
"Ya, gue denger!" jawab Rion cepat. Matanya tetap mengawasi gadis yang lagi asyik makan.
"Kamu harus hati-hati..." ucapan Rissa lirih.
"Elu dimana?"
"Aku nggak tau, gelap. Pas aku buka mata, tiba-tiba aku udah disini. Aku nggak bisa gunain bola cahayaku, Rion..." kata Rissa.
"Tenang aja, gue bakal nyari elu. Setelah gue nyingkirin sosok yang sekarang nyamar jadi elu, Rissa..." ucap Rion.
"Rion..."
"Ya...?"
"Jaga dirimu," lirih Rissa sebelum akhirnya Rion nggak bisa denger suara gadis itu lagi.
"Rissa....? Rissaaaaaaaa?!!" Rion mencoba berteriak memanggil Rissa namun nggak ada jawaban.
Sementara Rion menggerakkan tangannya yang dia anggap sakti, dia usap ke matanya yang terpejam, 'Tunjukkan kebenaran!', ucapnya dalam hati.
Dan....
Seeeeeetttttt!!!
Sosok yang di depannya masih sebagai Rissa KW, yang lagi makan daging binatang yang mendesis. Rion auto mual, ngeliat mulutnya blepotan warna merah darah.
Ya, makhluk itu berusaha mengelabui Rion, dengan menyamar sebagai seseorang yang sedang bersamanya. Tapi nggak semudah itu buldozeerr, 'Urang teh teu tiasa dibobodo maneh', kata Rion ceunah.
"Elu terlalu menganggap remeh kesaktian seorang Arion Putra Menawan!" gumam Rion.
"Kamu bilang apa?"
"Oh gue cuma bilang, kalau perut gue masih begah. Elu yang makan makanan ini aja, biar kenyang..." Rion menunjuk sebuah sate yang ada di atas daun pisang, yang ada di depannya.
"Kok gitu?" Rissa KW kecewa.
"Kan gue udah bilang, perut gue begah, gue juga lagi mual. Jadi elu aja yang makan," Rion kasih alasan.
'Emang nih tangan sakti tanggung amat kasih penglihatan. Nggak sekalian gitu, ngeliatin wujud asli makhluk yang ada di depan gue!' batin Rion.
Pokoknya di depannya ini dari baju dan wajah pokoknya semuanya plek ketiplek sama Rissa kecuali ada satu yang janggal ada satu tanda bintang di belakang kuping kanannya.
"Elu disini dulu ya, gue mau keliling. Kali aja nemuin tulisan exit supaya kita bisa keluar dari sini," ucap Rion yang kemudian bangkit.
Rissa KW bersihin mulutnya dan ikutan berdiri, "Nggak usah buang-buang tenaga. Lebih baik kita pikirin supaya bisa bangun rumah atau semacamnya..." dia mencekal tangan Rion. Tangan yang dingin sedingin hatimu, ehek!
"Bangun rumah? kagak ada pasir dan semen! nggak usah ngadi-ngadi," Rion kesel niatnya mau pergi malah dihalangi.
__ADS_1
Rion mencoba menyabari diri sendiri supaya nggak kebawa emosi.
"Elu diem disini, jangan ngikutin gue!" Rion main nganclang aja udah, sabodo teuing sama tuh Etan Lucknut.
Tapi namanya Etan kalau udah kesengsem bakalan posesif, dia kejar tuh babang Rion tampan menawan sejagat raya.
Tapi Rion yang udah tau nih kalau dia dikejar nggak tinggal diam, dia lari tuh sekenceng-kencengnya. Yang penting jangan ampe cepirit ya, Yooon!
Pesan papi syelalu Rion ingat, 'Jangan ngajak ngobrol atau nanggepin kalau ada Etan yang nongol!' tapi hari ini dia gagal. Dia ngajak ngobrol dan nanggepin itu etan, karena Rion ngiranya dia itu si Rissa, eh lah dalah ternyata Rissa abal-abal.
Rion lari sambil membuka pedang cahaya yang dalam sekejap berada di tangannya, "Hyaaaaaaaakkkk!" Rion malayang dan berputar di udara sebelum dia mendarat dan menghujamkan pedang cahayanya tepat 1 centi di depan leher makhluk itu.
"Tunjukkan wujud aslimu!" ucap Rion dengan tatapan tajam.
"Ternyata kamu cepat menyadarinya!" Rissa KW kini berubah menjadi perempuan yang dia lihat jalan di belakang Slamet, yang ngikutin selama pendakian.
Jadi ternyata, ketika perempuan ini ketemu Rion di hutan bareng temen-temennya, sejak saat itu juga dia 'demen' ibarat kata cinta pada pandangan pertama gitu, dan menganggap kalau Rion dan para anggota Mapala datang untuk menolongnya yang tersesat saat pendakian dulu. Yeuuuuh, dasar etan suka ke GR-an banget lu yaaakk??!
Sekali liat aja Rion udah tau, kalau nih etan suka sama dia.
"Gue nggak akan musnahin elu, kalau lu sekarang ngasih tau dimana keberadaan Rissa, temen gue!" Rion mulai nego. Hari senin harga naik ya, Yon?
Wuuuuzzzzhhhh!
Seketika penampilan makhluk yang di depannya ini berubah menjadi dirinya yang sebenarnya.
"Ayo cepetan, kasih tau gue dimana temen gue Rissa. Gue tau elu kan, yang ngedorong dia supaya jatuh, sebelum pendang cahaya ini bikin elu jadi berkeping-keping, mending lu sekarang bilang dimana temen gue itu!" Rion udah meradang.
Wuuzzzzzhhh!
Si makhluk ini terbang dan nemplok di punggung Rion.
"Heh, turun nggak? turun nggak?!!!!" Rion mencoba melepaskan makhluk yang menempel kuat di punggungnya, kayak dikasih lem korea.
"Hihihihihi ... jika aku yang membawamu, maka aku akan selamanya bersamaaaamuuu, uuu tayang! aku Vania, aku bisa menjadi Rissa buat kamu, Tayaaaaang!" katanya sambil cekikikan.
"Tayang-tayang pala lu gue bikin peyang!" Rion kesel banget, nih hantu nggak mau turun juga.
Rion memegang kaki hantu itu yang mencengkram pinggulnya, dan seketika wanita itu memekik "Aaarrrrrrrghhh!"
"Kamu jahat, Rion!" hantu itu jatuh memekik kesakitan.
"Padahal aku kan cuma pengen sama kamu! aargghhhhh!" perempuan itu berubah ke bentuk yang lebih menyeramkan dengan darah yang mengucur dari kepalanya.
Rion mengangkat pedang cahaya biru nya, "Hyaaaaaaaaaa..." dia berlari dan melayang diudara.
Tapi...
__ADS_1
Soorrrrrrrrrrr!
Sebuah semburan berwarna merah keluar dari mulut si hantu Vania.
Eetttttt, nggak kena!
Rion si tukang ngeles pun bisa menghindar juga dari semprotan cairan yang kalau dibayangin juga ogah banget.
Rion berlari dari kejaran perempuan ini, "Gini amat jadi orang ganteng!' batinnya.
Soorrrrrrrrr!
Dengan gesit Rion menghindar dari semprotan yang entah udah berapa kali mencoba mengenainya. Dilarang klemar-klemer ya, Yon!
Rion lari bukan karena takut, tapi karena jijay dengan cairan merah yang dari tadi kencengnya kayak semprotannya petugas damkar kalau lagi madamin api, kan selangnya gede dan sar sorrrr gitu ya kan.
Dan satu pijakan Rion ke batang pohon, membuat dia melayang, kemudian berbalik dan menghunuskan pedang cahaya birunya tepat di kepala hantu itu.
Tar....!
Tar...!
Cahaya biru membuat tubuh hantu itu perlahan berlubang.
Tangannya menjulur, "Riooooon tayaaaaaaanggg!" teriaknya sebelum tubuhnya perlahan memudar.
"Hhhhhh, hhhhh, syukurlah! pedang gue bisa melenyapkan makhluk yang ternyata ngintilin gue sama Rissa buat masuk kesini!" Rion bernafas lega.
Bola cahaya biru yang mengikutinya dari tadi pun disuruh Rion untuk mendekat, "Gimana caranya gue bisa menemukan Rissa?" Rion mengedarkan pandangannya.
Keringat mengucur dari pelipisnya, "Huuufh, bukannya Rissa punya sihir juga. Kenapa dia bisa kecomot sama demit? apa yang sebenernya terjadi?" Rion mengembalikan pedang cahayanya ke bentuk semula.
"Astagaaaa, gue harus nyari dimanaaaaaaa?" Rion mulai menjelajahi hutan yang gelap, sampai kakinya mulai gempor.
"Heh, lu bisa bantu gue nggak? tadi Rissa dibawa kemana?" Rion nanya sama bola ajaibnya.
Tapi percuma tuh bola diem-diem bae.
"Ck, jadi tugas lu cuma kasih gue lampu begini doang gitu?" Rion yang capek memegang lututnya.
"Haiiishhhh, mana bisa jawab dia!" Rion melihat ke bola ajaibnya merasa sia-sia ngomong sama tuh bola.
Kemudian matanya beralih melihat langit yang hitam tanpa ada satu pun bintang yang bertengger disana, "Kasih gue kode dong. Rissaaaaa!" gumamnya.
Dia menempelkan kalung ke dadanya, "Tes tes 123, dicoba! Rissa elu dimanaaaaa?" tanya Rion frustasi.
Tapi nggak ada jawaban.
__ADS_1
Namun tak disangka-sangka, ada sebuah benda melayang dari atas yang mengarah padanya, "Apalagiiiii astagaaaa..." keluh Rion.