Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
139. Duduk Dalam Diam


__ADS_3

Perasaan Rion diaduk-aduk saat ini. Gimana nggak, orang si Thomas segitu so sweet nya buat ngedapetin hatinya Rissa.


Keliatan banget, dia bantuin Rissa pisahin cangkang kepiting dari dagingnya. Pokoknya menurut Rion, Thomas terlalu memposisikan dirinya sebagai the one and only yang deket sama Rissa. Dan itu lumayan mengganggu pemandangan.


"Aku nggak nyangka kamu berbakat juga loh, Arion?" kata Thomas di sela makannya.


"Ya begitulah," kata Rion nggak ada semangat.


"Dipping sauce-nya enak loh, Rion?!" kata Thomas.


Cuma Rion udah terlanjur bete, jadi dia nggak begitu nanggepin omongannya Thomas. Padahal Thomas nggak ada salah apa-apa, dia mendekati perempuan juga perempuannya masih single. Akhirnya Rion pun nggak menikmati makanannya dan hanya makan sedikit.


"Aku sudah selesai," kata Rion yang bangkit lalu keluar dari ruangan itu.


Dia berniat buat ganti baju dan menggunakan mantel super hangatnya.


Setelah berganti pakaian, Rion merasa lebih baik. Seenggaknya dia nggak harus melihat wajah wanita yang pura-pura nggak mengenalinya ataupun ngeliat Thomas over pedekatenya nggak kira-kira.


Pas Rion lagibbuka gadgetnya, Thomas datang menghampiri.


"Jangan pulang dulu, karena kita mau pergi ke suaty tempat! pekerjaan kita belum selesai!" kata Thomas yang kemudian pergi menghampiri Rissa yang berjalan ke arahnya, yang seakan tau banget kalau Rion habis ini emang mau pulang ke apartemennya.


Ternyata nggak semua orang ikut, hanya orang-orang tertentu aja. Rion jadi merasa sedikit curiga. Thomas yang ngeliat raut wajah Rion berbeda, Thomas pun nyuruh Rion masuk lagi ke campervan. Ya, takut model dadakannya itu kabur, ceunah.


"Elu masuk ke campervan, ya!" suruh Thomas.


"Sini kunci mobil gue!" Rion tengadahin tangannya, minta kunci.


"Elu naik campervan aja, lebih nyaman. Kan elu model kita. Udah nikmatin aja fasilitas elu, oke? mobil biar gue yang bawa!" kata Thomas.


"Tapi----"


"Udaaaaah, mobil elu aman sama gue, oke?" Thomas nunjuk mobil gede yang emang disiapin buat client nya.


"Ck, udaaaaaah sanaaa!" Thomas mendorong badan janglung Rion buat jalan mobil yang udah daritadi nungguin dia.


'Nggak ngerti gue sama tuh manusia! dia kan lagi pedekate, terus ngapain juga dia bawa mobil gue dan gue disuruh satu mobil sama mantan terindah? eh, tapi emang gue sama Rissa udah---' Sejenak Rion agak mikir dengan ucapannya sendiri

__ADS_1


'Aarrrrrghhh, apapun itu. Gue nggak bisa satu mobil lagi sama Rissa. Nggak bisa. Ini nggak baik buat perasaan gue!' Rion ngomong dalam hati lagi.


Tapi saat ini Rion nggak bisa berbuat banyak dia cuma bisa nyamperin tuh mobil kotak dan masuk ke dalam sana.


Hujan salju udah berhenti, dan sekarang dia cpervan merela udah mulai jalan. Tion sih cuma diem aja. Lagian wanita di depannya itu jauga diem-diem bae kayak nggak kenal sama dia.


Cuma Meisya yang kadang-kadang ngangguk dan senyum kalau papasan pandangan sama Rion, sedangkan Rissa dia memandang Rion dengan tatapan biasa.


"Apa ada yang aneh dengan wajahku, Tuan?" tanya Rissa.


'Tuan? gimana-gimana? kenapa dia manggil gue seolah gue udah om-om? ck, nggak bener ini!' batin Rion.


"Ada yang aneh?" tanya Rissa.


Rion yang kalinini baru di-notice pun langsung mengembalikan ekspresi lempengnya.


sedangkan Meisyanyang tau kalau bosnyaau ngomong sama si model madul pun menyingkir dari sana.


"Bu, saya ijin ke dapur sebentar, mendadak sayaningin minum kopi! ibu mau teh atau kopi? biar saya buatkan..." Meisya menawarkan sesuatu dengan sangat sopan.


"Tuan, anda ingin sesuatu yang panas?" Rissa malah menawarkan pada Rion.


Rion nggak sadar kalau dia yangbngilang, dia yang pergi dan sekarang dia kesal dengan situasi saat ini. Yeuh, Rion labil lu jadi cowok!


"Tuan?" Rissa melambaikan tangannya di depan wajah Rion yang malah ngelamun pas diajak ngomong.


"Jangan panggil saya Tuan. Karena saya belum setua itu! panggil nama saja!" Rion dengan suara cool nya.


"Baiklah, Rion. Apa kamu menginginkan teh atau kopi? biar Meisya membuatkannya umtukmu


"Coklat panas!" Rion malah memilih yang lain.


"Coklat panas, Sya..." Rissa ngomong sama Meisya yang bola matanya melirik ke kanana ke kiri, mikir 'Ada apa enggak itu coklat di dapur,' soalnya yang dia liat cuma kopi sama teh.


"Baik, saya akan buatkan," kata Meisya.


Ketika Meisya pergi ke dapur, tinggalah Rion dan Risaa yang duduk berhadapan.

__ADS_1


"Long time no see!" Rion tiba-tiba bersuara.


"Ya?" Rissa menaikkan satu alisnya.


Rion lalu melihat ke luar jendela tanpa mengulang ucapannya tadi. Pria itu dia nggak tau kemana mobil campervan ini akan membawanya tapi yang jelas perjalanan ini sungguh menyiksa batinnya.


"Terima kasih untuk kerja kerasnya hari ini," ucap Rissa.


"Ya, semoga tidak mengecewakan," kata Rion.


Sedangkan di dapur, Meisya nggak nemuin bubuk coklat. Cuma ada kopi sama teh, sama minuman dingin di kulkas.


Meisya kembali dengan dua cangkir teh panas, "Maaf, Tuan. Tidak ada bubuk coklat. Hanya ada teh dan kopi,"


"Jadi saya buatkan teh," lanjutnya, dia menyisipkan meletakkan satu cup kecil yang isinya gula berbentuk kotak.


"Terima kasih," Rion menerima cangkir di hadapannya.


Rion menyesap teh panasnya tanpa menambahkan gula, dia melihat wajah Rissa dengan seksama. Namun anehnya perasaannya mendadak nggak enak. Seperti ada sesuatu yang dia lupakan atau akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi.


Rion masih memandang wajah gadis dengan terpampang raut wajah sendu saat melihat ponselnya.


Sebenernya banyak pertanyaan yang pengen Rion lontarkan seperti, 'Gimana hidup elu selama ini? apa semua baik-baik aja'


Dan banyak hal lain yang sebenernya berkecamuk dalam dada Rion. Dia pengen banget ngomong empat mata sama Rissa dan bilang, 'Gue kangen sama elu, maafin gue yang main ngilang aja waktu itu!'


'Gue nggak suka elu deket-deket sama Thomas,'


'Kenapa kita ketemu sekarang? kenapa Tihan mempertemukan dua orang yang nggak akan pernah bisa bersatu?'


Sedangkan di dalam hatinya Rissa pun banyak memendam banyak hal, 'Aku berusaha berjalan tanpa kamu, tapi mengapa takdir selalu menuntun langkah ini buat mendekat dimana kamu berdiri,'


'Aku harap setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi, Arion...'


Dua orang yang duduk bersama, tapi setia dalam diamnya. Masing-masing berbicara dalam batin, menyesap rasa sakit yang begitu sulit ditelan.


Nyatanya sejauh apapun mereka memisahkan diri, namun takdir berkata lain. Mereka bertemu disaat keduanya sedang mencoba terbiasa dengan kehidupannya yang baru.

__ADS_1


'Sebenarnya kemana mobil van ini akan pergi?' batin Rion yang mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


__ADS_2