
Rissa dan Rion berjalan beriringan sampai mereka berhenti di depan sebuah ruangan.
"Kita masuk ya," kata Rissa memberi aba-aba. Sedangkan Rion ngangguk, dia udah nyiapin mental buat ketemu Dera Prayoga.
"Assalamualaikum, Pah..." suara lembut Rissa menyapa papanya.
Namun Rion sangat kaget sesosok makhluk yang ada tepat di atas kepala Om Dera, "Astaghfirullahal'adzim?!" pekiknya.
Rissa yang digenggam tangannya memberi isyarat kalau Rion nggak boleh membuat papanya kaget, "Sorry tapi---" bisik Rion.
"Aku tau," ucap Rissa tenang.
'Astagaaa, Rissa bisa begitu tenang melihat makhluk seperti itu. Buat pura-pura ngeliat makhluk nyeremin aja dia jago apalagi cuma pura-pura nggak kenal sama gue? pantesan mukanya tenang banget, pasti terlalu gampang buat dia,' batin Rion.
"Paaaaaaah..." Rissa mendekat pada papanya yang otomatis Rion juga ngikut.
"Pagi, Om..." ucap Rion yang diliatin makhluk berjubah hitam.
"Pagi...?" sahut Om Dera.
"Dia Arion, Pah..." Rissa nengok ke arah Arion dan kembali menatap papa nya.
Om Dera ngangguk, "Iya, papah sudah tau, Rissa..."
Om Dera yang lagi tiduran mengulurkan tangannya, mencoba meraih tangan Rion.
Rion yang melihat itu pun mendekat dan semakin bisa melihat sesosok yang nggak asing baginya.
"Maafkan, saya Arion?! maafkan saya yang sudah berbuat jahat padamu dan juga ibumu, Reva. Saya sungguh menyesal, saya ... saya sangat menyesal..." Om Dera menggenggam tangan Rion erat, dia menangis.
Sedangkan Rion ngelepasin satu tangannya yang menggenggam tangan Rissa buat membalas pegangan tangan Om Dera, "Iya, Om, saya sudah memaafkan Om,"
"Setiap manusia punya sisi gelap dalam hidupnya, dan setiap orang juga berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup yang lebih baik, meninggalkan hal yang buruk dan memulai sesuatu yang baik..." lanjut Rion.
Om Dera ngangguk, "Terima kasih, Arion! hatimu sungguh baik. Kamu mau memaafkan orang seperti saya,"
__ADS_1
"Pah...." Rissa bergerak ke sisi ranjang papanya yang sebelahnya. Dia mengusap bahu papinya.
"Pah inget, papa harus jaga kondisi..." Rissa mengingatkan lagi.
"Saya seperti bermimpi bisa bertemu dengan kamu disini," Om Dera begitu emosional
"Arion kebetulan tinggal di negara ini, Pah..." Rissa menimpali ucapan papa nya.
"Akhirnya Allah menjawab doa ku yang ingin bertemu denganmu sebelum saya hilang dari dunia ini..."
"Jangan bicara seperti itu, Om..." Rion bisa melihat ketulusan di wajah orang yang hampir saja mencelakainya.
"Arion, sampaikan maafku pada Reva dan Ridho. Meskipun 5 tahun yang lalu saya sudah melakukan itu, tapi tolong sampaikan lagi. Saya benar-benar sudah menyesal, saya tidak akan menganggu kehidupan mereka. Tolong sampaikan itu pada ayah dan ibumu Arion..." Om Dera terus mengeluarkan air matanya.
Anak yang dulu sempat ditumbalkannya, sekarang berdiri di hadapannya menjelma menjadi sosok pria tampan dan tangguh, dan itu membuat Om Dera semakin merasa bersalah, apalagi dia tahu kalau papi Ridho dan mami Reva hanya memiliki anak tunggal, Arion Putra Menawan. Dan kejadian itu pasti sangat melukai hati mereka.
"Setiap hari, setiap detik, hidupku tidak tenang. Saya selalu dihantui rasa bersalah, hidup saya tidak pernah tenang, Arion. Dan kamu bisa melihat keadaan saya sekarang, ini adalah karma untuk saya..."
"Saya ingat kata-kata papi saya, Om. Obat untuk hati yang gelisah itu hanya sholat dan berdoa. Maka Allah akan memberi ketenangan dalam hati kita," Rion memberi senyuman.
"Sudah, Om! saya sudah memaafkan Om. Jadi Om tidak perlu lagi memikirkan itu. Kita memang tidak bisa menghapus masa lalu, tapi kita bisa menjadikan masa lalu sebagai bahan pelajaran, agar kita tidak terperosok ke lubang yang sama..." Rion mencoba untuk menenangkan Om Dera yang terus saja meminta maaf padanya.
Meskipun yang namanya ikhlas itu sulit, tapi Rion berusaha berdamai dengan masa lalu, karena dendam nggak akan mengubah apapun. Yang ada dendam membuat hidupnya nggak pernah tenang, karena selalu diliputi rasa amarah.
"Yang terpenting sekarang, Om berjuang untuk sembuh. Jangan memikirkan hal yang berat, pasrahkan semuanya pada Allah, Om. Insha Allah, hati Om akan lebih tenang..." Rion berusaha menguatkan hati Om Dera.
"Maaf, bukan saya ingin mengajari atau menggurui," lanjut Rion.
"Terima kasih, Arion. Saya pasti akan melakukan itu..." Om Dera menengok ke arah Rissa yang kini menggenggam tangannya yang satunya.
"Sudah ya, Pah. Jangan banyak pikiran, Rissa takut nanti hasil observasi papa malah jelek," Rissa menghapus air mata papa nya.
"Dan maaf ya, Pah? Rissa kemarin nggak kesini, banyak hal yang harus diurus,"
"Papa tau, Sayang! kamu jangan khawatirkan itu," Om Dera melepaskan genggamannya pada Rion dan mengusap kepala Rissa sekilas.
__ADS_1
"Hari ini, Rissa akan menemui dokter untuk menanyakan bagaimana perkembangan papa..." kata Rissa yang mendapatkan anggukan kepala Om Dera.
"Kita berdoa ya, Pah ... semoga hasilnya naik semua,"
"Aaamiin," Om Dera memeluk putrinya.
"Papa istirahat dulu, Rissa mau ke ruangan dokter," Rissa menegakkan tubuhnya dan mensikkan selimut papa nya.
"Maaf, Om ada handphone?" tanya Arion.
Om Dera nganggum dan menunjukkan hapenya, "Ada..."
"Boleh saya pinjam, Om?"
"Tentu, pakailah..." Om Dera menyerahkan hapenya pada Arion. Sedangkan Rissa menaikkan alisnya penasaran dengan apa yang dilakuman Arion.
Dan terdengarlah lantunan ayat suci beberapa saat kemudian.
"Supaya hati Om lebih tenang," Rion menaruh hape itu di meja disamping ranjang Om Dera.
"Terima kasih Arion," Om Dera melayangkan senyumannya.
"Kalau gitu, Rissa dan Rion pergi dulu ya, Pah...?" Rissa menyalami tangan papanya begitu juga dengan Rion.
Rissa buru-buru ngajak Rion pergi karena dia
takut makhluk yang beberapa waktu ini nempel terus sama papanya itu tertarik dan malah menganganggu Rion.
Setelah pintu ditutup, barulah Rion langsung nanya, "Itu, kenapa di dalam ada makhluk mengerikan seperti itu?"
"Shhhh, jangan ngomong keras-keras, aku takut paoa masih bisa denger," Rissa menjauhkan Rion dari depan pintu, dan mereka berdiri agak jauh dati kamar papa nya Rissa.
"Aku nggak tau persisnya kapan, yang jelas sepulang kerja aku udah liat makhluk berjubah itu udah melayang di atas kepala papa saat aku mau masuk ke kamar papa. Aku kira dia akan pergi satu dua hari, ternyata nggak. Dia membayangi papa hampir bertahun-tahun. Untungnya papa ngeliat makhluk itu, jadi aku selalu berpura-pura aku juga nggak ngeliat makhluk mengerikan itu, supaya papa nggak takut..."
"Kamu yakin Om Dera nggak ngeliat? apa yang bikin kmau yakin kalau papa kamu nggak ngeliat makhluk itu? lalu menurutmu apa yang membuat kondisi papa mu semakin menurun?" pertanyaan Rion, justru memantik rasa ragu di hati Rissa.
__ADS_1
'Apakah papa melakukan hal yang sama denganku? berpura-pura nggak melihat makhluk itu? apakah iya?' Rissa dalam batinnya.