Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
134. Muncul Disaat Yang Nggak Tepat


__ADS_3

Rion garuk-garuk kepalanya yang sama sekali bebas ketombe, dia keder pengen masak apaan. Karena sekarang dia ada di minimarket yang khusus menjual bahan makanan khas Indonesia.


"Kenapa tiba-tiba aku pengen makan rawon!" gumam Rion. Dan rawon paling enak sejagat itu ya bikinan papi Ridho, si papi nggak ada lawan.


Rion memilih daging dan juga kecambah, dia juga ngambil bumbu jadi. Soalnya dia sama sekali nggak biaa masak, dia bisanya manjat atau krekelan. Kalau yang harus ngulek-ngulek gini, mana bisa. Yang namanya kluwek aja dia nggak tau. Tapi sok-sok an pengen makan rawon dan pengen yang fresh langsung dari pancinya. Ini Rion lagi ngidam apa begimane si??


Perutnya udah sempet diisi dengan nasi padang yang udah dikangenin banget. Karena untuk makan masakan Indonesia dia lumayan harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Rion bosen ketemu roti sama keju ceunah.


Lagi beresin belanjaan, dan masuk-masukin ke kulkas sembari mau nyiapin bahan buat bikin rawon super instant, tiba-tiba aja Thomas nelfon.


"Arion? Lu dimana?"


"Gue di apart!"


"Besok lu ketemu sama adek gue ya? Kebetulan dia manager humas nya, nanti kita ngobrolin soal kontrak buat elu jadi brand ambassador tuh spre, sekalian nanti kita obrolin juga konsep tvc nya!" kata Thomas yang kelewat gercep.


"Ya..."


"Kok elu nggak semangat sih?" Thomas malah mempertanyakan Arion yang lagi lemes kayak orang lagi mager gitu.


"Ya kan emang gue nggak mau tapi elu paksa!"


"Tenang aja, awalnya doang canggung. lama-lama juga elu nyaman. percaya deh sama gue, di dunia ini kita tuh harus multi tasking. Selain bisa bikin rancangan gedung yang keren, elu juga bisa jadi model kan cakeup! Kalau elu nggak laku jadi arsitek, lu bisa banting stir jadi model!" kata Thomas.


"Harusnya elu terima kasih sama gue yang ngebukain jalan baru buat elu tapaki, Arion!" lanjut Thomas.


"Terserah lu?!"


Sedangkan Thomas yang girang karena Arion sahabat karibnya mau membantunya menolong seseorang yang dia kenal di dunia maya, namun udah berasa jadi kakak ade ketemu gede ini pun hatinya bahagia bukan main. Mereka beberapa kali ketemuan jalau Thomas liburan ke Indonesia, tapi pria jangkung dan berkulit putih itu langsung jatuh hati bahkan sejak pandangan pertama.


Lalu tiba-tiba gadis yang lagi dia pikirin pun nelpon ketika matahari udah beranjak dari peraduannya.


"Ya, halo? gimana, Dek?" tanya Thomas yang main manggil adek adek aja, padahal mereka cuma terpaut satu tahun doang.


"Ini? foto yang kak Thomas kirim itu beneran temen kak Thomas?" tanya gadis di seberang sana.


"Iya, emang kenapa? cocoklah itu! kakak yakin dia bisa menggaet para emak-emak buat berbondong-bondong beli spre kamu!" kata Thomas yang masih uplek aja di kantor. Tadi siang dia klayaban ke kantornya Rion jadi dia malah kelimpungan sama kerjaannya sendiri yang makin numpuk, belum sempet dikerjain.

__ADS_1


Gadis itu diam.


"Halo? Dek? kamu masih disitu?" tanya Thomas.


"Ehm, emang dia model? ehm, maksudku ... aku belum pernah---"


"Emang bukan model. Dia arsitek, tapi dia bisa jadi model dadakan kok. Jangankan jadi model, jadi badut di acara ultah anak-anak dia juga bisa kok?!" Thomas kebangetan ngepromoin Rion sebagai makhluk serba bisa.


"Bukan gitu, hem ... emang nggak ada kenalan model lain?" tanya gadis itu sesopan mungkin.


"Ada, tapi mereka lagi padet scedulenya. Dan ada juga yang lama jawabnya, kamu butuh cepet ya temenku itu solusinya!"


"Kamu jangan khawatir, aku ini rajanya nge-casting orang, aku paham mana yang bisa jadi model dan mana yang modal madul! harga cincay lah?!" Thomas berusaha buat seaantuy mungkin, padahal hatinya jedag jedug bukan main.


"Kamu nggak akan nyesel deh pokoknya?!" kata Thomas lagi, dia nyerocos mulu daritadi.


"Lusa aku akan kesana, dengan membawa satu team dari sini," kata gadis itu.


"Pokoknya kalian nggak akan nyeael kerja sama dengan perusahaan kami, hahhahaha," Thomas beruaaha ngomong formal, tapi terakhirannya dia malah ketawa.


"Jadi? berapa hari kamu disini? nanti aku urus hotelnya, dan kita harus jalan-jalan kalau kerjaan udah kelar," Thomas ngomong lagi.


"Lama juga," kata Thomas.


"Ya, karena aku ada urusan lain..."


"Kalau gitu, aku sewain unit apartemen aja. Lebih affordable harganya..." Thomas mencoba menggali obrolan lain.


"Terserah kak Thomas aja. Aku makasih banget udah dibantuin," kata gadis itu.


"Ya udah, aku mau siap-siap masak karena jam 9 aku ada meeting dengan team!" lanjut gadis itu yang lemah lembut.


"Oke oke, selamat kerja ya. Have a greatfull day!"


Senyum Thomas pun mengembang seperti bunga yang bermekaran.


Sedangkan Arion yang lagi nguplek masak rawon di apartemennya.pun berulang kali mencicipi masakan yang berkuah hitam yang ada di panci.

__ADS_1


"Rasanya nggak seenak buatan papi, tapi lumayan lah buat ngobatin kangen..." Rion mematikan kompor.


Dia mengambil mangkok dan memasukkan kecambah ke dalamnya. Lanjut Rion mengiris jeruk nipis menjadi beberapa bagian, tapi ada satu hal penting yang dia lupakan, "Sambel?!" guma Rion saat menyadari ada satu komponen yang nggak dia buat.


"Haiishhhh! biarin aja lah!" Rion tetep bawa mangkok ke meja makan, dan ngambil ice lemon tea yang udah dia buat.


Satu seruputan rawon membuatnya terbang ke langit.


"Kalau kyaak gini jadi kangen rumah," kata Rion yang meniupkan rawon panas yang ada di sendoknya, sebelum masuk ke dalam mulutnya.


Meskipun sudah bertahun-tahun jadi anak rantau, tapi lidahnya nggak bisa membohongi. Kalau masakan Indonesia udah paling pas di buatnya. Cuma kalau papi Ridho kan emang jago masak, lah kalau Rion kebalikannya. Dia cuma jago makan, masak mah nggak separah mami nya. Kalau pakai bumbu jadi mah bisa lah, cuma kan rasanya kurang otentik aja.


Dep!


Dep!


Dep!


Beberapa kali lampu kedap-kedip. Feeling Rion udah nggak enak. Tapi dia tetep aja santuy nikmatin makanan yang udah dia buat dengan susaah payah.


Dep!


Dep!


Dep!


Lampu kedap-kedip lagi.


"Siapa yang mau main-main sama gue?" mata Rion melirik ke kanan dan ke kiri, mengawasi setiap pojokan.


"Tungguin gue makan dulu napa?!! hantu nggak punya etika?!" gumam Rion, dia lagi enak-enaknya makan rawon pakai nasi dengan perasan jeruk nipis yang bikin rawonnya tambah seger, tapi rasa enak itu terganggu dengan sesosok yang mainin lampu unit apartemennya.


"Perasaan udah lama banget hidup gue tenang, kenapa nggak ada angin nggak ada ujan ada lagi gangguannya?!" Rion makan aambil merepet terua mulutnya


Seeeeeettttt!


Ada sekelebat bayangan hitam yang secepat kilat melewatinya dan menuju ke arah kamarnya.

__ADS_1


Tapi Rion tetep santuy aja makan, sampai akhirnya dia harus cepat bergerak karena....


__ADS_2