Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
68. Kau Dan Rissa Orang yang Berbeda


__ADS_3

"Akan ku pastikan kau tidak akan bisa kembali ke dalam istana, tuan puteri..." ucap Anna saat melihat Arion dan juga Odellia sedang memperdebatkan sesuatu.


Arion yang merasa kalau ada orang lain disekitar mereka pun mulai mengecek ke sekelilingnya.


"Ada apa?" tanya puteri Odellia saat Rion seperti mencari sesuatu.


Rion menggeleng, "Tidak ada..."


Rion kembali mendekat pada puteri Odellia, "Aku mau kau kembali pada posisimu sebagai puteri dan aku akan membawa Rissa pergi..."


"Tapi aku tidak ingin menikah dengan pangeran Clift, aku tidak mencintainya..."


"Lah teroooooos??? kenapa kita yang elu bikin repot? elu ada gila-gilanya ya?" Rion metenteng, tangannya di pinggang. Sementara satu tangannya yang lain mijitin kepalanya sendiri.


"Pokoknya gue nggak akan biarin pangeran itu menikahi Rissa! dan elu harus balik lagi jadi puteri raja, selesaikan urusanmu sendiri dengan pangeran Clift," Rion tegas, dia sampai keceplosan dengan bahasa yang bikin Odellia bingung.


Ngeliat wajah Markoneng kayak orang keder, ngah ngoh nggak jelas, Rion menyederhanakan ucapannya, "Aku tidak akan membiarkan Rissa terlibat hubungan dengan pangeran Clift. Jika kau tidak mencintainya, kau bisa meminta ayahmu untuk membatalkan perjodohan itu,"


"Tapi kau sudah melihat punggungku..." ucap Puteri Odellia lirih.


"Apaaaa?" Sekarang Rion ngerutin keningnya, dia nggak ngerti apa yang diomongin sama puteri Odellia.


"Tidak ada yang boleh melihat bagian tubuh seorang puteri, kecuali dia harus menikahinya..." kata Odellia.


"Lu jangan ngadi-ngadi yeee??? kan elu yang minta tolong, dan gue ...gue udah nolak buat ngingetin tali baju elu. tapi kan elunya maksa!" Rion menunjuk dirinya sendiri.


Wajah Odellia langsung mendung, "Mungkin saja itu takdir yang mengikat kita...."


"Nggak, nggak. Gue nggak mau! walaupun wajahmu mirip dengan Rissa, bahkan kalian hampir nggak bisa dibedain, tapi soal hati gue nggak bisa dibohongi. Yang gue cintai itu Rissa bukan elu, dan maaf gue bukan pangeran yang tercipta buat puteri raja seperti elu..." Rion merepet panjang.


"Hah?" lagi-lagi puteri Odellia memperlihatkan wajah bingungnya.


"Yang aku cintai Rissa bukan Odellia, aku juga bukan pangeran yang pantas untuk mendampingi puteri raja sepertimu. Aku hanya orang biasa yang ingin kembali pada dunia nyata, dimana aku dan Rissa berasal..." kata Rion mencoba menjelaskan.


Puteri Odellia udah terlanjur suka sama Rion, dia pengennya Rion yang akan mendampinginya memimpin kerajaan. Bagaimanapun, akan ada saatnya dia harus menggantikan posisi ayahnya. Dan Arion orang yang tepat untuk menjadi suaminya.

__ADS_1


"Meskipun wajah kalian sama, tapi kalian dua orang yang berbeda," Rion mencoba membuat puteri Odellia mengerti.


Sesaat keduanya terdiam, sampai akhirnya Rion kembali membuka suaranya.


"Kaki ku pegal, sebaiknya kita pergi dari sini. Dan aku akan mencari cara untuk masuk ke dalam istana untuk membawa Rissa pergi dari sana. Aku yakin dia menungguku saat ini," kata Rion pede, padahal hubungannya sama Rissa aja belum jelas.


Sementara di dalam Istana.


Pangeran Clift masih menunggui Rissa yang sekarang tertidur karena obat yang baru saja diminumnya.


"Entah mengapa, aku tidak bisa marah ketika kau terbukti bukan puteri Odellia," gumamnya.


Dia memandang wajah perempuan yang ada di hadapannya, "Astaga, Odellia selalu berbuat sesuka hatinya! lagi pula, dia tidak tau bahayanya berkeliaran di luar tanpa pengawasan? astagaaa, puteri yang satu itu beneran bikin puyeng!" kata pangeran Clift.


Sebenernya ada satu hal yang membuatnya mau menerima perjodohan itu, karena merasa iba dengan puteri Odellia yang ditinggalkan sang ratu. Ratu yang mengorbankan dirinya untuk melindungi Odellia dari kutukan penyihir jahat. Tapi rahasia itu hanya raja dan ayahnya saja yang tau, sedangkan pangeran Clift saat itu tidak sengaja mendengar dua pemimpin kerajaan yang saling bersahabat sejak lama.


"Aku sudah mencari tau, bagaimana supaya Odellia tidak lagi menjadi incaran penyihir itu," kata raja George, ayah dari pangeran Clift Hamer George.


"Menikahkannya dengan putraku," lanjut raja George.


"Siapapun akan terpikat dengan puteri Odellia, mereka hanya butuh waktu untuk mengenal satu sama lain.Percayalah, hanya Clift yang mampu melindungi Odellia dari sihir jahat Dorothy," raja George sangat serius.


'Siapa Dorothy?' batin pangeran Clift yang saat itu nggak sengaja mendengar sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia antara ayahnya dan juga raja Abraham.


Pikiran pangeran mengawang ke masa lalu, jika bukan atas dasar hubungan baik dan kemanusiaan, menghadapi puteri Odellia yang sangat kekanak-kanakan itu rasanya sangat menyiksa. Apalagi buat dia yang orangnya cuek dan nggak bisa bersikap lembut.


Awalnya pangeran Clift ingin menolak, tapi setelah tau Dorothy adalah mantan pelayan kerajaan yang menyukai raja Abraham dan terobsesi menjadi ratu yang akhirnya dia diusir dari Istana, membuat hati kecil pangeram Clift sedikit tersentuh.


Toh sampai saat ini dia belum menemukan orang yang membuat hatinya bergetar, jadi ya udah pangeran Clift berusaha buat ngedeketin si puteri Udel itu.


Sekarang balik lagi pada keadaan saat ini, pangeran Clift yang masih duduk anteng sambil ngeliatin wajah Rissa pun merasakan ada hal lain dari salah satu sudut batinnya.


"Seandainya kau benar-benar Odellia, tentu aku akan lebih mudah untuk memberikan hatiku padamu, Rissa..." pangeran Clift bergumam. Ternyata eh ternyata dia mulai menaruh hati pada gadis itu


Kupu-kupu hitam, masih di dalam ruangan itu, dia hinggap di salah satu kursi yang ada di kamar sang puteri. Sang pangeran nggak memperdulikan itu, yang dia perhatikan hanya wajah Rissa yang cantik bahkan saat dia sedang tidur. Kagak kaya elu-elu pade ye, yang tidur mode mangap plus ngorok. Kagak, Rissa mah tidur aja cantik, eiiim!

__ADS_1


"Maaf Pangeran Clift, Yang Mulia menunggu anda di ruang pertemuan," ucap Maria.


"Ya," jawab pangeran Clift singkat. Kemudian dia pergi menuju tempat yang disebutkan Maria.


Sedangkan Maria yang melihat Rissa tertidur pun undur diri, dia menutup pintu secara perlahan.


Kupu-kupu hitam mendekati Rissa kembali, "Rissaaaa..." ucap serangga yang biasanya ngecrupin madu dari kembang-kembang di taman.


"Rissa bangun, Rissaaa..." kupu-kupu itu mengubah wujudnya jadi sesosok peri mungil. Ya, peri yang sama ketika mereka terjebak di hutan kegelapan.


Rissa yang namanya dipanggil pun sedikit demi sedikit membuka matanya, dia menyipitkan matanya berusaha beradaptasi dengan cahaya sekitar.


"Syukurlah kau sudah siuman..." kata si peri Keket. Rissa mencoba bangun tapi dicegah sama si peri.


"Kau istirahat saja dulu, tubuhmu masih lemah..." lanjutnya.


"kenapa kau bisa sampai kemari?"


"Ceritanya panjang, yang jelas aku melihatmu saat kau menaiki kuda bersama seorang pangeran. Pantas saja saat di hutan kegelapan aku seperti mengenalmu, ternyata wajahmu ini sangat mirip dengan puteri Odellia, puteri yang diagung-agungkan di negeri ini," kata si Peri.


"Jika aku tidak mendengar kau menyebut nama Arion, mungkin aku tidak bisa mengenalimu sebagai Rissa..." peri Keket duduk di telapak tangan Rissa.


Rissa hanya tersenyum saat melihat sang peri merepet kayak emak-emak.


"Bagaimana kau bisa sampai ke negeri ini? bukannya kau dan Arion seharusnya kembali ke dunia kalian?" tanya peri Keket.


"Entahlah, mungkin dia masuk ke dalam pusaran waktu yang sama denganmu..." sahut Rissa.


"Catlyn, bantulah kami keluar dari sini...." Rissa memohon.


"Tentu, tentu aku akan membantumu..." peri Keket menarik kedua sudut bibirnya.


Lagi ngobrol sama si peri mungil, tiba-tiba Rissa merasakan ada satu bisikan dari telinganya, "Pulanglah, Nak. Mama mu menunggumu, Sayang..."


"Nenek...?" gumam Rissa, dia celingukan mencoba mencari sosok neneknya.

__ADS_1


__ADS_2