Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
163. Seandainya...


__ADS_3

Rissa akhirnya mengangguk, mengiyakan permintaan Thomas.


Thomas tersenyum, lalu dia bertanya satu hal lagi, "Ada yang ingin aku tanyakan..."


"Apa itu, Kak?"


"Apa benar----" Thomas merasakan sesak di dadanya saat ingin mengucapkannya, "Apakah kamu benar-benar mencintai Arion? dan menginginkan pernikahan ini?"


"Ya. Aku sangat mencintainya bahkan melebihi diriku sendiri.  Aku dan Arion sudah melewati banyak hal bersama, mungkin itu yang membuat batin kita terkoneksi satu sama lain," kata Rissa.


Rissa mengatakan kalau, sebenarnya antara dirinya dan Arion nggak pernah pacaran, hubungan mereka lebih rumit dari itu dan Rissa nggak bisa menjelaskannya secara detail. Dan pernikahannya ini terjadi begitu cepat karena memenuhi keinginan papa nya yang nggak mau dioperasi sebelum ngeliat dirinya menikah dengan Arion.


Thomas pun menangis. Dia ngerasa semua yang dilakukannya sia-sia. Dia melewatkan situasi sepenting itu, Thomas berpikir seandainya dia yang muncul di hadapan papa nya Rissa, tentu dia yang akan menjasi suami rissa sekarang. Thomas nggak tau kalau ada hal lain yang mempengaruhi Om Dera kenapa sampai meminta Rion menikahi putrinya. Karena ternyata Rion yang bisa melindungi putrinya, dia yang mampu merusak rasa benci di hatinya.


Meskipun Thomas yang ada disana, belum tentu Om Dera juga akan meminta Rissa untuk menikah dengan Thomas. Meskipun dia sangat dekat tapi kalau takdir nggak berpihak juga, sampai kapan pun Thomas nggak akan bisa menjadikan rissa sebagai istrinya.


Thomas mengapus air mata yang ingin keluar dari sudut matanya, "Jika Rion nggak kembali, apakah aku memiliki kesempatan itu?"


Rissa yang tadinya menunduk kini mendongak melihat wajah Thomas. Dia terkejut dengan ucapan yang terlontar di bibir Thomas.


"Apa aku akan memiliki kesempatan itu, Rissa? jika Rion nggak pernah muncul di hadapan kamu?" Thomas kembali melontarkan pertanyaanya.


Rissa menggeleng, "Kita nggak akan bisa mengingkari takdir,"


"Sekarang yang terjadi, Arion sudah menjadi suamiku. Dan itu sudah diatur Tuhan..." ucap Rissa yang nggak mau melukai hati Thomas dengan mengatakan kalau dia hanya menganggap pria itu sebatas teman dan juga kakak.


Thomas mengangguk, dia tersenyum lagi dengan luka yang mengaga di hatinya, "tentu..." ucapnya dengan susah payah. Bagaimanapun Rissa menyusun kalimatnya, nyatanya tetap saja rasa kecewa menghampiri Thomas.


"Aku hanya bisa mengucapkan kata maaf." kata Rissa yang tau apa yang dirasakan Thomas saat ini.


"Dan aku sangat berharap, persahabatan yang sudah kalian jalani selama ini jangan sampai rusak. Persahabatan kalian sangat berharga..."


Jika berharga, dia nggak mungkin membohongiku, Rissa..."


"Berarti aku pun sama dengan Arion. Aku nggak jujur sama kamu, Kak. Aku dan Arion nggak ada maksud buat menyakiti kamu. Kita berdua nggak ada yang bisa melawan takdir, kita bahkan sudah memisahkan diri selama beberapa tahun, tapi nyatanya kita dipersatukan lagi. dan itu diluar kendali kami berdua..."Rissa mencoba membuka pikiran Thomas.


"Dendam dan sakit hati nggak akan pernah ada ujungnya, percayalah Kak..." lanjutnya.

__ADS_1


Rissa pun berdiri, dia rasa sudah banyak bicara hari ini, "Aku permisi dulu, kak. Karena papa pasti sudah menungguku..." Rissa sopan.


"Tunggu..." Thomas ikut berdiri.


"Apa aku boleh menjenguknya?" lanjutnya.


Rissa berpikir sejenak sebelum menganggu, "Ya..."


Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan itu, bahkan sejak awal mereka duduk disana, dia Arion.  Pria itu langsung berbalik dan melangkahkan kakinya keluar saat melihat Thomas dan Rissa akan pergi menuju ruang perawatan Om Dera.


Sedangkan Rion di dalam mobilnya, hanya menatap ke depan. Dia yang tadinya mau ke apartemen mendadak memutar mobilnya saat nggak sengaja melihat sahabatnya masuk ke dalam rumah sakit itu. Beruntung dia segera mengikutinya, jadi dia bisa mendengar secara langsung apa yang mereka bicarakan.


'Meskipun gue hilang dari muka bumi ini, sampai kapan pun elu nggak akan pernah gantiin posisi gue, thomas!' batin Rion yang tau dari arti pertanyaan Thomas pada Rissa, jika Rion nggak pernah muncul apakah dia masih punya kesempatan itu.


Rion udah paham dan khatam masalah dendam dan benci. Bahkan dia tersedot negeri dongeng pun ikut terbelit masalah dengan seorang penyihir ya karena masalah dendam. Rasa cinta yang agung dan suci, ternyata mampu membuat orang hilang akal. Orang yang membungkus sebuah obsesi dengan sebuah kata cinta.


Rion tetap pada tujuannya, ke apartemen.


 Pria itu memasukkan kode, kemudian masuk. disana sudah ada Lukman yang siap dengan kopernya.


"Gue baru aja mau nelpon elu----" ucapan Lukman terhenti saat ngeliat muka sahabatnya.


"Rion?" Lukman memandang wajah Rion ngeri, dia membayangkan sebenarnya jurus apa yang semalam Rion pakai bisa sampai muka pada bonyok begitu.


"Pikiran elu, Maaaaan?!!!!" Rion jalan mlengos, dia duduk di sofa nungguin pak sardi keluar. jadi mereka saling tunggu-tungguan.


"Istri lu mana?"


"Di ruamh sakit!" sahut rion ambigu.


"Astaga, kalian ini semalam buka kadonya pakai kekerasan? sampai lu bonyok dan istri lu juga masuk rumah sakit?!!"


"Lu mikirnya apa sih, Man? lu kira gue---"Rion hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Muka gue nggak ada hubungannya sama apa yang elu pikirin. Gue babak belur gini karena abis berantem sama orang! dan istri gue ke rumah sakit itu nengokin papa nya..."


"Lah kenapa lu bisa berantem? setau gue lu bukan tipe orang yang kalau emosi langsung mukulin orang!" Lukamn penasaran.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, cuma masalah suka dengan orang sama aja!" ucap Rion enteng.


"OOhh, masalah cintaaaa? dia suka sama istri lu gitu?" Lukman mastiin lagi.


"Iyaaaa. Udah jangan bahas gue. Pak sardi mana? kita berangkat sekarang," Riuon celingukan nyariin tuh pak penghulu.


Mendengar namanya disebut pun pak sardi lantas keluar dari kamar dengan menarik kopernya, "Ini dokumen pernikahan kalian..." pak Sardi memberikan satu map pada Rion.


"Sekali lagi selamat..." lanjutnya.


"Terima kasih, Pak! Oh ya, Rissa menyampaikan permintaan maafnya karena nggak bisa mengantar kalian ke bandara dan terima kasih atas bantuan pak sardi dan juga elu Lukman, pernikahan ini bisa terlaksana dengan baik," tutur Rion.


"Woles aja?! udah kewajiban kita sling tolong menolong iya kan, pak?" Lukman pada pak sardi.


"Iya, betul..." Pak Sardi menimpali ucapan Lukman.


Rion menyimpan dokumen pentingnya itu ke dalam lemari, barulah setelah itu dia mengantar Lukman dan pak sardi ke bandara. Pak sardi mengambil beberapa potret dirinya saat berada di bandara yang sebelumnya nggak akan pernah terbersit bakal bisa dia kunjungi.


Karena nggak ada kesempatan Rion buat beliin sesuatu buat Lukman dan pak Sardi, Rion memutuskan untuk beli oleh-oleh di bandara.


"Harusnya lu nggak usah repot-repot beliin kita oleh-oleh loh! kita nolongnya ikhlas loh, Rion?!" Lukman yang ngerasa nggak enak.


"Betul yang dibilang Lukman?!" pak Sardi menimpali.


"Nggak apa-apa, itung-itung buat oleh-oleh buat orang buat orang rumah," Rion kemudian memberikan pelukan pada Lukman.


"Safe flight! kabarin gue kalau udah landing, ya?" kata Rion.


"Lu juga hati-hati disini," ucap Lukman menepuk pundak Rion beberapa kali.


"Selamat menikmati perjalanan udaranya ya, pak..." Rion menjabat tangan pak Sardi.


"Kita pamit..." Lukman dan pak Sardi pun berjalan meninggalkan Rion yang melambaikan tangannya, dan dibalas anggukan kepala pak Sardi sopan.


Rion kemudian berbalik dan duduk di salah satu coffee shop yang ada di sana. Dia memesan satu cangkir kopi yang sebenernya cuma buat alesan supaya bisa duduk disitu.


"Tuh orang udah balik belum kira-kira?" gumam Rion memikirkan Thomas yang ucluk-ucluk dateng ke rumah sakit.

__ADS_1


"Atau gue kesana aja?" Rion melipat tangannya di dada.


"Tapi jangan deh, gue nggak mau ada keributan disana!" Rion akhirnya memilih buat duduk sambil melihat pemandangan luar jendela besar transparan.


__ADS_2