Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
152. Jawaban Perasaan?


__ADS_3

"Kemana makhluk itu? apakah dia sudah pergi?" tanya Om Dera.


"Inshaa Allah sudah musnah, Om!" sahut Rion


"Jadi papa bisa ngeliat?" Rissa berdiri di samping.


Om Dera ngangguk, "Dia selalu mengikuti kemana papa pergi, Rissa. Dia berusaha mengambil jiwa papa, dan selalu itu yang dia ucapkan..."


"Tenang, Pah. Dia udah nggak ada, dia nggak akan bisa menyakiti papa," Rissa mengusap tangan papa nya.


"Apakah kamu yang melawannya, Arion?" tanya Om Dera.


Rion mengangguk, kali ini dia bangga banget sama dirinya sendiri, "Iya, Om! dengan seizin Allah..."


"Dia pasti menyulitkan mu, maafkan Om Arion. Om selalu membuatmu masuk ke dalam masalah," Om Dera dengan wajah yang merasa bersalah.


"Jangan bilang begitu Om, karena makhluk itu juga yang menggangguku di apartemen. Jadi kita memiliki musuh yang sama," kata Rion


Ya, makhkuk itu makhluk yang sama yang mengganggu Rion di apartemen maupun yang menarik Rissa ke dalam danau beku. Iblis itu bisa berubah wujud sesuka hatinya, menjadi sesuatu yang menakutkan tentunya.


"Pah ... Sekarang, papa fokus sama kesehatan papa. Karena lusa, jadwal operasi jantung papa..."


Mendengar jadwal operasinya, Om Dera bukannya seneng. Karena itu berarti kesempatannya buat sembuh akan semakin dekat. Ini malahan Om Dera kayak orang yang gelisah.


"Bagaimana kalau operasinya gagal?" ucapa Om Dera membuat kaget Rissa dan juga Rion.


"Loh, papa. Papa nggak boleh berpikiran buruk kayak gitu, Rissa bawa papa kesini buat kesembuhan papa. Dan yang menangani papa dokter yang handal," Rissa mencoba menjelaskan dengan lemah lembut.


"Semua kemungkinan bisa terjadi, Rissa..."


"Sejak kapan papa jadi pesimis begini? yang Rissa tau, papa itu orang yang selalu bersemangat dan punya keinginan yang keras. Ini kesempatan papa buat sembuh, Pah..." Rissa mencoba untuk tegar.


"Papa bukan tidak mau melakukan operasi ini, tapi papa hanya takut jika operasi itu gagal. Meskipun kemungkinannya kecil, tapi semua kemungkinan bisa saja terjadi. Kita tidak pernah tau takdir apa yang harus kita hadapi, Rissa..." Om Dera menangis.


"Papa hanya takut meninggalkanmu sebelum ada seseorang yang menjagamu, Rissa..." lanjutnya.


"Papa, papa nggak boleh bicara seperti itu..." Rissa mencoba menenangkan papa nya.


"Saya akan menjaga Rissa, Om! Om Dera tidak perlu khawatir,"


"Kalau begitu menikahlah dengan Rissa. Jagalah dia untukku, meskipun rasanya terlalu lancang aku meminta itu padamu. Berjanjilah untuk menjaga Rissa dengan seluruh jiwa mu, Arion..." ucapan Om Dera membuat Rissa dan Rion kaget

__ADS_1


Rion pikir hanya sekedar menjaga, belum sampai menjaga dalam arti yang sebenarnya


"Maksud, Om?!"


"Om tau kalau kalian berdua mempunyai sebuah ikatan batin yang kuat...." ucapan Om Dera sontak membuat Rion melihat sesosok wanita cantik di sampingnya.


"Jangan membohongi hatimu, Rissa. Papa tau, papa bukan yang baik untukmu. Tapi papa tau kalau kamu mencintai seseorang yang sulit sekali kamu gapai, dia Arion..."


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Rissa rasanya berdegub lebih kencang karena bisa-bisanya papa nya dengan lugas mengatakan hal yang dia sembunyikan dengan sebaik mungkin.


Sedangkan Rion yang dapat lampu hijau dari Om Dera pun nggak tau harus menggambarkan kebahagiaaannya saat ini.


Rissa kali ini menjawab ucapan papa nya, "Tapi, Pah ... kita berdua itu nggak mungkin---"


"Percaya sama papa, Rissa. Dia akan menjadi suami yang baik untukmu. Demgan begitu papa akan tenang, jika pun papa harus pergi dari dunia ini, kamu sudah berada di tangan yang tepat..." airata mengucur deras di kedua netra Om Dera.


Om Dera mengambil tangan Rissa dan juga Rion dan menyatukannya, "Menikahlah dengan anak, Om. Arion..."


"Saya akan menikahi Rissa, Om..." ucapan lantang keluar dari bibir Rion.


Rissa menatap pria dengan rambut cokelatnya, "Arion..."


Tapi Arion adalah Arion, disituasi seperti ini dia nggak bisa lagi mundur. Dia tau kalau dia belum mengantongi restu kedua orangtuanya, tapi bukankah jika mereka sudah menikah, mau nggak mau orangtuanya pasti akan bisa menerima Rissa?


Rissa dan Rion pun bergerak cepat. Mereka bertemu dokter, meminta jadwal operasi Om Dera agar diundur beberapa hari.


Setelah dapet kepastian hari operasinya yang berarti akan semakin bengkak biaya rumah sakit, tapi Rissa cuma bisa mengiyakan permintaaan papanya dan menganggap ini sebuah takdir yang memang sudah diatur Tuhan untuk dirinya.


Sedangkan Rion nelfon salah satu temen sebangkunya dulu waktu SMA yang dia denger sekarang kerja di kantor KUA, namanya Lukman. Dia memberi kode pada Rissa yang kini lagi mau makan di kantin rumah sakit, kalau dia mau nelfon seseorang terlebih dahulu. Rissa pun ngangguk, meng-iyakan.


"Halo? Man, ini gue Rion..." Rion agak menempelkan hape ke kupingnya.


"Oh ya, Rion! tumben lu nelpon gue?! gue kira elu udah lupa, gimana kabar?" Lukman langsung mencecar Rion dengan berbagai pertanyaan.


"Kabar baik. Lu gimana?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, baik juga. Gimana? apa yang bisa gue bantu?" tanya Lukman, karena dia yakin Rion meneleponnya pasti ada sesuatu hal yang penting.


"Emang lu temen gue! gue butuh bantuan lu, Ri...?!" lalu Rion pun mengatakan kalau dia minta tolong kalau dia butuh seorang penghulu buat menikahkan dia dengan seorang perempuan. Tapi Rion minta kalau Ari merahasiakan hal ini, pokoknya semua biaya akan dia tanggung, termasuk tiket pesawat dan biaya perjalanan.


"Wah, gilaaa sihhhh?!" Lukman cuma geleng-geleng kepala.


"Please, gue nggk punya waktu banyak, lu kabarin gue?!" kata Rion.


"Dan tolong, rahasiakan semua ini...." lanjutnya.


"Ya, nanti gue kabarin!"


"Besok, gue tunggu?!" Rion kemudian menutup telfonnya sebelum Lukman berteriak.


Rion menghampiri Rissa kembali, mereka menikmati makan siang bersama.


"Setelah ini aku aka pulang ke rumah, karena keadaan papa sepertinya sudah lebih baik," kata Rissa yang menyodorkan secangkir cokelat panas untuk Rion.


"Nanti aku antar," sahut Rion, dia mulai mengagkat cangkirnya dan menyeruputnya.


Rissa tersenyum sekilas, sebelum memulai pembicaraan lain, "Dan soal permintaan papa..."


"Aku serius, Rissa. Mungkin jalan cinta kita nggak semulus oranglain, banyak hal mengerikan yang harus kita lewati. Tapi satu hal yang aku tau, aku mencintai kamu. Dan kamu belum menjawab perasaanku, tapi nyatanya Tuhan nggak mau liat hatiku tersiksa. Makanya Tuhan langsung memberikan jawaban dengan sebuah permintaan dari papa kamu..." Rion menggenggam tangan Rissa.


"Atau kamu sudah menyukai orang lain? Thomaa misalnya?" Rion menatap kedua bola mata Rissa.


"Bukan, bukan karena itu. Aku dan kak Thomas sudah menjalin hubungan yang baik, bahkan aku sudah menganggapnya seperti kakak sendiri," kata Rissa.


"Syukurlah kalau kamu nggak ada perasaan sama dia, aku lega banget jadinya!"


'Denger nih Thom? Rissa cuma nganggep elu kakaknya, nggak lebih...' Rion pengen banget Thomas denger yang diucapkan Rissa.


"Aku menunda jawaban itu, karena tadinya aku ingin fokus pada kesehatan papa. Tapi ternyata papa lebih tau perasaanku daripada aku sendiri," kata Rissa.


"Jadi aku dan kamu juga punya perasaan?" tanya Rion.


Rissa mengangguk setengah menunduk.


"Aku akan usahakan mengurus semuamya secepatnya," Rion berusaha meyakinkan wanitanya.


Tapi pernikahan bukan untuk main-main, Rion jelas tau itu. Hubungan ini akan ditentang, ya udah pasti.

__ADS_1


Namun, kali ini tekad Rion udah bulat, dia akan memperjuangkan cintanya. Meskipun hati mami nya pasti akan terluka.


'Maafin Rion, Mam?!' batin Rion.


__ADS_2