mami Reva berdiri.


Om Karan langsung bangkit begitu juga Ridho. Sepupu dari mami Reva itu mendekat, "Kamu di sini saja dengan Luri, biar aku dan Ridho yang akan kesana..."


"Benar apa yang diucapkan pak Karan. Lebih baik aku dan dia yang akan mencari Rion. Kamu dan Luri lebih baik menunggu di rumah. Aku akan beri kabar secepatnya! oke?" papi Ridho menatap istrinya


"Tapi---"


"Jangan keras kepala! pendakian ini sangat beresiko, kali ini menurutlah!" Om Karan kali ini bersikap tegas pada kakak sepupunya itu.


Mami Reva pun mengangguk dia pasrah membiarkan suami nya pergi mencari Arion tanpa dirinya.

__ADS_1


Papi Ridho yang sudah siap dengan tas gendongnya modal minjem punya om Karan pun segera berpamitan, "Aku pergi dulu,"


"Pokoknya temuin Arion ya, Mas? dan setelah ketemu, cepetan telfon aku," mami Reva memeluk suaminya sekilas.


"Aku pasti akan kabari secepatnya!" sahut paoi Ridho.


"Tolong temukan anakku!" mami Reva memegang kedua tangan adik sepupunya.


"Pasti!" Om Karan yang mau ngelus kepala Reva, nggak jadi. Dia turunkan lagi tangannya dan menepuk pundak wanita itu.


"Saya pergi, kamu hati-hati di rumah," Om Karan mengelus kepala istrinya sekilas. Lalu pergi dengan Ridho menuju lokasi gunung yang dituju Rion.


Dua laki-laki tampan dan matang ini pergi dengan satu mobil, Om Karan yang menyetir. Walaupun dalam diamnya, Om Karan tau kalau papi Ridho pikirannya sedang kalut memikirkan anak tunggalnya.


"Sebenarnya, tempo hari Rion pernah datang ke kantor, memintaku untuk membujuk Reva agar mengijinkannya naik gunung," Om Karan tiba-tiba membuka pembicaraan.


"Sebenarnya saya juga sudah tau kegiatan apa saja yang dilakoni Rion, dari mulai dia yang suka pulang malam karena bekerja di restoran cepat saji, ataupun kegiatan wall climbing yang di senangi," kata Ridho membuat Om Karan sedikit terkejut.


"Dia sempet ngomporin maminya supaya ikut saya ke jepang, bawa embel-embel nggak mau punya mami baru segala. Dan Reva kemakan omongan anak itu, kan konyol. Ternyata dia mau melancarkan aksinya naik gunung," lanjutnya.


"Semoga aja dia baik-baik saja," Om Karan menimpali ucapan papi Ridho.


Sementara di puncak gunung, mereka semua masih manggil-manggil nama Rion. Sedangkan Thalita udah duduk lemes. Cuma matanya aja yang keluar air mata.


Thalita geleng-geleng kepala, "Nggak, gue mau tetep disini. Kalau bang Rion---"


"Elu tau ini ketinggian berapa?" Slamet mencoba membujuk adik sepupu dari Rion, "Kita semua shock atas kejadian ini, tapi kita nggak mungkin disini terus sementara hari mulai gelap!" kata Slamet yang sebenernya maknyess banget ngeliat sahabatnya pergi gitu aja. Sedangkan Adam, dia nggak banyak bicara.


"Ntar sampe di bawah kita minta tolong tim penyelamat buat nyari Rion dan juga Dek Loren," kata Eza.


"Kita bakal cari Rion sampai ketemu!" lanjutnya.


Akhirnya dengan terpaksa, Thalita dan teman-teman yang lainnya turun lagi menuju tenda mereka.


"Kita bakal cari elu sampai ketemu, Rion!" batin Slamet sebelum memimpin teman-temannya untuk turun dari puncak gunung.


Sedangkan Rion, laki-laki yang mempunyai kekuatan super itu menangkap tubuh Lorenza saat ikut terjun ke bawah.


Namun saat dia berhasil menangkap tubuh gadis itu, tiba-tiba banyak makhluk-makhluk berjubah putih maupun hitam yang mengelilingi mereka dan menyeret kedua anak manusia itu dalam satu pusaran angin yang membawa mereka ke portal dunia lain.


"Akkkkhhhhhhhh!!!" Loren memekik saat mereka terdampar di sebuah hutan yang sangat gelap.

__ADS_1


"Aargghhh!" Rion merasakan tulang belulangnya yang sakit karena jatuh dari ketinggian.


"Rennn? elu nggak apa-apa?" tanya Rion dia menghampiri Loren.


Loren menggeleng, "Nggak apa-apa!"


"Kenapa kamu menolongku? bukannya kamu---"


"Ssst, apapun alasan lu buat menyamar jadi Lorenza, yang jelas gue nggak bisa buat nggak peduli sama elu, Rissa..." serobot Rion.


Loren yang udah ketauan identitasnya sebagai Rissa pun hanya tersenyum sekilas.


Mereka berdua berdiri. Rissa memanggil bola merahnya. Dan sekarang mereka bisa mekihat keadaan sekitar. Mata elang Rion pun menelisik setiap penjuru.


"Hati-hati, kita berada di dimensi lain," kata Rissa.


"Ya, gue tau!" sahut Rion.


Rion mencoba membuka portal yang tadi sempat terbuka.


"Percuma, nggak akan semudah itu!" ucap Rissa.


"Lalu kita harus gimana? nggak mungkin kan kita terjebak sampai kakek nenek? apa sampai beranak pinak?" Rion ngoceh nggak penting.


"Aku juga nggak tau kalau soal itu," sahut Rissa.


Rion menggerakkan tangannya yang diselimuti sinar berwarna biru, "Bukaaaa portalnyaaaa, aarrghhhh!" dia mengarahkan sinar biru itu ke arah pusaran yang kini tertutup.


Lalu Rion mengeluarkan kalungnya dia mengusap selongsongnya dan pedang cahaya biru sekarang ada di tangannya.


Dia mencoba mengayunkan pedangnya, tapi sia-sia. Pintu itu nggak mau terbuka juga.


"Shiiiiiitttt!" Rion mengumpat.


Tapi....


Sreeeeetttttt!


Sekelebat bayangan hitam lewat kayak iklan.


Sontak Rissa dan Rion saling mendekat, mata mereka mengawasi apa yang akan terjadi saat ini.

__ADS_1


"Jangan lengah!" Rissa memperingatkan.


__ADS_2