Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
138. Model Dadakan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Rion bangun dengan muka yang kusut, bukan karena apa-apa. Dia mimpi yang sama terus menerus dan juga di unitnya ini ada bunyi-bunyian suara barang-barang yang bergeser dengan sendirinya. Jadi lumayan ngeganggu Rion banget.


Udara di luar dinginnya di bawah nol derajat, jadi bisa dibayangkan sekarang Rion harus mandi air pana biar badannya nggak pada kaku. Pagi ini dia akan meluncur ke set pertama, yang kali ini pengambilan gambarnya di outdoor gitu.


Kebetulan semalem, ada orang yang nganterin wardrobe nya, jadi Rion bisa langsung pakai baju dari mereka buat syuting tvc nya hari ini.


Dengan gagahnya Rion menyetir mobilnya menuju lokasi yang udah di share sama Thomas.


Kalau bukan karena udah janji sama Thomas, dia nggak akan mau tanda tangan kontrak buat jadi brand ambassador produk sprei. Dan udah pasti target market mereka ya emak-emak jaman now, yang kalau beli sprei itu ya karena model iklannya ganteng, ehek!


Thomas langsung melambaikan tangannya saat Rion udah nyampe di lokasi ski.


"Ini iklan spre kok ya di tempat ski?" Rion sebenernya gagal paham, tapi kemarin dia males bua nimpalin konsepnya si Thomas. Apalagi denger Thomas yang akrab banget sama Rissa, nikin hatinya panas sepanas kompor mami Reva di rumah.


"Gimana? udah siap?" Thomas mendekatinya.


"Ya," sahut Rion singkat.


"Kita ketemu dulu sama Rissa, dia ada disana..." Thomas menunjuk ke arah Rissa.


"Kita udah siapun kasur dari salju, ntar elu pura-pura jatohin badan ke belakang..."


"Di kepala gue ada otak, Thom?! lu jangan aneh-aneh!"


"Lah elu kemarin udah setuju? lagian tenang aja, dibawah situ ada kasur udara kok, kepala elu yang sangat berharga ini nggak akan kenapa-napa, percaya deh sama gue!" Thomas berusaha meyakinkan Rion


"Ada masalah?" tanya Rissa yang ngeluat ada perdebatan antara Thomas dan Arion, model mereka.


"Semuanya oke, kok! tenang aja," Thomas nyengir.


Rion mulai ditancap make up dikit sama team.


"Ayo, cepet?! sini gue bantuin," Thomas nyuruh Rion buka mantelnya dan hanya menyisakan sweater berwarna biru muda.


"Sial, kenapa kemarin gue nggak konsen! kok ya adegannya aneh-aneh gini. Iklan sprei kok tiduran diatas salju," gumam Rion lirih.

__ADS_1


"Siap, yaaaaa? habis ini kita pindah set!" kata Thomas menepuk pundak Rion dan dia menyingkir dari area itu.


"One ... two and three!" seru seseorangbyang nyuruh Rion ngejatohin badan dengan muka yang seakan dia nyaman banget nggak kedinginan.


Padahal dalam hati Rion mengumpat Thomas berkali-kali.


Bruuuuukkk!


Rion menjatuhkan dirinya di atas tumpukan salju, kemudian tersenyum semanis madu.


"Cut!" seru seorang pria.


"Good job!" ucapnya lagi.


Alhamdulillah ya, cuma sekali take mereka udah dapet gambar yang bagus.


Take yang kedua, Rion disuruh membuka satu tangannya dan merasakan salju yangbturun dari langit. Maksudnya sih konsepnya, sprei mereka ibarat kata sedingin salju gitu, adem buat dipakainya. Makanya mereka ambil konsep ambil gambar di hamparan salju yang mungkin enak kalau disiram pake syrup coco pandan.


Lanjut mereka ke set yang ke dua dengan menggunakan Campervan. Mobil gede yang di dalemnya dilengkapi dengan berbagai kursi yang mewah dan ada dapurnya juga. Bahkan kalau Rion capek, dia bisa tidur di kasur yang disediakan tapi lumayan agak diatas gitu posisinya.


Mobil milik Rion, Thomas yang bawa. Sedangkan sang model dia satu mobil bersama Rissa dan juga Meisya.


'Apa benar dia Rissa yang gue kenal? dia sangat berbeda. Makin cantik dan---'


'Astaga, apa sih yang gue pikirin?!!' Rion kesal sendiri.


Sampai nggak terasa mereka udah nyampe di tempat set yang kedua. Mereka semua turun dari campervan. Thomas juga kebetulan udah nyampe dukuan, dia bahkan nyamperin Rissa.


"Cepatlah masuk, diluar sangat dingin!" Thomas melepaskan mantelnya buat dia pakein ngelindungi kepala Rissa dari butiran salju yang turun dari langit.


"Dia pikir dia lagi syuting buat sinetron?" Rion bergumam ngeliat perlakuan manis Thomas pada Rissa.


Sedangkan dia setengah berlari buat masuk ke dalam sebuah gedung. Dan sekarang mereka ada di ruangan gitu, Indoor. Rion disuruh ganti baju.


Lumayan kali ini ruangan begitu hangat jadi nggak ada lah dia mengigil kedinginan kayak tadi.


Sekarang tuh orang lagi ditancap make up sana sini, biar mukanya tetep fresh dan tetep on di kamera.

__ADS_1


Rion lagi dapet pengarahan dari pengarah gaya, dia sih manggut-manggut aja. Sedangkan Rissa mencoba buat nggak sering-sering ngeliat ke arah Rion.


Disisi lain, Rion masih penasaran sama Rissa. Dari pagi pas di set yang pertama tuh, sebenernya Rion susah banget buat mengkondisikan mata dan ekapresinya supaya ceria dan menawan di setiap suasana gitu. Secara tuh orang dinginnya ngalah-ngalahin es batu dan sekarang harus bisa senyum sumringah kayak orang baru dapet uang dari langit, kan berasa dikerjain sama Thomas.


Rion menarik nafas untuk mengubah ekapresinya, tatapan matanya yang memikat seperti oppa oppa korea. Sekarang dia sedang berfoto di atas sebuah tidur, mengusap sebuah sprei yang berwarna putih yang kontras dengan bajunya yang berwarna hijau jeruk nipis.


Rissa melihat setiap pose yang dilakukan Arion. Dia cukup terkesan dengan usaha pria yang emang bukan seorang model itu.


Dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, namun Rissa nggak langsung berpaling, dia tenang aja gitu. Kayak nggak ada apa-apa, raut wajahnya biasa. Nggak ada kaget-kagetnya atau minimal tatapan yang menunjukkan kalau mereka saling kenal satu sama lain.


Sedangkan Rion yang masih berpose ganteng pun, sengaja melancarkan tayapan menawannya yang kalau cewek-cewek di luar sana yang ditatap, udah pada klepek-klepek mereka.


Sampai pada satu sesi dimana Rion harus mengucapkan sebuah kalimat yang menjadi jargon si produk spre itu membuat Rissa jafi mendekat. Karena Arion ini belibet mulu ngucapinnya.


"Sorry, bukan dingin bagaikan disentuh salju, tapi lembut bagaikan sentuhan salju," kata Rissa meralat ucapan Rion yang salah mulu daritadi.


"Fokus Arionnn, fokuuus!" bibir Thomas udah mleyot-mleyot.


Rissa membenarkan baju Rion yang agak mlekitut, dan sentuhan itu nyetrum kayak listrik di kulit Rion.


"Ya ya kita ulangi lagi," kata Rion yang mengulang lagi adegan pemungkas. Dan mencoba menghalau perasaan yang ada.


"Sprei golden star, lembut bagaikan sentuhan salju!" ucapnya dengan penuh penghayatan.


"Perfect!" seru seseorang.


"It's a wraaaaapppp!" lanjut orang itu yang menandakan syuting pun sudah berakhir.


Akhirnya Arion bisa bernafas lega, sebenernya dia penasaran sekaya apa orang yang punya perusahaan yang bergerak dibidang tekstil kayak gini, meluncurkan produk sprei tapi dia berani buat bakar cuan dengan bekerja sama dengan perusahaan advertising dimana Thomas bekerja. Menurutnya itu sangat membutuhkn biaya yang lumayan gede gitu.


Tapi bodo amat, yang penting kerjaan Rion udah selesai dan sekarang waktunya mereka. makan.


Di dalam gedung itu udah disiapkan berbagai macam makanan.


"Wow, king crab!" ucap Rissa.


Baru kali ini dia melihat raut wajah wanita yang ada di hadapannya ini begitu terkesima dengan makanan yang dihadirkan Thomas.

__ADS_1


"Ayo, kita makan! bukankah kamu emang lagi pengen king crab dari Alaska? ini seafood terbaik yang pernah ada!" Thomas menggandeng tangan Rissa untuk mendekat ke arah meja makan panjang yang muat buat mereka makan satu team.


"Arion? kenapa diem aja? sini gabubg, makan bareng?!" Thomas membuyarkan lamunan Rion yang daritadi ngeliatin wanita yang bikin dia gagal move on lagi.


__ADS_2