
Rion yang udah mandi dan paling nggak udah kelar cuci rambutnya yang lumayan gondrong itu, berjalan perlahan menuju gubuk jerami. Anaknya mami reva itu pun berpesan pada Defne, 'Pokoknya elu nggak boleh nempel gue, ntar gue batal!', Defne yang nggak tau arti dari batal yang sebenarnya pun hanya mengerti kalau intinya dia harus jaga jarak sama Arion.
sampai di gubug, Rion menentukan arah kemana dia harus menggelar bajunya yang mirip pendekar dari gua hantu, di bawah. Dia nggak tau arah angin dan dimana dia sekarang, dia menyakini kalau dimanapun arahnya saat ini semoga ibadahnya bisa diterima. Jadi anak sholeh lu, Tong? bukan anak Ridho, ehek!
Rion mencoba fokus, menjalankan shalat isya nya di negeri dongeng ini. kalau elu sholat subuh sambil kreyep-kreyep,penuh perjuangan masih kalah sama Rion yang harus jalan dulu lumayan jauh buat bisa nyampe ke gubug, baru tuh dia bisa sholat. Untung nggak kelepasan kentut ya, Rion?
Dia tengadahin tangannya, 'Segera pertemukan aku dengan Rissa dan keluarkan aku dari negeri asing ini, Aaamiiin!' Rion berucap dalam hati.
Defne yang melihat Rion, diem-diem bae. Secara Rion juga nggak jelas darImana datangnya, terus kalau dia ngelakuin sesuatu yang nggak pernah dilihatnya ada orang yang berdoa seperti cara Rion saat ini.
Setelah selesai, Rion dan Defne duduk diterangi lentera, "Defne memberi Rion roti dan sebotol air yang dia bawa dari rumah, "Makanlah, supaya kamu bisa tidur nyenyak malam ini,"
Rion yang emang udah kelaperan, nyamber aja tuh makanann yang Defne bawa dengan bilang makasih juga sebelumnya.
"Terima kasih sudah membantuku, kau gadis yang baik meskipun ucapanmu begitu ketus," kata Rion bikin Defne yang tadinya senyum, sekarang pengen ngegaplok mulut nggak beradab itu dengan sepatu yang dipakainya.
"Jangan menanggapinya terlalu serius, intinya aku berterima kasih ..." lanjut Rion, mengerti perubahan raut wajah Defne.
"Sudah beruntung aku tolong?!" Defne bergumam sendiri.
"Besok pagi aku akan pergi," kata Rion.
"Aku akan mencari temanku yang juga hilang di negeri ini," lanjutnya.
"Kau yakin akan berkeliaran tanpa aku?" tanya Defne.
"Aku akan mencarinya sendiri, terima kasih..." kata Rion.
Defne menaikkan kedua bahunya dan kemudian nurunin lagi, "Biaklah kalau begitu. Beristirahatlah, semoga tidurmu nyenyak..."
Gadis itu kemudian pergi ninggalin Rion sendirian di gubug itu, dengan penerangan seadanya Rion menciba untuk tidur.
Sedangkan di negeri yang sama namun berbeda tempat.
__ADS_1
Odellia memeluk Rissa, "Yang harus kamu ingat, jangan pernah setuju untuk menerima pertunangan dari pangeran Clift ketika menjadi diriku, kau harus bersikap sedikit angkuh ketika menemuinya,"
"Kau mengerti?" lanjutnya.
"Ya..." jawab Rissa yang ngelepasin pelukan puteri Odellia yang sudah lengkap memakai pakaian pelayan milik Maria.
"Aku pergi, aku akan memulai petualanganku malam ini," kata Odellia.
namun disudut lain, Rissa melihat ada sesosok arwah perempuan yang selalu melihat ke arah putri yang akan pergi dari istana.
'Siapa dia? Kenapa dia selalu melihat ke arah Odellia?' batin Rissa. matanya melihat Odellia yang melambaikan tangannya tanda perpisahan tapi ekor mata Rissa melihat ke arah sosok perempuan yang ditangkap oleh indera penglihatannya.
'Semoga Odellia cepet baliknya, karena aku nggak boleh berlama-lama di tempat ini,' Rissa kembali bergumam dalam hati.
Disisi lain, Odellia dan Anna memulai aksinya. Odellia yang menyamar sebagai seorang pelayan pun didandani dengan sangat berbeda. Sebenarnya, Anna sangat takut melakukan ini, tapi sang putri nggak bisa banget buat dibilangin.
Mereka melewati lorong-lorong istana yang banyak banget penjaganya. Odellia percaya diri aja, bersikap layaknya pelayani dan berjalan berdampingan dengan Anna.
"Mau kemana kalian berdua?!" tanya salah satu pengawal dengan senjata semacam tongkat dari besi yang disilangkan seperti huruf X.
"Aku Anna dan ini Marry. Kami berdua pelayan pribadi tuan puteri Odellia. Aku sudah meminta izin pada puteri untuk mengantar Marry pulang ke rumah orangtuanya, karena sore ini Marry mendapat kabar jika ibunya sedang sakit," jelas Anna, sedikit menunduk takut.
"Tapi bukankah terlalu berbahaya keluar dari istana malam-malam seperti ini? Dan kalian tidak bisa sembarangan keluar masuk istana tanpa surat perjalanan," pengawal satunya mencecar Anna dengan pertanyaan.
"Kondisi ibu Marry sangat gawat! satu detik aangat berarti untuk Marry saat ini. Ini surat perjalanan kami," Anna menyerahkan selembar surat dari dalam saku bajunya, yang sudah cap stempel kerajaan.
Para pengawal manggut-manggut setelah memeriksa keaslian surat itu.
"Baiklah, kalian boleh keluar..." kata salah satu pengawal yang menyerahkan surat perjalananan itu pada Anna.
"Dan bawa surat ini ketika kalian kembali, jangan hilang atau kalian tidak akan bisa masuk ke dalam istana ini lagi," lannjutnya.
Anna dan Odellia pun bergegas keluar, sebelum mereka menyadari kalau orang yang ada di depan mereka ini puteri Odellia.
__ADS_1
"Hhhmmm ahhh," Odellia mengangkat wajahnya, dia menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Lalu dia menghembuskan nafasnya perlahan, "Akhirnya aku bisa bebas sekarang..." sang puteri melirik Anna penuh arti.
"Sebaiknya kita mencari penginapan sekarang, puteri---"
"Sssttt, jangan memanggilku seperti itu! panggil saja Marry!" kata Odellia yang ada gila-gilanya emang pakai nyamar segala.
"Baik, Marry!" kata Anna nurut.
Sedangkan di dalam istana, Rissa semakin cemas saat sosok wanita itu seakan menatapnya semakin intens, ya arwah yang ada di kamar Odellia.
Tapi Rissa berusaha biasa saja, seakan tak melihat apapun di kamar ini.
"Maria, kau tidur disini saja, aku masih merasa sangat asing..." kata Rissa pada pelayannya saat ini.
"Tapi..."
"Aku mohon..." Rissa mengiba.
"Baiklah, puteri...." ucap Maria, yang dipesenin sama Markoneng supaya memperlakukan Rissa seperti dirinya, ada ataupun tidak ada orang.
Rissa mulai berbaring di tempat tidur sang puteri, dengan perut yang sudah kenyang dan kasur yang empuk, membuat Rissa mudah sekali tidur dengan nyenyak. Sedangkan Maria, dia tidur di kursi panjang yang empuk.
Dan saat itulah, sosok arwah wanita itu mendekat pada Rissa, "Mengapa wajahmu mirip sekali dengan puteriku? datang darimana kamu? Kenapa kalian bertukar posisi?"
Dia memperhatikan wajah Rissa dengan seksama sebelum kembali terbang, keluar dari kamar sang puteri.
Sedangkan sang raja sedang berada di kamarnya pun merasakan hal yang aneh pada dirinya, "Mengapa perasaanku seperti seseorang yang sedang mencemaskan sesuatu?" ucap sang raja yang kini membuka jendela kamarnya, dan melihat langit secara gamblang yang dipenuhi bintang.
Dan arwah sang ratu pun mendekati sang raja, laki-laki yang sangat dicintainya.
"Jangan cemas, aku akan mengikuti kemanapun Odelia pergi, aku akan mendampinginya..." kata sang ratu membelai wajah suaminya, walupun nyatanya dia hanya merasakan angin kosong.
__ADS_1