
"Kenapa gue ditakdirkan ketemu temen yang suka maksa?!!" gumam Rion. Dia pegangin jidatnya, kepalanya mendadak puyeng.
"Aarrghhhh!" Rion memutar badannya ke kiri dan ke kanan, dia peregangan sebentar sebelum memulai lagi, aktivitas yang terganggu akibat kedatangan Thomas.
Matanya yang tajam, melihat dengan detail rancangan yang dia buat. Banyak pekerjaan sapai dia lupa kalau dia masih punya keluarga yang selalu menunggu kepulangannya. Dalam setaun, mami nya bisa bolak-balik nengokin Rion. Mami Reva sampai heran, kenapa anaknya nggak mau pulang dan betah di negara orang.
Rion cukup menutup diri, dia orang paling introvert di kantornya. Dia fokus sama kerjaannya aja, dan dianlupa buat sekedar bersosialisasi dengan yang lain, apalagi cewek-cewek. Meskipun banyak yang menargetkan dirinya buat jadi pacar, tapi Rion nggak membuka celah sedikit pun untuk mereka.
Temennya dia selama 5 tahun ini ya si Thomas. Itu juga karena tuh manusia yang ngajak Rion ngomong dan suka banget minta tolong. Definisi temen yang ngrepotin ceunah. Rion kira cukup Eza dan Slamet yang kelakuannya rada-rada sengklek, lah ini udah jauh ke negara lain masihhh aja ketemu orang kayak Eza dan Slamet, yang parahnya dua karakter itu masuk dalam sesosok tubuh pria bernama Thomas.
Matahari terus bergerak, tanpa sadar langit udah makin terik aja. Rion menggulung kertas kerjanya dan keluar dari ruangannya.
Emang Rion dapet ruangan khusus, dan itu perjanjiannya saat masuk ke perusahaan itu. Dia butuh tempat yang jauh dari lalu lalang orang, biar idenya langsung lancar jaya tanpa hambatan.
Pria tampan dan menawan di segala suasana itu masuk ke dalam lift, dan dengan muka lempengnya dia masuk aja dan mengabaikan orang yang satu lift sama dia.
Ting!
Sesampainya di lantai lobby, Rion keluar mendahului yang lain.
Dia masuk ke dalam mobilnya dan keluar buat makan siang yang udah kesorean, sekalian mau belanja buat menuhin kebutuhan di kulkas yang udah menipis.
Sementara di negara lain.
Mami Reva tidur gelisah terus. Sebuah tangan menangkapnya dan memeluknya dengan erat.
"Jangan bergerak terus!" kata papi Ridho.
Selama 5 tahun dia bisa tidur dengan nyenyak, tapi nggak dengan malam ini. Dia begitu mencemaskan sesuatu yang dia sendiri nggak tau apa yang membuatnya gelisah semalaman suntuk.
Mami yang semula dipeluk bersandar pada dada bidang suaminya, sekarang berpindah posisi membelakangi sosok pria yang udah menjadi bagian hidupnya lebih dari seperempat abad.
"Revaaaaaa..." panggil papi dengan suara seraknya tapi seksoy di telinga mami.
__ADS_1
Papi Reva semakin mengeratkan pelukannya supaya istrinya nggak molak malik terus kayak mendoan yang lagi di wajan.
"Mass ... mas Ridho, aku nggak bisa tidur!" kata mami Reva.
"Merem makanya,"
"Ck, ini juga udah usaha merem, tapi aku tuh kayak nggak tenang gitu!" mami Reva kesel dengan jawaban suaminya.
"Berdoaa..." sahut papi setengah sadar.
Lah iya, apa yang dibilangin papi Ridho ya bener nggak ada salahnya. Cuma yang bikin kesel, dia tuh nggak bangun dengan semestinya dan nemenin nenangin hati istrinya yang lagi gundah gulana.
"Ck! susah ngomong sama orang yang lagi molor!" mami Reva melepaskan diri dari pelukan suaminya.
Mami Reva yang masih cantik dan bebas kerutan itu turun ke bawah, tepatnya ke dapur.
"Thalita?" gumam mami saat ngeluat Thalita duduk di meja makan.
Dia memastikan kaki si gadis itu napak lantai, takut ketemu setan nih pasti si mami.
"Kerjaan biasa, Tante..." ucap Thalita yang nyeruput kopinya.
"Begadang kamu?" tanya mamj Reva, dia menarik kursi dan duduk di depan Thalita yang lagi udah ngantuk parah.
"Iya, begadang..."
"Sepenting apa sih sampai kamu harus ngerjain disini? kenapa nggak di kamar?" mami Reva bingung dengan keponakannya itu.
"Kalau di kamar, hawanya pengen nemplok kasur terus, Tan. Kalau kayak gitu yang ada aku tidur," kata Thalita.
"Mendingan kamu keluar dari tempat kamu kerja dan ngelamar sana ke perusahaannya yang dipegang Om Ridho. Nanti tante yang bilangin kalau kamu mau..." kata mami Reva.
"Rencananya akhir bulan emang aku mau resign, Tan. Tapi aku nggak mau kerja kantoran lagi, capek. Aku mau bantu mama ngelola kafenya, katanya udah mulai rame semenjak di review di tivi sama bang Eza..."
__ADS_1
"Eza temennya Rion yang sekarang jadi artis itu ya?" mami Reva mastiin.
Thalita ngangguk, dia nyeruput kopinya lagi, "Tan ... aku naik dulu ya ke atas, kerjaanku udah kelar nih. Lumayan nungguin subuh terus mau ngeliyep bentar, Tan..." kata Thalita yang udah nutup macbooknya, dan pergi ninggalin tantenya duduk sensirian di meja makan.
Mami Reva jadi ngide buat bikin kopi juga mau nyalain kompor ada suara di belakangnya.
"Ternyata kamu disini? lagi ngapain kamu, Sayang?" papi Ridho meluk istrinya dari belakang.
"Ya ampun, Mas! ngagetin aja..." mami Reva lepasin tangan yang melingkar di perutnya.
"Kalau Thalita nongol nggak enak, dikira lagi pacaran!"
Papi Ridho cuma bisa ketawa ngeliat ekspresi istrinya yang masih aja malu-malu meong. Padahal mereka nikah bukan baru sehari dua hari tapi udah lebih dari seperempat abad yang lalu.
"Aku cari-cari sampai luar angkasa, ternyata ada disini," papi Ridho duduk.
Sedangkan mami Reva lanjut bikin kopi yang dicampur dengan creamer, lumayan loyo dia karena nggak bisa tidur.
Mami Reva kasih satu mug kopi buat suaminya dan satu buat dirinya sendiri.
"Aku nggak bisa tidur, nggak tau kenapa. Dan pas ke bawah ternyata ada Thalita, dia lagi ngerjain kerjaannya sambil minum kopi, aku jadi pengen minum kopi juga..."
Papi Ridho nyeruput kopi panas yang dibuatkan khusus untuknya, "Kan aku bilang berdoa, obat kegelisahan dan kecemasan yang nggak berdasar iru ya cuma sholat dan berdoa. Bisa jadi itu godaan syaithon yang terkutuk!"
"Iya, iya aku tau!" kata mami Reva.
"Rion nggak pulang-pulang, apa dia nggak kangen sama kita ya, Mas?" mami Reva mendadak menggalau.
"Rion itu lagi mengejar apa yang dia inginkan, Sayang. Dulu waktu kita muda juga sama menggebunya dengan Rion, dan kita harusnya bersyukur karena dari segi apapun Rion lebih unggul dari kita. Tugas kita sebagai orangtua hanya mendoakan dan mendukung, selama Rion melakukan hal yang positif," papi Ridho mulai ceramah.
"Maksudku, dia kan udah lulus, terus mau apa lagi dia disana? mending juga nerusin perusahaan yang emang udah hak dia, Mas..."
"Mungkin dia pengen cari pengalaman dulu, sebelum akhirnya menjadi pemimpin perusahaan. Aku malah seneng kalau Rion mau mencari pengalaman buat nanti dia terapin disini. Udah, kamu nggak usah kepikiran yang macem-macem, karena Allah akan menjaga Rion untuk kita..." papi Ridho menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
Mami Reva mengangguk dan tersenyum pada suami yang selaku mampu menennagkan hatinya disaat galau dan merana.