
Papi Ridho nggak tau gimana caranya menolak keinginan istrinya, nyatanya mereka pagi-pagi banget udah pergi dari rumah. Bahkan sebelum si Thalita berangkat ngampus.
"Kamu tidur aja, kamu semalaman ini begadang kan?" papi Ridho mengusap jidat nong-nong Reva yang agak anget.
"Aku nggak ngantuk,"
"Aku nggak mau ya, nyampe disana kamu malah sakit!" kata papi Ridho, dia mengukur suhu wanita yang disampingnya ini cukup pakai punggung tangannya.
Akhirnya mami Reva ngangguk, nurut. Meskipun pikirannya tetep sama Rion ya dia berusaha buat tidur, sejenak mengistirahatkan badannya. Dia kagak tau aja, di dalam dunia antah berantah, anaknya lagi nyari jalan keluar.
Oh ya, papi Ridho udah hilang kontak sama bu Wati, Ibunya Karla. Jadi emang dia harus dateng dulu kesana baru bisa tau, nenek Darmi bisa bantuin mereka atau nggak.
Buat seorang ibu, dia bakal lakuin apapun demi menolong anaknya. Termasuk menyingkirkan ego buat dateng ke rumah orang yang benci sama dia, buat minta tolong supaya anaknya bisa ketemu.
Papi Ridho tau betul, mami Reva ini kan orangnya kedebag-kedebug. Orang lain kesasar di hutan ghoib aja dia bantuin, apalagi ini anak sendiri yang kesasar? Bisa dibayanginlah mami Reva bakal ngapain.
Daripada kecolongan lagi, mending papi Ridho nurutin apa maunya istri tercintanya itu.
"Kamu jarang makan, jadi keliatan pucet kyak gini, kan..." satu tangan papi Ridho sesekali mengelus kepala mami Reva.
Kini matanya lurua ke depan, sambil terbayang mimpi semalam. Ketika dia melihat Arion dengan para buaya yang mencoba menerkamnya.
'Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya, Rion. Kembalilah secepatnya, Nak. Jangan bikin mami mu khawatir..' batin papi Ridho.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menuju sebuah tempat yang sudah puluhan tahun nggak mereka kunjungi.
"Halo?" papi Ridho mendapatkan panggilan telepon dari Om Karan.
"Kalian ada dimana? kata orang rumah katanya kalian sedang pergi ke luar kota?"
"Oh ya. Kami---" papi Ridho menghentikan ucapannya.
'Kasih tau nggak ya? nanti Reva marah lagi kalau aku ember bocor,' papi Ridho menimbang-nimbang jawaban apa yang tepat.
"Kalian ada dimana?" Om Karan nanya lagi.
"Saya lagi bawa Reva keluar, biar dia tidak kepikiran melulu soal Rion..."
"Bagaimana keadaannya? apakah jiwanya masih terguncang?" Om Karan begitu mengkhawatirkan sepupunya.
"Ya masih sering diam, dan ngelamun. Seharian nontonin berita, berharap Rion bisa ditemukan," ucap papi Ridho, ada rasa sakit ketika menjawab pertanyaan itu.
"Hibur dia, ajak ke tempat baru. Jangan lupa untuk selalu mengawasinya," Om Karan ngingetin.
__ADS_1
"Baiklah, sampaikan salamku untuk Reva, saya tutup telfonnya!" lanjutnya sebelum
memutus pembicaraan dengan papi Ridho.
Selepas bicara dengan Om Karan, pikiran papi Ridho melayang-kayang seperti layangan. Dia selalu bicara seandainya. Seandainya Reva nggak ikut ke jepang, seandainya nggak ada masalah dengan bisnis mereka, seandainya dia bisa menghentikan hobi manjat Arion, semua ini nggak akan terjadi.
Saat ini mereka cuma bisa berdoa sambil terus berharap keajaiban akan datang. Keluarga mereka banyak yang memberi dukungan, dan mereka menyembunyikan verita hilangnya Rion dari nenek Arion. Nenek dari pihak mami Reva maupun papi Ridho. Mereka ngvak mau oragtua yang udah sepuh shock dan malah bisa sakit.
'Papi yakin kamu ana yang kuat, bahkan seja kamu dilahirkan. Kamu begitu istimewa bagi kami, Rion. Papi yakin, kamu bisa keluar dari sana dan kembali ke rumah...' batin Papi Ridho melow.
Dan kini mobil papi Ridho melambat saat sampai di rumah bu Wati. Rumah yang dilihat udah banyak renovasi sana-sini.
"Va ... Reva?" Papi Ridho memanggil istrinya, dia mengusap lembut pipi mami Reva.
"Sayang? kitan udah sampai, Sayang..." papi Reva membangunkan iatrinya.
Perlahan wanita itu mengerjap, "Kita udah sampai?"
Papi Ridho mengangguk.
"Maaf, aku tidur kelamaan," mami Reva merapikan rambutnya.
"Nggak apa-apa, aku malah seneng kamu bisa istirahat. Kita turun sekarang?" sahut papi Ridho.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum..." papi Ridho ngucapin salam.
'Waalaikumsalam," sahut seorang wanita dari dalam.
Ceklek!
Pintu dibuka, dan terlihatlah bu Wati diambang pintu. Dia sempat mengerutkan keningnya, mengingat-ingat siapa yang siang-siang begini bertamu ke rumahnya.
Papi melayangkan senyumnya, "Selamat siang, Bu..."
"Maaf---"
"Saya Ridho dan ini istri saya Reva, Bu...."
__ADS_1
"Astaga, Nak Ridho temennya Karla?" bu wati memastikan, dia melihat satu persatu wajah yang ditemuinya.
Papi Ridho mengangguk, "Benar, Bu..."
"Astaga, maklum ibu sudah tua, jadi ibu suka jadi pelupa. Mari mari masuk, Nak..." bu wati mempesilakan tamunya untuk masuk ke dalam ruang tamu.
Ruangan dulu yang begitu sederhana, sekarang seakan disulap dengan barang-barang yang bagus. Mungkin Karla yang memberikan semua kenyamanan ini untuk ibunya atau bisa juga kakak laki-laki Karla. yang jelas bu wati sepertinya hidup dengan sangat baik.
"Astaga, ibu seperti mimpi didatangi kalian berdua,"
"Sepertinya ibu masih sangat muda sejak terakhir kali kita bertemu," kata papi Ridho, sedangkan mami Reva hanya diam. Entah pikirannya sedang kemana.
"Ibu sudah sangat tua, Nak. Mana mungkin terlihat masih muda? ada angin apa yang membawa kalian datang kemari?" tanya bu wati, padahal dia pun bisa menebak jika terjadi sesuatu dengan Reva. Karena wanita itu terlihat murung dan nggak ada satu garis senyuman pun yang diperlihatkannya.
Papi Ridho menghela nafasnya sejenak, dia menggenggam tangan istrinya, dia yakin Reva akan merasa sedih saat dia akan membahas Rion, anak mereka.
"Katakan saja, Nak. jangan ragu..." ucap bu wati.
"Anak kami, anak tunggal kami, Arion dia jatuh dari tebing saat mendaki gunung. Katanya dia masuk ke dalam hutan kegelapan bersama seseorang yang memiliki jiwa seperti dia..." jelas Ridho.
Dia melihat sekilas pada istrinya, "Untuk itu kami datang kemari untuk meminta bantuan pada nenek darmi, untuk membantu anak kami keluar dari sana. Jiwanya diinginkan oleh iblis, dan kami tidak ingin sesuatu hal terjadi padanya..." lanjut papi Ridho.
Sedangkan mami Reva hanya bisa mengeluarkan air matanya, tanpa bisa berkata-kata lagi, dia sangat terpukul dengan kejadian ini.
Raut wajah bu Wati berubah.
"Ada apa, Bu...?" tanya Papi Ridho.
"Maaf membuat kalian kecewa, tapi nenek darmi sudah tidak ada. Kami baru saja berkabung..." ucap bu Wati.
Deg!
"Apaaa?' Papi Ridho menatap bu Wati nggak percaya.
Bu Wati mengangguk menyesal, "Maaf, Nak..."
Mami Reva diam, hanya air matanya yang berderai tanpa mau berhenti. Papi Ridho mengeratkan genggamannya. Harapan satu-satunya pun musnah seketika.
"Kami turut berduka cita, Bu. Semoga nenek Darmi tenang disana..." papi ridho mengatakan itu dengan perasaan yang campur aduk. Dia merasa menjadi orangtua yang nggak berguna, karena nggak bisa menolong anak sendiri.
"Kalau begitu, kami pamit, Bu. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat ibu..." papi Ridho mengangguk sopan.
Namun tiba-tiba...
__ADS_1
Ada seseorang yang datang dengan tergesa-gesa, "Biyung..." ucap wanita itu.