Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
75. Disusulin Papi


__ADS_3

Di dunia nyata.


Mami Reva udah beberapa hari menggelar pengajian, apalagi pak Sarmin dia berulang kali mencoba membuka gerbang waktu supaya Rion bisa keluar dari sana. Apalagi setelah melihat Dorothy yang menyukai Rion, pak Sarmin tambah khawatir.


"Anak Reva ini benar-benar membuat resah para wanita!" gumam pak Sarmin. Yang nggak sengaja di dengar oleh Ridho, ya kebetulan ini udah hari ke tiga papi Ridho ngadain acara berdoa bersama. Lumayan heboh itu satu kompleks, mereka kira selama ini Rion nggak keliatan dia lagi liburan kemana gitu ternyata mereka baru tau kalau Rion ilang pas lagi mendaki bareng temen-temennya.


"Apa ada petunjuk lain pak haji?' tanya papi Ridho mendekat pada pak Sarmin yang masih dalam posisi duduk, sedangkan yang lain udah pada bubar. Kalau mami Reva lagi di dapur, lagi ambil minum katanya pusing. Pengen minum yang manis.


"Lebih baik kita jangan bicara disini," kata pak Sarmin.


Papi Ridho pun membantu pak Sarmin berdiri, mereka jalan menuju ruang kerja papi Ridho.


Grepppp!


Setelah pintu ditutup, dan mereka berdua udah duduk, pak Sarmin baru buka suara.


"Rion masih terjebak di dunia dongeng, dia bersama gadis yang bernama Rissa. Rion awalnya terpisah dengan gadis itu, namun sekarang yang bapak lihat kalau Rion ini berusaha untuk masuk ke sebuah Istana. Kemungkinann gadis yang bernama Rissa ada disana...."


Papi Ridho nggak berani menyela, dia mendengarkan penuturan dari pak Sarmin yang kini memejamkan matanya, dia memegang dadanya.


"Dia bersama dua gadis, yang salah satunya mirip dengan temannya, Rissa. Rissa sekarang ada di dalam istana, dia berpakaian seperti seorang puteri raja..." pak Sarmin membuka matanya lagi.


"Sepertinya, perempuan yang bersama Rion saat ini, puteri raja yang asli. Dia dan Rissa bertukar posisi untuk tujuan yang lain, dan malam ini mereka akan bertukar posisi kembali. Tapi sepertinya, mereka sudah ditandai oleh seorang penyihir. Dia menyukai anakmu, Ridho..."


"Menyukai Rion?" papi Ridho nggak tahan buat nggak komen dong.


"Kalau diceritakan, satu malam pun tidak akan selesai. yang jelas, penyihir ini ada dendam terhadap raja. Dia sudah berhasil menghabisi ratu, dan sekarang dia mengincar anak raja yang bernama Odellia, perempuan yang saat ini bersama Rion. Namun setelah melihat anakmu, penyihir itu malah jadi menginginkannya..."


"Nggak bisa, Pak haji. Saya nggak akan biarkan Rion dapet perempuan yang udah tua?!! kasian diaaa, saya aja dapetnya yang lebih muda. Masa anak saya dapetin tante-tante, Reva bisa merepet soal ini?? nggak bisa pak haji, nggak bisa. Sebelum rencana penyihir itu terlaksana, lebih baik kita gagalkan sekarang juga?!!!" papi Ridho kayak kebakaran jenggot, boro-boro jenggot, kumis pun dia nggak punya, ehek!


"Kirimkan jiwaku ke sana, pak haji. Aku harus menolong Rion!!!" papi Ridho kagak sabaran.


"Bapak tidak begitu yakin, tapi kita coba saja..." kata pak Sarmin yang udah meni sepuuuh tapi harus direpotin dengan soal nyebrang ke dunia lain.


Ridho disuruh duduk, dan memejamkan matanya. pak sarmin membacakan doa-doa. Ada satu suara yang sedang mengontaknya, suara wanita yang ingin bicara padanya, tapi pak sarmin menghiraukan  suara itu dan fokus pada apa yang akan dilakukannya saat ini. Dia mengerahkan semua kekuatannya untuk menolong Arion, pemuda yang ketampanannya menembus batas.

__ADS_1


Perlahan, Ridho merasakan dia berputar-putar dan tersedot ke suatu alam yang berbeda.


Kedubraaaakkkkkkk!!!


Papi Ridho kejengkang di suatu ruangan yang banyak kuali-kuali besar. dan ada panggangan jaman baheula yang masih pakai kayu untuk bahan bakarnya.


"Alhamdulillah, berhasil! tapi aku dimana sekarang? dan Rion? dimana Rion...?" papi Ridho bertanya-tanya, dia memakai baju yang sama seperti yang terakhir kali dia pake, celana slimfit item dan juga baju koko warna pink, warna yang dipilihin oleh mami Reva.


Sraaakkk


Sreeekkk


Ada beberapa langkah kaki yang berjalan ke arah papi Ridho berada. Pria tampan yang ikut andil dalam terbentuknya kegantengan Arion Putra Menawan pun kini bersembunyi di balik tumpukan kayu.


"Sebenarnya untuk apa pangeran memanggil kita semua?" tanya salah satu perempuan yang membawa beberapa peralatan memasak ke ruangan itu.


"Yang aku dengar, ada sesuatu yang terjadi dengan puteri Odellia," kata perempuan yabg lain.


"Taruhlah barang-barang itu disana dan cepat segera menemui pangeran. Kalau tidak? kita bisa dihukum..." lanjut perempuan yang satunya lagi. Mata papi melihat ketiga pelayan Istana, memakai seragam yang super jadul dengan rambut yang ditata rapi.


Ketiga pelayan tadi pergi meninggalkan ruangan tempat papi Ridho bersembunyi, dan seketika papi Ridho pun bisa bernafas dengan lega.


'Aku nggak bisa ngumpet terus kayak gini. Aku harus bergerak, Rion pasti menuju ke tempat ini,' batin papi Ridho.


Dia pun keluar dari tempat persembunyiannya dan mencoba menuju kamar sang puteri. Karena papi Ridho yakin, kalau iya akan ada pertukaran posisi antara Rissa dan Odellia, maka dia harus menemukan gadis bernama Rissa terlebih dahulu.


'Jangan panggil aku Ridho kalau urusan kayak gini aja nggak bisa aku tangani,' papi Ridho berucap dalam hatinya.


Sementara, suara terompet tanda semua pengawal harus berkumpul, membuat suasana tambah nggak kondusif. Jika suara terompet dibunyikan berarti ada sesuatu yang genting yang terjadi di Istana.


Penjagaan yang ada di gerbang Istana pun hanya menyisakan masing-masing dua pengawal yang berdiri di dalam dan di luar gerbang Istana.


Kereta milik Louis dan Rion pun sudah sampai tepat di depan gerbang, Louis menyerahkan surat jalannya.


"Kami diperintahkan untuk mengantar tepung gandum ke gudang makanan Istana," kata Louis yang udah sering bolak-balik Istana, sampai dua penjaga itu hafal banget sama mukanya Louis.

__ADS_1


"Ada berapa kereta?" tanya salah satu pengawal.


"Dua," kata Louis lancar jaya.


Para pengawal mengambil surat jalan yang Rion pegang, "Siapa dia?" tanya pengawal menunjuk Defne.


"Dia saudariku," jawab Rion.


Para pengawal agak menyipitkan matanya saat melihat wajah Rion dan wajah Defne yang kagak ada mirip-miripnya, lah dia wajahnya asia dibanding dengan Defne yang wajahnya bule, ya bikin orang nggak percaya.


"Kami lahir dari dua ibu yang berbeda," Rion mencoba menjelaskan.


Pengawal itu mengangguk, kemudian melihat karung-karung yang dibawa Rion.


'Aduh jangan sampe deh si Odellia ketauan!' batin Rion gelisah.


"Huaaaaatchhiiiuhhh!!" Odellia bersin.


Membuat pengawal curiga dan mencari asal suara orang bersin tadi. Sebelum pengawal itu ngorek-ngorek karung dan menemukan Odellia yang lagi meringkuk disana, Defne langsung menyambung suara bersin Odellia, "Huaaaaatchhiiiuhhh!!"


"Ah, maaf. Udara sangat dingin. Bisa kah kau memberi kami jalan masuk, agar pekerjaan kami cepat selesai?" tanya Defne sok lembut, dia mengusap hidungnya yang kini berwarna merah.


"Baiklah,kalian boleh masuk!" kata pengawal yng menjauh dari kereta milik Rion.


"Buka gerbangnya!" teriak sang pengawal.


Kreeeeeeetttttt.


Gerbang yang terbuat dari besi itu pun dibuka secara perlahan.


Rion pun bernafas lega, akhirnya dia bisa masuk juga ke dalam istana.


"Kau memang bisa diandalkan!" lirih Rion, yang membuat semburat merah di pipi Defne.


Sedangkan puteri Odellia yang mendengarnya hanya bisa manyun, nggak suka.

__ADS_1


__ADS_2