Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
95. Invisible


__ADS_3

Misi penyelamatan pun dimulai...


Papi ridho dan Rion bergegas naik ke atas. Mereka setengah berlari, tentu dengan menjaga suara langkah supaya nggak terkesan kedebag-kedebug.


Hati Rion berdebar-debar saat semakin dekat dengan tempat dimana Rissa ditawan. Setelah sekian purnama terpisah, akhirnya mereka bakal ketemu juga.


Sampai ujung tangga paling atas, mereka nemuin sebuah ruangan yang terkunci, "Ini pasti ruangannya!" tebak Rion.


Papi Ridho nggak banyak kata, capcus nyocokin satu persatu kunci supaya bisa ngebuka tuh pintu.


Klek!


Cocok, cakeup!


"Rissa?!!!" seru Rion dan pas dibuka .... eng ing eng...


Sementara Rissa yang lagi disekap dengan kaki dan mulut yang tertutup, mendengar samar seseorang yang familiar.


'Apa itu Rion?' batin Rissa.


Puteri Odellia, lagi ngelamun. Walaupun Defne berusaha melepaskan ikatan tangannya, puteri Odellia nggak bergeming. Air matanya terus meleleh, dia menyebut nama sang ratu terus menerus.


'Astaga, kenapa tali ini sulit sekali untuk ditarik?!' Rissa mulai lelah, sementara tangan gadis dibelakangnya terus berusaha. Udah gitu aja sampe lebaran haji taun depan.


"ERrrrghhhh!!!" Defne berusaha menyadarkan sang puteri yang lagi menggalau.


Rissa tau apa yang dirasakan sang puteri, tapi please ini bukan saatnya menangisi masa lalu dan nyerah gitu aja. Ini saatnya berjuang sampai tetes terakhir, eh begitu bukan sih istilahnya? kalau salah moon maap!


Sedangkan papi Ridho dan juga Rion tadi salah buka ruangan. Yang mereka buka itu seperti ruangan serbaguna. Tempat nyimpen sapu-sapu yang tinggi, mungkin buat ngilangin sawang. Sekarang mereka ada di depan sebuah pintu yang bersebrangan dengan ruangan yang mereka buka tadi.


"Ya ampun, yang mana sih kunci yang cocok?!" papi Riho ngecek satu persatu kunci yang bentukannya sama semua. sampai puyeng nentuin mana yang udah dicoba mana yang belum.


"Yang itu kan udah papi coba, ganti yang lain, Pih?!' protes Rion.


"Kuncinya sama semua RIon?! Papi ulangi lagi dan kamu bantu pegangain, jadi ketauan mana yang udah dicoba mana yang belum!" suruh papi.


Mereka nggak mau berdebat, intinya mereka mau fokus aja nyobain semua kunci.


"Tinggal dua lagi," papi mulai pesimis, tapi nggak boleh. Papi Ridho harus tetep tenang supaya Rion juga nggak ikutan panik.


Satu di coba...


Klak klek...


Gagal!

__ADS_1


Tinggal satu lagi, papi Ridho dan Rion saling berpandangan. ya, ini kunci satu-satunya harapan mereka.


Papi Ridho menarik nafas dalam, sebelum memasukkan kunci terakhir yang mereka miliki, "Bismillah..." papi Ridho ngeri-ngeri sedap dia terdiam sesaat sebelum menerima kenyataan kalau....


Kunci terakhir merupakan kunci yang cocok dengan pintu ini.


Klekkk, klekk...!


Papi Ridho memutar kunci ke arah kanan, seketika ada cahaya harapan yang menyinari hatinya. Perlahan dia tarik handle pintunya, dan alhamdulillah bisa terbuka.


Tapi kosong...


"Nggak mungkin! hanya ada dua ruangan di menara ini, nggak mungkin kalau kita salah ruangan lagi..." kata Rion panik.


"Atau kita sebenernya dijebak gadis itu?" lanjutnya.


Rion udah mulai negatif thingking, banyak hal yang berkecamuk di pikirannya. Dia cuma ngeliat dua pilar dengan ruangan yang kosong melompong nggak apa-apa.


Sedangkan Rissa yang melihat Rion masuk, nggak percaya. Dia berusaha berteriak, namun papi Ridho maupun Rion hanya celingukan kayak orang bingung. Mereka nggak langsung berlari dan cepet membebaskan Rissa dan juga yang lainnya.


'Kenapa? kenapa Rion kayak orang bingung? apa dia nggak bisa ngeliat ada aku disini?' batin Rissa yang selain melihat Rion yang diem di tempat, dia juga ngeliat raut panik dan kekecewaan dari pemuda tampan yang mirip sama papi nya itu.


"Arrrghhh?!!" Rion memekik dia meninju angin.


Papi Ridho dia melihat ke sekelilingnya, 'Aku yakin ini pasti tempatnya!' batinnya.


Sedangkan puteri Odellia yang ngeliat orang yang disukainya datang menjemput pun seketika tersadar dan berteriak, "Arioooon?!!"


Melihat ada binar lain di wajah puteri Odellia, Rissa jadi yakin kalau sang puteri menaruh rasa pada Arion.


Papi Ridho sayup-sayup mendengar suara bisik di telinganya, "Ridho ... Ridhooo? kamu mendengar suara Bapak?" suara paruh baya yang selalu membantunya.


"Iya pak haji, Ridho dengar?!" ucap papi Ridho dengan pandangan sekarang fokus pada satu titik, menunggu apa yang akan dikatakan pak sarmin setelah ini.


Sedangkan Rion yang denger papi nya ngomong sendiri pun sontak menengok.


"Ridho, mereka ada di tempat itu!" kata pak Sarmin.


"Dimana, Pak? karena saya sudah ada di atas menara tapi mereka nggak ada,"


"Ada, mereka ada disitu, terikat di kedua pilar itu. Wanita itu cukup cerdik. Dia menyelimuti mereka dengan sihir," jelas pak Sarmin.


Papi Ridho mengangguk, dia tau apa yang harus dilakukannya.


"Rion, mereka terikat di kedua pilar itu," ucap papi Ridho menunjuk kedua pikar yang berdiri menopang bangunan ini dengan sangat kokoh.

__ADS_1


Papi Ridho dan Rion mengangguk kompak, seakan satu pikiran mereka saling terkoneksi.


Rion mengeluarkam liontim berbentuk pedang dan melemparkannya ke atas, "Pedang Cahaya!" seru Rion dengan volume yang diminimalisir.


Dan sebuah pedang meluncur dari atas, Rion dengan sigap menangkapnya. Dia mengayunkan pedangnya ke atas membentuk pusaran energi biru yang sangat kuat, "Arrrghh!" Rion memekik, tangannya di buka ke samping, seketika cahaya biru berpendar.


Taaaarrr!


Cahaya biruemecah aesuatu yang tadinya nggak terlihat oleh mata keduanya.


Sementara papi Ridho dan Rion naik atas menara, Anna cepetan nyiapin makanan buat nyonya. Budeg juga kalau si Deodorant nyap-nyap tengah malem begini ya kan?


Tok!


Tok!


'Semoga saja dia tidak sadar jika kunci itu tidak ada,' batin Anna.


Ceklek!


Anna membuka pintu dengan sangat hati-hati.


"Makananku ternyata sudah datang!" ucap Dorothy penuh makna.


Gadis kurus namun cekatan itu, mengambil meja yang akan digunakannya untuk menyajikan makanan. Sedangkan Dorothy duduk di tempat tidurnya dengan punggung yang disanggah bantal.


Dalam hati Anna udah gusar soalnya bantal yang dipakai Dorothy, bantal yang nutupin segerombolan kunci yang dia angkat.


"Makan malam anda, ratu..." Anna sopan, di mundur beberapa langkah setelah menaruh makanan sang nyonyah.


"Siapkan semuanya!" ucap Dorothy.


"Baik, tapi anda harus melepaskan Alfrida terlebih dahulu. Anda sudah berjanji padaku, jika aku bisa menjebak puteri Odellia maka ratu akan melepaskan Alfrida, dan membiakan kami hidup dengan tenang," ucap Anna.


"Ya, tentu saja!" ucap Dorothy yang melihat tangannya mulai menunjukkan urat-urat berwarna biru.


"Tentu saja aku mengingatnya, namun aku sudah mendapatkannya. Bagaimana bisa aku mengembalikan sesuatu yang sudah ku dapatkan?" lanjutnya.


"Kau---" Anna tercekat saat melihat tatapanĀ  Dorothy.


Anna mengatur napasnya sebelum ngomong lagi, "Anda tidak melakukan itu, ratu! karena anda sudah berjanji padaku..."


"Oh, ya?" Dorothy menaikkan satu sudut bibirnya ke atas, lalu dia mengiris daging yang ada di piringnya, dan memasukkannya ke dalam mulut. tentu hal itu nggak luput dari pandangan Anna.


Mata Dorothy melirik ke kanan dan ke kiri sat merasakan sesuatu yang aneh, lalu dia menatap gadis yang menyajikan makanan untuknya.

__ADS_1


Braaaakkkk!!


"Sialan!!!!" teriaknya saat mengetahui sesuatu.


__ADS_2