Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
29. Yang Membuat Semua Orang Khawatir


__ADS_3

Sedangkan mami Reva yang masih berada di luar negeri, nggak bisa tenang. Nggak ada penerbangan malam ini, alhasil dia harus nunggu sampai besok pagi.


"Kamu tidur dulu aja, Va..." kata papi Ridho.


"Nggak bisa, Mas! perasaanku tuh nggak tenang daritadi,"


"Sama aku juga! tapi kita nggak bisa berbuat apa-apa selain berdoa, supaya Rion selalu dalam lindungan Tuhan," papi Ridho mengelus punggung istrinya.


"Dari awal kan aku udah bilang kalau, aku kesini sendirian aja, kalau kayak gini kan riweuh semua!" lanjutnya.


"Terus kamu nyalahin aku gitu, Mas?" mami Reva yang daritadi tiduran dipeluk suaminya, kini mendorong dada bidang suaminya. Pundung!


"Ya nggak nyalahin, Va. Aku cuma--"


"Cuma apa? jahat kamu Mas, jahat!" mami Reva seketika munggungin suaminya.


"Loh kok jahat sih? astagaa, sing sabar, Ridhoooo!" papi Ridho nyabarin diri sendiri.


"Lagian mau aja dikomporin anak!" lanjut papi dalam hatinya yang terdalam.


"Kamu tau kan di gunung itu banyak demitnya, dan kamu juga tau kan kalau Rion itu bisa ngeliat hal-hal kayak gitu?! aku cuma takut terjadi apa-apa sama Rion!" mami Reva frustasi banget.


Papi Ridho memeluk istrinya dari belakang, "Dulu kamu juga pernah tersesat di hutan terlarang, tapi nyatanya kamu bisa keluar dari sana dengan selamat. Jadi yakin aja, kalau Rion masih dalam perlindungan-Nya. Nanti kita tunggu kabar dari pak Karan..." ucap papi Ridho ngadem-ngademin hati mami Reva.


"Rion itu semakin dilarang, semakin penasaran. Persis kayak kamu, Reva. Jadi nggak usah heran kenapa dia bisa melakukan hal-hal yang kita larang," lanjut papi Ridho.


Mami Reva secepat kilat melepaskan tangan suaminya dan berbalik menatap kedua bola mata milik papi Ridho, "Oh ... jadi gitu?"


"Ya ampun ini mulut kenapa salah ngomong terus daritadi!" papi Ridho mengutuk bibirnya sendiri, ketika sang istri tarik selimut dan munggungin dia lagi.


Sedangkan semalaman ini om Karan mengerahkan semua orang suruhannya buat nyari bocah yang lagi dikhawatirin orangtuanya.


Mereka udah nyatronin kampus Rion, dan udah dapet tuh informasi mengenai pendakian itu.


"Bagus! kejar anak itu, kalau ngelawan, iket saja kalau perlu!" suruh Om Karan yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


"Persis seperti maminya! anak itu suka suka sekali bikin orang khawatir!" batin Om Karan, yang sebenernya nggak bisa kalau nggak peduli sama Reva. Terlepas ternyata mereka itu saudara sepupu, nyatanya Karan nggak bisa menghilangkan jejak Reva di hatinya.


Menikah dengan Luri adalah sebuah keberuntungan, gimana nggak? gadis desa itu membuat uangnya semakin hari semakin menumpuk. Ya karena pada dasarnya Luri ini gadis sederhana yang nggak tau brand mahal, dia nggak akan beli barang kalau nggak dibeliin sama suaminya. Coba itu kartu atau duit ada sama kita, pasti ludes seketika, ehek!

__ADS_1


"Gimana, Mas? apa ada masalah?" tanya tante Luri.


"Arion, dia nekat naik gunung!" jawab Om Karan pusing, dia mijitin kepalanya sendiri.


"Naik gunung? memangnya boleh?"


"Karena nggak boleh sama Reva, dia nekat naik ketika Ridho dan Reva pergi ke jepang. Dan sekarang saya sudah ngerahin semua orang buat nyari tuh bocah!" jelas Om Karan.


"Kamu tidur duluan saja! sudah malam..." Om Karan mengelus kepala istrinya.


"Mas juga usahakan tidur ya?" ucap tante Luri.


"Iya..."


Jangan ditanya soal sayangnya sama Arion, Karan Perkasa udah nganggep Arion aeperti anaknya sendiri. Apapun yang Rion pengen, pasti dia akan mewujudkannya, walaupun harus ribut dulu sama maminya, Reva.


Orang lain cenat-cenut nggak bisa tidur ngekhawatirin dia, eh si Rion malah sibuk nge-calling Loren pakai telepatinya.


"Apa masih sakit? kalau iya, besok stay di tenda aja!" ucap Rion menunggu jawaban.


"Kita nggak tau apa yang akan terjadi besok pagi, jadi aku akan tetap ikut naik. Dari awal aku udah bilang buat kamu batalin pendakian ini, tapi nyatanya kamu nggak mau dengar sama sekali. Dan terbukti, mereka semakin gencar mendapatkan kamu, Rion!"


"Kamu sudah diincar bahkan sejak kamu berada dalam kandungan, Rion! kamu nggak perlu tau aku bisa tau kebenaran ini dari mana. Yang jelas, kenapa sampai saat ini kamu bisa aman dari kejaran para makhluk itu, karena ayahmu yang tidak pernah meninggalkan sholat lima waktunya. Dia selalu menjagamu dalam doa-doanya bahkan dia selalu terbangun di tengah malam untuk meminta perlindungan atas kamu, anak satu-satunya..." jelas Loren.


"Usiamu sekarang 21, kan? 2 ditambah satu sama dengan 3, dan angka 3 itu diibaratkan angka malaikat, dimana kekuatan sedang bekerja dalam kehidupan kamu. Selain itu, diusia kamu ini kamu akan mendapatkan seseorang yang akan melindungimu apapun yang terjadi," lanjut Loren.


"Kenapa dia yang melindungiku? kalau aku yang punya kekuatan besar,"


"Karena kamu istimewa!" sahut Loren.


"Dan ada sesuatu yang harus aku tebus padamu, Rion!" lanjut Loren dalam batinnya.


"Sebaiknya kita cepat tidur!" ucap Rion yang diiyain sama Lorenza.


Malam ini Loren sama sekali nggak bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan Rion yang jatuh dari atas puncak membuatnya terbangun seketika, "Riooooonnnnn!!!" teriaknya.


Telolet yang masih kiyip-kiyip denger Loren teriak pun segera bangun, "Elu kenapa, Ren? ngelindur lu?" Telolet ngomong ambil merem.


Loren mengatur nafasnya, "Nggak apa-apa, Tha. Kamu tidur lagi aja!"

__ADS_1


Gadis itu melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, "Setengah 4 subuh? astaga, aku baru tidur dua jam, tapi udah dimimpiin yang aneh-aneh,"


Sreeet!


Loren membuka tenda.Dia keluar.


Loren melihat ke atas, melewati malam ini sungguh menjadi sebuah penyiksaan bagi Loren. Ketika matahari sudah terbit, mereka bakal naik lagi ke atas puncak yang memerlukan kewaspadaan dan kehati-hatian.


Loren duduk dengan satu tangan memeluk perutnya sendiri di depan bara api yang dia main-mainin pakai kayu.


Kemudian gadis itu ngelempar beberapa kayu lagi. Dia menggerakkan tangannya, dan menggunakan sihirnya untuk membuat api unggun lagi.


"Loren?" suara Rion terdengar jelas di telinganya.


"Ya..."


"Itu elu yang lagi duduk di depan api unggun?" Rion bertanya.


"Iya..." sahut Loren singkat.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, cuma kebangun aja tadi..." Loren masih menempelkan kalungnya di dadanya.


Sreekkk!


Kayu yang sedang dimakan api tiba-tiba bergeser.


Loren yang tau akan kehadiran seseorang, segera menjauhkan kalungnya, memutus kontak batin dengan Rion.


"Minetta?" lirih Loren.


Dan seketika asap yang berasal dari api unggun, membentuk sebuah wajah perempuan.


"Rissa, mereka semua menginginkan kalian. Kalau dia tetap meneruskan perjalanannya biarkan saja!"


"Aku nggak bisa, kita sudah terikat!" ucap Loren.


"Pergilah, selamatkan dirimu!" ucap Minetta sesaat sebelum pergi.

__ADS_1


"Aku nggak bisa pergi, aku membutuhkannya untuk menghancurkan mustika iblis!" gumam Loren.


__ADS_2