
Anna mengatur napasnya sejenak sebelum berbalik menatap sang ratu.
"Aku kira ada binatang masuk ke dalam sini," dia menunduk.
"Jangankan binatang, satu daun dari luar pun tidak akan bisa menembus selimut sihirku, Anna!" Dorothy sinis.
Dorothy melihat ke bawah sekilas aebelum menatap Anna, "Bagaimana? kau dapat kan hati Rusa itu?"
"Buatkan aku makanan sekarang juga! aku sudah lapar!" ucap Dorothy yang keluar dan nunggu ala-ala majikan kejam di sinetron azab.
"Bagaimana ini? bahkan aku tidak menemukan rusa itu," Anna gusar , karena dia nggak dapetin apa yang Dorothy mau. Anna yang lagi bingung, membereakan pecahan beling yang ada di lantai, sambil mikir apa yang akan dia lakukan setelah ini.
"Tapi kenapa juga aku harus membersihkan piring-piring ini?" Anna berdiri dan ngeloyor ngecek kemana nih nenek sihir pergi. Elah dalah, ternyata naik ke atas. Mungkin dia akan menemui para gadis yang disekapnya.
"Dia ke atas?!" Anna mendongak. Dia balik lagi ke dapur. Dia bingung apa yang harus dia lakukan.
"Jika aku tidak menyiapkan makanan, dia pasti akan marah," Anna jadi keder sendiri.
Dia mondar mandir kayak setrikaan, lalu seketika dia berhenti.
"Sesuatu yang dia hindari," gumam Anna. Dia pun bergerak ke arah luar.
Sedangkan Dorothy, melihat keadaan mangsanya.
Kreeeeeeeetttt!
Pintu dibuka.
Tak!
Tok!
Tak!
Tok!
Dorothy masuk dan melihat keempat gadis yang akan membuatnya awet muda dan juga glowing disaat yang bersamaan.
"Ha--" Dorothy yang mau ketawa jahat mendadak ngerem, ketika mendengar makceklek dari tulang rahangnya.
__ADS_1
"Kalian sudah bangun?" Dorothy mendekat.
"Selamat datang di Istana Dorothy, tentu kalian sangat terkagum dan bahagia berada disini, bukan?" tanya Dorothy.
Rissa maupun Odellia yang emang lagi berhadapan langsung dengan Dorothy pun hanya bisa memandang wanita itu dengan tatapan yang nggak suka.
"Kenapa? kenapa kalian tidak menjawab sapaanku? hem?" Dorothy mendekat lagi sejengkal demi sejengkal. Ini Dorothy ada gila-gilanya emang ya, lah kan itu mulut pada diiket pake kain? mana bisa mereka ngomong.
Dia berjalan muterin keempat gadis itu sebelum balik lagi ke depan Rissa dan juga Odellia.
Dorothy berdecak, dia sedikit membungkukkan badannya, "Ck, ck, ck ... puteri Odellia kau memiliki seseorang yang begitu mirip denganmu!" ucapnya.
"Bahkan kalian hampir tidak bisa dibedakan, apalagi jika kalian memiliki warna rambut yang sama, pasti tidak akan ada yang bisa mengenali mana puteri Odellia yang asli!" Dorothy terus aja nyerocos.
"Kenapa? kenapa kau memandangku seperti itu?" Dorothy berdiri di depan puteri Odellia.
"Apa ada yang ingin kau sampaikan pada ratumu ini?" Dorothy menampakkan wajah sok lembut, yang membuat puteri Odellia pengen nempeleng itu muka.
"Baiklah, sebelum kau akan keriput dan tua maka aku akan memberimu kesempatan untuk melihat wajahmu secara utuh!" Dorothy menggerakkan telapak tangannya dan seketika sebuah cermin dalam genggamannya. Jangan-jangan Dorothy sambilannya jadi kang sulap yang ngider ke SD-SD nih pasti!
"Lihatlah wajahmu puteri, sebelum kau kehilangan kekencangan kulitmu," penyihir itu mengarahkan cermin pada puteri Odellia yang masih diiket mulutnya. Dia berjongkok agar bisa membantu puteri Odellia buat ngaca.
"Astagaaaaa, kenapa aku bisa begitu bodoh? kau tentu tak bisa melihat wajahmu dengan sempurna dengan ikatan kain itu!" Dorothy nanya sendiri ngejawab sendiri kek orang sienthing!
"Sudah lebih baik?" tanya Dorothy, tapi puteri Odelkia ogah ngejawab. Dia enek banget sama kelakuan perempuan yang muda dan cantik, tapi auranya bikin pengen ngagaplok mukanya. Kalau sama mami Reva, itu congor Dorothy pasti udah dikruwes.
"Wajahmu mirip sekali dengan Isabel, wanita sialan yang merebut raja Abraham dariku!" kata Dorothy membuka cerita masa halunya, buka masa lalu ya tapi masa halu. Karena dia emang ngehalu parah itu.
"Jaga ucapanmu! Ratu Isabel, ibuku bukan wanita sialan!" puteri Odellia ngelawan.
Dorothy melepaskan cermin ditangannya, lantas mencengkram rahang puteri Odellia dengan tangannya, dia menatap sang puteri dengan tatapan nyalang, "DIA MEMANG SIALAN! DENGAN BERANINYA DIA MENGGODA RAJA ABRAHAM UNTUK MENJADIKANNYA RATU. DIA MEREBUT POSISIKU! MENGERTI!"
"Ayahku, raja Abraham bukan orang yang bodoh. Dia tidak mungkin mencintai perempuan berhati busuk sepertimu!" ucapan Odellia membuat Dorothy murka.
Penyihir dengan wajah yang semula seperti gadis muda, kini berubah menjadi wanita yang sudah matang. Puteri Odellia yang melihatnya pun kaget dengan perubahan wajah yang dilihatnya.
"Kenapa? kenapa kau melihatku seperti itu? apa kau ingin meminta ampun atas ucapanmu tadi?!!" Dorothy melepaskan cengkramannya dari wajah mulus puteri Udel, eh Odell.
Jari telunjuk Dorothy, lantas menyusuri wajah sang puteri, "Seandainya aku tudak membutuhkan aura gadismu, kulit kencang dan kecantikanmu, pasti sudah kubinasakan kau saat ini juga!"
__ADS_1
Rissa berusaha melepaskan tangannya dari tali yang membelitnya, mumpung si Dorothy lagi talking-talking sama puteri.
Tak!
Ada satu sentuhan di tangannya. Iya, tangan dari gadis yang ada di belakangnya. Rissa yang tadinya ingin melepaskan ikatan tangannya sendiri, kini beralih jadi ngakalin talinya si perempuan yang diiket di belakangnya. Rissa mencoba menelusuri tali yang mengikat tangan gadis itu.
'Dimana simpulnya?' batin Rissa. Dengan segala keterbatasan, dia mencoba untuk mencari selah supaya dia bisa membuka tangan si gadis yang gerakin tangannya mencoba ngelepasin ikatan.
Tapi dia diem aja, nggak ngomong sama sekali. Bahkan bersuara sedikitpun nggak, seakan dia udah kebal dengan rasa sakit.
Sementara Rissa dengan tenang mencoba melepaskan ikatan gadis dibelakangnya, puetri Odellia masih aja ngeladenin nenek sihir minim akhlak.
"Terlalu banyak orang yang mengorbankan untuk dirimu puteri, selain ibumu. Beberapa orang bahkan tergerak hatinya untuk menjadi penjagamu. Sebenarnya apa yang kau miliki wahai Odellia?" tanya Dorothy yang membuat wajah Odellia menunjukkan raut wajah bingungnya.
"Kenapa? apa ayahmu tidak memberitahu bagaimana ibumu mengorbankan dirinya? kau penyebab ibumu meninggalkan dunia, Odellia..."
"Aku tidak akan mempercayaimu, dasar pendusta!" puteri Odellia penuh kemarahan.
"Hahaha, aaaa---" nenek sihir lupa kalau mulutnya nggak bisa mangap lebar-lebar.
Dia merasakan sakit di rahang bawahnya, "Sial!" umpatnya.
"Baiklah jika kau tidak percaya, mari aku tunjukkan, wahai puteri Odellia..." Dorothy seakan senang mempermainkan perasaan puteri Odellia.
"Wahai cerminku, perlihatkan Odellia kebenaran atas Isabel!" ucap Dorothy, dia mengangkat cermin kecil berwarna emas, dan memperlihatkan puteri Odellia suatu kejadian dimasa lalu.
Ya, disana ada Odellia kecil yang bangun dari tidurnya dan mendekati jendela. Dan sang ratu berteriak dan memeluknya saat ada cahaya bergerak dengan cepat menuju sabg puteri. Seketika ratu memekik, dan tak sadarkan diri.
Mata puteri Odellia berkaca-kaca, bahkan ada bulir bening yang jatuh dari pelupuk matanya.
"Tidak, itu tidak benar! bahkan aku tidak mengingatnya sedikitpun. Kau? kau adalah wanita pendusta! wanita aepertimu pantaa unruk dihukum!" puteri Odellia menatap Dorothy dengan tatapan benci.
"Mulutmu ini ternyata sabgat berbisa tuan puteri?" Dorothy mencengkram kuat rahang gadis di hadapannya.
"Masih beruntung ku beritahu kau kebenaran atas Isabel, karena tanpa kau ketahui. Ayahmu, raja Abraham menyuruh orang untuk menghapus ingatanmu tentang tragedi itu!" nenek sihir melepaskan wajah puteri dengan kasar.
Dorothy bergerak menjauh kemudian dia tertawa, "Kau tau? aku sengaja melakukannya agar Isabel lenyap dari muka bumi ini! aku, aku yang mengirimkan cahaya itu untuknya! hahahahaha--"
"Aaawwkkkk!" Dorothy memegang rahangnya, dia kelepasan ketawa tadi.
__ADS_1
"Sial, tulangku semakin sakit! aku harus segera melakukannya!" gumam Dorothy yang didengar oleh Rissa.
'Dia? apa yang akan dia lakukan? aku harus segera membawa puteri Odellia pergi dari sini, sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya!' batin Rissa.