Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
151. Diselimuti Cahaya Biru


__ADS_3

Rion berlari dengan sisa kekuatan dari pedang cahaya biru yang semakin mbleretttt, mungkin udah uzur atau pengen ganti majikan, hanya si pedang yang tau.


"Hyaaaaaaaaa!!!" Rion menempelkan tangannya yang diselimuti sebuah cahaya berwarna biru ke jidat Om Dera.


"Eerrrrrrghhhhhhh!" Rion merasakan badannya sakit, bahkan kulitnya sangat perih. Dia ngerasain enerhi yang sangat besar.


Beberapa detik wajah Om Dera berubah menjadi wajah makhluk hitam yang merasukinya, dan sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi wajah Om Dera.


Rion menekan kening Om Dera dengan tangannya, dan bibirnya tak putus melafalkan doa meminta perlindungan pada Tuhan yang maha kuasa supaya iblis yang merasuki Om Dera bisa keluar dari tubuh calon mertuanya itu.


Sementara Rion menekan kening Om Dera, Om Dera sendiri menekan bahu Rion sampai mereka saling adu dorong, beberapa kali Rion nabrak ranjang, sofa dan meja.


"Eeerrghhhh?!!" Rion memekik, selain badannya ngerasa sakit karena kebentur barang-barang dia juga ngerasain kalau dia seakan ditarik oleh energi jahat yang mencoba mengusai Om Dera.


"Rion?!" Rissa memanggil nama Rion yang kerasa atau nggak ngeluarin darah dari sudut bibirnya.


"Tetap di tempatmu Rissa!" teriak Rion, dan itu perintah yang sulit dilakukan, melihat apa yang dilakukan Rion buatnya.


Rion mencoba mendekatkan satu tangannya yang memegang pedang cahaya biru.


"Aaaargghhhhh!" Rion mendorong wajah Om Dera dengan tangan kanan yang terlapisi oleh cahaya dari pedangnya. Rion setengah tiduran di tempat tidur pasien, saking kuatnya Om Dera menekan badannya. Berusaha mengambil jiwa yang ada pada dirinya.


"Api akan kalah dengan air, di dunia ini tidak ada yang bisa menjadi abadii, aaaarhh!" teriak Rion yang disambut teriakan dari makhluk yang dengan susah payah Rion cabut melalui ubun-ubun Om Dera saat sosok itu perlahan tertarik keluar.


Bruuukkkk!


Om Dera jatuh sedangkan Rion yang berhasil mendapatkan sosok yang menguasai Om Dera pun melepaskan sosok itu begitu saja.


"Dasar manusia bodoh!" ucap makhluk itu.


"Kau lah yang bodoh!" Rion berlari dan mengayun kan pedang cahaya biru.


Sreetttt!


Sreeettt!


Rion membuat tanda silang di tubuh makhluk itu.


"Rrrrrrrrghhhhhhhhhhhhhh?!!" makhluk itu memekik saat bagian tubuhnya satu persatu berubah menjadi transparan.


"Rrhhhhhhhhhhh!" sosok itu teriak untuk yang terakir kalinya..


Sedangkan Rion yang mengeluarkan semua tenaganya pun seketika lemes, dadanya naik turun seakan menjelaskan apa yang dihadapinya sangatlah berat. Bukan rindu aja yang berat, tapi ngelawan iblis juga berat, ceunah!

__ADS_1


"Paaaaah, papaaaah?!" Rissa berlari ke arah papa nya.


Sementara Rion, meskipun badan udah keserap energinya lumayan banyak dia tetep berusaha nolongin Rissa buat mindahin Om Dera ke ranjangnya.


"Bareng-bareng, yah?" kata Rion.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rissa.


Rion cuma bisa jawab dengan lirih, "Nggak apa-apa," dia mengembalikan pedangnya menjadi sebuah liontin


Sedangkan setelah semuanya keributan ini dilalui, barulah parabperawat dateng dan melongo karena ruangan yang udah acakadul bin semrawud ini. Dan beruntungnya, kejadian ini mggak membuat kondisi Om Dera drop, dan Rissa bersyukur atas itu.


.


.


.


Rion sedang berbaring di sofa, "Aku tuh nggak apa-apa, aku nggak perlu---"


"Kamu harus dapet perawatan! lihat wajah kamu? apa aku perlu bawa cermin?" Rissa keukeuh Rion harus tiduran dan lagi di periksa sama perawat.


Lumayan bonyok, apalagi beberapa kali Rion kedorong-dorong sama Om Dera, nabrak apa aja yang di belakangnya. Setelah perawat itu pergi barulah Rissa nekuk kakinya. Dia berjongkok di deket sofa, buat ngeliat wajah Rion.


Rion menutup mulut Rissa dengan telunjuknya, "Sssh, jangan berpikiran kalau aku akan menggunakan pedang itu untuk mencelakai papa kamu. Karena aku nggak mungkin ngelakuin itu semua..."


Rissa ngangguk, dia mengusap kepala Arion yang mungkin aja benjol karena kebentur sana sini, dan senyum mengembang di wajah pria itu.


"Diusap-usap gitu yang ada aku ngantuk, Sa..." Rion mencoba membuat suasana jadi santuy.


"Aku jadi berpikiran kalau kondisi jantung papa makin memburuk, sepertinya karena papa melihat sosok yang menakutkan itu setiap waktu, Rion. Mungkin yang kamu bilang itu benar, mungkin aja papa melihat makhluk itu tapi dia pura-pura seperti aku yang bertahun-tahun mencoba tenang dan seolah nggak pernah melihat sosok yang terus membayangi papa..." ucap Rissa.


Gantian tangan Rion yang mengelus pucuk kepala Rissa, "Makhluk itu udah musnah, jadin kamu nggak usah khawatirin itu lagi..."


Rissa menangkap tangan Rion dan menggenggamnya, "Kamu lebih baik istirahat, tenagamu pasti sangat terkuras saat melawan iblis tadi,"


"Aku mau minta ranjang tambahan, ya?" Rissa yang berdiri lantas tangannya ditangkap dan ditarik sampai wanita itu nyungsruk ke dalam pelukan Arion. Ya, dia merasakan setruman yang sama yang dia rasakan seperti dahulu kala, ternyata terpisah bertahun-tahun nggak bisa meluntutkan gelora asmaranya seorang Arion Putra Menawan.


Dia mengusap pipi Rissa dengan ibu jarinya, tanpa memalingkan pandangannya dari kedua bola mata milik Rissa.


Rissa yang ngerasa kalau posisinya ini nggak aman pun berusaha buat bangun, tapi dia dicegah dengan sebuah pernyataan.


"Aku bakal nungguin jawaban dari kamu, sampai kamu siap dengan jawaban itu..." Rion dengan suaranya yang cool. Rissa cuma bisa diam, karena sejujurnya dia belum memikirkan tentang hal itu.

__ADS_1


Emang dasar titisan siluman soang, Rion sempet-sempetnya mau nyosor. Rion mencoba mendekatkan wajahnya.


Satu senti...


Dua senti...


Semakin dekat dan dekat hingga akhirnya...


"Uhukk!" suara batuk Om Dera membuyarkan semua yang udah tinggal.sedikit lagi.


Risaa segera bangun dari posisinya, "Maaf, aku nggak sengaja!" kata Rissa seakan menjelaskan posisinya sekarang ini ya karena nggak sengaja.


"Uhukkk," Om Dera terbatuk lagi, tapi matamya masih tertutup.


Sedangkan Rion masih rebahan aja, dia ngintip-ngintip dikit Rissa yang lagi ngedeketin papa nya.


'Om Dera liat nggak, ya?' batin Rion bergemuruh.


"Paaah," suara Rissa lembut.


"Uhukkk," Om Dera terbatuk lagi, kali ini matanya terbuka sedikit demi sedikit, dia malah menyipit karena silau lampu yang ada di ruangannya.


'Aaaaman kayaknya,' Rion ngomong dalam hatinya lagi, saat ngeliat ekspresi wajah Om Dera.


Om Dera sendiri sontak melihat ke atas, dan ini semakin meyakinkan Rissa kalau papa nya emang bisa ngeliat makhluk berjubah hitam yang beberapa tahun ini nempel mulu kayak perangko.


"Paaah? papa kenapa? ada yang papa butuhin?" Rissa mengelus punggung tangan papanya.


Om Dera belum diinfus, dia nggak kayak orang yang dirawat di rumah sakit karena sakit.


"Papa nyariin apa?"


"Arion..." lirih pria itu.


"Arion? ada, ehm ... dia lagi---"


"Ada apa, Om?" Rion terbangun, Rion menggerakkan tiang infus yang ada disampingnya.


Rion berjalan dan Rissa dengan sigap mendekat pada Rion dan membantunya buat berjalan.


"Aku nggak apa-apa, beneran..." Rion berusaha menolak bantuan Rissa, dia pengen tetlihat strong ceunah.


"Arion..." panggil Om Dera.

__ADS_1


"Ada apa, Om?" Rion merasakan kalau Om Dera melihat ke kanan ke kiri seperti mencari sesuatu.


__ADS_2