Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
166.Mendadak Jadi Artis


__ADS_3

Mata mami Reva sampai nggak kedip loh saat ngeliat wajah ganteng anaknya menghiasi layar kaca, "Deuuuh, jadi artis anakku! kenapa nggak ngomong-ngomong sih, dia!"


Setelah ngeliat iklan itu mami Reva langsung nelpon suaminya, 'Mas, Mas! Arion..."


"Kenapa Arion" tanya papi Ridho di sela kesibykannya di kantor, mami Reva pun langsung ngejelasin gimana terkejutnya dia saat ngeliat Arion di tivi. Sang papi pun sangat antusias, dia malah ikut-ikutan membanggakan dirinya yang suah ikut andil dalam mewariskan kegantengan untuk Arion, putra mereka.


Sementara sebagai brand Ambassador sebuah produk spei, Arion mampu memikat banyak kaum hawa yang melihat iklan pertamanya nya itu. Sesuai prediksi Meisya, kalau banyak dari mereka terpikat dan akhirnya membeli produk sprei yang lagi digadang-gadang akan menyabet award 'Sprei of the Day!', ceunah!


Reflek mami Reva nelpin anaknya yang udah ngantuk pisan itu, pengen tidur.


"Ya ada apa, Mam?" suara Rion yang serak-serak khas orang yang udah ngantuk berat.


"Rion, kamu jadi artis disana sekarang? mami, udah liat iklan kamu, ya ampuuuun bikin mami kangen aja kamu Rioon?!!" mamu Reva merepet aja.


"Iklannya emang udah launching?" Rion malah nggak tau sama sekali kalau iklannya itu udah bikin omset penjualan produk itu naik pesat.


"Kapan pulang? apa kamu nggak kangen sama rumah, Rion? tanya mami Reva agak sendu,"


"Ya, nanti Rion rencanain buat pulang kampung?!" sahut Rion.


Kalau sekarang kan dia udah ngedapetin Rissa, jadi sebenrnya nggak ada alasan buat Rion untuk tetap stay di negara oramg.


"Udah dulu ya, Mam? disini udah malem banget. Rion harus istirahat buat kerja besok,"


"Iya iya, Sayang! semoga hari mu beaok menyenangkan!" mamibReva laku menutup teleponnya.


Setelah teleponnya tmberakhir dengan snag mami, temen nya Ezadan Slamet nelfin via video call. Awalnya Rion mau angkat, tapi sekarang di sebelahnya ada Rissa. Nggak mungkin dia angkat sekarang, takutnya mereka ngeliat atau denger suara Rissa. Bisa gawat nantinya.


Rion pun bilang di grupchatnya kalau, dua nggak bisa ngangkat karena udah ngangkat berat, sedangkan besok dia ada meeting penting. Pokoknya Rion ngeles aja udah, daripada ntar ada kehebohan yang nggak disangka-sangka.


Pagi harinya...


Rion lupa pakai kalung liontinnya. Karena udah buru-buru berangkat ke kantor. Sedangkan Rissa yang lagi beres-beres mau pergi ke rumah sakit pun mendengar sesuatu dari dalam laci lemari.


Trakk!


Trakk!

__ADS_1


Trakk!


Seakan ada pergerakan benda di dalam lemari. Rissa waspada, dia berjalan mendekat dan sangat hati-hati.


"Ada apa ini?" gumam Rissa.


Trakk!


Traak!


Trakk!


Risaa membuka lemari pakaian yang nggak dibuka dari semalam. Karena Rion mengambil jas dan kemejanya dari lemari yang lain.


Ada cahaya berwarna biru yang menpyala lalu meredup dan semakin redup.


Sreettt!


Rissa membuka laci.


Cahaya itu hilang.


Dia hanya melihat tanpa berani menyentuhnya.


Rissa kemudian menelepon suaminya, "Halo, Rion..."


"Ya ada apa, Sa?"


"Sepertinya ada yang aneh dengan kalungmu itu," Risaa tanpa basa-basi menceritakan apa yang dilihatnya tadi.


"Biarkan aja kalung itu, aku juga ngerasa kalau ada sesuatu yang aneh. Makanya semalam aku lepas dan buarin tergeletak di dalam lemari,"


"Oh ya, kamu hati-hati kalau mau ke rumah sakit. Kabarin aku ya tentang keadaan papah?!" kata Rion.


Tanpa Rissa ketahui, kalau hari ini Rion telah mengurus pengunduran dirinya di perusahaan yang sudah membuatnya mendapatkan pundi-pundi dari berbagai macam project yang sudah dimenangkannya.


Sesuai perintah sang suami, Rissa mengabaikan kalung itu. Dia menutup dan mengunci lemari itu lagi, mengambil tas lalu pergi menuju rumah sakit.

__ADS_1


Butuh beberapa menit aja buat nyampe kesana, selain jalanan yang emang udah lumayan lengang dan jarak antara apartemen dan rumah sakit yang nggak terlalu jauh membuat Rissa nggak buang waktu banyak di jalan.


Tapi baru sampai Lobby, dia dikejutkan dengan kedatangan seseorang.


"Kak Thomas?" gumam Rissa.


"Hai? aku, aku kebetulan lewat dan tadi sempet nengok Om Dera..." kata Thomas.


Rissa hanya bisa menyunggingkan senyumannya, nggak mungkin juga dia melarang Thomas buat sekedar menjenguk atau mengobrol dengan papanya. Apalagi di rumah sakit, papanya pasti kesepian. Sekarang Risaa dan Thomas sedang duduk di kursi tunggu di lobby


"Aku dengar kalau kondisi Om Dera semakin membaik," ucap Thomas.


"Ya, kami bersyukur untuk itu..."


Salju udah mulaiencair, musim dingin akan berganti. Sama seperti hubungan Thomas dan Rissa yang sempat tidak baik, sekarang perlahan mulai biasa dan menghangat kembali.


Thomas menyadari kalau, bagaimanapun dia menghalangi, tapi nyatanya takdir berpihak pada mereka. Dan dia nggak bisa melakukan apapun selain menerima dengan lapang dada kalau, jodoh sudah ada yang mengaturnya.


Banyak hal yang dibicarakan Thomas pada Rissa, termasuk apa yang mengganjal di hatinya. Dia nggak memaksa Rissa menerima perasaannya karena jelas dia udah jadi iatri orang, tapi minimal Thomas ingin mengatakan semuanya supaya hatinya lebih lega dan bisa secepatnya move on.


"Aku jadi berpikir seandainya aku yang lebih dulu masuk ke dalam kehidupan kamu, pasti aku yang ada diposisi Rion saat ini. Tapi ternyata takdir punya cara mainnya tersendiri, mungkin ini hadiah dari Tuhan buat kalian berdua atas apa yang telah kalian lalui, meakipun aku nggak tau apa itu. Tapi jika diliat dari cara kalian menjauhkan diri masing-masing, aku yakin masalah itu sangat berat untuk dilewati..." kata Thomas yang sekarang udah bisa berpikir jernih.


"Banyak hal yang aku dan Rion mungkin nggak bisa menceritakannya secara detail pada siapapun. Aku berharap kakak dapat menemukan orang yang tepat, yang ditakdirkan untuk mengisi hari-hari kakak supaya bisa menjadi lebih indah dari sebelumnya," kata Rissa.


"Jika dokter sudah memutuskan kalau papa sudah boleh pulang, mungkin dalam beberapa hari ini aku akan pulang ke Indonesia," lanjutnya.


"Aku minta maaf atas semua yang terjadi, semoga nggak ada dendam antara kak Thomas dan Rion. Percayalah, dendam hanya akan membakar semua kebaikan yang pernah kakak lakukan, membakar semua kenangan yang seharusnya tetap baik antara kakak dan Rion..."


Thomas mengangguk dan tertawa kecil, "Ya, aku merasa kemarin sangat buruk, sampai aku nggak bisa mengenali diriku sendiri. Maaf sudah membuat suamimu babak belur!"


"Kamu juga nggak kalah babak belurnya, Kak!" ucap Rissa.


"Semoga kalian bahagia..." ucap Thomas dengan segala kepedihan di hatinya.


"Doa yang sama untuk kakak juga..." kata Rissa.


Dua manusia yang memang nggak ditakdirkan untuk bersama, sekarang duduk berdamai dengan perasaan yang lebih baik. Menerima takdir yang sudah digariskan dan mencoba melepaskan segala amarah dan kebencian, nyatanya membuat hatinya lebih tenang.

__ADS_1


"Aku pamit..." kata Thomas.


"Terima kasih sudah menjenguk," ucap Rissa yang kemudian melihat tubuh pria itu menjauh dari pandangannya.


__ADS_2