
Malam itu, Rissa dan Rion mengantar Meisya ke Bandara. Pasangan yang belum go public itu pun melambaikan tangan pada Meisya yang udah mulai boarding pass.
Hanya menunggu satu jam di bandara, Rion mengajak Rissa untuk menjemput dua orang yang akan menyaksikan pernikahan mereka besok pagi.
Rion mengantarkan Lukman dan satuborang penghulu bernama pak Sardi yang baru tiba di bandara aja sudah kademen alias kedinginan itu ke apartemen miliknya, dan menempatkan mereka di kamar tamu. Barulah setelah itu dia mengantar Rissa ke rumah tang disewanya.
"Rissa ... Rissaaa..." Rion menepuk pipi Rissa beberapa kali.
Tapi gadis itu nggak bergeming, mungkin karena terlalu lelah jadi Rissa seakan kebluk.
'Gue bukan mau maling ya, Sa! gue mau cari kunci rumah lu!' Rion dalam hati.
Setelah beberapa saat mencari, Rion pun menemukan sebuah kunci, 'Gue coba dulu deh,'
Rion keluar dari mobil dengan sangat hati-hati, dia mencoba membuka pintu rumah dan...
Ceklek...
Pintu pun terbuka.
"Kan feeling gue emang selalu tepat!" Rion bergumam sendiri.
Dia balik ke mobilnya dan mengeluarkan Rissa dengan menggendongnya dari dalam sana.
Rion melakukannya dengan sangat hati-hati, meskipun diannggak tau kamar Rissa yang mana tapi menurutnya nggak masalah kalaupun Rissa tidur di kamar mana aja, toh Meisya kan udah nggak disitu.
__ADS_1
Ceklek...
Ketika pintu dibuka, dan ngeliat sebuket mawar merah yang ada di meja dekat tempat tidur, Rion yakin kalau ini kamar yang ditempati Rissa.
'Feeling gue emang nggak bisa diragukan lagi,' kali ini Rion cuma ngomong dalam hatinya.
Rion meletakkan Rissa dengan sangat hati-hati, dia menaikkan selimut sypaya wanitanya nggak kedinginan.
Lumayan lama Rion memperhatikan wajah Risaa, "Masih untung Thomas nggak segercep pangeran Clift. Kalau iya, mungkin aku udah kehilangan kamu sejak lama,"
Rion jadi ingat satu pria yang mereka temui di negeri dongeng, yang dari gesture maupun dari perkataannya keliatan emang suka sama Rissa, dan dia tipikal orang yang tegas dengan perasaannya sendiri.
Rion duduk sebentar di sisi ranjang Rissa, dia jadi inget mimpi tentang seseorang yang duduk di kursi roda dengan makhluk berjubah hitam.
Rion ngeliatin liontin pedang yang selalu dia pakai dengan sebuah kalung berwarna hitam, "kalau gue harus ngembaliin elu ke tempat semula, gue akan lakukan itu," Rion ngomong sama kalungnya, dia udah ikhlas jika pedang yang selama ini membantunya dan membuatnya seperti manusia super itu harus kembali ke tempatnya semula. Mungkin waktu dia menclok di rumah Rion, saat itu dia lagi kesasar dan malah membuang energinya lebih banyak.
Rion mengelus pipi rissa sebentar sebelum dia bangkit dan keluar dari kamar wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Tapi ketika Rion akan menyentuh handle pintu depan, Rion baru kepikiran jika Rissa tinggal di rumah ini sendirian. dan dia takut kalau sesuatu yang buruk terjadi sama Rissa apalagi berita kriminal lagi ngeri-ngeri sedap.
"Apa akan aman kalau gue tinggalin dia sendirian di rumah ini? apalagi Rissa orang asing," Rion nengok ke arah belakang.
"Gue pasti nggak akan tenang semalaman ini," Rion bergumam lagi.
Rion pun duduk bentar di sofa ruang tamu, dia mikir bentar buat nentuin apa yang harus dia lakukan saat ini.
__ADS_1
"Mending gue bikin kopi dan nonton tivi," Rion ke arah dapur buat bikin kopi buat dirinya.
Rion bawa satu mug kopi hitam tanpa gula, yang ternyata kopinya Rissa bawa dari Indonesia, "Tau banget gue sukanya kopi yang nggak ada ampasnya," Rion ngomong sendiri daripada sepi.
Dia nyalain tivi dan duduk santay. Rion ngehubungin Lukman kalau malam ini dia nggak pulang, jadi kalau dia butuh minum atau butuh cemilan, diharap dia bisa nyari sendiri. Lukman yang baru kena jetlag cuma iya-iya aja, padahal mah nggak nyangkut di otak dia. Boro-boro pengen bikin minum atau mulut pengen nyemil, kepala rasanya pusing dan badan rasanya lemes banget. Pengennya tidur mulu, apalagi di luar dinginnya bukan main.
Sesaat Rion inget sama maminya, 'Maaf, Mam! jangan kutuk Rion jadi tutup panci, Rion cuma ngejalanin takdir aja,' batinnya, dia yakin mami nya akan kecewa berat dengan keputusan yang dia ambil saat ini, tapi dia bisa apa jika nyatanya cintanya saat ini memiliki sebuah jalan, meskipun jalan itu sempit dan menukik.
Sedangkan di tempat lain, Thomas udah nyusun rencana buat nyatain perasaannya buat Rissa. dia udah siapin sebuah ucapan dengan fotonya dan Rissa yang akan dia pajang di beberapa billboard yang isinya sebuah kata-kata romantis.
Nggak cuma itu, pria jangkung berdarah campuran itu juga menyiapkan sebuah makan malam fine dining, dan disitu dia akan melamar Rissa secara exclusive, pokoknya jangan sampai Rion nyerobot duluan.
"Huuufh, coba aja gue nggak disuruh meeting dadakan yang berakhir gue harus lembur di kantor, pasti gue udah ajak Rissa jalan-jalan, menikmati situasi kota, dan gue bisa masuk disitu, ngutarain perasaan yang udah gue pendem selama ini buat dia," gumam thomas yang kini melonggarkan dasinya. Dia duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya. Dia terlalu lelah hari ini.
"Ck, dulu gue suka banget lembur, tapi sekarang gue jadi sebel! gue lembur disaat yang nggak tepat!" gumam Thomas. Dia bahkan nggak mampu buat sekedar jalan ke kamar dan ganti baju.
Thomas cuma ngelepas jas dan menggulung tangan kemejanya sampai siku, "Gue udah siapin semua, Rissa..." pria itu ngomong sambil merem.
Sedangkan di tempat lain Om Dera juga nggak bisa tidur.
"Aku tau pernikahan ini akan mengalami banyak rintangan dan penolakan, tapi aku yakin cinta mereka lebih kuat dari halangan apapun yang menunggunya. Aku yang bersalah, aku yang berdosa, tapi tidak dengan Rissa. dia berhak bahagia setelah apa yang sudah dia lakukan buat ku," Om Dera ngomong sendiri di ruangan yang luas namun hanya ada suara tivi yang sengaja dinyalakan.
"Aku harap kamu tidak akan membuat puteri kita menderita, Karla! mungkin dengan pernikahan ini, kamu bisa berdamai dengan Reva..." lanjutnya.
Om Dera mencoba memejamkan matanya, besok dia akan menjalani operasi, dan di hari itu juga dia akan menikahkan anaknya dengan pria tampan dan menawan sesuai namanya, Arion Putra Menawan.
__ADS_1