
Mama dari Rissa yang ngeliat sendiri kalau itu buku nikah asli pun membanting buku kecil.itu di lantai, "APA-APAAN INI?"
"Kamu, Rissa?! kamu mau jadi anak durhaka, iya? berani nya ya kamu menikah tanpa persetujuan dari mama? kamu udah nggak nganggep mama orangtua kamu? orang yang pernah bertaruh nyawa buat kamu, Rissa!" mama Karla mendekat ke arah anaknya. Kita panggil mama soalnya Rion kan udah nganggep dese mama mertuanya.
"Inget, kamu itu lahir dari rahim mama, bukan dari batu! seorang anak tidak akan bisa bisa membalas budi pada orangtuanya, bahkan kamu tidak akan pernah bis membalas rasa sakit ketika aku melahirkanmu dengan seribu kebaikan yang kamu berikan pada mama!" teriak mama Karla.
"DIAM KAMU KARLA?!" bentak papa Dera. Sedangkan Rissa nggak diberi kesempatan buat ngejelasin, dia cuma bisa nangis.
Dia berusaha menggapai tangan mamanya tapi ditepis begitu aja, Rion yang melihat itu merangkul bahu Rissa. Dia udah bisa nebak dari awal kejadiannya pasti bakalan kayak gini. Gempar nggak karuan, belum lagi di keluarganya sendiri.
"Tenang Rissa, kamu sama sekali bukan anak yang durhaka. Kamu jangan pikirkan ucapan mama kamu yang sedang kesetanan itu," kata papa Dera yang memegang dadanya, sakit.
"Pah? apa papa nggak apa-apa?" Rion kini setengah berjongkok, dia melepaskan istrinya buat ngecek keadaan papa mertuanya.
Papa Dera menggeleng, "Nggak apa-apa..." lirihnya.
"Bukan Rissa yang durhaka, tapi kita yang dzolim pada anak sendiri, Karla! Karissa, dia anak yang baik. Bahkan dia mampu mengorbankan kebahagiaannya demi kita,"
"Bukan demi aku, tapi demi papa tidak berguna seperti kamu!" tunjuk mama Karla.
"Ya, memang! aku ... aku sama sekali tidak berguna buat Rissa maupun Lila. Ya, memang! tapi ingat, Karla. Aku tetap papanya, dan aku yang meminta Rissa menikah dengan Rion! aku tidak ingin memutus takdir mereka," papa Dera penuh emosi.
Mama Karla mendelik, "Kamu tau dia anak siapa, hah?"
"Bukan kita yang berhak berkata seperti itu, Karla ... melainkan Ridho dan Reva. Mereka yang berhak berkata seperti itu. Kita yang salah, Karla..."
__ADS_1
"Aku tau kamu masih menyimpan dendam terhadap Reva, karena dia yang memenangkan hati Ridho, bukan?"
"Mas Dera? kamu tuh ngomong apa? sampah?!" mama Karla menunjuk wajah mantan suaminya dengan telunjuknya.
Rion pun jadi ingat, kalau dia pernah ngeliat mama Karla mencium papinya, dan maminya yang pergi dan lari dengan sejuta deraian air mata.
"Mau sampai kapan? kita hidup nggak selamanya, Karla. Dan kamu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dihantui oleh perasaan takut dan bersalah. Terlebih saat melihat anak yang kamu cintai berkorban dengan tulus, mencoba menyelamatkanmu dari jalan yang sesat. Dia mencoba mengorbankan dirinya untuk menggantikanku yang akan menerima konsekuensi dari hal jahat yang pernah aku lakukan..." papa Dera matanya berkaca-kaca.
"Apa kamu tidak kasihan melihat dia, Karla? apakah rasa bencimu terhadap Reva lebih besar daripada rasa sayangmu terhadap Rissa?"
"Kita mungkin gagal sebagai suami istri, tapi kita tidak boleh gagal sebagai orangtua," papa Dera mencoba untuk berdiri.
"Pah, jangan, Pah! papah masih sakit..." kata Rissa.
Masing-masing tangan papa Dera menggenggam tangan anak dan menantunya. Dia menyatukan kedua tangan itu, "Kamu tidak bisa memisahkan sesuatu yang dipersatukan oleh Tuhan, Karla..."
"Maaaaahhh," Rissa mau mengejar tapi dilarang oleh papanya.
"Biarkan..." kata papa Dera.
"Berikan mama mu itu waktu, untuk mencerna apa yang sudah terjadi. Lebih baiknkita masuk ke dalam..." kata papa Dera.
Rion mengedipkan matanya, menyuruh Rissa untuk menurut dengan apa yang dikatakan papanya. Sedangkan bik Minah dan juga pak Darman hanya bisa diam, nggak berani ikut campur.
Papa Dera kembali duduk di kursi rodanya dan menyuruh pak Darman buat nutup pintu.
__ADS_1
"Kalian pasti capek, kalian istirahatlah..." papa menyuruh Rissa dan Rion masuk ke kamar.
Sedangkan papa Dera memilih buat menenangkan diri di taman belakang, dia pengen ketemu sama Erio.
"Bik Minah, tolong buatkan air jahe untuk Rissa dan Rion..." suruh papa Dera, sebelum mengarahkan kursi roda eletriknya.
"Baik, Pak...." kata bik Minah.
Sedangkan Rion sekarang menutup pintu. Dia ikutan duduk disamping wanita yang udah sah menjadi istrinya.
"Maafin sikap mama ku tadi..." kata Rissa, matanya menumpahkan air mata yang sekuat tenaga dia coba tahan tapi akhirnya gagal juga.
Rion mencoba menguatkan hati Rissa, dia menggenggam tangan wanitanya, "Aku udah menebak hal ini sebelumnya. Makanya aku nggak kaget dengan reaksi mama kamu, Rissa..."
"Aku udah siapin mental buat ini, dan yang aku cemasin malah kamu. Aku takut kamu terluka dengan semua ucapan yang keluar dari mama Karla..." lanjut Rion membawa Rissa ke dalam pelukannya. Seorang Rissa yang selalu Rion lihat terlihat sebagai perempuan yang tegar, sekarang terlihat begitu rapuh dan sangat terluka.
"Kamu nyesel nikah sama aku?" tanya Rion.
Rissa menggeleng, "Jangan ngomong kayak gitu..."
Rion mengusap pipi Rissa dengan tangannya, dia menaruh dagunya di kepala Rissa, "Aku tau ini nggak mudah, tapi aku yakin kita bisa melewatinya, berdua. dan mungkin dengan pernikahan ini, kita bisa menghapus dendam lama yang belum kelar-kelar..."
Ucapan Rion membuat satu senyuman di bibir Rissa, "Ya ... semoga..."
Sementara di tempat yang lain, ada pria yang menerima berita mengenai kepulangan keponakannya.
__ADS_1
"Rion?" Om Karan mengerutkan keningnya. Dia mendapat berita dari orang kepercayaannya.
"Setelah kemarin dia bikin heboh dengan jadi bintang iklan spre, sekarang dia pulang tapi nggak ngabarin sama sekali. Ada apa sebenarnya? apa yang dia sembunyikan?" gumam Om Karan.