
Setelah memimpikan masa lalu mami nya, Rion menjadi sadar jika harta yang paling berharga adalah keluarga. Dia memutuskan untuk melupakan Rissa, dan nggak mau cari tau tentang gadis itu. Apalagi Rissa udah cerita kalau papa nya yang berusaha mencelakai dirinya. Jadi lebih baik dia tutup buku, anggap saja cerita antara dia dan Rissa hanya sebuah dongeng yang akan terkunci di sebuah ruang rahasia.
Dia nggak mau maminya terluka, karena dia mencintai anak dari musuh bebuyutannya.
Sementara ketiga temennya ngakak-ngakak nonton film, dan pada glosoran di bawah dengan cemilan segambreng nggak nyadar kalau temennya yang satu itu hampir kena sawan.
"Yon? si Mova pengen ketemu sama elu, tuh!" Rza nggak ada angin nggak ada ujan tiba-tiba nyebut nama Mova yang nggak pernah bisa move on dari cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Rion diem.
"Yon?!! lu denger gue nggak sih?" kepala Eza sampe muter.
"Lu disogok apa sih sama Mova?" Slamet nyeletuk.
"Elu sama Mova kan kayak minyak sama air, kenapa tiba-tiba nyebut nama tuh cewek?"
"Ya elaaah, kan mulut gue emang begini. Nyablak, tapi jangan salah gaes! hati gue selembyut salju di benua eropa!"
"Kagak percaya gue sih!" ucap Slamet.
"Ini nih si Eza pasti dijanjiin sesuatu, makanya dia mau nyampein pesen dari Mova.
"Ya elah, dia kan temen kita juga. Walaupun emang nyebelin---"
"Ya nggak jauh beda sama elu!" serobot Slamet.
"Gimana, Rion? Mova pengen ketemu sama elu. Mungkin ada hal penting yang pengen dia sampein sama elu. Setau gue cuma dia dari grup Mapala yang belum jengukin elu, iya kan?" ucap Adam.
"Tah etaaa, Adam emang bijak. Nggak kayak Slamet. Mulutnya mulut jahanam! isinya setan semua!"
"Ntar gue ulek congor elu, Ja!"
"Gimana, Rion?!" tanya Adam lagi mengabaikan si guguk dan si meong yang bentar lagi cakar-cakaran.
"Ntar gue atur waktunya!" sahut Rion.
Sementara di tempat lai, tepatnya di sebuah gedung perkantoran.
Tante Karla mencak-mencak perkara, Rissa milih tinggal bareng papa nya, Dera Parayoga.
"Aku tuh nggak habis pikir sama Rissa, kok bisa ngeyelan banget mau tinggal sama mas Dera yang lagi sakit-sakitan itu...!" tante Karla megangin kepalanya.
__ADS_1
Sekarang dia senderin punggung di kursi kerjanya, "Apa dia lupa kalau aku ibunya!"
Seketika tante Karla ingat kemarin saat Rissa udah diperbolehkan pulang.
'Ayo, Sayang kita pulang ke rumah! nenek dan Kanaya pasti udah nunggu kita...' kata tante Karla pada Rissa.
'Mas, kamu bisa pulang sendiri kan pakai taksi? kamu masih punya ongkos, kan?'
'Mamaa?!' Rissa menggeleng, dia nggak suka dengan ucapan mamanya yang merendahkan sang mantan suami.
'Nggak apa-apa, Rissa. Papa pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari mama kamu. Anggap aja itu karma atas apa yang sudah papa lakukan,'
'Nggak usah sok bijak di depan anak! biar apa? biar dia tersentuh gitu?' tante Karla nyamber aja.
'Ma, aku makasih banget. Mama udah biayain selama Rissa dirawat di rumah sakit. Tapi Rissa nggak bisa ikut mama, Rissa akan ikut papa pulang...'
'KAMU...!' suara tante Karla naik satu oktaf, dan direndahkan lagi kemudian, "Sayang, kamu mau tinggal di rumah yang sebentar lagi akan dijual itu? jangan aneh-aneh kamu, Rissa. Terus gimana sama kuliah kamu? papa kamu itu udah bangkrut. Udah nggak punya duit sepeserpun. Bahkan yang biayain dia di rumah sakit juga mama!'
'Aku tau, Ma...'
'Kalau udah tau, kenapa masih ngotot ikut sama papa kamu?'
'Karena papa yang lebih butuh Rissa, Maah. Rissa nggak mungkin biarin papa, menghadapi penyakitnya sendirian. Rissa mohon mama bisa ngerti keadaan ini," ucap Rissa.
Sekarang tante Karla diusianya yang sekarang masih harus tetep setrong kerja sebagai manager. Kalau dulu dia nggak berhenti kerja di perusahaan sebelum dia menikah dan memutuskan untuk resign karena menilai kekayaan Dera Prayoga yang nggak terbatas itu, mungkin sekarang dia udah jadi direktur kali. Iya kali aja mimpinya terkabul.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!"
"Bu Karla, anda dipanggil pak Ivan!" ucap seseorang yang dengan pakaian rapi dan rambut yang digerai.
"Ya!" sahut tante Karla ketus.
Berpindah pada keadaan Rissa yang sekarang. Dia masih istirahat di rumah.
"Pah, makan dulu. Rissa udah bikin sop iga kesukaan papa," ucap gadis cantik yang masih pucat.
__ADS_1
"Rissa, kenapa kamu malah bikin makanan? kamu kan baru aja keluar dari rumah sakit. Tubuh kamu pasti masih lemah,"
"Nggak apa-apa, Pah. Rissa udah sehat kok," Dia membawa masuk makanan yang udah dibuatnya.
Om Dera yang ngeliat gimana berbaktinya Rissa pun jadi terharu, "Kamu benar-benar anak yang baik. Papa malu sama kamu, Rissa. Papa kamu ini orang jahat---"
"Jangan bahas itu lagi, Pah. Sekarang papa makan dan minum obat, biar cepet sembuh..." kata Rissa.
Om Dera pun mengangguk, dia mulai makan di meja lipat yang diletakkan di kasurnya buat mempermudah dirinya untuk makan.
"Kurang garam atau?"
"Nggak, Sayang. Ini nggak ada kurangnya, semuanya pas. Ini salah satu sop Iga terenak yang pernah papa makan," puji Om Dera pada anaknya.
Rissa senang melihat papanya makan dengan sangat lahap, dia juga senang setelah melihat papa nya sudah bertaubat dari hal-hal yang buruk.
"Papa sudah selesai, Rissa..."
"Kalau gitu, sekarang waktunya papa minum obat..." Rissa mengambil obat yang udah dia siapkan dan memberikannya pada pria yang duduk dan menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal.
Om Dera segera meminum obatnya.
"Oh ya, besok kita harus mengemasi barang-barang. Karena lusa rumah ini sudah ada yang akan menempati," kata Om Dera setelah meneguk air putihnya.
"Iya, Pah. Nanti malam Rissa akan mulai berkemas,"
Tangan Om Dera terulur, "Tolong ambilkan amplop di laci meja ini,"
"Rissa singkirkan meja ini dulu ya, Pah!" Rissa memindahkan meja lipat ke lantai beserta mangkuk dan gelas yang ada di atasnya.
Jari lentik itu kemudian beralih pada sebuah laci yang ditunjuk papanya.
"Yang ini, Pah?" Risaa mengambil sebuah amplop besar yang lumayan berat.
Om Dera ngangguk, "Iya, bawakan kesini!"
Rissa duduk di pinggir ranjang papa nya, "Ini, Pah..."
Om Dera menerimanya dan membuka isi dari amplop cokelat itu, dia mengeluarkan segepok uang dari sana, "Ini uang hasil penjualan rumah ini. Papa sudah ambil beberapa untuk kontrakan baru kita. Ini terimalah.." Dia memasukkan kembali uang segepok yang dia ambil dari amplop dan menyerahkannya pada Rissa.
"Ini sangat banyak, papa saja yang pegang!"
__ADS_1
Om Dera menggeleng, "Sekarang kamu manager keuangan papa, jadi kamu yang akan mengatur uang itu..."