
'Akhirnya gue, bisa segera pergi. Paling nggak itu lebih baik buat hati gue saat ini. Dan gue nggak bisa lepasin liontin ini sekarang,' Rion nomong dengan diri sendiri.
Lama-lama setelah ngecek leptopnya, mata Rion pun mulai mengantuk. Dia matiin lampu utama dan masuk ke dalam selimutnya. arion pun mulai memejamkan matanya.
Rion yang baru saja ngeliyep, mendadak gelisah. Dia melihat sesosok hitam yang sepertinya mendekati seorang pria dengan kursi roda.
'Mau apa dia?' batin Rion yang melihat sesuatu yang aneh.
Sosok hitam itu makin lama makin dekat dan dia mempunyai tanduk di kepalanya yang sangat runcing.
"AAAAkkkhhhh?!!" pekik pria itu yang merasakan kesakitan saat energinya ditarik paksa oleh sosok itu.
"Aaaaaaarrrghhhhh!" Rion memekik dan terbangun.
"Hhhhh, hhh. Mimpi ... hhh syukurlah semuanya cuma mimpi," Rion mengusap wajahnya yang berpeluh.
Dia yang kebangun di jam dua pagi, masuk ke kamar mandinya yang super wangi dan kering.
Dia melihat pantulan wajah jomblonya di cermin, "Mimpi itu begitu nyata, apakah itu pertanda buruk?" Rion membasuh wajahnya.
Daripada galau, Rion mandi dan mensucikan dirinya. Dia gelar sajadah, dan mencoba untuk menenangkan hatinya dengan mempererat hubungannya dengan tuhannya.
Rion mengucapkan salam ketika dia berada di akhir sholatnya, "Assalamualaikum warohmatullah..."
"Assalamualaaikum warohmatullah..." lirihnya lagi.
Rion mengusap wajahnya dengan kedua tangan, hatinya sedikit menemukan rasa tenang. Nggak kayak tadi, hatinya mencelos nggak karuan.
Dia meraih hape dan ngirim chat sama Mova, kalau besok dia ada waktu jam 2 siang di cafe.
Pemuda itu, membereskan lagi sajadahnya dan melepas songkoknya dari kepala.
Rion merebahkan lagi badannya, sedangkan matanya masih mengawang, "Apa mungkin aku harus mengembalikan pedang itu? tapi pedang itu sumber kekuatan gue?"
"Besok lagi aja lah dipikir lagi, sekarang waktunya istirahat..." ucapnya, dan merem kemudian.
.
.
.
Rion merasa kalau matahari nongol lebih cepat dari hari biasanya. Perasaan baru ngeliyep bentar, eh Telolet udah gedor-gedor pintu kayak kang kredit panci yang nagih setoran.
"Bang, Baaaaaaang Tuuuuut!" teriak Telolet.
Tapi Rion sabodo amat dia masih aja tidur dan untubgnya pintu kamarnya dikunci. Soalnya tuh bocil satu suka banget masuk tanpa ngetok dulu, bikin kaget lahir batin.
"Baaaaaanggg!" suara teriakan Telolet kedengeran lagi.
Karena udah makin mengganggu suaranya, Rion pun buka mata. Dan ngeliat kalau jarum jam nunjuk ke arah angka 4.
"Ngapain sih itu bocah tereakan subuh-subuh? gue curiga waktu brojol nggak diadzanin sama Om Dilan deh!"
Rion beringsut ke kamar mandi buat sikat gigi cuci muka, sementara Telolet masih gedor-gedor bae.
__ADS_1
Rion yang udah seger pun ngebuka pintu, "Ada apaaan?"
"Tante Revaa, dibawa ke rumah sakit!" ucap Telolet.
"Mamii???"
Rion keluar berniat ke kamar papinya tapi di tahan sama Thalita, "Percuma, mereka udah pergi!"
"Kenapa elu baru ngasih tau!"
"Heh, guweh dah gedor-gedor dari sejam yang lalu, tapi abang molor mulu! nih, tangan sampe merah kayak gini!" Thalita nunjukin buku-buku jarinya.
Rion masuk ke kamarnya, "Kenapa mami? tumben-tumbenan sakit bisa langsung dibawa ke rumah sakit," gumam Rion.
Ternyata Telolet ngikutin dia dari belakang.
"Keluar,"
"Takut!" ucap Telolet.
"Takut kenapa? Nggak ada setan disini, kalaupun ada setannya lebih takut sama elu!" ucap Rion.
"Abis nonton film horor," jawab Thalita cepet.
Telolet nggak gubris, dia tiduran di kasur abang sepupunya. Baru Semenit tarik selimut, tuh bocah udah tidur.
Rion yang baru mandi 2 jam yang lalu pun, milih nungguin adzan subuh.
"Kenapa dia nggak ke kamarnya sendiri sih!" Rion kesel.
Dia begitu mengkhawatirkan maminya, apakah mami Reva mengalami penyakit yang serius, sampai harus dilarikan ke rumah sakit sepagi ini?
Rion mengambil hapenya dan mencoba menelepon sang papi, "Halo? Pih...?"
Pemuda itu keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju lantai bawah. Perutnya lapar.
"Ya, Rion..."
"Kenapa? katanya mami dirawat di rumah sakit?"
"Rumah sakit? kata siapa?"
"Telolet!"
"Nggak, siapa yang ke rumah sakit? orang papi lagi---" papi Ridho ngegantungin ucapannya.
"Lagi apa? terus sekarang lagi dimana?" tanpa sadar Rion ngomong terus. Dia lumayan lega sih denger kalau mami nya nggak masuk rumah sakit.
"Piiiiih?" Rion manggil papinya yang diem-diem bae.
"Eh, iya. Sorry, papi lagi nyetir jadi nggak begitu denger. Perut mami kamu lagi sakit, biasalah karena makannya nggak teratur. Sekarang papi lagi beli obat maagh, cuma takut salah beli jadi sekalian aja mami ikut. Soalnya kan mami kamu susah buat minum obat, pilih-pilih banget merek dan rasanya harus yang dia doyan,"
"Mungkin Thalita salah denger tadi," ucap papi ngejelasin.
"Siapa, Mas?" kedengeran suara mami Reva.
__ADS_1
"Rion, Sayang..." jawab papi
lembut.
"Ya udah ya. Papi ini lagi ngider nyari kang bubur, Cawww!" ucap papi Ridho mutusin telepon.
'Emang bener-bener Telolet bikin rusuh aja pagi-pagi!' batin Rion.
Dia duduk di meja makan dan ngeluarin piring, lanjut ngambil roti dan ngolesin butter.
"Mami nggak sakit dibilang masuk rumah sakit! gue rasa kupingnya perlu diperiksain!" Rion ngomel sambil ngasih selai kacang kesukaannya.
"Duh sereet!" Rion bergerak ke arah kulkas super gede.
Dia ambil susu dan langsung congornya mau ngokop, tapi bayang-bayang suara emaknya yang bakal merepet pun akhirnya membuat Rion membatalkan niatnya itu.
Rion ngalah buat ambil gelas dan nuang susu rendah lemak yang ada di kotaknya.
Glek!
Glek!
Glek!
Dia meminumnya sampai tandas.
"Jam segini mending lari kompleks aja," gumam Rion yang ngerasa kalau perutnya udah kenyang.
Rion balik lagi ke kamarnya buat ganti celana dan juga baju, biar lebih keliatan niat olahraganya.
Sampai diatas, Telollet dengan nyamannya meringkuk di kasurnya.
'Dasar bocah tengik! bisa-bisanya dia salah denger!' batin Rion, dia ngeloyor ke lemarinya dan segera ganti ke kamar mandi.
Telolet yang lagi tidur pules pun nggak tau kalau tadi Rion sempet masuk buat gantu baju, bahkan suara pintu yang ditutup kesal sama Rion pun sama sekali nggak bikin manusia yang satu kaget atau minimal kreyep-kreyep dikit, emang kebluk banget nih bocah.
Langit masih gelap, tapi mami papinya udah keluar pakai mobil dan belum balik juga. arion mulai mengambil langkah kecil buat sekedar jogging keliling kompleks rumahnya.
Rumah-rumah yang berjejer masih babyak lampu yang udah dimatikan, mungkin penghuninya udah pada bangun dan itung-itung hemat listrik, jadi lampu rumah mereka matiiin dan menyisakan lampu jalanan aja.
Rion masih fokus aja jogging sampai akhirnya dia ngerasa kalau kakinya mulai pegel.
'Nggak biasanya gue cepet capek?' Rion berguman di hatinya.
Dan dari arah yang berlawanan, dia melihat sinar dari sebuah kendaraan yang melaju mendekatinya.
"Rion? ngapain kamu di luar?" tanya papi Ridho saat membuka jaca mobilnya.
"Lagi jogging,"
"Ayo cepetan naik!" ucap papi Ridho sedangkan Rion ngeliat kalau maminya tidur pules di kursi depan.
"Rion lagi jogging, papi duluan aja!" tolak Rion.
"Ya sudah kalau gitu," papi Ridho naikin kaca mobilnya dan pergi meninggalkan putra semata wayangnya itu.
__ADS_1