
Raja Abraham dateng tuh ke kamar, diikutin sama pengawal yang selalu siap siaga menjaga raja. Dan seketika para pelayannya si puteri Udel, elah puteri Odellia pada panik, 'Wah gimana nih gimana nih?' ya nggak beda jauh kayak elu yang ke gap guru BK waktu bolos sekula, ehek!
Wuaaah, di dalem kamar puteri Odellia langsung sat set sat set ngumpetin Rissa di dalam lemari pakaian si Markoneng supaya nggak ketauan kalau ada orang lain yang masuk ke dalam kastil ini. Bukannya apa-apa, bberapa waktu terakhir ada seorang penyihir yang lepas dan ngincer puteri Odellia, tapi sang puteri sendiri nggak tau ya. Soalnya masalah ini emang bener-bener dirahasiakan oleh raja, supaya Odellia kagak was-was perkara ada orang jahat yang ngincer dia, jadi supaya nih si Odel bisa hidup bahagia sentosa aja begitu, tanpa perlu tau keruwetan apa yang bapaknya hadapi, yeuuh raja tipe-tipe family man yak!!
Raja masuk ke dalam kamar puterinya, dia jalan menghampiri Odellia yang lagi duudk di meja makan bunder gitu. salah satu pengawal narik kursi buat raja bisa duduk dengan nyaman.
"Ayah ... ada apa ayah sampai datang kemari?" tanya Odel pasang wajah semanis gulali.
"Apa ada sesuatu yang terjadi padamu? karena makan siang dan malam mu hanya di kamar ini? apa kau sedang sakit, puteriku?" raja Abraham nanya dengan sangat lembut. Kalau kita ketauan makan di kamar, udah pasti langsung disamperin sambil bilang gini 'mau jadi anak males lu?', gitu gengs.
" Tidak ada, ayah. Aku tidak sakit hanya saja aku sedang tidak ingin keluar kamar..."
Dan saat ini sang raja baru menyadari kalau di meja ini ada dua piring yang sepertinya bekas makan orang, yaiyalah orang masa iya setan?
"Kenapa ada dua piring di meja makanmu?" tanya sang raja, lalu dia melihat ke sekitar, hanya ada dua pelayan yang berjejer selain para pengawal yang kini berpindah dekat pintu memberi ruang untuk sang raja berbicara dengan putrinya.
Odellia cepet nyari alasan, "Emh, aku baru selesai makan malam dengan Anna dan Maria..."
"Anna dan Maria? kenapa piringnya hanya ada dua? bukannya harusnya tiga?"
"Maria hanya duduk, dia hanya makan angin..." ucap Odellia cepat. Lu kira si Maria ban gembos, butuh makan angin? ngadi-ngadi emang nih bocah.
"Makan angin? Hahhaha," sang raja menaikkan satu alisnya, dia pikir puteri tercintanya sedang bercanda.
"Ah, ayah tidak tau saja. bagi seorang gadis, makan malam adalah sebuah ancaman!" Odellia melipat tangannya di depan dada, dia memasang raut wajah sok pinter.
"Hahaha, ancaman seperti apa itu? ayah tidak mengerti,"
"Tentu badan kami para gadis akan selebar pintu kamarku itu, Ayaaaaah. jika tidak mengatur apa yang masuk ke dalam perut kami, itulah mengapa Maria tidak ikut malam bersama kami, dia hanya duduk dan melayaniku. Sedangkan Anna dia makan karena aku yang memaksanya," kata Odellia .
"Aku harap ayah tidak memarahi mereka berdua...." lanjut Odellia.
Raja Abraham tersenyum sebelum ngomong lagi sama si Markoneng, "Tentu, hal seperti ini tidak akan membuatku memarahi Maria maupun Anna..."
"Baiklah, lanjutkan makan malam mu, Ayah akan keluar..." kata sang raja, Odellia mengangguk sambil tersenyum. Matanya mengawasi ayahnya yang pergi diikuti para pengawal.
Dan setelah pintu tertutup dan terkunci kembali, Odellia langsung bernafas lega.
"Hampir saja..." gumamnya.
Baru juga mau nyenderin punggung ke kursi, dia keinget tuh sama Rissa yang dia kunci dalam lemari, "Astagaa, dia masih ada di dalam sana!" sang tuan puteri cepetan ngibrit ke arah lemari pakaian.
Pas dibuka, tadaaaaaa!
__ADS_1
Rissa pingsan, kekurangan oksigen dia.
Maria dan Anna yang ngeliat itu pun langsung panik, dipindahinlah Rissa dari dalam lemari dan digletakin di lantai.
"Apa dia masih bernafas?" Odellia menyuruh Maria untuk mengecek.
Sementara di sebuah gubug penyimpanan jerami, nggak ada alat penerangan sedikitpun.
Plak!
Plaak!
"Nyamuknyaaaa ya ampun, nggak bisa banget liat orang ganteng!" Rion tepokin tangan dan pipinya.
"Defne pengen bikin gue jadi santapan nyamuk apa gimana sih? ayam aja dikasih lampu biar nggak kedinginan. Lah gue? gelap-gelapan di tempat pengap kayak gini? astagaaa..."
"Pokoknya besok gue harus mulai nyari Rissa, gue yakin dia juga ikutan nyasar di negeri ini," ucap Rion lagi.
Sraakk!!
Sreekk!!
Sraakk!!
Sreekk!!
Nggak usah pakai mikir, Rion langsung ngumpet dibalik tumpukan jerami. Suasana yang gelap membuat dia ngerasa lebih aman ngumpet disitu.
Krieeetttttt!
Greeepppp!!
Rion tetap bersembunyi
Dia pasang telinga, takut kalau yang datang paman atau bibi nya
si Defne, bisa amsyong kan.
Namun terdengar suara perempuan menirukan suara binatang, “Wek wek… wek wek…”
“Astaga, gue kira siapa. Ternyata si Defne..” Rion bergumam
sendiri, setelah itu dia nongol deh. Bener ternyata yang dateng si Defne ketus,
__ADS_1
Dia bawa dua lentera dan satu baki yang nggak tau isinya
apaan yang dia taruh diatas meja. Gubuk Jerami yang semula gelap kini terang dengan
cahaya temaram.
“Aku bawakan baju untukmu. Aku membelinya saat berbelanja di
pasar…” Defne
“Baju?”
“Atau kau lebih nyaman dengan baju seperti itu?” tanya Defne,
“Bukan Cuma baju, tapi aku butuh mandi. Aku mau sholat nggak
bisa. Kalau mami tau, kupingku bisa dikruwes sama dia…” kata Rion, terselip
rindu disana. Tapi Defne malah melongo antara ngerti dan nggak ngerti apa yang diucapkan Arion.
“Sholat? Apa itu sholat?”
“Cara kami beribadah pada tuhan,” ucap Rion singkat.
“Disamping ada air, kau bisa mandi---“
Rion langsung nyerobot, “Di kendang kuda? yang benar saja kamu, Defne!”
“Lupakan saja kalau begitu….” Lanjut Rion, dia ngibasin tangan dekat kepala.
"Astaga kau ini makhluk dari bumi bagian mana? menyusahkanku saja," kata Defne.
Tapi sekali lagi, Defne membantu Arion buat menelusup ke rumah. Mereka berdua mengendap-endap seperti maling profesional, "Ingat, jangan terlalu berisik. Semua orang sudah tidur," bisik Defne.
Arion masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh badannya yang entah kapan terakhir kali dibersihkan. Kagak mandi aja gantengnya nggak luntur ya, Yon?
Nggak pake lama, gerakan Rion cukup sat set. Dia cukup tau diri, nggak terlena dengan sejuknya air yang bersentuhan dengan kulitnya yang putih. Dia pakai baju dan celana yang baru dibelikan Defne.
"Ketus tapi baik juga ternyata," gumam Rion.
Setelah selesai, Arionkeluar dari kamar mandi. Ketika Defne akan menyentuhnya, Arion mengangkat tangannya.
"Aku sudah bersuci..." ucap Rion yang bikin Defne mikir keras 'ada apa lagi dengan laki-laki ini?'
__ADS_1