
Rumahnya bu Wati yang jauh di perkampungan membutuhkan waktu berjam-jam buat menjangkau rumahnya Dera Prayoga, mantan suami anaknya.
Mereka nggak sempet mampir-mampir sekedar buat beli minum atau cemilan, wes pokoke digaspol terus itu mobil.
"Biyung nggak mau berhenti dulu? kita beli minum atau apa," kata tante Karla yang sebenernya sayang banget kok sama Biyung, dan nggak mau bikin ibunya itu darah tinggi. Tapi mau gimana lagi, dia selalu dikelilingi orang-orang dimasa lalu yang bikin dia nggak bisa move on.
"Biyung?" tante Karla manggil lagi.
"Nggak usah. Biyung punya firasat yang nggak enak, lebih baik kita langsung aja ke tujuan. Rumahnya Nak Dera," kata bu Wati.
Tante Karla udah manut aja apa kata ibunya, dia tau banget kalau firasat Biyungnya ini sangat tajam. Jadi ketika dia bilang nggak mau mampiur, ya udah diturutin ajah. Untung mobil nya ini mobil mahal, yang nggak bakalan pegel walaupun duduk lama.
Sampai akhirnya mereka sampai di rumah yang mereka tuju tepat setelah adzan maghrib berkumandang.
"AAAAAArrrgghhhhhhh!!!" suara teriakan terdengar dari luar.
Biyung dan Karla secepatnya keluar.
"Tolong panggilkan ustad atau pak kiyai!" kata bu Wati.
Sementara orang suruhan Om Dera Prayoga mempersilakan kedua orang itu untuk masuk dulu.
"Bik, Bik Sumi...?!" seru Andi.
"I-iya, Pak..." bik Sumi bukain pintu.
"Ibu....?" bik Sumi kaget, namun sesaat kemudian dia mempersilakan mantan majikannya untuk masuk.
"Saya mau panggil pak kiyai dulu!" kata Andi, dia langsung cuss pergi. Sedangkan Biyung dan juga tante Karla masuk ke dalem dan mereka berlari menuju arah suara teriakan tadi.
"AAAAAArrrghhhh, pergi...??!!!! jangan ganggu akuuu....?!!" teriak Om Dera.
"Nak, Nak Deraaa ... ini Biyung, Nak?!!!" seru bu Wati.
"AARRRRRRRRGhhhh, sana pergi!! pergiii kalian!!!'
Praaaangggg...!
Kali ini bukan hanya suara teriakan tapi ada suara benda-benda jatuh.
"Mas? Mas Drraaaaa?? buka pintunyaaaaa?!!" kali ini tante Karla yang tereak. Tapi pintu yang emang dikunci dari dalem, dan mereka bertiga semua perempuan ya nggak ada yang bisa ngedobrak.
"RRRGHHHHHHHh, sanaaa pergi sanaaaaa!!!" tereak Om Dera,
"Stress nih orang..." gumam tante Karla.
"Karla....." bu Wati menatap tante Karla, dia menggeleng. Tandanya dia nggak suka dengan ucapan yang terlontar dari mulut anaknya itu.
__ADS_1
Dan yang ditunggu pun datang, "Ibu ... pak kiyai nya sudah datang,"
"Assalamualaikum," laki-laki paruh baya yang bersama Andi mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam," sahut bu Wati dan juga Karla.
"Waalaikum salam pak Rusli," bik Sum dengan wajah khawatirnya.
"Andi sudah mengatakan semuanya," kata pak Rusli.
Praaaaanggggg!
"Harrrrrrrghhhh, harrrrrgghhhhh?!" teriakan Om Dera kedengeran lagi.
Andi yang emang badannya lumayan berotot, mencoba mendobrak pintu, tapi baru juga ancang-ancang tante Karla bilang gini, "Biar saya yang buka!"
"Tapi, Bu ... pintu ini sangat keras, ibu tidak akan kuat mendobraknya!" kata Andi.
"Siapa bilang saya mau ngedobrak? nih saya punya kuncinya!" tante Karla menunjukkan sebuah kunci yang dia juga baru inget kalau masih nyimpen kunci kamar yang pernah menjadi miliknya.
Dan dengan segera, tante Karla memasukkan kunci itu dan memutarnya. Masih untung kuncinya belum diganti jadi sekarang pintu bisa dibuka.
Dan terlihat Om Dera yabg lagi meringkuk di salah satu sudut dengan keadaan kamar yang semrawut bin acakadul.
Pak Rusli pun segera mendekat pada Om Dera, dia segera membacakan doa sebelum memegang tangan Om Dera.
PLAKK!
PLAKK!
"Sadar kamu, Mass!" bentak tante Karla.
"Astaga, Karla!" bu Wati meraih tangan anaknya dia menarik tante Karla menjauh dari Dera yang udah keliatan kayak orang ketakutan.
Pak Rusli yang udah tau permaaalahan apa yang dihadapi Om Dera pun hanya bisa mengucapkan doa dalam satu tarikan nafas, "Bismilaaaaaah..." pak Rusli mengusapkan tangannya pada mata Om Dera yang melotot dengan bibir yang bergetar.
Dan sesaat kemudian Om Dera pingsan.
"Karla, jika kamu tidak bisa menahan emosi kamu. Lebih baik kamu keluar saja,"
"Tapi gara-gara dia, Rissa jadi ilang, Biyung?!! dia pantas mendapatkan karma dari apa yang dia sudah lakukan!" tante Karla udah enek banget ngeliat muka mantan suaminya.
"Sudah, sudah. Kamu keluar saja, Karla..." bu Wati menyuruh anaknya untuk keluar dari kamar, daripada bikin suasana tambah riweuh.
Bu Wati balik lagi nyamperin Om Dera yang sekarang udah digotong di tempat tidur, pak Rusli masih melafalkan doa-doanya. Segurat rasa sakit keliatan di wajah laki-laki yang dulunya gagah dan menarik, kini terlihat lebih nggak keurus.
"Istighfar, Pak. Minta ampun pada Allah, Pak..." kata pak Rusli, sembari menuntun Om Dera mengucapkan istighfar.
__ADS_1
"As----"
"Astaghfirullaahal'adziim..." pak Rusli melanjutkan kalimat yang nggak bisa diucapkan Om Dera.
Beberapa kali Om Dera kesusahan, matanya masih terpejam, tapi pak Rusli yakin kalau laki-laki yang di depannya ini bisa mendengar suaranya.
Sosok menakutkan selalu membayang-bayangi Om Dera, dia gagal mendapatkan keduanya, Rissa maupun Rion. Makanya, sosok itu seperti menghantui Om Dera, dan itu sukses membuat pria itu mengunci diri di kamar.
"Astaghfirullaaaaaahhh..." Om Dera teriak dengan mata yang terbuka.
Dan setelah beberapa doa dipanjatkan kiyai Rusli, sekarang Om Dera pun bisa tenang.
"Alhamdulillah..." pak Rusli keliatan capek banget, kayak orang yang abis nyangkul di sawah.
"Maaf, Bu. Sepertinya, pak Dera ini melakukan perbuatan musyrik. Dia melakukan perjanjian dengan iblis," kata pak Rusli lirih, bu Wati pun mengangguk.
"Saya sudah tau, dan saya minta tolong supaya pak kiyai bisa membantu Nak Dera supaya lepas dari jeratan para iblis itu,"
"Saya tidak yakin ini akan berhasil, tapi saya akan mencobanya. Karena kembali lagi, semuanya atas kehendak Allah SWT," kata pak Rusli.
Setelah keadaan Om Dera tenang dan dia tertidur, bik Sum dan Andi memberaihkan kmaar yang udah nggak tau lagi bentukannya.
Sedangkan bu Wati dan juga pak Rusli keluar untuk menemui tante Karla.
"Karla, sepertinya Biyung tinggal disini dulu, kondisi Nak Dera tidak memungkinkan buat ditinggal,"
"Rissa aja belum ketemu, Biyung? masa iya kita ngurusin dia?" tante Karla nggak setuju.
"Tentu kita akan mencari Rissa dengan bantuan pak Rusli. Kamu pulang saja, Kalila pasti membutuhkan kamu di rumah. Kasian dia..." kata bu Wati.
Tante Karla menganggguk, dia juga empet ngeliat mantan suaminya yang udah berani-beraninya bersekutu dengan iblis., alhirnya dia milih buat pulang ke rumah.
Sementara di tempat lain, mami Reva lagi duduk anteng di mobil, di samping suaminya yang lagi nyetir. Dan Thalita duduk di jok belakang.
"Sebentar lagi kita sampai," papi Ridho membuyarkan lamunan istrinya.
Mobil mereka kini masuk ke dalam parkiran supermarket yang nggak terlalu besar. Karena papi Ridho emang niatnya bukan ngajakin istrinya ngemall tapi cuma beli buah segar dan juga cemilan buat orang-orang yang mereka undang pengajian di rumah.
Dan mereka bertiga keluar dari mobil dan udah langsung cuss markicuss masuk ke area supermarket.
Perasaan papi Ridho makin nggak enak, tapi dia berusaha menyembunyikan itu dari istrinya yang lagi dorong trolley sama Thalita.
Dia cuma jalan di belakang kedua wanita yang kini berhenti buat milih jeruk.
"Jangan pilih yang kisut bin keriput, Sayang..." mami Reva nyeletuk dan itu bikin Thalita ketawa.
"Yang mulus kayak gini, Tan?" tanya Thalita.
__ADS_1
Sedangkan papi Ridho memegang dadanya, 'Semoga nggak ada hal buruk yang terjadi sama Rion!'