Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
119. Ini Bukan Milikmu


__ADS_3

Papi Ridho memegang kedua bahu istrinya, "Jangan terlalu keras sama anak, dia bisa membelot. Dan malah melawan kita,"


"Tapi kan---"


"Kita udah pernah diposisi Rion, Reva. Kamu nggak sadar? dia seperti mengikuti kisah cinta kita yang penuh liku, cuma bedanya yang Rion hadapi lebih pelik dari yang kita hadapi dulu," jelas Ridho.


"Jangan buat Rion semakin jauh dari kita, Reva. Sekarang mungkin kita berpikir anak kita masih kecil, butuh perlindungan kita. Tapi nyatanya, Rion melebihi itu Reva. Aku melihatnya sendiri, bagaimana dia mengayunkan pedangnya. Bagaimana dia mengalahkan rasa takutnya, bagaimana dia berusaha menggunakan kekuatan yang dia punya. Anak kita melebihi ekspektasi kita, Reva..." papi Ridho ngomong dengan menggebu-gebu.


"Beri Rion sedikit kepercayaan, dia ke luar untuk meneruskan kuliahnya. Bukan untuk main-main. Kasih Rion sedikit kepercayaanmu, Reva..."


Akhirnya mami Reva akhirnya mengangguk, "Ya..."


"Terima kasih, Rion pasti akan sangat senang dengan kabar ini!" ucap papi Ridho.


'Aku percaya Rion bisa menjaga dirinya melebihi siapapun,' batin papi Ridho.


.


.


.


Malam harinya...


Pak Sarmin bilang kalau dia mau pulang ke rumahnya, dia sudah kangen kampung halaman.


"Kapan-kapan saya jemput dan nginep disini lagi ya, pak haji?" tanya papi Ridho saat di meja makan.


Pak Sarmin mengangguk, "Tentu,"


"Mungkin beribu kalimat terima kasih tidak akan cukup untuk membalas bantuan pak haji buat keluarga saya,"


"Semua hal yang terjadi atas izin Allah, Ridho. Dan jangan kalian menolak orang yang menyatakan dirinya sudah bertaubat. Apalagi jika dia sudah taubatan nasuha, kalian wajib memafkan..." ucapan pak Sarmin makjleb di hati mami Reva maupun papi Ridho.


"Iya, Pak..." ucap papi.


"Rion, Kakek mau bicara dengan kamu bisa?" tanya pak Sarmin.


"Bisa, Kek..."


Sedangkan mami dan papi hanya bisa melempar pandangan, bingung.


Dan setelah makan, Rion mengikuti pak Sarmin ke kamar.


"Duduklah, Nak..." ucap pak Sarmin.


"Bagaimana kondisimu sekarang?"


"Sudah lebih baik, Kek..."


"Alhamdulillah kalau begitu," pak Sarmin bernafas lega.


"Ada yang ingin kakek tanyakan,"

__ADS_1


"Apa itu, Kek? tanyakan saja..." Rion bingung dengan kakek yang sudah membantu dari jaman emak sama bapaknya.


"Apa kau membawa sesuatu?"


"Sesuatu? membawa apa Kek? Rion nggak ngerti,"


"Buka tanganmu," suruh pak Sarmin.


Rion menurut, dia membuka telapak tangannya diatas tangan pak Sarmin yang terbuka.


"Sekarang tutup tanganmu..." ucap pak Sarmin.


Rion menggenggam tangannya.


"Buka tanganmu," ucap pak Sarmin.


Perlahan Rion membuka tangannya dan ada sebuah liontin berbentuk pedang. Rion takjub melihatnya, karena dia ingat betul liontin itu dia simpan di saku celana.


'Ini nggak mungkin, liontin ini kan gue simpen di----" satu tangan Rion merogoh sakunya tapi nggak ada.


"Benda ini akan kakek bawa ke kampung. Akan kakek musnahkan, karena bagaimanapun benda ini bukan dari dunia kita, Rion..." pak Sarmin memindahkan liontin pedang ke tangannya.


"Tapi liontin ini milikku, aku punya kenangan tersendiri dengan liontin ini. Dia sangat berarti..." Rion mengambil liontin dengan kalung hitam, dia menunjukkannya pada pak Sarmin.


"Bukan, liontin itu bukan milikmu. Liontin itu hanya mengijinkanmu mempergunakannya, karena dia menilai bahwa kamu orang yang baik. Dia akan mencari jalan pulang, dan terlalu berbahaya jika kamu terus menyimpannya. Percaya dengan kakek, benda ini akan memberi pengaruh buruk terhadapmu. Dia bisa menyeretmu masuk ke portal waktu lagi," ucap kakek.


"Tapi ini nggak bisa dipercaya..."


Sreeeeeettttt!


"Dengan pedang ini aku mengalahkan raja iblliss dan seorang penyihir," ucap Rion mengagumi pedangnya.


"Itu memang benar. Tapi benda ini akan menyulitkanmu, Rion. Percayalah pada kakek," ucap kakek Sarmin.


Sreeeettt!


Rion mengubah pedang itu kembali sebagai sebuah liontin, "Aku akan mengantarkan liontin ini pada kakek jika aku sudah siap, aku merasa ada hal yang perlu aku lakukan dengan pedang ini," ucap Rion.


"Baiklah, itu terserah padamu. Jaga baik-baik benda itu, jangan sampai jatuh pada orang yang jahat,"


"Terima kasih sudah mau mengerti, Kek..."


Setelah nggak ada lagi yang dibicarakan dengan pak sarmin, Rion kembali ke kamarnya. Badannya masih membutuhkan waktu istirahat.


Tapi baru juga mau naik tangga, papi Ridho manggil.


"Rion? ikut ke ruang kerja papi. Ada hal yang ingin papi tanyakan,"


Rion mengikuti papi masuk ke dalam ruang kerja.


'Kenapa semua orang ingin bicara malam ini?' batin Rion.


"Ada apa, Pih?" tanya Rion dingin.

__ADS_1


"Duduklah dulu, nggak baik ngobrol sambil berdiri," papi Ridho nunjukin sofa. Rion menjatuhkan dirinya di sebuah sofa yang empuk yang pernah menjadi saksi bisu perjuangan papi Ridho dalam menembus portal waktu.


"Kita udah duduk, lalu apa yang ingin papi bicarakan?" Rion udah ngantuk, pengen tiduran.


"Bagaimana dengan skripsimu? lancar apa ndat ndet?"


"Lancar,"


"Oh a syukur kalau lancar...." papi Ridho masih mengulur pertanyaannya.


"kamu masih ingin kuliah di luar negeri?"


"Nggak!"


"Loh kenapa? bukannya waktu itu kamu pernah minta ijin sama papi?" papi Ridho kaget dengan jawaban Rion.


"Kan nggak boleh sama mami? ntar dicap anak badung, bandel? ngelawan orangtua?" jawab Rion.


"mami udah kasih ijin, terserah kamu mau kuliah dimana. Yang penting kamu bisa bertanggung jawab dengan hal yang kamu ambil..."


"nggak lucu, Pih. Nggak usah nge-prank..." kata Rion. Orang jelas-jelas maminya menentang keras saat dia bilang mau nerusin kuliah di luar negeri.


"Papi beneran Rion, mami kasih kamu ijin!" ucap mami Reva yang muncul dari arah pintu.


"Beneran?" Rion masih nggak percaya.


"Beneran! sebaiknya kamu segera selesaikan skripsimu dan mulai mencari kampus yang cocok buat kamu nantinya," mami Reva lantas duduk di samping anaknya.


"Makasih, Mam?!" Rion sontak memeluk maminya.


"Papi yang bujuk mami loh padahal," papi tiba-tiba nyeletuk.


Rion bangkit dan ngajakin tos papinya, "Thank you, Pih..."


"Semuanya, Rion balik kamar...! Ada yang harus aku selesaikan," ucap Rion.


Mami papinya hanya bisa mengangguk, melihat anak mereka menutup pintu sebelum pergi. Rion balik lagi ke kamarnya, dan pas ditangga dia papasan sama Thalita.


"Darimana Bang?"


"Bukan urusan lu!"


'Harusnya gue yang nanya, malam kayak gini elu yang darimana?' batin Rion.


Tapi seketika Rion inget kalau sekarang malem minggu, mungkin si Thalita habis hang out bareng temen-temennya. Suntuk juga kan di rumah bae, gaolnya bareng tante-tante kayak mami Reva. yang ada cepet tua, ngurat mulu bawaannya.


"Makin lama makin ketus aja tuh orang!" gumaman Telolet masih kedengeran di telinga Rion, dan dia nggak peduli soal itu. yang terpenting sekarang dia udah mengantongi ijin, dan dia harus ngerjain skripsinya supaya bisa ikutan sidang.


Ceklekk!


Braaak!!


Rion buka pintu dan segera menutupnya.

__ADS_1


'Akhirnya aku bisa keluar dari sini,' batin Rion.


__ADS_2