Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
47. Jika Salah Satu Dari Kita Yang Selamat, Aku pastikan Itu Kamu, Rion!


__ADS_3

Sampai di bawah, Papi Ridho langsung buka pintu.


"Reva mana?" tanya Om Karan.


Papi Ridho menengok sekilas ke belakang, "Ada di kamarnya, kenapa?


"Cepatlah bersiap, saya tunggu disini!"


"Bersiap? bersiap untuk apa?" papi Ridho merasakan jantung nya berdetak lebih cepat. Nggak mungkin kan dia disuruh siap-siap tengah malem gini kalau nggak ada sesuatu yang serius.


"Aapa ini tentang Rion?" papi Ridho langsung ke poin inti.


Om Karan bingung bagaimana menjelaskan pada papi Ridho, 'Bagaimana saya harus menjelaskan pada kalian?' batin Om Karan berkecamuk.


"Apa ini tentang anak kami?" papi Ridho mendesak supaya nih Om Karan yang sedingin kulkas itu mau ngomong apa yang sebenernya terjadi.


Om Karan cuma bisa ngangguk.


"Tunggu, saya ganti baju sebentar!" tanpa pikir panjang papi Ridho lari ke atas dengan kolor andalannya. Sesampainya di kamar, dia gercep ganti baju ala ala anak muda. Giliran udah siap, dia bingung gimana caranya menghindar dari pertanyaan, 'Mau kemana kamu, Mas?' Pertanyaan horor yang bikin semua bulu ngejegrig kata papi Ridho ceunah.


Papi Ridho yang lagi keder, pun akhirnya keluar dengan langkah kaki yang nyaris nggak kedengeran. Lagian aneh-aneh aja, masa iya mau keluar tanpa ngasih tau mami Reva? apalagi ini menyangkut Arion, putra mereka. Kadang-kadang suka ngadi-ngadi nih si papi.


"Mau kemana kamu, Mas?" tanya mami Reva datar, dengan pandangan masih lurus ke tivi.


"Ehmmm," papi Ridho jadi galau,


'Aku kasih tau Reva nggak ya?,' papi Ridho menimbang-nimbang, mirip kayak anaknya. Curiga nih, jangan-jangan mereka nih cowok-cowok Libra yang suka kebanyakan mikir.


"Ehm, di bawah ada sepupu kamu. Dia nyuruh aku bersiap, kemungkinan ini ada hubungannya dengan Arion," sahut papi Ridho singkat.


Mami reva segera menyibak selimutnya, "Kalau kayak gitu aku ikut!"


Sekarang mami Reva nemplok ke suaminya dengan penuh linangan air mata, " Aku ikut ya, Mas? please..."


"Aku juga pengen tau keadaan Rion,"


"Kamu nggak di rumah aja? beberapa waktu ini kamu kan jarang tidur," papi Ridho meraih tangan mami Reva

__ADS_1


"Terus kalau aku disini, emangnya aku bisa istirahat? bisa tidur? nggak, Mas! aku nggak akan bisa istirahat sebelum anakku balik lagi dengan keadaan selamat..." mami Reva  keukeuh pengen ikut. Dari dulu sifat mami nggak berubah, pokoknya kalau pengen ikut ya harus ikut, persis kayak anaknya noh si Rion,


Papi Ridho mijit pangkal hidungnya, mumet.


Tok


Tok


Tok


Pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang.


"Aku buka pintu dulu sebentar," papi Ridho ngelus kepala mami Reva sebelum dia jalan buat ngebuka pintu. Sementara mami Reva ngibrit ke ruang ganti.


Ceklek!


ada sosok Om Karan dengan muka yang bete banget ada di depan kamar mereka.


"Kenapa lama sekali?' Om Karan sewot.


Untung Om Karan nggak langsung kasih reaksi, karena entah dapat kekuatan darimana itu mami Reva udah selesai ganti baju. Jeans dengan kaos dan jaket dan pouch kecil, macam anak gadis aja.


"Aku ikut!" kata mami Reva, dan itu berarti nggak boleh ada penolakan.


Akhirnya mereka pun, pergi dengan satu mobil yang sama.


Rasanya baru kemarin mami Reva kejar-kejaran dengan setan saat akan melahirkan Rion, mami Reva pikir itu udah selesai. Namun ternyata nggak, gengs. Karena kejar-kejarannya di lanjut part 2, kasian banget yak mami Reva?


Dan semua itu dijelasin sama Om Karan di dalam mobil, walaupun sebenernya baik mami Reva maupun papi Ridho masing-masing udah dikasih penglihatan tentang anak mereka yang lagi disandera oleh makhluk yang sangat menyeramkan, makanya mereka berdua gelisah beberapa hari ini. Tapi balik lagi papi Ridho ngejagain istrinya, jadi dia mau usaha ngebantu anaknya juga nggak bisa. Pikirannya bercabang, sedangkan Om Karan yang emang sesayang itu sama Reva, nggak mau tuh ngeliat Reva berlama-lama dalam kesedihannya. Dia minta dengan setengah memaksa pada pak sarmin, 'ayolah, kita harus berbuat sesuatu buat Rion!


Pak Sarmin yang udah sesepuh itu, akhirnya menggunakan sisa kekuatannya mencoba untuk mengontak Rion, dan itu resikonya bukan main-main. Tapi ya udahlah, pak Sarmin mikir hidup dan mati seseorang semua atas kehendak yang maha kuasa, jadi yo weslah gaskeun waelah. Dia beberapa kali mau masuk ke portal kegelapan tapi gagal, dia cuma bisa ngeliat kalau Rion lagi ditawan di sebuah lingkaran yang dikelilingi besi yang terselimuti oleh mantra jahat.


Dan malam ini merupakan malam yang sangat genting untuk Rion, karena tiba-tiba saja pak Sarmin menelepon jika dia minta dijemput buat ke rumah Om Karan, tentunya Om Karan langsung gercep nyuruh orang buat kesana sementara dia dan istrinya ngurusin hal-hal yang diperlukan disini. Ya, Om Karan ngejelasin itu semua sambil nyetir.


"Maaf, aku bertindak tanpa meminta persetujuan kalian," ucap Om karan yang bikin mami Reva nanngis sesenggukan.


"jadi, sekarang kita ke rumahku. pak sarmin udah ada disana dan acara nggak akan bisa dimulai kalau kalian belum datang," lanjut Om Karan.

__ADS_1


Reva yang duduk di depan nengok ke arah sampinbg, " Acara apa?"


"Kamu yang tenang, Sayang..." papi ridho ngelus pundak istrinya.


"Kita mencoba mendoakan Arion..." ucap Om Karan, dan tangis mami reva pun pecah.


dia dipeluk sama suaminya dari belakang. Pria itu mengusap  pipi istrinya lembut, "Kita harus yakin kalau Rion pasti bisa selamat, kita harus yakin, Sayang..."


Sementara di sebuah lingkaran yang dibuat sang raja iblis, rion masih duduk terpaku. Peri Keket yang udah berubah wujud jadi nyamuk, sampai kunang-kunang pun nggak bisa menembus mantra ajaib yang dibuat sang raja kegelapan.


"Aku akan coba pakai pedang cahaya biru," ucap Rion, yang kemudian berdiri.


Rissa yang melihat itu ikutan langsung bangkit, " Jangan! energi dari pedang itu akan terkuras jika kamu menggunakan dalam lingkaran kegelapan ini. Aku, aku yang bakal ngelakuinnya buat kamu. Anggap saja ini sebagai penebus dosa, papaku"


'Jadi elu ngelakuin semua ini atas dasar hutang, Rissa? bukan karena elu emang peduli sama gue?' Rion bergumam dalam hatinya.


'Seandainya hanya salah satu dari kita yang bisa selamat, aku pastikan itu kamu, Rion!' Rissa pun mengatakan sesuatu dalam batinnya.


Dan...


Wuzzzzzhhhh!


Ada angin besar yang menghantam keduanya.


"Argghhhhh!" Rissa memekik, mencoba melindungi matanya dengan punggung tangan.


Sementara Rion mencoba melindungi peri Keket, dia memasukkan peri itu ke dalam sakunya. Dia mendekat ke arah Rissa, dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Mereka berdua menunduk menekuk kakinya di tanah.


"Arrrrghhhh, ada apa lagi, sih?" ucap Rion ditengah badai angin yang seakan ingin menyapu keduanya. Rion menekan tangannya di tanah, untuk menahan tubuhnya dan Rissa agar tetap bertahan di tempat. Keadaan semakin kacau, angin bahkan merobohkan beberapa pohon,


Brakkkkk


Brakkkkk


Rion melindungi gadis yang bersamanya, dia menyembunyikan Rissa dalam dekapannya, Sementara tangannya bergetar, mempertahankan agar nggak ikutan terbawa angin yang ingin meluluhlantahkan apa yang ada dihadapannya.


"Rion ... Rion, katakan jika kamu mendengar suaraku!" suara kakek-kakek menggema di telinga Rion

__ADS_1


__ADS_2