
Di dalam sebuah kastil.
Rissa bingung mondar mandir bae di dalam kamarnya puteri Markoneng, Puteri Odellia ya maksudnya. Mau baca buku juga nggak ada komik, mau nonton gosip juga nggak ada tivi. Beneran hampa bener nih hidup nya puteri Odellia. Pantesan aja tuh, ketika ngeliat Rissa, dia bukannya was-was atau takut ya, ini malah timbul ide buat dimanfaatin buat dia kabur keluar istana.
Lagi bengong-bengong nggak berfaedah, tiba-tiba Maria nongol. Dia bilang kalau ada pangeran Clift pengen ketemu. Rissa yang kenal juga nggak sama pangeran Clift, nolak pertemuan itu. Meskipun sedikit banyak puteri Odellia udah kasih kisi-kisi alias clue apa yang harus dia lakuin, tapi tetep aja. Rissa ini bukan seorang actrees yang udah berkali-kali menangin penghargaan, dia nggak bisa nyamar sebagai Odellia.
lah kan elu dulu nyamar tuh jadi Lorenza, adik sepupunya Adam waktuketemu sama Rion? Lah kan itu beda cerita, Markonaaaah. saat Rissa menyamar menjadi Lorenza, dia memakai sihirnya untuk memperdayai Adam, supaya di mata Adam, Rissa ini keliatannya ya Lorenza, adik sepupunya yang sebenernya tinggal di luar negeri.
Dan ditambah lagi Rissa ini cenderung introvert ya, jadi tambah susah lagi dia buat meranin Odellia yang ceria dan srudag-srudug karena Rissa pembawaannya lebih tenang dan misterius. Dan inilah yang bikin Rion mendadak jadi soang akhir-akhir ini.
"Rissa, pangeran Clift sudah menunggu...."
Rissa menggeleng, "Aku takut dia curiga. Katakan saja kalau puteri Odellia sedang tidak ingin diganggu..."
"Pangeran Clift itu sebenarnya baik, hanya saja puteri Odellia yang kurang menyukainya," kata Maria.
"Benarkah?"
"Temui saja dulu, Rissa. Setelah itu baru kau bisa beralasan kau akan melukis atau apapun itu. Mungkin kau bisa mengatakan kau ada pelajaran memanah atau pun alasan lain, seauai keinginanmu..." kata Maria.
"Tapi, kau akan selalu berada di dekatku kan Maria?" Rissa memandag Maria, pelayan itu mengangguk.
"Baiklah, dimana aku harus menemuinya?" tanya Rissa.
Dan akhirnya dngan sangat terpaksa, Rissa pun menemui pangeran Clift di ruangan khusus menerima tamu. Ruangan luas yang dilengkapi dengan barang-barang antik.
Tak!
Tak!
Tak!
Suara langkah Rissa terdengar di telinga pria yang berdiri membelakanginya. Setelah beberapa langkah semakin dekat, Maria pun berucap, "Puteri Odellia sudah datang, Pangeran..."
Pria itu lantas memutar badannya dan melihat Rissa yang saat ini sedang menyamar sebagai puteri Odellia pun menatapnya dengan tatapan lain, sampai dia lupa berkedip.
"Pangeran...." ucap Maria menyadarkan pangeran Clift seketika.
Pangeran Clift maju dua langkah kemudian memberi salah dengan menyentuh dada kirinya dengan tangan kanannya, dia menunduk sedikit memberi hormat, "Selamat pagi, puteri Odellia..."
"Selamat pagi, pangeran..." Rissa menyahuti ucapan pangeran Clift.
__ADS_1
Tanpa memandang pelayan yang berdiri di samping puteri Odellia, pangeran Clift meminta Mari untuk meninggalkan mereka berdua, "Maria bisakah kau memberi waktu kami berdua untuk sekedar berbincang?" tanya pangeran.
"Tapi pangeran----" Maria memandang Rissa.
"Aku tidak akan membawa kabur puteri Odellia, percayalah...." serobot pangeran Clift,
Sedangkan mata Rissa membulat saat Maria mundur beberapa langkah, "Maria..." lirih Rissa.
tapi nyatanya Maria juga nggak berani melawan perintah pangeran Clift, dia sangat paham ketegasan pria itu. Bahkan petir saja jika disuruh jangan jedar-jeder terus, dia bakalan nurut. Nggak akan berani menolak perintah dari pangeran Clift. Yeuh emang si Maria telenopela, janjimu janji palsu.
"Sepertinya kau sangat berbeda pagi ini, Puteri?" tanya pangeran Clift.
"Benarkah? tapi aku merasa biasa saja," kata Rissa mencoba untuk tidak kaku.
Pangeran Clift mendekat, tapi Russa berusaha mundur selangkah, "Ehm..." Rissa merasa tenggorokannya sangat kering kerontang.
"Kenapa? tidak biasanya raut wajahmu seperti itu?" tatapan mata pangeran Clift seakan menuduh 'Siapa kau sebenarnya?!!'
"Ehm, mungkin hanya perasaanmu saja..."
"Atau mungkin karena kau mengubah warna rambutmu menjadi lebih gelap?" tanya pangeran.
Pangeran Clift mendekat, dia berdiri di samping Rissa, "Bagaimana kalau pertunangan kita dipercepat?"
"APAAAAA??!!" Rissa terkejut dengan ucapan pangeran ganteng di sampingnya, dia auto nengok dengan wajah yang ngggak bisa dikondisikan.
"Kenapa kau begitu terkejut puteri? bukankah kita sering membicarakan hal ini?" alis pangeran ganteng naik satu.
"Aku ... aku tidak berniat menikah muda, cari saja gadis lain yang----"
"Tidak ada gadis lain, aku hanya menginginkan dirimu," kata pangeran Clift.
"Aku tidak suka dipaksa!" Rissa mencoba menolak seperti halnya Odellia yang cenderung blak-blakan.
Namun kejelian pangeran Clift nggak bisa diragukan, dia yang ahli dalam strategi perang pun menyadari sesuatu yang aneh dengan puteri yang ada di hadpannya. Odellia yang selalu terlihat ketus, hari ini terlihat lebih adem kayak taman surga begitu. Dalam hati sih pangeran Clift pasti seneng lah dengan perubahan dari sag pujaan hatinya. Tapi dibalik rasa senang itu ada kecemasan tersendiri. Pangeran Clift pun ngerasa aneh dengan perasaannya yang cenderung menaruh curiga pada puteri Odellia.
Pangeran Clift hanya terdiam melihat wajah puteri Odellia, dia malah tersenyum.
"Kenapa? apa ada yang aneh denganku?" tanya Rissa, dia mencoba menjadi Odellia KW.
"Tidak ada...." Pangeran Clift menaikkan sudut bibirnya.
__ADS_1
"Hanya saja aku ingin mengajakmu berkuda besok pagi," lanjutnya.
"Aku tidak mau,"
"Kau harus mau!"
"Aku tidak suka kuda!"
"Nanti kau kan menginginkannya!" Pangeran Clift setengah mekso.
"Kau sungguh tidak jelas!"
"Memang..." ucap sang pangeran yang intinya ngggak mau dibantah.
"Baiklah puteri Odellia, rasanya aku ingin terus bersamamu sepanjang waktu, namun ada hal penting yang menungguku, walaupun nyatanya kau yang paling penting dalam hidupku," pangeran ngegombel receh.
Sedangkan Rissa udah nggak bisa ngejawab gombalan sang pangeran, dia milih diam dan mengalihkan pandangannya dari pangeran Clift, takut ketauan coooy!
"Aku pergi puteri, besok aku akan mengajakmu berkeliling..." kata pangeran yang meraih pinggang Rissa dengan satu tangannya.
"Berpakaianlah yang lebih mudah, karena aku akan mengajakmu menghirup udara segar..." bisik pangeran Clift. Bahkan hembusan nafasnya bisa Rissa rasakan.
'Astaga, pria ini membuatku ingin mendorongnya!' Rissa berucap dalam hatinya.
Sesaat kemudian pangeran Clift melepaskan Rissa dan membelai wajah puteri di hadapannya sebelum pergi meninggalkan kastil dimana puteri Odelia tinggal.
Rissa pun kini bisa bernafas lega setelah jantungnya berdegub nggak karuan, takut penyamarannya terbongkar saat itu juga.
Sedangkan di tempat lari, Rion sedang menunggangi kudanya, dia berusaha mengikuti kemana Defne memacu kuda miliknya.
"Ternyata jauh juga tempatnya!" Rion bergumam sendiri.
Dia merasakan lumayan pegal, "Andai aja udah ada mobil, pasti semuanya terasa lebih mudah, aku bersyukur hidup di jaman modern!" Rion ngoceh lagi.
Dan setelah lamanya perjalanan, akhirnya dia sampai di sebuah pasar. Defne berhenti dan turun dari kudanya,begitu pun dengan Rion.
"Kita sudah sampai..." ucap Defne, mereka berada di keramaian pasar.
Arion melihat sekitar, "Terima kasih atas bantuanmu selama ini,"
"Hem, bawalah kuda itu bersamamu," kata Defne sebelum akhirnya mereka berpisah di tempat itu.
__ADS_1