
“Gimana kalau mas Ridho koit? Nggak bakal kan? Iya kan?” mami Reva nggak mau beranjak sedikitpun, dia malingin wajahnya saat dokter Ricky benerin jarum infus yang masuk ke dalam pembuluh darah di punggung tangan kangmasnya.
“Dia akan baik-baik saja, kamu tidak perlu cemas!” ucap Om Karan, dia ngelus kepala kakak sepupunya itu.
Meskipun dalam silsilah keluarga, mami Reva ini kakak sepupu Om Karan. Tapi Om Karan nganggep mami Reva ini kayak bocil yang harus selalu dia lindungi, padahal anaknya udah bujang.
“Sudah selesai,” Dokter Ricky pun mulai membereskan perlengkapannya.
“Dokter, dokter mau kemana?!” mami Reva berbalik dan ngeliatin si dokter main beres-beres tasnya aja.
“Sudah selesai, jadi saya mau pulang…” dokter Ricky yang emang udah jadi dokter keluarga somplak ini pun menunjuk pintu keluar.
“Kalau suami saya tiba-tiba drop gimana?” tanya mami Reva.
“Setelah diobservasi selama dua jam ini, kondisi pak Ridho sudah stabil dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau ada apa-apa, Ibu bisa menelepon saya…” kata dokter Ricky.
“Baik, Dok! Mari saya antar…” kata Om karan.
“Permisi bu Reva…”
“Terima kasih dokter Ricky..”
Dokter Ricky keluar ruangan diikuti Om Karan. Sedangkan mami Reva ngeliat papi Ridho yang udah dipasang oksigen dan juga infus di tangannya pun ngerasa sedikit lega.
Om Karan balik lagi, “Sebaiknya kamu tidur, Reva. Sudah jam 3 pagi. Biar Ridho aku yang tunggu…”
“Sudah, kamu naik ke kamar kamu, Reva…” lanjutnya.
Tapi baru juga mau melangkah, tiba- tiba ada suara yang keluar dari mulut papi Ridho, “Akkkkkkk!”
Mami Reva langsung mendekat, “Mas? Mas Ridho? Kamu kenapa, Mas?”
Tapi kemudian papi Ridho diem lagi, mungkin dia lagi ngelindur, pikir Om Karan.
"Pak Sarmin udah tidur belum yah?" tanya mami Reva.
"Kalau belum tidur kamu mau ngapain?"
"Aku mau nyusulin mas Ridho, aku takut dia kenapa-napa. Kamu denger sendiri kan? dia tadi kayak orang kecekek gitu?" mami Reva duduk di lantai dan deketin kupingnya ke mulut suaminya yang ketutup sama masker oksigen.
"Ada suaranya kok tadi," kata mami Reva yang kini berdiri lagi.
"Kalau kamu kesana, yang ada tambah runyam! Ridho aja yang jauh dari kata grusa-grusu, sampai sekarang belum balik-balik. Kalau kamu ikut kesana, belum tentu kamu langsung ketemu sama mereka, dan itu bikin masalah baru. Kamu harus tau itu, Reva!" Om Karan tegas.
Dan sesaat kemudian, hidung mami Reva kembang kempis, dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan bibir yang sekarang juga mlekitat-mlekitut.
Om Karan menarik Reva ke dalam pelukannya, "Sorry!"
"Huwwwwwaaaaaaa! hiks, hikss...!"
"Sorry, sorry? aku tidak bermaksud untuk membentak, ini semua karena--"
"Aku cuma pengen ketemu Rion sama Ridho, hiks. Kamu nggak ngerti rasanya jadi aku tau nggak?" Mami Reva mukulin dada sepupunya.
__ADS_1
"Kamu pikir aku baik-baik aja? aku sama khawatirnya dengan kamu, aku khawatir terjadi sesuatu dengan Rion. Aku sampai manjat gunung demi mencari dia. Rion juga berarti buat aku, Va. Dia bukan hanya sekedar keponakan, tapi sudah seperti anakku sendiri..." Om Karan puyeng kalau denger perempuan udah nangis.
"Please, kamu diem disini. Jangan berpikiran untuk menyusul mereka..." lanjutnya.
Dia melepaskan pelukannya, "Sekarang lebih baik kamu tidur, udah hampir subuh..."
Mami Reva ngangguk, dia nengok ke arah papi Ridho sebelum dia pergi ke kamarnya.
Sementara, di rumahnya sendiri. Tante Luri nggak bisa tidur. Ternyata sewaktu Om Karan pergi, dia tuh bangun. Tapi dia nggak berani nanyain kemana suaminya itu mau pergi.
Dan tiba-tiba ada telepon yang masuk.
"Halo, Mas?" sapa tante Luri.
"Halo, Luri ... aku sedang berada di rumah Reva. Kondisi Ridho sempat drop tadi. Mungkin karena beberapa hari tidak ada asupan makanan,"
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya tante Luri.
"Sudah mendapatkan penanganan dokter, dan kondisinya sudah stabil. Aku disini dulu menjaga Ridho, supaya Reva bisa istirahat,"
"Iya, Mas..." sahut tante Luri.
"Kamu juga sebaiknya tidur lagi, aku mungkin akan tinggal disini untuk sementara waktu," kata Om Karan.
"Kamu jaga kesehatan, Mas..."
"Pasti! ya sudah aku tutup telfonnya," kata Om Karan.
Tante luri menarik nafasnya dalam, "Semoga Arion cepet ketemu, kasihan mas Ridho dan Mba Reva. Mereka pasti sangat sedih..."
"Ridhooo?" panggil pak Sarmin.
Dan masih aja ada bunyi 'Krak krek krak krek' dari dalam lemari.
"Pih..."
"Sebentar Rion!" ucap papi Ridho.
"Ya, Pak haji...! Ridho hadir pak haji!" papi Ridho satu kupingnya sambil celingukan kali aja ada pak Sarmin.
"Ridhooo, kamu cepat pergi ke sebuah kastil tua. Rissa ada disana. Rion, suruh dia gunakan kekuatan pedang itu. Kalian harus bergerak cepat!" ucap pak Sarmin.
"Iya, pak haji!"
Papi Ridho lalu menepuk pundak anaknya, "Rissa ada di kastil tua! kita harus ke sana!"
Kreeeeeeeettt!
Pintu terbuka.
"Huuffhhhh! untunglah bisa dibuka!" ucap peri Keket.
"Ulet Keket??!" Rion naikin alisnya.
__ADS_1
"Aku tadi ikut masuk, tapi sayangnya mereka semua kena sihir. Dan Anna, pelayan di Istana ini yang menjadi kaki tangan Dorothy. Tapi aku berhasil mengikuti kemana mereka pergi. Dan aku tau dimana letak kastil itu. Sekarang kalian ikut aku!" ucap peri Cathlyn.
"Ya udah yok! kita kesana sekarang!" kata Rion yang udah mau jalan aja.
"Tapi tunggu!" peri Keket yang terbang dengan sayapnya.
"Ada apa lagiiiiii!" Rion gemes.
"Kastilnya berada di hutan, di perbatasan sebelah barat kerajaan ini!" kata peri Keket.
"Jangankan di hutan, di langit aja gue samperin tuh kastil!" ucap Rion yang memegang pedang cahaya biru.
"Ya sudah, kita lewat sini!" kata peri Keket menunjuk sebuah jalur rahasia.
Kini mata Rion terbuka, dia hanya mengikuti kemana peri mungil itu berjalan. Sampai akhirnya mereka bisa sampai keluar dari sebuah dinding yang kemudian tertutup kembali.
"Gimana sama pangeran saingan kamu itu?" tanya papi Ridho tiba-tiba.
"Nggak usah dipikirin! yang jelas kita harus pergi nyari Rissa, Pih! titik, nggak pakai koma..." Rion menatap papinya serius.
Perlahan tapi pasti, papi Ridho dan juga Rion keluar dengan mengendap-endap.
Masih banyak pengawal yang berjaga, mereka harus bersembunyi dan mengambil arah yang ditunjukkan oleh si peri.
"Ikuti aku!" ucap si peri yang bergerak ke arah luar istana.
"HEY, SIAPA KALIAAAN?!!" teriak pengawal yang memergoki mereka.
"Gawat, Rion!" papi Ridho membatu sesaat, "Kita ketauan!"
"Pih?! naik ke punggungku! dan kamu juga Cathlyn!" suruh Rion.
"Naik ke punggung? jangan nanti kamu encok! papi berat Rion!" papi Ridho menggeleng.
"Naik cepetan, Piiih!" Rion gregetan.
"Papi berat, Rion! Mending kita lari bareng-bareng, papi belum jompo kok. Papi masih kuat lari!"
Dengan cepat, Rion mengambil kedua tangan papinya dan menggendong papinya ke punggungnya," pegangan yang kuat, karena aku akan berlari sangat kencang, bahkan melebihi kecepatan cahaya!" lanjutnya dengan mata yang tajam.
"TANFKAP MEREKA?!!" seru pengawal.
Sekarang mereka dikepung.
"Rion?" papi Ridho melihat sekeliling mereka udah banyak pengawal.
"Cathlyyyn!" seru Rion, dan peri Keket pun ikut nemplok di pundak Rion.
Dan...
Wussssssss!!!
Rion yang memegang pedang, berlari sekencang-kencangnya.
__ADS_1
"Aarrrrrrrrrrhghhhh!" Rion memekik saat dia menerobos begitu saja para pengawal yang menghalangi jalannya.
"Bukan salah gue! salah elu sendiri kenapa ngalangin!" ucap Rion saat mendengar suara pengawal yang memekik karena terjungkal saat serempetan sama Rion.