
Sementara disisi lain.
Pangeran clift dengan Langkah terburu-buru menghadap sang raja. Dia gagal menjaga puteri Odellia, namun kekhawatirannya kali ini bukan tentang puteri Odellia yang udah balik lagi ke posisinya sebagai puteri tunggal raja Abraham, tapi kecemasannya ini lebih mengarah pada Rissa. Gadis dari jaman yang berbeda, namun mampu memberikan
rasa nyaman sekaligus penasaran di hati pangeran Clift.
Tapi pangeran Clift nggak bisa ngebohongin hatinya kalau dia menyimpan rasa bersalah pada sahabat ayahnya itu, karena dengan raja Abraham udah kasih kepercayaan penuh buat jagain puterinya yang peciiclan itu, eh sekarang dia kecolongan kayak gini. Ya, Puteri Markoneng udah digondol sama Dorothy, sungguh membuat hidup pangeran Clift meni riweuh pisan.
“Pangeran Clift telah tiba…!!” seru pengawal ketika sang raja lagi meninjau lapangan.
“Pangeran?” raja Abraham berbalik melihat calon menantunya.
“Yang mulia,” raut wajah pangeran Clift nggak biasa. Dan insting seorang ayah mampu melihat makna yang tersirat dari tatapan pangeran Clift.
“Tidak mungkin jika---”
Pangeran Clift mengangguk, “Maafkan aku, Yang Mulia …. Kejadian itu begitu cepat. Sekarang kita harus menemukan dimana Dorothy bersembunyi. Karena bukan hanya puteri anda yang ditawan, melainkan ada 3 gadis lainnya. Dia mempunyai niat jahat terhadap gadis-gadis itu!”
“Darimana kau bisa tau?”
“Dia menampakkan dirinya dibalik cermin di kamar puteri Odellia,” jawab pangeran Clift sangat merasa bersalah.
Meskipun dalam hati raja Abraham sangat kecewa, namun lagi-lagi dia nggak mungkin menyalahkan pangeran Clift. Karena dia tau
puterinya yang satu itu memang nggak begitu bersikap baik dengan pangeran. Bisa
aja, pangeran udah berusaha melindungi puteri Odellia. Tapi si Puteri Odellia
sendiri yang bertingkah dan membuat semuanya menjadi serunyam ini.
“Aku akan mencari puteriku!” kata raja yang melewati pangeran Clift begitu aja.
“Maafkan aku Yang mulia…” gumam pangeran Clift.
“Yang Mulia, mata-mat kita sudah menemukan dimana Dorothy berada…” kata orang kepercayaannya, yang masih didengar oleh pangeran Clift.
“Siapkan kuda! Aku akan menghukum Dorothy dengan tanganku
sendiri!” ucap sang raja dengan penuh kemarahan, dia pun berjalan dengan langkah
yang cepat.
“Sssh, huuuufh …” pangeran menarik napas dan menghembuskannya sebelum mengejar raja Abraham.
__ADS_1
“Tunggu aku Yang Mulia….!” Seru pangeran setengah berlari.
Tanpa harus mengganti bajunya, raja Abraham sedang menyiapkan senjata untuk ia bawa.
Sang ratu yang dalam keadaan astral kini nggak Bersama raja, dia terbang untuk
menyelamatkan puteri Odellia. Namun sinar yang menyelimuti tempat itu membuat
ratu Isabel sulit sekali menembusnya.
“Hahhaha, kau ingin bermain-main denganku, ratu Isabel?” gumam Dorothy saat melihat kalau ratu IIsabel mencoba menerobos sinar yang melindungi tempat yang Dorothy sebut sebagai istananya.
“AAAAkhhh?!!” ratu Isabel merasakan sakit, seperti tersengat
listrik.
“Dasar bodoh!” Dorothy tertawa saat wanita yang merebut raja Abraham jatuh tersungkur ke tanah.
Seakan mendapatkan sesuatu yang istimewa, Dorothy nggak begitu memperdulikan ratu Isabel yang berusaha masuk ke dalam sebuah Menara tua yang digunakannya mengurung keempat gadis muda, salah satunya adik dari Anna.
Dorothy meninggalkan keempat gadis yang masih belum sadarkan diri. nna yang tau jalur rahasia karena dulu pernah nggak sengaja melihat puteri Odellia muncul dari sebuah dinding yang terbuka pun, menghampiri puteri yang masuk ke dalam jalur rahasia saat para burung gagak menyerang Istana.
‘Annaaaa?’ seru puteri Odellia saat melihat Anna berada
‘Kenapa kau bisa disini? Dan kenapa kau meninggalkanku ketika kita berada di luar Istana?’ puteri Odellia mencecar Anna dengan berbagai pertanyaan.
‘Karena kau dibawa oleh seorang pria,’ ucap Anna, dia melihat ke bawah.
‘Apa yang kau katakana, Anna! Seharusnya kau melindungiku, mengejarku atau mencariku saat aku dibawa orang asing! Bagaimana jika dia orang jahat? Masih beruntung orang yang membawaku orang baik!’ puteri Odellia merepet dia melangkah mendekat pada Anna tapi segera ditahan Rissa.
Karena melihat Anna yang menyembunyikan wajahnya membuat Rissa menyimpan kecurigaan pada gadis itu, mata Rissa membulat saat dia melihat tangan gadis itu mengepal, sekan menggenggam sesuatu.
Perlahan Anna mengangkat wajahnya, dan melihat sang puteri, ‘Maafkan aku puteri…” ucap Anna dan seketika dia melemparkan sebuah bola pada puteri Odellia.
Braaakkkk!
Puteri Odellia jatuh tersungkur bukan karena mendapat serangan tiba-tiba dari Anna, melainkan didorong oleh Rissa yang berusaha menyelamatkannya.
‘AAkkk?!! Cepat per-gii…!’ ucap Rissa terbata-bata sebelum tubuhnya ambruk.
‘Risaaaa!’ seketika Defne meraih tubuh Rissa. Sebelum kedua gadis yang lain kabur, Anna segera melempar bola kecil itu pada Defne
maupun pada puteri Odellia. Dan dia membawa ketiga gadis dibantu oleh sihir
__ADS_1
Dorothy.
“Annaaaaa…?!!!” penyihir jahat itu memanggil Anna, dia membuyarkan Anna yang mengingat peristiwa beberapa saat yang lalu.
“Ya, ratu ku…” sahut gadis yang mau nggak mau jadi kaki tangannya.
“Siapkan makanan! Aku sudah lapar! Ingat pantanganku!” kata penyihir itu.
“Baik, ratu!” Anna menunduk hormat.
Sementara di dunia nyata.
Keadaan papi Ridho makin lemah. Mami Reva segera menelepon dokter untuk datang ke rumahnya. “Bodoh! Kenapa aku nggak kepikiran soal itu!” mami Reva cemas menunggu.
Om Karan yang datang ke rumah mami Reva berpapasan dengan pria berjas putih yang juga menuju ruang kerja papi Ridho.
“Selamat malam,” ucap sang dokter.
“Dokter, cepat! tolong suami saya!” kata mami Reva.
“Ada apa dengan ridho, Reva?” tanya Om Karan yang menerobos masuk juga dan mendekat ke arah sepupunya itu.
“Kondisinya makin melemah,” mami Reva nggak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
“Sudah berapa hari pak Ridho dalam kondisi seperti ini?” dokter bertanya sambil mengecek mata dan denyut nadi papi ridho.
“Sudah lima hari?”
“AAAAApaaaa?” sang dokter sontak menengok mami Reva dengan mata yang membulat lupa buat ngedip selama beberapa detik
“Astagaaa!” sang dokter langsung sat set sat set, nyiapin infusan dan juga obat untuk disuntikkan pada papi Ridho yang kondisinya udah lemah.
Om Karan mengusap punggung Reva, berusaha menenangkan sepupunya itu.
“Bodoh sekali, kenapa aku nggak kepikiran kalau tubuh mas Ridho juga butuh asupan nutrisi, aku terlalu fokus dengan Arion. Sampai aku lupa kalau semakin lama bisa saja aku juga kehilangan dia…” ucap mami Reva.
“Ya ya ya, aku juga salah. Aku tidak kepikiran soal itu, banyak hal yang terjadi, membuat aku juga lupa untuk menyampaikan padamu kalau
Ridho perlu pantauan medis,” kata Om karan, dia menyenderkan kepala sepupunya itu
ke bahunya. Reva begitu takut, dia takut kehilangan suaminya akibat kelalaiannya sendiri.
Dan mami Reva sengaja menelepon Om Karan supaya datang kesini, karena dia panik dan nggak mungkin bangunin ibunya atau Ravel tengah malam begini. Mereka bukannya bakal bantuin, malah bikin suasana makin riweuh aja.
__ADS_1
Sedangkan pak Sarmin sedang berada di kamarnya, dia sedang memejamkan matanya, berusaha berkomunikasi dengan Ridho, "Ridho? Nak? apa kamu mendengarku?"