
Tengah malam Rissa mencoba mengabari Om Dera, dia bilang seharian dia disibukkan pekerjaan ditambah hapenya mati karena kemasukan air. Dia akan menjenguk papanya besok. Papanya yang lagi dalam masa observasi pun nurut aja apa kata anaknya. Masih beruntung di masa tuanya ada anak yang mau berbakti padanya, padahal sewaktu Rissa kecil hampir sebagian besar waktu Om Dera dihabiskan untuk bekerja.
Rissa lebih tenang ketika sudah mengabari papanya, dia takut papanya berpikiran kalau Rissa menelantarkannya di rumah sakit sendirian.
"Makasih ya, Sya..." Rissa ngembaliin hape milik Meisya.
"Kamu lanjut tidur aja, nggak apa-apa..."
"Baik, Bu..." Meisya balik lagi mau ngelanjutin mimpinya bareng ayang yang entah kapan datengnya.
Sedangkan Rissa masih termenung, dia sengaja membuat posisinya menjadi setengah tiduran. Nggak ada yang bisa dilakukannya kecuali mengingat semua hal yang pernah terjadi antara dirinya dan Arion.
Disisi lain dia senang bisa melihat pemuda yang sudahenjelma menjadi pria yang sangat tangguh dan jantan warbiazah, tapi disisi lain dia juga mikirin hubungan antara mamanya dan mami nya Arion nggak ada akur-akurnya. Dan itu juga yang menjadikan alasan mami nya Arion mengajaknya bertemu empat mata.
"Kenapa,? kenapa takdir mempermainkanku?" Rissa hanya bisa menghela nafasnya, dia merasakan sesak saat mengingat bagaimana Rion berusaha membuatnya tetap bernafas saat di dalam danau.
Bahkan dinginnya air danau masih bisa Rissa rasakan dia sekarang.
"Aku nggak tau harus bagaimana harus bersikap padamu,"
Sama dengan Arion, pria itu pun masih terjaga. Dengan posisi yang sama, melihat ke arah tivi kayak orang kesurupan. Daritadi dia cima melongo aja di depan gambar yang bergerak-gerak, tapi pikirannya melayang pada Rissa dan Thomas yang memiliki kedekatan.
"Kenapa malah jadi ruwet kayak gini?!!!!" Rion kembali ngusak-ngusek kepalanyanyang sangat berharga itu.
Rion merasa kalau dirinya seperti pecundang ketika ketemu langsung sama Rissa setelah sekian lama. Dia yang ngilang, dia yang kesel liat Rissa deket sama oranglain.
__ADS_1
Dia yang udah ngerasa capek, padahal sama sekali belum pernah perjuangin cintanya dengan Rissa.
Selama sekian tahun dia udah lumayan lupa dengan sosok Rissa, tapi sekarang setelah ketemu lagi perasaan itu muncul lagi.
"Maafin Rion ya, Mam?! tapi saat ini Rion pengen tau keadaannya kayak gimana,"
Baru kali ini dia menangis dengan sesenggukan. Dia sangat hancur saat melihat Rissa hampir nggak tertolong, seakan ribuan belati menusuk batinnya secara bersama-sama. Dan Rion pengen bersikap egois untuk sekali ini aja.
Hanya sedikit yang dia ketahui mengenai Rissa, Rion ngerasa kalau segitu dia vueknya bahkan nama Rissa pun baru dia tau saat Thomas memperkenalkan Rissa secara formal.
Rion menekuk kedua kakinya, dia membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya, bahunya naik turun dia udah nggak bisa menahan apa yang sudah lama dia pendam.
Kepalanya kemudian mendongak, dia mengapus air matanya dengan lengan bajunya. Dia menurunkan kakinya ke lantai. Dia bergerak mengambil hapenya yang kering karena dia simpan di mantel yang dia lepas sebelum berenang buat menjangkau Rissa.
Dia melihat benda di tangannya, dia kemudian mulai menelepon satu persatu rumah sakit yang ada di kota itu.
"Okay, thank you!" Rion menutup teleponnya, dia mencoret nama rumah sakit yang udah dia list di sebuah buku.
Rion nggak putus asa, dia nelpon rumah sakit lain sampai dia nemu dimana Rissa dirawat.
"Kemana Thomas bawa Rissa?" gumam Rion, melihat daftar rumah sakit yang ada di bukunya udah banyak yang dia coret, itu berarti semakin sedikit kemungkinan Rion bisa nemuin Rissa.
"Gue nggak boleh cemen! gue harus cari dia sampai ketemu!" Rion merasa bego, karena dia nggak langsung ngejar campervan yang membawa Rissa. Kalau kayak gini kan udah muka bonyok, kepala kliyengan karena begadang buat nelponin setiap rumah sakit di jam-jam hantu pada gentayangan, kan amsyong betul nasib Rion.
Rion menarik nafasnya sebelum kembali nempelin hape ke kuping, "Halo? medical hospital? (Halo? rumah sakit medical?)"
__ADS_1
"Good morning, Sir! Excuse me, who am I speaking with? (Selamat pagi, Tuan. Maaf dengan siapa saya bicara?)"
"I'm Arion. I just wanna make sure, is there a drowning patient named Karissa Laquitta? (saya Arion. Saya hanya ingin memastikan adakah pasien korban tenggelam bernama Karissa laquitta?)" tanya rion sopan.
"Wait a minute, Sir! We'll check it first! (Tunggu sebentar, Tuan. Kami akan mengeceknya terlebih dahulu)" suara seorang wanita di seberang telepon.
Rion harap-harap cemas menunggu informasi dari pihak rumah sakit.
"Thank you for waiting. Yes, Karissa laquitta is being treated at our hospital (Terima kasih sudah menunggu. ya, Karissa Laquitta sedang dirawat di rumah sakit kami,"
Seketika Rion mengucap syukur dalam hatinya.
"She is my fiance, I"ll be there soon. Thank you! (Dia tunangan saya, saya akan kesana secepatnya! Terima kasih," Rion pun menutup teleponnya, Yeeuuuh, si rion emang bener-bener yak. Ngaku-ngaku jadi tunangan, lha wong pacaran aja belum! ck ck, emang ya jiwa-jiwa anak muda suka nggak bisa ditebak apa maunya.
Dengan mata yang merah dan lebam di beberapa bagian wajahnya, Rion pun beranjak dari tempat tidur dia buka lemari mau ganti baju. Tapi getakannya terhenti saat dia berpikir, kalau nggak mungkin biarin Rissa sendirian.
"Thomas pasti ada disana," Rion balik lemes lagi. Dia nutup lemarinya, dia galau berat.
Jam udah menunjukkan jam setengah 2 pagi, dan terlalu aneh mengunjungi seseorang pada saat tengah malam begini. Rion balik lagi tiduran di ranjangnya sambil terus nyalain tivi, biar pikirannya tambah ruwet. Nggak dong, ya. Biar ada suara-suara aja, biar nggak kerasa sendirian.Yeuuh, Rion! jangan jadi sadboy elu, yakkkk? ehek!
Sementara di tempat yang lain dan negara yang sama, ada Thomas yang lagi duduk di meja kerjanya. Dia pijit pijit itu jidat.
"Pantesan, Rissa pas gue sodorin fotonya Arion, dia sempet nolak. Begonya gue nggak peka, gue taunya dia pengen model profesional! Dan kenapa juga Rissa ataupun Arion nggak bilang jujur, kenapa mereka seolah nggak saling kenal. Coba nggak ada kejadian itu, gue nggak bakal pernah tau kalau mereka pernah ada history sebelumnya.," Thomas makin puyeng.
"Gue bisa liat dengan jelas, gimana Rion tanpa pikir panjang nyemplung ke dalam air yang udah pasti dingin banget. Dan gimana cara dia nolong Rissa, itu udah cukup buat gue sadar kalau mereka ada apa-apa. Tapi kenapa elu nggak jujur sama gue, Rion? kenapa?" Thomas sekarang menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Dia cukup frustasi saat mengingat bagaimana dengan mata kepalanya sendiri, gimana dengan cekatannya Rion melakukan pertolongan pada wanita incarannya.