Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
145. Siapapun Nggak Mau Dikorek Masa Lalunya


__ADS_3

Rion akan tetap jengukin Rissa, menyingkirkan segala permasalahan antara dua ibu yang sama-sama keukeuh nggak mau baikan.


Gini nih yang mau ketemu sama separuh nafas dan jiwanya, Rion pun memcoba bebetapa outfit yang cocok dengan musim dingin ini. ya sebenernya kan nggak jauh-jauh dari mantel dan sweater ya, karena nggak mungkin juga pakai kaos oblong atau kemeja buat keluar.


Sebenernya Rion nggak bisa tidur, cuma dia meremin mata aja. Biar mukanya nggak kayak orang yang loyo.


Rion merapikan rambutnya, dia juga nggak akan lupa buat menyemprotkan parfum yang begitu soft tapi masih ada sentuhan maskulinnya, "Ck kenapa jadi biru kayak gini?"


Ujung lidahnya mencoba menyentuh salah satu sudut bibirnya yang sempet ditonjok Thomas, "Brengssek banget emang tuh orang!"


"Muka gue jadi babak belur kayak gini. Kalau nggak inget temen sendiri, udah gue tonjok balik dia!" Rion yang berusaha mengelapnya dengan tisu.


Bukan perempuan yang punya banyak berbagai macam make up yang bisa meng-covered segala macam ketidaksempurnaan wajah. Nah kalau Rion? Paling mentok dia cuma punya obat merah.


"Apa gue kompres dulu pakai es batu? aarghh, kenapa semalem nggak kepikiran buat ngompres, sih?!" Rion misuh-misuh sendiri.


Rion ngambil sapu tangan dan pergi dia ke dapur buat ngambil beberapa es batu, ya minimal biar mukanya nggak bengkak-bengkak amat.


Meskipun bonyok juga masih tetep ganteng ya, Yon?! sebuah warisan yang tidack bisa dirubah walaupun dalam keadaan apapun.


Lagi enak-enak merasakam dinginnya es di wajah, tiba-tiba ada suara bel pintu yang dipencet berulang-ulang.


"Siapa sih? Nggak sabaran banget mau beryamu ke rumah orang!" Rion meletakkan saputangan yang membungkus es batu ke dalam baskom stainless.


Dan setelah dibuka, terpampang nyata wajah Thomas yang menatapnya dengan tatapan yang nggak seperti biasanya.


"Gue boleh masuk?" Thomas menunjuk pintu yang masih dipegangi Rion.


"Masuk aja," Rion berbalik dan membiarkan pintu ngablak begitu aja. Dia duduk duluan di sofa, diikuti Thomas yang tadi kedengeran nutup pintu.


"Duduk," Rion gerakin tangannya menunjuk sofa yang empuk. Nadanya datar seolah nggak pernah terjadi baku hantam antara dirinya dengan Thomas.


"Elu mau pergi? udah rapi ajah?" tanya Thomas.


"Ya, gue ada urusan lain. Ada apa?"

__ADS_1


"Elu mau minum apa biar gue ambilin?!" Rion bangkit dari sofa mengambil baskom yang nggak luput dari pandangan Thomas. rion masih kesal, tapi dia tetap menjamu tamu yang datang ke rumahnya.


Sedangkan pria blasteran itu bersikap biasa aja, sok nggak ada apa-apa. Padahal dia juga tau kegunaan baskom yang Rion bawa tadi.


'Pasti dia lagi ngompres muka!' ucap Thomas dalam hati


Beberapa saat kemudian Rion kembali dengan dua cangkir hot cappucino, dia meletakannya di meja, "Ngapain elu dateng kesini sepagi ini?!"


"Pertama gue mau minta maaf, gue akui gue salah udah gamparin elu dan nonjokin elu semalem," Thomas menormalkan raut wajahnya seperti biasanya.


"Terus?"


Thomas terdiam sesaat sebelum mengutarakan maksud dan tujuan utamanya, "Ada yang mau gue tanyain sama elu,"


"Apa?"


"Ada hubungan apa elu sama Karissa, adek ketemu gede sekaligus gebetan yang udah lama gue incer itu?" Thomas langsung pada inti pembicaraan.


Rion menarik satu sudut bibirnya yang terluka, "Ssshhhh,"


"Ada hubungan apa elu sama---"


"Elu tuh nggak sabaran banget jadi orang. nggak tau apah bibir gue lagi perih?" Rion sewot.


"Elu tinggal jawab aja apa susahnya?"


"Elu tanya sama adek ketemu gede elu aja, jangan tanya sama gue!" Rion sengaja bikin Thomas penasaran, siapa suruh dia nonjok tanpa pikir panjang dulu.


"Yang bener aja lu, Rion?!" Thomas mulai terpancing kesel.


Thomas mengubah posisi duduknya, badannya keliatan tegang, "Kita sama-sama pria dewasa, dan aku paham arti tatapan kamu sama Rissa. Gue kenal elu dengan baik---"


"Yakin lu kenal gue? gue sendiri aja nggak kenal diri sendiri," serobot Rion.


"Gini aja deh, gue akan kirim jawabannya 3 hari lagi. Minum cappucino yang udah gue buat dengan susah payah, dan elu bisa pulang. Dan soal pipi gue yang memar ini, gue anggap lu lagi kesurupan, jadi----"

__ADS_1


"Arion?! gue serius?!" ucapan Thomas mencegah Rion buat berdiri.


"Elu pikir gue nggak serius?! pertama, elu udah nuduh dengan segala pemikiran elu yang ribet itu, kedua elu udah nonjok gue dengan pikiran pendek lu itu, dan yang ketiga yang elu tanyain ke gue sesuatu yang sifatnya privacy. Gue rasa, nggak semua orang bersedia masa lalunya dikorek-korek, Thom?!" Rion tegas.


"Dan urusannya apa sama elu kalau emang gue sama dia punya sejarah masa lalu?" Rion menatap Thomas dengan tajam.


"Ya kan gue lagi usaha, dan gue nggak mau direcokin aja," kata Thomas.


'Elu udah kalah start duluan sama gue, Thomas. Karena gue udah duluan kenal sama Rissa dan gue yakin hati dia cuma buat gue,' Rion ngomong dalam batinnya aja.


"Gue udah nangkep dari semua yang elu lontarkan barusan. Intinya gue harap elu nggak ganggu hubungan gue sama Rissa, Arion!" Thomas kali ini berdiri.


"Gue pergi," lanjutnya sebelum meninggalkan secangkir cappucino yang sama sekali belum tersentuh.


Sedangkan Rion, masih duduk dengan tenang. Dia bisa mendengar pintunya dibuka kemudian di tutup, "Gue udah melewati banyak hal sulit dengan Rissa, dan elu? cuma orang baru yang mencoba menyusup ke dalam hati Rissa tanpa elu ketahui, jika gue yang udah mendiami hati itu sejak lama,"


Meletakkan kedua cangkir yang sama sekali belum tersentuh siapapun ke dalam wastafel, sejak kedatangan Thomas buat minum aja rasanya susah.


Lalu Rion ingat tujuan awalnya, dia akan menjenguk Rissa di rumah sakit, "Tapi Thomas kesana nggak ya?"


"Ah, bodo amat?! gue kesana dulu aja, mastiin kalau Rissa emang dirawat di rumah sakit itu.


Sedangkan di tempat lain.


"Bu, tapi ibu belum sembuh benar!" Meisya mencegah Rissa turun dari ranjangnya.


"Ada hal lebih penting dari sekedar menghabiskan botol infus itu, Sya! lagipula lusa kamu kan pulang ke Indonesia, jadi manfaatkanlah waktumu sebaik mungkin disini. Banyak tempat yang bisa kamu kunjungi," Rissa sengaja meminta Meisya balik ke rumah mereka buat ngambil baju yang kering buat Rissa pagi-pagi tadi.


"Tapi, Bu----"


"Percaya sama aku! aku udah sehat, liat nih?! aku udah kuat banget loh?!" Rissa menggerakkan tangannya yang masih dipasang infus.


"Nggak usah begitu khawatir!" Rissa tersenyum pada gadis yang sudah ia anggap saudara.


Perawat pun datang untuk melepaskan infus yang menancap di punggung tangan Rissa.

__ADS_1


Kedua wanita itu pergi dari rumah sakit menuju tempat lain.


__ADS_2