
"Emmmnhhhh," Rissa merasakan kepalanya pusing.
"Astaga, syukurlah kau sudah bangun, Odellia..." ucap raja Abraham. Beliau keliatan cemas banget, dan Rissa merasakan kalau ini yang selama ini dia rindukan. Kasih sayang seorang ayah. Rasanya udah sekian abad nggak ngerasa dikhawatirin seseorang. Kalau Rion mah beda, yang ada Rissa yang cemas mikirin tuh orang.
Ketika Rissa mencoba bangun raja Abraham menariknya ke dalam pelukannya. Ya pelukan seorang ayah yang mencintai putrinya. Meskipun Rissa tau, kalau pelukan itu sebenarnya ditujukan untuk Odellia bukan untuk dirinya, tapi itu nggak mengurangi rasa nyaman yang dia rasakan.
Baground Rissa anak yang broken home, jadi bisa dibayangkan situasi saat ini begitu emosional bagi seorang Karissa.
"Ayah..."
"Tenang lah, nak. Ayah disini...." kata raja Abraham, dia mengelus kepala Rissa yang agak benjol.
Sesaat Rissa melepaskan pelukan sang raja, dan melihat sekitar. Dia mencari sosok yang terakhir bersamanya, pangeran Clift.
"Kau mencari siapa, Odellia?" tanya sang raja.
Rissa hanya bisa geleng-geleng pelan.
"Panggilkan pangeran Clift," raja menyuruh Maria yang berdiri nggak jauh dari tempat tidurku.
"Baik, Yang Mulia...." kata Maria penuh hormat.
"Ayah, aku jatuh bukan salah pangeran Clift, aku sendiri yang ceroboh," kata Rissa yang sebenernya nggak mau ketemu dulu sama tuh orang, dia belum siap mental kalau disuruh ketemu sama tuh orang.
"Ayah tau, kau yang memang tidak bisa diam saat naik kuda. Ayah tidak akan memarahinya, kau tenang saja..." raja Abraham mengelus pipi Rissa yang dia anggap sebagai Odellia.
"Yang Mulia, disini sudah ada pangeran Clift..." ucap Maria.
"Pangeran Clift, sepertinya Odellia mencarimu. Ajaklah bicara, aku akan pergi ada sesuatu yang harus aku kerjakan," kata raja abrahan yang akan bangkit dari sisi ranjang.
"Cepat pulih..." raja Abraham menyentuh kepala Rissa sebelum akhirnya dia keluar dari kamar itu.
Rissa jadi keder ngadepin nih orang, namun tiba-tiba ada seekor kupu-kupu hitam yang hinggap di tangannya. Pangeran yang melihat kupu-kupu itu berniat mengusirnya tapi Rissa segera mencegah, "Jangan sakiti dia, dia tidak melakukan hal yang membahayakan..."
"Maria aku ingin bicara dengan puteri Odellia," pangeran mengusir pelayan yang biasa mendampingi Rissa.
__ADS_1
"T-tapi..."
"Kau bisa berjaga di luar, ada hal penting yang ingin aku bicarakan berdua dengan puteri..." pangeran nggak mau dibantah.
"B-baik, Pangeran..." Maria undur diri dan tinggalah Rissa dan pangeran Clift.
"Bagaimana keadaanmu? apa sudah lebih baik?" pangeran Clift mengangkat dagu Rissa dengan ibu jarinya.
"ya,"
"Kau sungguh gadis yang nekat, siapa yang kau panggil itu? Arion? siapa dia? apa hubunganmu dengannya? dan siapa yang menyuruhmu menjadi Odellia?" akhirnya pangeran Clift mencecar Rissa dengan banyak pertanyaan.
"Baiklah, sepertinya aku sudah tidak bisa bersembunyi dibalik nama Odellia. Aku Rissa, aku berasal dari jaman yang berbeda dengan kalian, entahlah. Tiba-tiba saja aku berada di tempat ini, di kamar ini. Dan saat itu puteri Odellia yang melihatku begitu ketakutan, karena dia merasa seperti melihat dirinya sendiri...."
"Dan yang mempunyai ide gila ini tentu puteri Odellia, dia ingin pergi keluar istana untuk sementara waktu bersama Anna. dan aku diperintahkan untuk menggantikannya disini, jika aku tidak mau maka dia akan memanggil pengawal supaya menangkapku," jelas Rissa, sesekali dia memperhatikan kupu-kupu yang ada di tangannya.
"Aku hanya ingin pergi mencari temannku, dan akan menjadi masalah jika aku tertahan di Instana ini..." ucap Rissa.
Pangeran Clift menggeleng nggak percaya, " Tapi bagaimana bisa wajah kalian sangat mirip, bahkan aku hampir terkecoh jika tidak begitu mengenal sifat puteri odellia..."
Wajah Rissa begitu sedih. Sampai pangeran Clift nggak tega melihatnya.
"Sekarang terserah padamu, Pangeran ... Kau akan mempercayaiku atau tidak. Terserah padamu juga jika kau akan mengatakan hal ini pada raja Abraham," satu tetes demi tetes air mata terjun ke pipi Rissa, dan dengan penuh kelembutan pangeran Clift mengusapnya. Lalu pangeran menangkup kedua pipi Risaa yang kini udah banjir air mata.
Apa jadinya jika dia sekarang dianggap sebagai ancaman di Istana ini, dan dia pasti akan tambah sulit bisa ketemu lagi sama Rion.
Pangeran membelai wajah Rissa, "Aku merasa hatiku mempercayai setiap kata yang keluar dari bibirmu itu," Pangeran Clift kini meminta Rissa untuk menatapnya.
"Aku akan membantumu kembali ke duniamu..." ucap pangeran.
"Terima kasih,"
Sontak pangeran menarik Rissa ke dalam pelukannya, sedangkan Rissa sendiri sangat lega. Akhirnya akan ada orang yang membantunya mencari Arion.
Sedangkan di tempat lain. Odellia sedang ditatap tajam oleh Arion.
__ADS_1
"Jadi apa yang ingin kau katakan? kita bahkan berjalan sudah sangat jauh, sudah tidak ada orang lain lagi," ucap Rion yang udah melipir dari keramaian pasar. Tapi mereka masih di sekitar pusat kota di kerajaan.
Odellia mengigit bibir bawahnya, dia bingung harus memulai dari mana.
"Baiklah, pikirkan apa yang akan kau jelaskan sampai besok pagi. Sekarang aku akan pergi mencari Rissa yang sebenarnya," Kata Rion.
Tanggannya segera di tahan Odellia, "Aku puteri Odellia, aku menukar posisiku dengan Rissa. Tidak ada niatan jahat, aku hanya tiba-tiba menemukan Rissa di kamarku dan ... aku pikir aku bisa meminta tolong padanya untuk menjadi diriku untuk sementara waktu, karena----"
"Karena apa?" tanya Rion nggak sabaran.
"Karena aku ingin melihat dunia luar tanpa pengawalan, aku ingin merasakan kebebasan..." ucapan Odellia sukses nepok jidatnya. Kayak elu kagak nyusahin Rissa, Yon? Kalau elu kagak keukeuh naik gunung kan kagak begini ceritanyee!
Rion melepaskan tangan Odellia yang memegang tangan kirinya, "Lalu siapa yang bersama Rissa tadi?"
"Dia ... ehm, dia pangeran Clift. Pangeran yang dijodohkan denganku..."
"Aaaaapaaaaaa?!!!!"
"J-jadi, Rissa bersama seseorang yang dijodohin sama elu? gimana kalau? arrrghhhh, sial!" Rion meninju angin kosong.
"Tenang, ehm! aku yakin kalau pangeran Clift tidak akan berbuat yang macam-macam pada Rissa," kata puteri Odellia.
"Kau bisa jamin? jika pangeranmu itu tidak akan menyentuh Rissa?"
"Aku yakin, bahkan sangat yakin! karena aku sebenarnya tidak menyukai Clift, hubungan kami bukan seperti yamg kau pikirkan..." jelas puteri Odellia.
"Hubungan yang terjadi karena kepentingan politik kerajaan, bukan atas dasar perasaan," lanjutnya.
"Kau tidak menyukai pangeran Cluft tapi tidak menutup kemungkinan pangeran itu menyukaimu benar kan? karena aku bisa melihat itu dari caranya menjaga Rissa saat memacu kudanya!" Rion mulai frustasi, sementara Odellia hanya bisa diam.
Melihat ekspresi puteri Odellia, Rion makin nggak karuan. Dia mulai overthingking.
'Nggak, nggak boleh. Rissa nggak boleh sampai suka sama pangeran itu!' batin Rion bergemuruh.
Mereka tidak tau jika pembicaraan sedang di curi dengar seseorang...
__ADS_1