
"Apa maksudmu?" Rissa nggak ada takut-takutnya sama puteri Odellia. Dia nggak mau pura-pura bego.
"Kau cukup terus terang juga, Rissa.."
"Sebenarnya menjadi seorang puteri membuatku sedikit bosan. Aku ingin melihat dunia luar, lagi pula aku tidak tertarik dengan pangeran Clift. Aku sangat terganggu saat dia datang untuk menemuiku..."
"Lalu...?" Rissa mencium bau-bau ajakan kongkalikong disini.
"Kau tentu sudah mengerti rencanaku, Rissa. Kau akan menggantikan aku sementara waktu di istana ini, aku ingin tahu rasanya menjadi orang biasa. Aku tidak mau menyesal di kemudian hari, tolong bantu aku ... sekali ini saja..." puteri Odellia hendak berlutut tapi Rissa nggak memperbolehkan itu. Yeuhhh, nyusahin aja lu Markonah!
"Kau sudah gila, puteri!"
"Ya, kau benar! Aku memang gila, terlalu lama berada dalam istana ini membuatku jenuh, aku ingin merasakan hal lain..."
"Diluar sana mungkin saja sangat berbahaya, dan mungkin juga orang lain akan menyadari kalau aku bukan anda..." Rissa bujuk-bujuk dulu si Markonah, biar nggak ngotot pengen pergi dari istana.
"Tenang saja, semua itu sudah aku pikirkan! Dengan sangat baik...!" Odellia menjentikkan jarinya, baru Rissa akan menimpali ucapan gadis yang terlahir sebagai puteri keajaan itu, Odellia langsung nyamber aja kayak bledeg.
"Ingat, tidak ada satu orang pun yang sanggup menolak permintaan puteri Odellia..." Odellia tersenyum, seakan sebentar lagi dia akan melakukan perjalanan menyenangkan.
Dan ada ketukan pintu.
"Puteri, apakah anda memanggil kami?" ada suara pelayan wanita dari balik pintu yang megah itu.
"Tunggu, aku harus bersembunyi dimana?" Rissa nyoba buat menghentikan langkah puteri yang kalau nyuruh seenak udel dia ajah.
"Tidak perlu sembunyi, diam saja disini..." kata sang puteri.
Dengan rasa cemas, Rissa berdiri menunggu pintu dibuka. Ngadi-ngadi emang si Odel.
Krieeeettt!
__ADS_1
Puteri Odel ngelongokin kepalanya keluar sebelum nyuruh dua pelayan masuk ke dalam kamar, "Cepat masuk!"
"Tutup dan kunci pintunya!" Odelia ngibrit aja masuk ke dalem, dia menghampiri Rissa dan berdiri di samping gadis yang mirip dirinya.
Grep!
Pintu ditutup dan di kunci. Ketika kedua pelayan itu berbalik, mereka terperah. merekaendekat dengan langkah yang rahu-ragu. Mereka berhenti dan saling memandang, kemudian kembali melihat puteri odelia.
"Puteri, anda? Kenapa ada dua?"
Odellia dengan bangga menengok ke arah Rissa, sedangkan Rissa sendiri sebenernya empet banget nurutin rencananya si puteri sengklek.
"Ini Rissa, kalian tidak perlu tahu, Rissa datang darimana karena itu hanya akan membuat kalian pusing kepala seharian!" kata puteri Odel, sedangkan Rissa nggak dikasih waktu buat ngomong.
Odelia menengok ke arah Rissa sekilas, "Malam ini aku akan keluar dari istana,"
Dua pelayan tadi hanya berkedip nggak percaya, "T-tapi, tuan puteri..." Maria mencoba mengubah pikiran putri sengklek. namun nggak semudah itu, pulgozoh! Karena Odelia ini tipe-tipe perempuan yang kalau pengennya itu ya itu, no debat! Keukeuh sampai akhir.
Odellia menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kekiri, itu berarti 'wes lah kalean ini diem-diem bae, jangan suka protes', yeuu Markoneng emang paling bisa ngatur orang.
"Tidak ada yang sanggup menolak permintaan puteri Odellia," ucap Maria dan Anna bersama-sama.
Si Odelia mencurigakan nih, jangan-jangan sambilannya tukang gendam. Kok ya si Maria sama Anna bisa-bisanya, ngomong sambil matanya nggak lepas dari sang tuan puteri yang diagung-agungkan ini.
"Maria, kau akan tinggal disini bersama Rissa, dan kau Anna, kau ikut denganku. Bawa uang yang banyak. Aku tidak mau kekurangan apapun saat berada di perjalanan!" kata Odellia.
'Astagaaaa, dia mau keluar dari istana tapi nggak mau kesusahan? ini gimana ceritanya?' batin Rissa meronta, sedangkan Odellia matanya bersinar ceria.
"Ingat, kalian tidak boleh menceritakan pertukaran ini dengan siapapun, terlebih pada raja Abraham, ayahku. Kau mengerti, Maria?" tanya Odellia penuh intimidasi.
"Mengerti, tuan puteri..." jawab Maria.
__ADS_1
"Bagus! aku jadi tidak sabar memulai petualanganku..." gumam Odellia, dia bergerak ke arah jendela yang terbuka. Dia melihat burung-burung yang terbang diangkasa.
'Aku akan terbang bebas, aku tidak akan terkurung dalam sangkar emas! aku akan merasakan kehidupan yang sesungguhnya...' batin Odellia girang.
Sore pun menjelang, Anna menyiapkan perbekalan yang akan dibawa olehnya, sedangkan Maria lagi sibuk menjelaskan silsilah keluarga kerajaan yang bikin Rissa auto puyeng. Tadi siang si Anna sempet juga disuruh ngambil baju pelayan buat acara samar menyamar ntar malem. Emang si Odellia nih, ada jiwa-jiwa mafianya ya.
Sat set banget gitu gerakan dan pikirannya, nemu orang yang mukanya mirip sama dia, eh langsung dimanfaatin dong supaya dia bisa holiday keluar istana ketemu para rakyat jelata.
Pokoknya tugas Maria selalu mendampingi Rissa, supaya nggak ada yang curiga tentang puteri yang ditukar tambah ini.
Odellia hari ini absen makan di meja makan bareng raja, dia minta makanannya dibawain aja ke kamarnya. Padahal supaya dia bisa ngajarin Rissa table manner dunia kerajaan, dan beneran tuh. Baru sebentar aja Rissa udah kliyengan. Dia harus ingetin semua macam sendok, pisau, dan garpu.
Nggak ada akhlak emang si Odel, dia bikin rencana kilat kayak gini.
Rissa udah berkali-kali nolak, tapi Odellia ngncem kalau dia bakal teriak dan manggil pengawalnya dan bilang kalau Rissa ini penyihir jahat yang menyusup ke kamarnya untuk mencelakainya.
Karena sekarang Rissa nggak punya kekuatan, akhirnya dia manut-manut bae. Sambil nanti mikir, gimana caranya balik lagi ke dunia nyata.
"Jangan terlalu tegang, aku yakin kamu pasti bisa melakukannya dengan sangat baik!" kata Odellia percaya diri.
"Sampai kapan aku harus menyamar menjadi dirimu?" Rissa berdiri berhadapan dengan Odellia.
"Sampai aku kembali..." kata Odellia seenak jidatnya.
Sesuai permintaan, malam ini Odellia kembali makan di kamarnya. Dan sebenarnya hal ini membuat raja sangat khawatir terhadap puteri satu-satunya itu
"Panggilkan puteri Odellia, ini sudah waktunya makan malam..." kata sang raja ketika tak melihat Odellia di meja makan.
Pelayan yang udah dipesenin sama Maria pun bingung harus menjawab apa pada raja mereka, "Maaf, yang mulia... tapi tuan puteri, memilih untuk makan di dalam kamarnya..."
"Kenapa? apa dia sedang sakit?" raut wajah raja begitu cemas.
__ADS_1
"Maria hanya berpesan seperti itu, yang Mulia..." kata salah satu pelayan wanuta yang menyiapkan hidangan di meja makan.
"Aku akan menemuinya sekarang," sang raja berdiri dengan jubah emas yang membuatnya sangat berwibawa.