
Meskipun pikiran Rion berusaha buat move on dari Rissa, tapi hatinya berkata lain. Buktinya sekarang dia masih ngikutin mobil Thomas. Sampai mobil sahabatnya itu berhenti di sebuah rumah yang memiliki halaman yang luas.
'Kenapa mereka nggak nginep di apartemen aja?' batin Rion saat melihat dua orang wanita itu turun dari mobil Thomas.
Rion segera memundurkan mobilnya, takut si Thomas curiga kalau dia diikuti. Rion menarik rem tangannya, supaya mobilnya nggak ngeglundung.
'Ngapain si Thomas liat ke belakang, sih? nggak mungkin dia curiga, kan' Rion ngomong dalam hatinya.
'Ngapain dia nganter sampai ke dalem segala?' Rion melipat tangannya di depan dada.
Lama Rion nunggu, ada kali satu jam sampai mobilnya di ketuk dari luar.
"Excuse me, Sir! the snow cleaner is blocked by your car! (Permisi, Tuan! mobil pembersih salju terhalang mobil anda!)" seorang pria menunjuk mobil belakang Rion.
"Oh, sorry I dont know! but I will moved annyway! ( Oh, maaf saya tidak tahu! tapi taya akan minggir!)" kata Rion yang pergi dari sana dan kembali ke apartemennya.
Rion pulang dan melepaskan mantel saat udah masuk ke dalam unitnya. Penghangat ruangan secara otomatis menyala saat lampu menerangi setiap ruangan.
Rion duduk dan melepaskan syall yang melilit lehernya, dia keliatan sangat kesal.
Braakkk!
Syall yang nggak salah apa-apa itu pun dibanting begitu aja sama Rion,
"Aaarrrrrrgh! hhhh ... hhh..." nafas Rion memburu.
Dia menjambak rambutnya sendiri, dia keliatan sangat frustasi.
"Kenapa sekian tahun, gue bisa hidup tanpa dia! dan sekarang, kenapa dia muncul dengan cara kayak gini?!" Rion mengusap bibirnya kasar.
"Apa yag harus gue lakukan, sedangkan di luar sana Thomas lagi pedekate sama Rissa. Mereka udah di tahap kakak adek ketemu gede? terus gue? gue harus gimana? tetep pura-pura mggak kenal Rissa gitu? terus ngebiarin mereka semakin deket? atau gimanaaaa?" Rion marah-marah nggak jelas. Dia yang tadinya duduk kini berdiri.
"Shiiiiitttt! gue benci situasi ini!" Rion meninju angin, dia beneran udah nggak bisa mengontrol emosinya.
Dadanya naik turun, matanya sekarang melihat sekitar.
Seeettttt!
Ada sekelebat bayangan hitam yang lewat tanpa permisi.
Rion yang lagi emosi jiwa pun nggak tinggal diam, matanya tajam melihat ke segala sisi.
'Apa ini ada hubungannya dengan Rissa? karena selama gue disini, gue nggak diganggu seintens ini!' batin Rion yang langsung pakai ilmu cocoklogi.
Udah dicocok-cocokin aja gitu sama dia, Rissa yang sekian taun nggak berjumpa sama dia terus tiba-tiba nongol dan sekarang dia diganggu makhluk astral. Yeuuuuuh, kenapa ada setan elu malah nyalahin Rissa, Yonoooooo?!!
Situasi di luar masih terang benderang. Rion sengaja membuka tirai otomatisnya. Biar gamblang gitu makhluk mana yang berani-beraninya ganggu saat siang bolong begini!
__ADS_1
Rion mengeluarkan pedang cahaya birunya.
Seeeet!
Seeeet!
Bayangan hitam itu melewatinya lagi.
"Hhhh," Rion berbalik, bayangan itu lenyap.
Rion mencoba tenang, sedangkan matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Tetep mengawasi sekitarnya.
Pria yang pakai sweater hitam yang menutupi lehernya yang jenjang itu bergerak dengan sangat hati-hati.
Seeettt!
Bayangan itu lari menuju kamarnya dan
Happpp!
Rion menangkap bayangan itu.
Dia mendorong dan mencekik makhluk yang melihatnya dengan mata yang melotot.
"Hahahahahahaha," sesosok makhluk bertopeng putih dengan kulit wajah yang pucat. Kalau dari suaranya, jelas itu wanita.
Baru saja Rion mengayunkan pedang cahaya biru, Makhluk itu hilang dan hanya meninggalkan tawa yang memekakkan telinga.
"Siaaaalaaaaaan?!!" Rion mengumpat mendapati musuhnya kabur duluan.
Rion yang sengaja membuka tirainya, bisa melihat dengan sangat jelas butiran putih yang turun dari langit.
'Apa emang harusnya gue nggak bawa pedang ini?" Rion mulai berpikir tentang perkataan kakek Sarmin.
.
.
.
Berbeda dengan Rion yang lagi uring-uringan parah, Thomas malah lagi minum teh panas di rumah yang sengaja disewa buat Rissa.
Meisya sengaja masuk ke kamarnya, meninggalkan dua orang dewasa yang lagi duduk di ruang tamu.
"Mungkin buat syutingnya cuma bytuh waktu 2 sampai 3 hari, terus rencana kamu setelah itu mau ngapain disini?"
"Salah satu tujuanku kemari untuk mengajak papa ku berobat," Rissa mencoba jujur.
__ADS_1
"Aku dapat rekomendasi buat melakukan operasi jantung buat papa di salah satu rumah sakit di kota ini. Semuanya sudah diurus, semoga aja proses syutingnya cepat selesai dan aku bisa konsen nungguin papa..." Rissa mulai menyeruput teh melati yang sengaja dia bawa dari Indonesia.
"Aku yakin papa kamu pasti cepat sembuh, kamu yang kuat! dan aku siap berbagi pundak disaat kamu membutuhkannya!" Thomas menepuk salah satu bahu bidangnya.
"Terima kasih, Kak..."
"Gimana? ku suka dan nyaman tinggal disini?" Thomas melihat sekelilingnya.
"Ya, sangat nyaman. Aku yakin papa juga akan menyukai rumah ini, begitu tenang dan nggak banyak kendaraan yang berlalu lalang," Rissa menghangatkan tangannya dengan memegang mug berisi teh panas.
"Berarti sekarang Om Dera ada di rumah sakit?" Thomas memastikan.
"Ya, operasi akan dilakulan setelah papa melewati masa observasi. Makanya aku bilang syuting iklannya lebih cepat lebih baik, karena dengan begitu alu bisa mendampingi papa selama di rumah sakit. Aku takut dia kesepian," Rissa tersenyum, menelan kepahitan hidupnya sendiri.
"Pasti! aku akan memastikam kalau Syuting tvc-nya akan cepat selesai dan sesuai dengan harapan kamu!"
"Aku nggak tau lagi harua gimana membalas kebaikan kakak," Rissa mearuh mug yang ada di tangannya di meja di depannya.
"Mungkin dengan membalas perasaanku?" Thomas berkelakar.
"Apaaa?" Rissa menaikkan salah satu alisnya, dia mencoba memastikan apa yang di tangkap indera pendengarannya.
"Lupakan! aku hanya bercanda!"
Padahal dalam hati, itulah yang Thomas harapkan. Perkenalannya dengan Rissa sudah cukup lama, dan mereka udah saling mengenal satu sama lain. Saling membantu dan saling menyamankan diri, meskipun semuanya terjadi dengan bantuan teknologi dunia maya. Tapi perasaan itu begitu nyata bagi Thomas, dan dia berharap lebih dengan gadis itu.
"Bagaimana pendapatmu tentang Arion?" tanya Thomas random.
"Tentang Arion?"
"Ya, gimana? kamu cocok apa nggak?" Thomas ikutan menaruh mug nya di atas meja, dia melipat tangannya di depan dada, menghalau rasa dingin.
"Cocok?" Rissa kayaknya nggak begitu konsen ketika Thomas menyebutkan nama Arion.
"Ya, dia akan menjadi Bramd Ambassador produk kalian, bagaimana pendapatmu?"
"Ehm, menurutku cukup bagus! apalagi disituasi kepepet seperti ini,"
"Hahahahahaa," Thomas ketawa renyah.
"Kenapa kakak tertawa seperti itu?" Rissa nggak ngerti dengan salah satu spesies aneh di depannya.
"Gimana aku nggak ketawa, ekspresimu begitu biasa. Dan kamu bilang apa tadi? cukup bagus untuk disituasi kepepet? aku yakin kalau Arion dengar, dia bakalan pundung! baru kali ini ada yang bilang cukup bagus?!" Thomas nggak bisa menahan tawanya.
"Jangan katakan itu di hadapannya, dia terlalu sering dipuji. Takutnya dia shock mendengar kata-kata jujur darimu," lanjutnya.
Rissa hanya bisa mengangguk, "Semoga aku nggak lupa..." gadis itu membalas tawa Thomas dengan dua jari yang membentuk huruf V.
__ADS_1