
Ada sesuatu yang lain yang Rion rasakan...
Rion menjauhkan dirinya dari Rissa. Dia memegang dadanya sendiri, tepat di liontin yang terpasang di kalung yang selalu dia pakai.
Rissa yang ngeliat gelagat aneh dari Rion pun akhinya bertanyeak-tanyeak, "Ada apa? apa terjadi sesuatu?"
Rion menggeleng.
Pria yang tadinya memeluk Rissa dengan posisi tiduran, sekarang duduk dan menuulurkan kakinya ke lantai. Rion mencoba mencerna kenapa kalungnya terasa dingin sedingin es. Dia sampai harus menjauhkan liontin itu dari kulitnya, "Shhhh, hah!"
"Liontin ini..." Rion segera melepaskan kalungnya.
Rissa yang alhamdulillah nggak awut-awutan pun ikutan duduk di samping Rion yang melepaskan dan melihat liontinnya mengeluarkan cahaya, "Ada apa dengan liontin itu?"
"Nggak tau..." Rion melihat dengan seksama liontin yang mengeluarkan cahaya biru lalu meredup sesaaat, kemudia bercahaya lagi.
"Tapi tadi aku ngerasa kalau liontin ini dingin sedingin es," kata Rion.
"Atau mungkin ada sesuatu yang akan terjadi?" Rissa menerka.
"Atau mungkin liontin ini nggak suka kalau aku menciummu seperti tadi?" ucapan Rion membuat desir-desir lain di hati Rissa. Yeuh Rion, emang bener-bener lu yak titisan soang! situasi lagi nggak kondusif masiiiih aja ngegembel, eh ngegombal!
Melihat istrinya yang malu-malu meong, Rion pun menarik kedua sudut bibirnya. Wajahnya kembali serius saat melihat kalungnya,"Apa ini pertanda sesuatu? karena selama kalung ini aku pakai, belum pernah dia menyengat seperti tadi,"
Kedua bola mata Rissa pun melihat ke arah kalung yang diangkat sejajar dengan wajah mereka, "Mungkin sebaiknya kalung ini jangan kamu pakai dulu. Kita menunggu mungkin ada yang ingin disampaikan kalung ini,"
Rion mengangguk, "Ya! aku akan menyimpannya!"
"Aku akan mandi dulu, setelah itu baru aku akan masak buat kita makan malam," Rissa pun berdiri namun lagi-lagi tangannya ditangkap Rion.
"Kita belum selesai," ucap Rion yang lagi-lagi membuat semburat rona di wajah Rissa.
Rion menunjukkan kalungnya, " Ini enaknya disimpan dimana?" tanya Rion.
__ADS_1
Gubraaaakkkk!
Rissa pun langsung 'Krik krik krik kriik'
Setelah menyepakati tempat yang dirasa aman untuk menyimpan liontin pedang, Rissa mandi dan lanjut masak. Kalau Rion dia cuma duduk sambil ngeliatin sosok istrinya yang berbanding terbalik sifatnya dengan dirinya apalagi sama mami nya.
"Baunya aja udah bikin laper!" kata Rion.
"Kamu udah laper? benta ya, ini hampir selesai kok..." Rissa melayangkan senyumannya.
Sedangkan Rion sebenernya masih mikirin tuh liontin, kenapa dia seakan menyerang dirinya setelah beberapa saat yang lalu kekuatan pedang itu seperti melemah.
"Kamu mikirin apa?" Rissa nanya saat menghidangkan satu piring nasi goreng di hadapan Rion.
"Nggak kok, aku cuma mikirin kalung. Tapi nanti aja kita bahas, sekarang waktunya kita makan malam, sebelum makan-makan yang lain..." lagi-lagi ucapan Rion membuat arti tersendiri.
"Makan buah maksudnya..." Rion dengan segera melanjutkan.
"Aku ambil piring satu lagi," Rissa pun beranjak, dia mengambil satu piring nasi goreng lagi buat dirinya.
Pasangan pengantin baru itu pun makan dengan tenang.
"Enak!" Rion memuji apa yang disajikan untuknya. Satu kata itu mampu membuat hati Rissa ber-flower-flower seketika.
Setelah makan malam yang membuat lidah Rion dimanjakan dengan sesuatu yang enak, Rion bantuin Rissa buat bersih-bersih dapur dan cuci piring. Dia kasian juga itu sama istrinya, udah capek-capek masak harus cuci piring dan segala perintilan yang habis dipakai pula.
Rion dan Rissa berbincang sesaat di ruang tivi, Rion mengelus kepala Rissa yang kini tiduran di paha nya. Mereka nonton tivi tapi pikiran mereka mikirin hal yang berbeda, Rion mikirin kalungnya sedangkan Rissa mikirin papanya.
Tangan Rion yang ngelus-ngelus kepala Rissa, membuat wanita itu makin lama makin ngantuk dan akhirnya tertidur.
"jadi gini caranya bikin kamu nyaman?" senyum Rion mengembang. Ternyata ketika dia jujur dengan perasaannya, itu membuat hidupnya lebih bahagia dari sebelumnya. Meskipun ada beban lain yang harus dia tanggung, rasa kecewa dari kedua pihak keluarga yang masing-masing nggak mau berdamai apalagi bersatu menjadi satu keluarga.
Melihat istrinya udah tidur pules, Rion mengangkat tubuh Rissa buat dia pindahin ke kamar. Dia meletakkan Rissa dengan sangat hati-hati, sedangkan dia sendiri ke kamar mandi buat ambil air wudhu.
__ADS_1
Dia selalu ingat apa yang diajarkan papinya, ketika hati sedang gundah gulana, ataupun pikiran ruwet nggak karuan, obatnya cuma mengadu pada yang maha kuasa, pemilik alam semesta. Sedangkan di sebuah laci, liontin pedang cahaya biru kembali mengeluarkan cahayanya tanpa Rion ketahui.
Di sisi lain, Thomas yang mimpinya direnggut dan dihancurkan oleh sahabatnya sendiri ngerasa kalau ini patah hati terberat yang pernah dia rasakan. Bukan karena Rissa yang nolak dia, tapi karena ketikung temen sendiri.
"Begitu banyak cewek di dunia ini, kenapa elu suka sama Rissa? temen macam apa elu Rion?!" Thomas kesal.
Tapi pria itu mencoba menenangkan dirinya sendiri, "Kayak gini ya rasanya, kalau nggak jodoh diapain juga nggak bakalan jodoh!" Kali ini pria itu menertawakan dirinya sendiri.
Beberapa hari ini mood-nya kacau banget, sampai lumayan ngeganggu kerjaan dia yang harus tetap ramah dan menyenangkan saat bertemu dengan para client.
Tanpa Rion ketahui, iklannya hari ini duah di launching di negaranya sendiri dan orang yang pertama kali melihat itu Eza.
"Sebenatr-sebentar, mata gue nggak siwer kan ya?!" Eza ngucek matanya saat nggak sengaja ngeliat iklan yang ada di tivi pas dia lagi selesai syuting makan-makan.
"MEEEEEEt, SLAMEEEET!" Eza narik Slamet yang lagi makan bareng team. Soalnya mereka pesen makanan banyak, dan nggak mungkin juga kalau dia makan berdua dengan parner artis yang syuting acara itu.
"Meeeeeeet?!!" Eza narik Slamet lagi.
"Apaan, sih?!"
"Met itu liat met?!! itu bukannya ARion temen kita, Met....!!" Eza histeris.
"Dia ada disini? mana? mana? mana?" Slamet celingukan.
Eza nangkep kepala Slamet yang tengak-tengok, " Bukan disama semprul?! noooh, ditipiiiiiii..." Eza gemes.
Slamet yang lagi makan udang jumbo, pun melongo saat ngeliat temennya sendiri sekarang jadi model iklan sebuah produk spre, " Sejak kapan dia ramah di kamera?" Slamet melongo, iklan itu seperti menghipnotisnya.
Dan dia baru menyadari kalau ada bau-bau terasi di deket hidungnya, "Tangan elu onyeeettt!!! dasar lucknut"Slamet nyingkirin tangan Eza yang bekas sambel belum tapi cuci tangan.
Satu team yang udah hafal kelakuan artis dan manager yang merangkap asisten itu cuma ngeliat sambil geleng-geleng kepaa, ngeliat tuh dua orang ribut bae kerjaannya.
Dan disaat yang bersamaan namun berbeda tempat, mami Reva yang biasa lagi jam-jam nonton Ftv pun geratakan cemilan di toples. namun tangannya berhenti saat mendengar suara dari benda beukuran besar dan pipih yang menampilkan gambar bergerak, "Kayak kenal suaranya..." mami Reva segera mengalihkan pandangannya dan....
__ADS_1
"Anak bujangkuuu??' pekiknya saat melihat Arion yang membintangi sebuah iklan.