Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
Maafkan dan Lupakan


__ADS_3

"J-jangan Arion, jangan tinggalin mami..." mami Reva berjalan dengan terseok-seok.


Papi Ridho berlari ke arah istrinya, "Kamu nggak apa-apa, Sayang?" dia memeluk wanita yang masih bercucuran darah.


"Lepasin, Mas! aku akan tarik Arion kembali!"


Tapi baru saja Reva mendekat, angin berputar tambah kencang sedangkan Arion dan Rissa yang ikutan berputar kini perlahan berhenti dengan genggaman tangan yang nggak akan pernah terlepas.


Papih merasa sangat bodoh dan nggak berguna, Dia bahkan nggak tau apa yang harus dia lakukan buat menolong putranya.


"Haaaaaaarrrggghhhhhhh?!" satu lengkingan keluar dari Arion, badannya kini membusung dengan kaki yang terjuntai ke bawah.


"L-lepaskan tangank-ku, Rissa!" lanjutnya dengan susah payah.


"Nngakh, Rion! nggakh akan pernah! jika kamu perghi, a-akkhu pun akan ikut bersamamu..." lelehan air mata keluar dari sudut mata.


"Aarrrrghhhhh!" kini hanya suara jeritan Rissa yang masih terdengar memilukan.


"Ridho, sekarang kamu harus cari Karla!" ucap Om Karan.


"Karla? buat apa?"


"Sudah lakukan saja, ini pesan dari pak Sarmin. Saya kesini juga karena pak Sarmin yang memberitahu!"


Papi Ridho ngangguk, dia manut aja udah. Tapi baru saja papi Ridho mau bergeser, tiba-tiba datanglah satu mobil.


Sesosok yang mereka cari, ternyata muncul sendiri. Entah angin apa yang membuat Karla beserta Dera datang ke sana.


"Rissa....! maafin mama, Sayang! hiks..." mama Karla menangis sejadi-jadinya saat melihat anaknya berada dalam sebuah pusaran dari kekuatan yang mungkin akan merenggut putri sulungnya.


"Kariissa," suara papa Dera bergetar, dia memegang dadanya yang sakit.


Wussshhhhhh!


Angin menghempaskan mereka semua saat sebuah asap hitam mulai mengelilingi pusaran angin yang menahan kedua sepasang anak manusia yang berkali-kali mengalami kejadian di luar nalar manusia.


"Arionnn, Ariooooon...!" mami Reva makin histeris, dia takut kehilangan anaknya lagi. Dia mencoba masuk ke dalam pusaran, tapi dicegah papi Ridho.


"Jangan, jangan korbankan diri kamu biar aku----"


"Tidak Ridho! biarkan kali ini Reva yang menolong anaknya..." kata Om Karan menyerobot ucapan seorang pria yang membulatkan matanya. Sedangkan mama Karla nangis sejadi-jadinya, saat melihat anaknya kesakitan


Papi Ridho menggeleng.

__ADS_1


"Ini perintah, Dho! kalung yang dipakai Rion sudah terkena mantra jahat. Dan hanya pengorbanan seorang ibu yang mampu mematahkan mantra jahat itu," kata Om Karan dengan tatapan serius.


"Ini perintah dari pak Sarmin. Kita lebih baik menurut, daripada kita tidak bisa menarik Rion kembali," lanjutnya.


"Apapun, apapun akan aku lakukan buat menarik Rion kembali," ucap mami Reva tanpa menghiraukan tangisan mantan temannya yang juga ada disitu.


"AKU AKAN MENDAPATKANNYA KEMBALIII..." suara menggelegar, dan tiba-tiba saja ada sesosok kepulan asap yang membentuk sebuah wajah seorang perempuan. yang ada di dalam pusaran. Cahaya yang biru kini berubah menjadi hitam.


"SESUATU YANG AKU INGINKAN< HARUS KUDAPATKAN...." ucapnya lagi.


"Dorothy?!" gumam papi Ridho, "Nggak, nggak mungkin! dia kan sudah terjebak di cermin ajaib!" lanjutnya.


"Waktu kita hanya sedikit, Ridho!" Om Karan menyela.


Pria itu menarik tangan mamiĀ  Reva, "Selamatkan anak kalian..."


"Kalian?" mami Reva memegang kepalanya yang sakit.


Om Karan mengangguk, karena dia membawa mami Reva mendekat pada mama Karla dan juga papa Dera.


"Kekuatan jahat itu akan bertambah kuat jika kalian masih memelihara rasa benci. Meskipun awalnya aku sangat kecewa dengan kenyataan bahwa keponakanku menikah dengan orang yang sudah mencoba mencelakainya tapi nyatanya kita tidak bisa memutus apa yang sudah Tuhan persatukan. Dorothy, telah memantrai pedang Rion, dia membagi dirinya ke dalam pedang itu sebelum dia tertarik dan masuk ke dalam sebuah cermin. Dia akan menjadi semakin kuat saat Rion mengalami serangan kebencian dan penolakan dari orang-orang disekitarnya. Harusnya Rion tidak membawa serta kalung itu bersamanya ketika keluar dari negeri dongeng itu,," ucap Om Karan.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? hiks, aku ingin anakku kembali..." ucap mam Karla.


"Dan kau juga Karla...." suruh Om Karan.


Sedangkan papi Ridho perlahan mendekat, dia jelas mendengar apa yang Om Karan katakan barusan.


mami Reva kini berdiri berhadapan dengan mami Reva sembali melihat ke arah sampingnya, dia ngeliat Rissa anaknya semakin melemah.


Om Karan menyatukan kedua tangan itu dan melilitkannya sebuah kalung berwarna hitam dengan liontin sebuah selongsong, "Ini adalah kalung kembaran milik Rion, dia akan membawa kalung yang satunya kembali. Dan itu akan membuat Rion merasakan sakit yang teramat sangat karena sebagian jiwa Rion sudah menyatu dengan kalung itu,"


Mami Reva yang disatukan tangannya dengan wanita bernama Karla Karenina pun hanya diam tanpa berkata apapun.


"Lebur semua kebencian diantara kalian, maka kalian akan mendapatkan anak kalian kembali. Setelah ini salah satu dari jiwa kalian berdua akan menembus pusaran itu dan yang satu akan menarik ketiga jiwa yang tersesat dalam gelombang kebencian," Om Karan menjelaskan.


"Pak Sarmin akan membantu kita dari jarak jauh. Sekarang satukan diri kalian, hapus benci dan kenanglah memori yang baik yang pernah terjadi..." Om Karan membuka telapak tangan mami Reva dan menutupnya dengan telapak tangan mama Karla.


"Pejamkan mata dan ulangi kata-kata ini, 'Aku memutus penderitaan atas mereka, jiwa yang penuh dengan kebencian. Aku akan memaafkan dan melupakan, kita akan bersama kembali dalam satu rangkaian dalam rasa syukur dan bahagia," perintah Om Karan.


Mami Reva dan mama Karla pun mengucaokan kalimat itu dengan mencoba membersihkan hati mereka, melepaskan rasa benci dan dendam yang mengalir kuat dalam darahnya.


"Aku memutus penderitaan atas mereka, jiwa yang penuh dengan kebencian. Aku akan memaafkan dan melupakan, kita akan bersama kembali dalam satu rangkaian dalam rasa syukur dan bahagia," ucap kedua wanita itu.

__ADS_1


Mereka merasa kalau ikatan di tangannya semakin kencang, sampai salah satu jiwa mereka keluar dan bisa melihat sosok tubuh yang berdiri tanpa bergerak.


"Arion, mami akan bawa kamu kembali, Arion!" jiwa mami Reva ternyata yang paling kuat, dia yang berhasil keluar dari raganya.


"Masuklah, Reva! tarik kalung itu dan pikirkan sebuah selongsong pedang, tutup jika sebuah pedang biru muncul di tanganku dengan selongsong yang ada di tanganmu yang lain! jangan buang waktu, bawa keluar anak beserta menantumu!" suara pak Sarmin jelas terdengar di telinganya.


Mami Reva pun nggak buang waktu, dia maduk ke dalam pusaran berwarna hitam.


"BERANINYA KAU MENGUSIK KESENANGANKU?!" suata Dorothy.


Sensasi menyengat dan sakit luat biasa dirasakan mami Reva, dia yang baru saja masuk melihat ke pergelangan tangannya yang dililit srbuah kalung dengan selongsong pedang.


Jiwanya yang berbentuk transparan, diserang oleh asap hitam yang kini menembus badannya, "Aaarrrrrghhh," ia menjerit.


Tapi mami Reva nggak putus asa, dia dengan memikirkan selongsongnya.


"Cepat lakukan, Reva. Karena aku sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya!" suara mama Karla yang sekarang terdengar di telinganya.


Sebuah selongsong sudah ada di tangannnya, "Sabar, aku juga sedang berusaha!" ucap mami Reva.


Dia melihat Rion maupun Rissa badannya mengambang, dengan kaki dan kepala yang menjuntai ke bawah, sedangkan wajah mereka melihat ke atas, "Maafkan mami, Rion! mami sayang kamu,"


Tangan mami Reva terjulur, dan mendapatkan sebuah kalung yang mengikat anaknya,tapi ketika dia akan menariknya.


Asap hitam berulang kali menembus badannya yang membuatnya begitu kesakitan, "Aaaaaaarrrrrrghhhhh!" mami Reva menarik kalung itu sampai terlepas dari leher Rion.


"Aaaaaarggggkkjhhhh!" mami Reva menjerit, saat tangannya tersengat sebuah kekuatan dari pedang cahaya biru yang hanya menyala namun terlihat bercak-bercak berwarna hitam


"AKU TIDAK AKAN MENGIJINKANMU MEMBAWANYA KEMBALI!" sosok asap Dorothy kini memenuhi pusaran itu.


"Sekarang, Revaaaaa!" kali ini suara pak Sarmin.


Mami Reva yang begitu kesakitan, dengan susah payah mempertangankan pedang di tangannya, dia kemudian memasukkan pedang itu ke dalam selongsongnya, "PERGILAH KE TEMPAT ASALMU!" mami Reva.


Perlahan selongsong itu pun bersinar terang, dia mengikis bercak hitam yang ada pada pedang.


"DASAR WANITA JAHAAANAAAAAM??!!" teriak Dorothy, yang kemudian berteriaaaaak.


Pedang itu tiba-tiba terlepas dari tangannya, dia terbang ke atas, menimbulkan sebuah gelegar petir yang menimbulkan kilat di langit.


"Ayo kita pulang, Sayang!" mami Reva pada Rion yang matanya memejam dan badannya mulai bergerak tegak namun masih mengambang begitu juga dengan Rissa.


Mami Reva melepaskan tautan anyara tangan Rion dan juga istrinya, dia menggantikan dengan tangannya. Kini mami Reva menariknya keluar.

__ADS_1


__ADS_2