
Thomas meraih kerah mantel Rion dan menghajar temannya itu tanpa jeda.
BUGH?!!
BUGH?!!
"Rioooon,?" Rissa menjerit histeris, sedangkan saat pintu rumahnya sudah terbuka lebar.
"Hentikaan...?!" dia ngeliat kalau suaminya ditarik dan dipukuli Thomas.
Tapi kali ini Rion nggak tinggal diam, dia balik memukul Thomas.
BUGH!
"Kesurupan setan apa lu, hah?!" Rion memukul dan menghempaskan Thomas ke atas paving yang diselimuti es serut, elah es salju ceunah.
Tapi Thomas nggak mau kalah, dia bangkit lagi dan menyerang Arion. Dia mendorong tubuh Arion sampai mereka berdua jatuh berguling di bawah tumpukan salju.
"Stop?!! berhenti...?! Arion ...? Kak Thomasss?!!" Rissa berusaha memisahkan keduanya tapi baru juga mau didekati, kedua pria yang ngakunya dewasa itu bangun dan adu jotos.
"jangan mendekat, sa?! jangan mendekat?!" Rion memandang sekilas istrinya, dia takut Rissa kena imbasnya.
"Lu kenapa, sihhh?" Rion mencoba menangkis setiap serangan dari Thomas.
"Gue udah siapin semuanya, tapi elu .. elu ngerusak semuanya?!! gue kira kita temen ternyata, gue salah menilai elu selama ini," Thomas melayangkan pukulannya tapi tangan itu segera ditangkap dan dipelintir Rion.
"Nggak cukup elu mukulin gue tempo hari, hah?" Rion menahan tangan Thomas dari belakang.
"Gue anggap lu lagi kesambet setan?!" Rion ngelepas Thomas gitu aja.
Rion menyeka darah di sudut bibirnya.
Sedangkan Rissa khawatir dengan keadaan Rion, "Kamu---"
Rion memotong ucapan Rissa dengan gelengan kepala, "Nggak kenapa-napa," ucapnya.
"Mungkin cuma salah paham," kata Rion mata tajamnya melirik Thomas yang nggak kalah babak belur.
"Kamu kenapa, Kak? kenapa kamu tiba-tiba mukulin temen kamu sendiri?" Rissa nggak adar kalau dirinyalah sumber perpecahan antara kedua sahabat itu.
Tatapan mata Rion beralih pada Rissa, dan dia pun bilang, "Masuk ke dalam rumah! aku akan selesaikan masalahku dengan dia!"
Thomas belum menjawab pertanyaannya tadi. Rissa bimbang harus masuk atau nggak takutmya mereka berantem lagi. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin memang dia harus memberi waktu Rion dan juga Thomas buat menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka.
__ADS_1
"Jadi, karena pergi bersama dia, kamu mengabaikan janji kamu, Rissa?" seru Thomas membuat wanita itu mengurungkan langkahnya, dia berbalik menatap Thomas.
"Janji?" gumamnya lirih.
Thomas tertawa kecil nggak habis pikir kalau Rissa benar-benar ngelupain janji makan bersamanya, "Jadi kamu benar-benar lupa? bukankah kemarin siang aku sudah bilang kalau kita akan makan malam bersama..? hem?"
"Aku sudah chat dan telfon berkali-kali. Tapi kamu sama sekali nggak menjawab atau minimal membaca chat yang aku kirim. Dan kalau aku nggak kesini, aku nggak akan tau kalau kalian habis jalan bareng.
Dan Rissa pun baru menyadari kesalahannya, "Maaf, Kak ... tapi aku lupa, karena hari ini...."Rissa menengok ke arah Rion.
"Ngomong di dalem, kasian Rissa. Bisa beku dia di luar?!" Rion menyuruh semua orang buat masuk ke dalam.
Thomas yang ngeliat Rissa nahan giginya supaya nggak gemertak pun akhirnya mau menerima ajakan Rion.
Akhirnya mereka duduk bersama di ruang tamu.
"Sebelumnya aku mau minta maaf, Kak. Karena aku lupa, aku nggak maksud lupain, tapi hari ini hari operasi jantung papa ku," ucap Rissa.
"Seharian ini bahkan aku belum liat hape, karena aku titipin hapeku sama...."
"Sama siapa?" Thomas memandang Rissa.
"Arion," ucap wanita itu singkat.
"Sebenarnya ada hubungan apa kalian?" Thomas memandang Rissa dengan rasa bersalah karena Rissa lagi melewati hal yang berat tapi dia nggak ada di sisi wanita itu. Dalam hati Thomas bergemuruh 'Kenapa Rissa nggak cerita kalau dia kesini salah satu tujuannya buat operasi papa nya. Kenapa?'
"Jadi sebenernya kalian sudah saling kenal? sejauh apa?" Thomas mencecar keduanya dengan pertanyaan.
"Sesuai janji gue, kalau gue bakal jawab pertanyaan elu tempo hari, Thom. Elu penasaran apa hubungan gue dengan Rissa, iya kan?"
Rissa gelengin kepala, "Rion---"
"Biar aku yang jelasin,"serobot Rion.
"Memang kami berdua sudah kenal sebelum gue nerusin kuliah disini, tepatnya 5 tahun yang lalu. Terus kalau elu tanya kenapa, seolah kita menjadi dua manusia yang nggak kenal satu sama lain? jawabannya karena kita berdua dalam proses melupakan satu sama lain," Rion memandang istrinya yang wajahnya sendu.
"Tapi nyatanya takdir berkata lain, kita dipertemukan setelah sekian tahun dipisahkan oleh keadaan...." lanjutnya.
"Dan sekarang...? gue samaa Rissa hari ini udah sah jadi suami istri?!' tegas Rion.
"OMONG KOSONG?!" Thomas gelengin kepala, seolah yang diucapkan Arion hanya bualan semata.
"Apa yang dikatakan Arion cuma omong kosong kan, Rissa? kamu nggak mungkin kan nikah sama dia? bahkan kalian baru bertemu kurang dari seminggu. Nggak mungkin tiba-tiba kalian menikah, ini mustahil..." Thomas menatap wanita pujaan hatinya.
__ADS_1
"Sayang, buka mantel kamu..." suruh Rion.
Ucapan kata 'Sayang' yang meluncur dari bibir Rion seakan menusuk batinnya.
Rissa perlahan membuka mantelnya begitu juga dengan Rion, dan Thomas bisa melihat secara detail Rissa yang memakai sebuah gaun yang indah.
"Pernikahan kami memang bukan digelar dengan istimewa, karena kita menikah di hadapan papa Rissa yang sakit parah, yang saat itu akan menjalani operasi jantungnya...." jelas Rion.
"Dan kalau kamu masih nggak percaya, ini buku pernikahan kami. Ini legal dan sah!" Rion menunjukkan sebuah buku nikah yang disitu ada fotonya dan juga Rissa.
'BRENGSSEK LU, ARION! BERANINYA LU NIKUNG GUE!' batin Thomas dia merasa dicurangi.
Thomas bangkit dan menarik jas Rion,, menyeret pria itu keluar.
"Temen macam apa lu, Rion?!! lu tega banget nusuk gue dari belakang, hah?! DASAR PENGHIANAT?!!"
Rion yang diseret nggak terima juga, akhirnya mereka baku hantam lagi, "Denger, Ya?! Thom, gue udah kenal duluan sama Rissa, jauuuh sebelum lu masuk ke dalam kehidupannya. Gue sama dia punya perasaan yang sama!" Rion mencengkram mantel Thomas.
Sedangkan Rion cuma pakai sweater tebel, yang nggak cukup menghalau rasa dingin yang menusuk kulit.
BUGH!
"Riooon! cukup Rioooon?!" Rissa nggak tega mereka saling hajar menghajar tanpa peduli seberapa bonyok wajah mereka.
Rion menghajar Thomas, temannya sendiri lagi dan lagi, sampai jas aby-abu yang dipakai Thomas basah karena darah yang keluar dari mulut.
"Meskipun gue dan Rissa nggak ketemu di project yang sama, kalau kita emang jodoh kita bakal ketemu dan bersatu, Thom. Elu atau siapapun nggak akan ada yang bisa menghalangi takdir yang udah Tuhan gariskan!" Rion menunjuk Thomas
Dada Thomas naik turun menahan amarah, matanya agak sayu. Rion melepaskannya dengan kasar.
"Tapi kenapa kamu nggak bilang sama aku Rissa, kalau kamu nggak mau Rion yang menjadi brand ambassador produk kalian itu karena kamu memiliki masa lalu yang nggak enak sama dia. Kenapa? kalau aku tau aku nggak akan cari oranglain dan..."
"Dan bahkan aku, aku memiliki perasaan yang lebih sama kamu, Rissa..." ucap Thomas dengan sisa tenaganya.
Mata Rissa membulat, dia terkejut saat penyataan cinta tanpa sadar keluar dari bibir Thomas.
"Apa?" lirih Rissa. Nggak tau udah berapa banyak air mata yang keluar dari kedua bola mata wanita itu.
"AKU CINTA SAMA KAMU, RISSA?!" Thomas menangis saat mengucapkannya.
Sedangkan Rissa terpaku melihat orang yang sudah dia kenal dengan baik.
"Aku punya perasaan yang tulus sama kamu, tapi kenapa kamu nggak pernah peka dengan itu?!" Thomas terlihat begitu mengenaskan.
__ADS_1
"Aku...?" Rissa melirik suaminya yang menatap tajam ke arah sahabatnya sendiri.
'Kenapa? kenapa jadi seperti ini?' batin Rissa yang merasa tersayat mendengar ucapan dari Thomas.