Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
73. Rencana


__ADS_3

Mungkin kebetulan atau apa. di rumah Om Dera ataupun di rumah Reva lagi digelar sebuah pengajian. Yang menjadikan ini sebuah perlindungan untuk Rissa dan Rion yang bisa terselamatkan oleh sihir jahat Dorothy.


Malam ini, Rion nggak bisa masuk ke dalam Istana. Dia cuma duduk dari kejauhan sambil liatin itu bangunan kastil yang megah. Mereka duduk di bawah pohon tanpa adanya api unggun.


"Ini yang kau sebut liburan? tidur di luar tanpa selimut dan uang? perut kosong nggak bisa beli makanan?" Rion nyindir puteri Odellia.


"Makan enak sudah biasa, tidur di tempat nyaman pun sudah setiap hari aku rasakan. Tapi duduk disini sambil memikirkan strategi untuk menyusup ke Istana sendiri merupakan hal yang luar biasa,"kata puteri Odellia.


Rion geleng-geleng kepala. "Dasar cewek aneh." gumamnya.


Meskipun nggak begitu ngerti apa yang Rion ucapkan, tapi dari nada bicaranya puteri Odellia bisa nebak kalau Rion lagi ngeledek atau menyindirnya.


"Kau mungkin tidak pernah membayangkan, jika hidup selama delapan belas tahun, tanpa tau dunia luar..."


"Jangan bercanda! seorang puteri bisa kapa saja pregi ke luar istana, dengan kenyamanan dan keamanan nomor satu,"


"Memangnya kau akan nyaman jika setiap gerak-gerikmu diperhatikan pengawal? dikuntit sepanjang waktu, rasanya menjemukan dan tidak ada tantangan," kata puteri Odellia.


Krrrrruuuukkkkk!


Krruuuuuuuuukk!


Suara perut dari sang puteri yang dari sore belum makan.


"Kita pergi cari makan. Mustahil bagi kita menyusup tanpa ada tenaga untuk berlari ataupun memanjat. Lebih baik malam ini kita mencari tempat untuk beristirahat, besok aku akan mencari cara untuk masuk ke Istana," kata Rion. Dia mengajak puteri Odellia untuk pergi.


Dan hal itu dipantau oleh sang ratu dari kejauhan, "Kembalilah ke Istana, putriku. Berbahaya bagimu jika terus berada di luar. Aku yakin Dorothy tidak akan tinggal diam. Dia melakukan segala hal agar tujuannya bisa tercapai..."


Suasana malam membuat kulit sedikit menjadi keriput. Nggak ada mantel ataupun jaket yang bisa melapisi tubuh mereka kecuali baju yang mereka pakai.


Di dalam kantongnya Rion masih menyimpan beberapa keping uang, tapi ini nggak akan cukup buat dia menyewa penginapan. Rion mengajak puteri Odellia menaiki kuda yang diberikan Defne.


Ya, Rion menjaga sikapnya. Dia berjalan menggandeng tali kuda sedangkan puteri Odellia duduk di pelana kuda.


'Kita mau kemana?" tanya puteri Odellia.


"Kemana saja,' jawab Rion cuek, dia puyeng saat ini.


Nggak ada arah dan tujuan yang jelas, nggak mungkin juga balik ke rumah Defne dan tinggal di gubug dekat kandang kuda. Akhirnya Rion menyusuri pasar yang sepi di malam hari. Cuma ada satu toko yang masih buka. ya toko tepung gandum dimana dia bisa apetin keping-keping duit.


"Mau apa kita kemari?" tanya Odellia yang diabntu turun dari kuda oleh Rion.

__ADS_1


"Mencari uang! bukannya perutmu itu harus tetap terisi?"


"IIshhhh, ketus sekali dia!" puteri Odellia manyun saat Rion sibuk mengikat kudanya supaya nggak lari.


Puteri Odellia sekarng ngekorin Rion masuk ke dalam toko.


"Wah kebetulan kau datang kemari!" kata Jerad.


"Apa ada pekerjaan untukku?"


"Ya, tentu!" Jerad menyuruh Rion untuk mengambil tepung gandum dari gudang.


"Taruh di gerobak itu!" Jerad menunjuk sebuah gerobak yang akan ditarik oleh seekor kuda.


Bukan hanya Rion yang angkut mengangkut tapi ada satu orang lagi yang juga ikutan buat ngangkutin.


Sebenernya Rion capek banget, tapi nggak bisa dipungkiri ada perut yang tetep harus diisi, apalagi dalam misi menyusup ke Istana, Membuat pemuda itu harus balik lagi ke pasar dan merelakan pundaknya untuk manggul beberapa karung tepung. Lah si puteri Odellia ngapain? dia cuma ngejogrog ngeliatin Rion bolak balik angkutin karung.


"Sudah selesai?" tanya Jerad ketika Rion menaruh satu karung terakhir.


"Sudah," Rion memijat bahunya yang pegal.


Dan terdengar bunyi.


Rion dan Jerad pun melihat ke arah puteri Odellia, ya suara cacing itu berasal dari perempuan cantik yang datang bersama Rion.


"Apa kau lapar, Nona?" tanya Jerad.


"Apakah dia---?


"Dia adikku?!!" serobot Rion, sedangkan puteri Odellia kecewa mendengar jawaban Rion tadi.


"Ah ya, aku punya roti yang baru saja keluar dari panggangan, sebentar. Akan aku ambikan..." Jerad segera masuk ke dalam kemudia keluar dengan membawa beberapa roti dan air.


"Makanlah, kau pasti sangat kelaparan!" Jerad menawarkan roti pada puteri Odellia. Sang puteri pun mengusap tangannya ke baju sebelum mengambil roti yang snagat menggiurkan itu.


Rion yang lagi laper pun ikut nyomot roti yang bikin perut kenyang, namun entah mengapa disela Rion dan puteri Odellia sedang makan, Jerad tiba-tiba aja nyeletuk.


"Setelah diperhatikan, sepertinya wajah adikmu ini sangat familiar, Arion..." Jerad memperhatikan wajah puteri Odellia yang udah feelingnya nggak enak nih.


"Ya, wajah adikmu ini mirip dengan puteri Odellia, putri kesayangan raja Abraham," lanjut Jerad.

__ADS_1


Rion segera mengalihkan pembicaraan, "Kenapa toko mu masih buka padahal hari sudah gelap?" tanya Rion setelah dia selesai melakukan pekerjaannya.


"Entah takdir atau berkah dari Tuhan, toko ini selalu buka lebih awal dan tutup lebih malam dari yang lainnya. Banyak pembuat roti yang datang untuk membeli tepung gandum dari toko ku," kata Jerad.


"Bisa kah kau membantuku untuk mengirimkan beberapa karung gandum ke istana?" tanya Jerad.


"Apa? ke Istana?" Rion nggak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Gandum yang kau bawa itu kualitas terbaik, yang memang dipersiapkan untuk keluarga kerajaan, sudah berpuluh tahun toko ku ini memenuhi kebutuhan gandum untuk kerajaan," kata Jerad.


"Kalau kau tidak keberatan, berangkatlah bersama Louis. Ada dua kereta yang harus kalian antar...." kata Jerad.


Apa ini yang disebut dengan takdir, seakan pintu terbuka lebar untuknya tanpa perlu manjat dan melakukan hal ekstrim lainnya untuk menemui Rissa, tentu hal ini disambut baik oleh Rion, "Baiklah, aku akan kesana..."


"Selesaikan makananmu, lalu kau bisa pergi. Dan upahmu akan aku bayar setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu..." kata Jerad, sedangkan Rion mengangguk senang.


dan ketika dia memasukkan sisa roti di tangannya ada suara yang sangat familiar, " Berikan aku 20 kilo tepung gandum?!" ucap seorang gadis.


Rion lantas menengok, "Defne?" Rion mengerutkan keningnya.


"Arion??" Defne pura-pura kaget, padahal dia emang mengikuti Arion sejak kemarin. Walaupun sebenernya ngerepotin banget nih si Rion, tapi dia juga khawatir, kalau-kalau Rion nggak jadi nemuin temennya yang namanya Rissa.


"Kau membeli gandum selarut ini?" tanya Rion.


"Ya, kami kehabisan gandum dan aku harus segera membelinya," kata Defne.


"Kau? bekerja disini?" tanya Defne.


"Maaf Jerad, aku harus bicara dengannya. Dia saudariku juga..." Arion pun menarik Defne agak menjauh, dia pengen ngomongin sesuatu. Bahkan puteri Odellia pun penasaran dengan apa yang akan dibicarakan kedua orang itu, bahkan Rion belum mengenalkan gadis itu padanya.


"Defne, apa kau sengaja mengikutiku?" Rion menatap Defne tajam.


"Ehm,"


"Katakan, apa kau mengikutiku?" tanya Rion sekali lagi.


"Ya, tapi tidak juga aku hanya----"


"Aku akan masuk ke istana, tolong aku sekali lagi..." ucap Rion.


Jika hanya mengandalkan puteri Odellia, tentu Rion akan sangat sulit membawa Rissa kabur dari Istana.

__ADS_1


"Tolong aku kali ini..." Rion berucap lagi.


Dan lagi-lagi pesonanya takkan mampu dilawan wanita manapun, "Baiklah..." sahut Defne.


__ADS_2